Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 144


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Ratna bekerja di Perusahaan keluarga Wildan. Ratna dan Wildan janjian untuk pergi bersama karena Ratna tidak tau dimana perusahaan keluarga Wildan berada.


Pagi - pagi Ratna sudah bersiap. Groginya sama seperti saat pertama kali dia bekerja di Sanjaya Corp. Bahkan kali ini sepertinya dia lebih jantungan karena akan bertemu dengan Papanya Wildan.


Ponsel Ratna berdering, ternyata panggilan dari Ratna. Pasti Wildan hendak mengajak dia untuk berangkat. Ratna segera keluar dari apartementnya.


Benar saja Wildan sudah menunggunya di sana.


"Kamu sudah siap?" tanya Wildan.


"Su.. sudah Pak" jawab Ratna tegang.


Wildan tersenyum melihat sikap Ratna.


"Jangan tegang Ratna, biasa aja. Kamu tidak akan diapa - apain, kan aku yang akan jadi CEO-nya" ujar Wildan.


"I.. iya Pak. Namanya ini hari pertama Pak, mana ada orang yang gak grogi di hari pertama dia bekerja" jawab Ratna.


"Yuk kita turun" ajak Wildan.


Wildan dan Ratna turun ke basement dan langsung berjalan menuju mobil Wildan. Mereka berangkat menuju PT. Raharjo Group.


Ratna terpukau melihat Perusahaan yang tak kalau besarnya dengan Sanjaya Corp.


Ternyata Pak Wildan sama kayanya dengan Pak Melodi. Duh aku kok semakin merasa kecil ya dimatanya. Batin Ratna.


"Nah sekarang kita sudah sampai di perusahaan keluargaku. Yuk kita masuk" ajak Wildan.


Mereka turun di depan pintu masuk PT. Raharjo Group. Wildan langsung disambut oleh seorang petugas keamanan.


"Selamat pagi Pak Wildan, mari Pak biar saya parkirkan mobil Bapak" pinta pria itu.


Wildan memberikan kunci mobilnya kepada salah satu karyawan di Perusahaan itu. Wildan dan Ratna masuk ke dalam gedung.


Saat mereka masuk seluruh karyawan yang mereka temui menaruh hormat kepada Wildan. Mereka semua sudah mengenal Wildan sebagai atasan mereka.


"Selamat pagi Pak" sapa mereka setiap bertemu Wildan.


Wildan menjawabnya dengan ramah. Inimah yang membedakan Wildan dengan Melodi. Wildan lebih banyak penggemarnya karen dia memiliki sifat lebih ramah dan hangat. Berbeda dengan Melodi yang dingin dan ketus.


Ratna mengikuti kemanapun Wildan membawanya. Mereka naik lift ke lantai paling atas. Mereka langsung disambut oleh wanita **** yang terlihat sangat menggoda.


Wildan langsung membuang pandangannya dari tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak Wildan" sapa wanita itu dengan suara yang merayu.


Waduh ada Bu Olivia kedua nih. Batin Cinta.


Wanita di hadapannya bisa dibilang terlihat sangat genit. Apalagi tatapan matanya yang memandang Wildan seperti lapar. Tapi tidak saat melirik Ratna. Wanita itu seperti mengibarkan bendera perang ke arah Ratna.


"Papa sudah datang?" tanya Wildan dingin.


"Sudah Pak, baru saja. Bapak sudah menunggu Pak Wildan, silahkan masuk" jawab wanita itu dengan suara yang lembut dibuat - buat.


Wildan berjalan masuk ke dalam ruangan Direktur tapi Ratna hanya berdiri di tempatnya semula.


"Kamu kenapa diam, ayo ikut masuk" ajak Wildan.


"Ba.. baik Pak" jawab Ratna cepat.


Ratna berjalan dibelakang Wildan dan mereka berdua masuk ke dalam ruangan kerja Papanya Wildan yang menjadi direktur di Perusahaan ini.


"Pagi Pa" sapa Wildan.


"Pagi, akhirnya kamu datang juga" sambut Papa Wildan.


Ratna melihat dua pria yang ada didepannya beda usia tetapi wajah mereka sangat mirip sekali. Sama - sama tampan hanya saja pria yang lebih tua terlihat lebih matang dan lebih berpengalaman.


"Papa sudah sehat?" tanya Wildan.


"Papa akan semakin sehat jika kamu sudah menggantikan posisi Papa di sini" sahut Pak Raharjo.


Papanya Wildan menatap Ratna dengan tatapan penasaran.


"Siapa dia?" tanya Pak Raharjo.


"Perkenalkan dia Ratna. Ratna akan menjadi sekretaris aku saat aku menggantikan posisi Papa" jawab Wildan tegas.


"Kok kamu baru bilang sekarang sama Papa. Gak bisa begitu Wil, Rania mau kamu kemanakan? Dia sudah menjadi sekretaris Papa lima tahun lebih. Dia sudah banyak mengetahui isi Perusahaan ini. Dia pasti lebih bisa membantu kamu dari pada orang baru" protes Papa Wildan.


Ratna langsung menundukkan wajahnya karena grogi. Dia mengerti keberadaannya di sini tidak mendapatkan sambutan dari Papa Wildan pimilik Perusahaan ini.


"Aku tidak suka Rania Pa, Papa bisa memindahkan Rania kebagian lain. Tapi setelah satu bulan, karena aku mau selama satu bulan ini Rania mengajari Ratna terlebih dahulu" pinta Wildan.


"Tapi kamu tidak bisa memutuskan semuanya sendiri Wil. Belum lagi kamu duduk menggantikan Papa kamu sudah berani - beraninya mengganti karyawan Papa" tolak Pak Raharjo.


"Kalau Papa gak setuju aku batal kembali ke Perusahaan ini. Aku akan kembali ke Sanjaya Corp" bantah Wildan

__ADS_1


"Oh jadi kamu mengancam Papa?" tanya Pak Raharjo dengan nada yang mulai tinggi.


Tubuh Ratna bergetar karena ketakutan. Air matanya rasanya ingin sekali menetes tapi sekuat tenaga dia menahannya. Dia tidak ingin terlihat cengeng dimata Papanya Wildan.


Wildan melirik Ratna. Dia mengerti keadaan Ratna saat ini.


"Ratna tolong kamu keluar sebentar, aku mau bicara sama Papaku dulu" perintah Wildan.


"Ba.. baik Pak" jawab Ratna terbata - bata.


Ratna melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kerja Direktur dan duduk di ruangan tunggu yang ada di depan meja sekretaris.


Untuk sesaat Ratna dan wanita yang bernama Rania itu saling tatap. Tapi Rania menatap Ratna dengan tatapan benci dan merendahkan.


Dia merasa tidak selevel jika harus bersaing dengan wanita yang ada di depannya ini. Wanita dengan pakaian tertutup yang terlihat ketinggalan jaman. Itulah penilaian Rania terhadap Ratna.


Sementara di ruangan kerja Direktur.


"Pa aku tidak mau berdebat dengan Papa. Aku sudah memutuskan untuk tidak memakai Rania sebagai sekretarisku. Aku tidak suka sekretaris norak dan berpakaian kurang bahan seperti itu. Seperti wanita murahan" ujar Wildan.


"Tapi cara kerja dia baik, dia juga pintar menarik perhatian rekan bisnis saat kita mengajukan kerjasama dengan perusahaan saingan kita" jawab Papa Wildan.


"Papa kan belum lihat cara kerja Ratna, dia berasal dari Universitas terbaik di Jakarta ini Pa, dia pintar dan pekerja keras. Aku sudah membuktikannya saat dia bekerja di Sanjaya Corp" bela Wildan.


"Tapi Rania lebih berpengalaman dibidangnya Wil, sudah kamu tetap pakai Rania saja. Kalau kamu masih tetap mau memakai gadis tadi tempat kan saja dia ditempat lain" perintah Pak Raharjo.


"Gak bisa, aku tidak bisa bekerja sama dengan Rania saat di kantor. Dia bisa memecah konsentrasiku bekerja dan aku tidak suka itu. Lebih baik dia yang aku pindahkan kebagian lain" bantah Wildan.


Pak Raharjo menarik nafas panjang. Dia sangat mengerti sifat putranya ini. Kalau sudah tidak suka dengan seseorang sulit sekali untuk membujuknya mau menerima orang tersebut. Begitu sebaliknya juga kalau dia sudah menyukai seseorang.


Dia akan melakukan apapun saja untuk membantunya. Buktinya dengan Melodi. Wildan bersedia hanya sebagai bayang - bayang Melodi selama tujuh tahun ini. Padahal Wildan mempunyai perusahaan keluarga yang harus dia pimpin tapi demi Melodi dia rela meninggalkan semuanya.


Bersyukur sekarang Wildan mau kembali ke Perusahaan ini. Tubuhnya pun sudah tak kuat lagi. Dia butuh putranya untuk meneruskan usaha keluarga yang sudah dia bangun mulai dari nol.


Tak mungkin semua gagal hanya karena seorang sekretaris. Pak Raharjo segera membuat keputusan.


"Baik aku kasih gadis yang kamu bawa tadi waktu satu bulan untuk belajar mengenai semua tugasnya. Kalau Papa merasa dia tidak kompeten, kamu jangan marah kalau Papa lebih memilih Rania sebagai sekretaris kamu" tegas Pak Raharjo.


"Baik aku akan buktikan kalau keputusanku membawa Ratna ke sini juga tidak salah" sambut Wildan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2