Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 76


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama lima jam. Akhirnya mereka sampai di Kota Cirebon sekitar jam sebelas malam.


Cinta mengajak mereka menginap di Kota ini saja karena di kampungnya belum ada hotel mewah yang pantas untuk Melodi dan Wildan.


Mereka menginap di salah satu hotel bintang lima di Kota Cirebon. Melodi tidur satu kamar dengan Wildan sedangkan Cinta tidur sekamar dengan Ratna.


"Berapa jam lagi Cin kampung kamu dari sini?" tanya Wildan.


"Sekitar satu jam lagi Pak" jawab Cinta.


"Kenapa kita gak langsung ke sana? Kan sudah dekat?" tanya Melodi.


"Disana gak ada hotel Pak. Nanti Bapak dan Pak Wildan gak nyaman kalau tidur di rumahku" jawab Cinta jujur.


"Ya sudah tidak apa Od, satu jam kan gak lama. Besok pagi setelah sarapan pagi kita lanjut ke kampung Cinta" ujar Wildan.


"Ya sudah kalau begitu kalian istirahat, kami juga mau masuk ke kamar. Selamat malam dan selamat beristirahat" ujar Melodi.


"Malam Pak" jawab Cinta dan Ratna.


Cinta dan Ratna masuk ke dalam kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar keduanya bersorak senang karena malam ini mereka bisa tidur di hotel mewah. Semua berkat Melodi dan Wildan.


"Horeeeee bener - bener liburan euy... aku gak menyangka kita akan tidur di kamar semewah ini Cin" ujar Ratna senang.


"Iya sama. Padahal tadi aku sudah minta kamar yang biasa - biasa saja untuk kita tapi Pak Melodi tidak setuju. Katanya kamar kita harus berdampingan" sahut Cinta.


"Aku punya feeling kalau Pak Melodi itu suka sama kamu Cin" ungkap Ratna.


"Ah jangan ngaco kamu Rat" bantah Cinta.


"Iya bener, aku suka lihat dia memperhatikan kamu diam - diam kalau kamu sedang masak dan makan. Dia juga sering memberi perlakuan yang spesial kepada kamu. Buktinya dia mau ngerayain ulang tahun kamu di tempat yang mewah kemarin" ucap Ratna.


"Aku takut Rat" jawab Cinta.


"Takut apa?" tanya Ratna bingung.


"Aku takut itu benar, karena perasaan ku juga terkadang bilang begitu saat Pak Melodi menunjukkan perhatiannya. Tapi aku takut berharap" ungkap Cinta.


"Kalau Pak Melodi bisa mewujudkan semua impian kamu apakah kamu mau menerimanya Cin?" tanya Ratna serius.


"Aaaah Ratnaaa kan aku sudah bilang kalau aku takut. Takut terlalu berharap" bantah Cinta.


"Jujur padaku Cin, jujur pada hati kamu. Kamu suka sama Pak Melodi?" tanya Ratna.


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Tapi dunia kita berbeda dengan mereka Rat. Mereka bagaikan langit yang susah sekali di raih" jawab Cinta.


"Bukan tidak bisa kan Cin, hanya susah. Buktinya ada astronot yang berhasil menembus langit" ujar Ratna.


"Sangat sulit untuk menolak pesonanya. Apalagi setelah dia berubah hangat dan ramah kepadaku. Aku tidak bisa mengelak lagi pada hatiku. Hanya saja selama ini aku membentengi hatiku agar tidak menyukainya begitu dalam. Agar jika perasaanku tak berbalas aku tidak begitu merasa sakit. Dia hanya atasan dan bosku saja" ungkap Cinta.


Ratna merangkuk bahu Cinta.

__ADS_1


"Kan kamu pernah bilang padaku jodoh itu tidak ada yang tau dan kita tidak bisa menolaknya walau dengan kekuatan sebesar apapun. Pasrahkan semua kepada Allah Cin, kalau memang Allah mengirimkan dia sebagai jodoh kamu berarti memang itulah yang terbaik" nasehat Ratna.


"Iya Rat, aku hanya pasrah dengan keputusan Allah. Jika memang dia jodohku aku akan menerimanya dengan senang hati tapi jika bukan akhir berharap hati ini tidak begitu kecewa" balas Cinta.


"Haaaaah sudah yuk kita istirahat, besok kita kan mau jalan lagi. Liburaaaan" pekik Ratna senang.


Mereka membersihkan tubuh berganti pakaian dan lanjut tidur. Malam ini Cinta dan Melodi sama - sama sudah membuat pengakuan hati mereka kepada sahabat mereka.


Bedanya Cinta berkata kalau dia sengaja membentengi hatinya karena takut terluka sedangkan Melodi sudah menyusun strategi untuk mengungkapkan perasaannya kepada Cinta.


****


Esok paginya setelah sarapan pagi di hotel mereka melanjutkan perjalanan menuju kampung Cinta.


Terbentang sawah sepanjang jalan menuju kampung Cinta. Udaranya terasa sangat asri dan sangat pedesaan sekali.


"Kamu udah kabari Mbak Amel kalau kita mau datang?" tanya Ratna kepada Cinta.


"Nggak, aku sengaja mau buat kejutan pada Kak Amel dan bibik" jawab Cinta.


"Eh kamu sudah membeli oleh - oleh untuk kakak kamu?" tanya Melodi.


Nyes.. lagi - lagi perhatian Melodi sekarang sering sekali membuat Cinta jadi baper.


Ratna langsung menyenggol lengan Cinta.


"Sudah Pak, saya sudah membelinya" Jawab Cinta.


"Ooo syukur lah, kalau belum biar kita singgah dulu beli oleh - oleh" sambut Melodi.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah yang memang sudah berdindingkan baru dan plaster tapi belum di cat keseluruhan dindingnya.


"Assalamu'alaikum" ucap Cinta begitu masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam" jawab dari dalam.


Tak lama muncul seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Melodi.


"Cinta.. kamu pulang kok gak kasih kabar" sambut suara itu terkejut ketika melihat siapa yang datang.


"Aku sengaja kak mau buat kejutan. Bibik mana?" tanya Cinta sambil memeluk Kakak kandungnya.


"Biiiiik... bibik lihat ini siapa yang datang" panggil Amel.


Seorang wanita tua keluar dari kamar dan sangat terkejut melihat kedatangan Cinta.


"Cintaaa" ucap wanita itu.


Setelah mereka puas berpelukan barulah Cinta sadar kalau dia tidak sendiri.


"Eh ini kenal kan Mbak Bosku pemilik perusahaan tempat aku bekerja dan juga bosku di apartement" ucap Cinta memperkenalkan Melodi.


"Amelia" ucap Amel sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Melodi" sambut Melodi.


"Ini wakil Bos" ucap Cinta memperkenalkan Wildan.


"Wildan" ucap Wildan hormat.


"Ratna" potong Ratna.


"Kalau kamu gak perlu di kenalkan lagi. Mbak udah kenal" jawab Amel sambil tertawa.


"Mas Surya mana Mbak?" tanya Cinta.


"Oh ke kelurahan tadi ada perlu sebentar. Silahkan duduk Bapak - bapak sekalian" ucap Amel mempersilahkan Melodi dan Wildan duduk.


Bibik sibuk mempersiapkan minuman untuk tamu dari Jakarta. Tak lama kemudian Surya kembali dengan menaiki motor.


"Ada tamu rupanya" sapa Surya.


Cinta memperkenalkan siapa tamu yang dia bawa kepada Surya. Melodi dan Wildan berkenalan dengan Surya.


Mungkin karena mereka bertiga seumuran membuat ketiganya tampak cepat akrab. Mereka sibuk ngobrol dan sesekali sambil bercanda.


Cinta menatap kejadian itu dengan hati lega. Amel menyenggol Cinta dari belakang.


"Kamu suka sama salah satu dari dua pria itu ya" tebak Amel.


"Aah nggak Kak" elak Cinta


"Udah, gak perlu bohong. Sama kakak kok bohong sih" ujar Amel.


"Kalau sudah cocok apalagi nduk, menikahlah.. kamu sudah dewasa lho" sambut Bibik.


"Aaah bibik.. aku belum kepikiran" jawab Cinta.


"Menikah itu bukan untuk dipikirkan tapi dijalani. Kalau sudah cocok untuk apa dilama - lamain, dosa dek. Kalau kamu sudah menikah, kakak juga lega melepas kamu di Jakarta" ujar Amel.


Cinta terdiam dan menunduk.


"Kamu masih memikirkan kakak? Kakak bahagia dek dengan keadaan Kakak sekarang. Kamu jangan merasa bersalah. Kakak ikhlas menerima hidup kakak sekarang dan kakak bersyukur bertemu dengan Mas Surya. Kakak tidak pernah menyesali apapun keputusan Kakak dulu karena kakak sangat menyayangi kamu" ungkap Amel.


Mata Cinta tampak berkaca - kaca.


"Aku tidak tau apakah dia punya perasaan yang sama denganku Kak" ujar Cinta.


"Kamu suka dengan Pak Melodi ya?" tebak Amel.


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Menurut Kakak dia juga menyukai kamu. Kalau tidak ngapain coba dia capek - capek main ke sini kalau bukan untuk bersama kamu. Dia suka kamu, percaya deh pada Kakak" ucap Amel.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2