
Wildan dan Pak Ramlan bersiap - siap untuk pergi ke Semarang. Bu Ramlan membawakan bekal beberapa pakaian untuk dibawa suaminya yang besok akan dia pakai untuk datang ke kantornya dulu.
"Bapak pergi dulu ya Bu" pamit Pak Ramlan.
"Iya Pak hati - hati ya" sambut Bu Ramlan.
Bu Ramlan mencium tangan suaminya dan disambut dengan kecupan di dahi Bu Ramlan.
Wildan dan Pak Ramlan masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan rumah Pak Ramlan. Sekitar jam sebelas malam mereka sampai di Hotel. Wildan hendak memesan satu kamar lagi untuk calon mertuanya tapi di cegah oleh Pak Ramlan.
"Kalau Nak Wildan tidak keberatan lebih baik saya tidur di kamar Nak Wildan saja. Sayang Nak uangnya, mending kita berbagi kamar saja" ucap Pak Ramlan.
"Oh baiklah Pak kalau begitu" jawab Wildan.
Mereka akhirnya masuk ke kamar Wildan.
"Silahkan Pak langsung istirahat jangan sungkan. Saya mau berganti pakaian dulu" ucap Wildan.
"Iya" sahut Pak Ramlan.
Pak Ramlan duduk di kursi yang ada di balkon hotel. Dia menatap lurus ke langit karena letak kamar Wildan berapa di lantai paling atas.
Pak Ramlan memikirkan apa yang Wildan tawarkan tadi sore di rumahnya. Banyak pertimbangan yang harus dia pilah - pilih.
Pertama bagaimana nanti dia berangkat kerja? Bagaimana dia menghadapi orang - orang kantor. Dia sudah sangat lama meninggalkan dunia pekerjaan. Dua puluh tahun ini dia lalui hanya dengan minum - minuman dan mabuk - mabukan.
Pak Ramlan juga memikirkan bagaimana tanggapan rekan - rekan kantornya kalau mengetahui hubungan Wildan dengan putrinya? Apakah mereka akan mengatakan kalau Pak Ramlan melakukan nepotisme?
Wildan yang baru saja selesai mandi langsung bergabung bersama calon mertuanya. Hanya pria ini lah yang menjadi saingan cinta di hati Ratna.
Wildan tidak cemburu karena cinta antara dia dan Pak Ramlan berbeda. Tak perlu mereka bertengkar untuk mendapatkan hati Ratna. Cinta Ratna pada kedua pria ini punya porsi yang berbeda - beda.
__ADS_1
"Apa yang sedang Bapak pikirkan?" tanya Wildan.
Pak Ramlan menarik nafas panjang.
"Tawaran Nak Wildan tadi sore" jawab Pak Ramlan.
"Tentang kembali bekerja?" tanya Wildan lagi.
"Iya" jawab Pak Ramlan singkat.
"Apa yang Bapak risaukan?" tanya Wildan.
"Siapa yang akan mengurus sawah? Ibu sudah semakin tua, Bapak tidak tega melihat dia tetap mengelola sawah" jawab Pak Ramlan.
"Sawahnya di sewakan saja Pak, atau Bapak cari orang buat kelola sawah sistemnya di gaji atau bagi hasil juga bisa. Biar Ibu di rumah saja kelola Toko, adik - adik sekolah" jawab Wildan.
"Tapi Nak Wildan Pati - Semarang itu lumayan jauh lho" ujar Pak Ramlan.
Pak Ramlan menatap wajah calon menantunya.
"Kamu terlalu banyak membantu keluarga Bapak. Bapak jadi tidak punya muka lagi di hadapan kamu" gumam Pak Ramlan.
"Anggap aku anak Bapak. Bapak pasti tidak mau kan kepunyaan anak Bapak di curangi oleh para pencuri - pencuri nakal itu? Aku tidak meminta banyak dari Bapak, aku mengerti dan sangat sadar dengan usia Bapak. Bapak hanya mengawasi setiap proyek di lapangan. Karena di sana sangat beresiko terjadinya kecurangan. Kalau administrasi perusahaan aku bisa pantau setiap bulannya" pinta Wildan.
"Setelah semua terbongkar besok, apa yang akan Nak Wildan lakukan?" tanya Pak Ramlan.
"Aku akan menghukum mereka dengan hukuman seberat - beratnya? Selain merugikan perusahaan mereka sudah membunuh lebih sepuluh keluarga. Contohnya seperti keluarga Bapak, istri dan anak - anak Bapak jadi terbengkalai kan karena fitnahan mereka" jawab Wildan tegas.
"Lantas bagaimana hubungan kamu dengan Ratna?" tanya Pak Ramlan.
"Setelah semua aku selesaikan apakah Bapak tetap keberatan aku menikah dengan Ratna?" tanya Wildan balik.
__ADS_1
Pak Ramlan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kemarin pun tidak. Hanya saja maaf.. saya hanya kecewa pada orang tua kamu. Kamu saja bisa mencari kebenaran dari permasalahan yang terjadi dua puluh tahun silam. Tapi Papa kamu percaya begitu saja dengan fitnahan bajingan itu" jawab Pak Ramlan.
"Atas nama Papa saya, saya meminta maaf Pak. Satu yang saya sesalkan memang, Papa saya percaya begitu saja dengan ucapan mereka. Saya tidak membela Papa saya, tapi yaaah begitulah beliau. Sangat keras sekali dan sangat membenci adanya penyelewengan. Sehingga saat terjadi masalah Bapak, dia dengan mudahnya percaya begitu saja tanpa mencari tahu kebenaran di lapangan. Mungkin pada saat itu kisah Bapak pertama kali terjadi. Sehingga keputusan Papa saya yang tercepat adalah memecat Bapak. Dan kelemahan Papa saya sudah mereka pegang, sehingga kejadian itu dijadikan mereka peluang untuk melakukan tindakan kejahatan. Makanya masalah ini terus berulang kali terjadi" jawab Wildan.
Pak Ramlan menarik nafas panjang lalu menatap lurus ke depan.
"Saya akan sampaikan laporan ini kepada Papa saya agar dia tahu kalau dua puluh tahun yang lalu Papa saya sudah melakukan kesalahan besar dengan memecat karyawan jujur seperti Bapak. Setelah itu baru saya akan menemui Ratna dan memintanya kembali bekerja di perusahaan saya. Karena tanpa Ratna di sana, perusahaan saya terasa sangat sepi dan tidak bersemangat Pak" ungkap Wildan.
Pak Ramlan tersenyum tipis. Dia mengerti kemana arah tujuan Wildan. Dia juga pernah muda. Cinta yang menyebabkan semua indah. Cinta juga yang membuat semuanya seketika gelap dan suram.
"Putriku itu adalah gadis yang sangat keras" ujar Pak Ramlan.
"Saya tau dari mana sifat itu turunnya Pak" sambung Wildan.
Dua lelaki itu tersenyum bersama.
"Saya menyuruh anak buah saya untuk mencari keberadaan Ratna. Ternyata dia melamar ke salah satu perusahaan rekanan saya. Dari situ saya mengikutinya sampai ke kosan dia yang baru. Dia gadis yang kuat Pak, dan tahan banting. Apapun akan dia hadapi selama hati dan pikirannya berkata kalau hal itu adalah benar" ungkap Wildan.
"Ya, Bapak bersyukur Ibunya berhasil mendidiknya. Bapak merasa malu ketika melihat dia tumbuh menjadi gadis seperti itu tanpa ada campur tangan dari Bapak langsung. Allah terlalu baik kepada Bapak, setelah semua kesalahan yang Bapak perbuat pada mereka. Mereka masih tetap berdoa agar Bapak berubah dan mereka masih mau menerima Bapak yang seperti ini" ucap Pak Ramlan dengan sendu.
"Keluarga adalah keluarga Pak, hubungan darah tidak akan pernah terputus. Ratna menjalankan perintah agama. Seburuk apapun Bapak dia akan tetap menghormati dan menyayangi Bapak" sahut Wildan.
Pak Ramlan tersenyum sedih, tiba - tiba saja dia merindukan putrinya itu.
"Bapak hanya ingin dia bahagia setelah semua ini berakhir. Putriku itu sudah terlalu banyak menanggung beban keluarga selama ini. Bapak tau dia berusaha kuat dan tegar tapi bagaimana pun dia tetaplah wanita. Wanita lemah yang hanya memiliki air mata sebagai kekuatannya. Tapi jangan pernah kamu sepelekan air mata wanita. Kekuatannya bisa menghancurkan seluruh dunia" ujar Pak Ramlan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG