Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 174


__ADS_3

"Lho kenapa kita harus naik taxi online?" tanya Wildan bingung.


"Udah ikutin aja permintaanku Mas" jawab Ratna.


Wildan tidak ingin berdebat dengan Ratna karena hari ini adalah hari spesial untuk hubungan mereka. Masak iya dimulai dengan perdebatan dan pertengkaran.


"Baiklah kalau itu mau kamu" ujar Wildan.


Sesampainya mereka di Kota Pati, Wildan dan Ratna mencari hotel yang bagus untuk tempat Wildan menginap. Sesuai permintaan Ratna mereka menggunakan taxi online untuk pergi menuju rumah Ratna.


Wildan memperhatikan sekeliling jalan menuju rumah Ratna. Kota kecil tapi sepertinya Wildan mulai menyukainya. Kotanya tak jauh beda dengan kampung Cinta. Bahkan kota Pati lebih kecil dari Cirebon dan hampir mirip dengan kampung tempat rumahnya Cinta berada.


"Mas nanti di sana jangan cerita ya kalau kamu adalah Bosku di kantor" ujar Ratna.


Wildan menatap Ratna dengan seksama. Dia mulai mengerti kemana arah pikiran Ratna. Pantas dia tidak mau diantar dengan mobil Wildan sampai ke rumahnya.


Ternyata Ratna ingun menyembunyikan siapa dirinya kepada keluarganya. Sebelumnya juga Ratna memaksanya untuk memakai kaos oblong dan celana jeans dan di suruh melepaskan jam tangannya dan meninggalkan nya di dalam hotel saja.


Wildan awalnya bingung apa yang sedang direncanakan calon istrinya ini. Tapi setelah permintaan Ratna yang terakhir dia jadi mengerti keinginan Ratna.


"Kamu tidak mau keluarga kamu mengetahui siapa diriku yang sebenarnya?" tanya Wildan.


Ratna menatap mata Wildan lalu mengangguk.


"Kamu malu?" tanya Wildan.


Ratna menggelengkan kepalanya.


"Apa yang harus aku malukan dari kamu Mas, justru aku merasa malu pada diriku sendiri. Nasib kita jauh berbeda, bagai langit dan bumi" jawab Ratna.


"Rat please jangan pernah lagi kamu berkata seperti itu. Mana Ratna yang selalu ceria dan percaya diri. Semakin dekat jarak kita dengan keluarga kamu, kamu semakin merasa frustasi" sahut Wildan.


"Aku takut Mas, takut Bapak merencankan sesuatu kepada kamu" jawab Ratna.


"Tidak apa, aku tidak masalah. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu. Walau berat sekalipun aku akan memperjuangkannya" ujar Wildan dengan tegas.


"Tapi kamu tidak pantas berkorban sebesar itu Mas, aku hanya... " ucap Ratna dengan mata berkaca - kaca.


"Kamu melakukannya lagi, jangan pernah merasa kecil dihadapkan Rat, kamu justru lebih berharga dan pribadi kamu jauh lebih baik dari aku. Kamu itu wanita yang hebat dan sangat baik. Aku beruntung mendapatkan kamu" balas Wildan meyakinkan Ratna.


"Tapi biarlah mereka menerima kamu apa adanya Mas, bukan karena apa yang kamu punya. Aku hanya tidak ingin Bapak memanfaatkan kamu" pinta Ratna.


"Baiklah aku akan ikuti semua permintaan kamu, kita lihat bagaimana nanti perkembangannya. Apakah aku bisa bertahan tapi kalau tidak aku lebih dulu minta maaf kepada kamu. Terkadang hal itu memang harus aku lakukan karena aku ingin mendapatkan restu dari keluarga kamu. Apapun akan aku lakukan, mungkin harus dengan segala kekuasaan dan apa yang aku miliki aku tidak akan keberatan" tegas Wildan.


"Iya aku tidak akan marah, aku hanya meminta kepada kamu sebisa mungkin bersikap seperti orang biasa saja ya. Kalau memang terdesak baru kamu mengaku siapa diri kamu yang sebenarnya" sambut Ratna.


Wildan tersenyum penuh kasih kepada calon istrinya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, apapun yang terjadi aku harus mengantongi restu keluarga kamu ke Jakarta. Baru setelah itu aku datang lagi ke sini bersama Papa dan Mamaku untuk melamar kamu" ungkap Wildan.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Ratna. Rumah yang sangat sederhana yang terbuat dari kayu dan beralaskan semen kasar. Rumah itu hanya berpagar tanaman yang dibentuk rapi untuk mengelilingi rumah.


Terlihat sangat asri dan nyaman walau sangat sederhana. Ratna menatap Wildan.


"Kita sudah sampai Mas" ucap Ratna.


"Ayo, mari kita turun" ajak Wildan.


Mereka turun dari mobil setelah membayar ongkosnya. Adik Ratna yang sedang menyapu pekarangan rumah sangat terkejut dengan kedatangan Ratna dan Wildan.


"Mbak Ratna.. Ibuuuu Mbak Ratna pulaaaang" teriak adik bungsu Ratna.


Ratna tersenyum penuh kasih sayang melihat adiknya. Si Bungsu langsung berlari menghampiri Ratna dan memeluknya.


"Mbak aku kangen banget sama kamu" ucap gadis remaja itu.


"Mbak juga kangen dek" sambut Ratna.


Ibu dan adik - adik Ratna yang lain keluar dari rumah secara bersamaan. Sudah dua tahun Ratna tidak pulang kampung. Terakhir Ibu bertemu dengan Ratna saat acara wisuda Ratna di Jakarta. Mereka hanya menginap sehari saja karena tidak mempunyai banyak uang untuk berlama - lama di Jakarta.


"Assalamu'alaikum Bu" ucap Ratna mencium tangan Ibunya dengan penuh hormat dan cinta kasih.


"Wa'alaikumsalam Nak, kamu kok gak kasih kabar Ibu mau pulang" sambut Ibu Ratna.


"Aku sengaja ingin buat kejutan" jawab Ratna.


"Mbak Ratna Mas ini siapa?" tanya Si Bungsu dengan polos.


Semua anggota keluarga Ratna menatap penasaran kepada Wildan. Wildan tersenyum hangat kepada seluruh keluarga Ratna.


"I.. ini teman Mbak" jawab Ratna canggung.


"Kenalkan Bu saya Wildan tenan kantor Ratna" ucap Wildan.


"Oh iya.. iya.. saya Ibunya Ratna. Silahkan masuk Nak Wil.. dan" sambut Ibu Ratna.


Mereka masuk ke dalam rumah Ratna yang sangat sederhana.


"Maaf ya Nak rumahnya seperti ini" ujar Ibu Ratna.


"Tidak apa Bu, rumahnya sangat nyaman ya, teduh lagi" sambut Wildan.


"Duduk Mas" perintah Ratna.


Adik - adik Ratna saling senggol melihat Wildan. Mungkin mereka terpesona dengan ketampanan Wildan.

__ADS_1


"Ayo kenalan sama temannya Mbak" ucap Ratna pada adik - adiknya.


"Ini adikku yang nomor dua Mas namanya Retno" ucap Ratna.


Gadis remaja yang duduk di kelas tiga SMU itu malu - malu menjabat tangan Wildan.


"Retno" ucap Retno.


"Wildan" sahut Wildan.


"Yang ini adikku nomor tiga Riska" ucap Ratna setelah itu.


"Riska Mas" ucap gadis remaja satu lagi yang duduk di bangku kelas satu SMU.


"Ya.. salam kenal Riska" sahut Wildan dengan senyuman ramahnya.


"Nah yang ini si Bungsu Rafika" ucap Ratna mengenalkan adiknya yang terakhir.


"Rafika Mas" ucap Si Bungsu.


"Cantik - cantik semua, pasti turun dari wajah Ibu" puji Wildan.


Sontak Ibu dan adik - adik Ratna tersenyum tersipu malu. Mereka belum pernah kedatangan tamu seperti ini. Sejak dulu Ratna memang tidak pernah membawa teman laki - lakinya ke rumah. Karena dia sangat takut dengan Bapaknya.


"Retno buatin minum untuk Mbak kamu dan Nak Wildan" perintah Ibu Ratna.


"Baik Bu" sahut Retno.


"Riska.. Rafika.. bantuin Mbak angkat barang - barang Mbak ke kamar" pinta Ratna.


"Baik Mbak" jawab dua adik Ratna dengan patuh.


Ratna dan dua adiknya mengangkat tas dan barang - barang bawaan Ratna ke kamar mereka. Kini hanya tinggal Ibu Ratna dan Wildan saja yang duduk di ruang tamu merangkap ruang keluarga.


"Jadi semua anak Ibu perempuan ya?" tanya Wildan.


"Iya Nak Wildan. Laki - laki atau perempuan sama saja. Sudah empat orang anak Ibu, sudahlah cukup itu saja. Gak perlu harus di tambah lagi demi mencari anak laki - laki" jawab Ibu Ratna.


"Jadi tidak ada laki - laki di rumah ini Bu?" tanya Wildan sambil melihat sekeliling rumah Ratna.


Tiba - tiba dari arah belakang terdengar suara seorang laki - laki yang sangat lantang.


"Enak saja tidak ada laki - laki di rumah ini. Jadi aku ini dianggap apa di rumah ini?" sambut suara itu.


Sontak Ibu Ratna terkejut dan berwajah pucat. Dia menatap wajah Wildan dengan tatapan cemas.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2