Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 39


__ADS_3

Setelah sarapan pagi seadanya sisa masakan Cinta kemarin Melodi akhirnya pergi meninggalkan apartement dan berangkat menuju TPU tempat orang tuanya di makamkan.


Melodi berjalan menyisiri pusara - pusara yang telah tersusun rapi. Hingga akhirnya Melodi kini sudah berdiri diantar dua pusara milik kedua orang tuanya


Sanjaya dan Melva. Dua nama yang sangat berarti dalam hati Melodi. Mengapa dia diberi nama Melodi? Karena Mamanya sangat suka sekali menyanyi.


Mamanya juga pintar memainkan berbagai alat musik. Dan Papanya sangat mencintai Mamanya sehingga nama Melodi itu adalah keinginan Mamanya dan dikabulkan oleh Papanya.


"Pa.. Ma.. aku datang. Dengan segala keluh kesah di hatiku. Kini aku sudah dewasa tapi sungguh aku tidak sanggup hidup tanpa kalian. Hidupku sepi Pa, tidak ada keluarga yang bisa mendukung, memberi semangat apalagi menyayangiku. Untung ada Wildan dan keluarganya yang sudah menganggap aku bagian dari keluarga mereka. Tapi kini Wildan ingin keluar dari perusahaan. Aku tinggal sendirian lagi Pa. Wildan juga ingin menikah katanya. Pasti nanti dia akan sibuk dengan keluarganya. Bagaimana dengan aku? Siapa yang akan peduli lagi padaku? Siapa yang akan menjadi keluargaku?" ucap Melodi sedih.


Tanpa dia sadari pria yang terlihat begitu dingin dan keras hati akhirnya menangis. Walau menangis yang tertahan.


Setelah tujuh tahun akhirnya dia kembali pada titik sendirian dan kesepian. Melodi gamang menghadapi masa depan. Dia merasa seperti akan di tinggalkan kembali.


Hingga akhirnya pertahanannya roboh. Tangis yang sedari tadi dia tahan sekuat tenaga akhirnya pecah semakin besar. Melodi belutut di hadapan pusara kedua orang tuanya.


"Apa yang harus aku lakukan Pa.. Ma.. Semua pergi meninggalkanku seperti saat kalian dulu pergi. Kemana lagi aku akan mencari kehangatan keluarga? Aku.. aku tidak sanggup hidup seperti ini. Aku rindu kalian, aku ingin ikut bersama kalian" ungkap Melodi sambil menangis terisak.


Air matanya jatuh bercucuran. Kali ini hatinya sangat rapuh, dia sangat galau dengan kehidupan masa depannya kelak. Dia bingung apa yang harus dia lakukan pada hidupnya.


Tidak pernah dia memikirkan masa depannya selama ini karena dia terus - menerus terobsesi pada dendam dan luka lama.


Tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya saat dia duduk berlutut. Seketika Melodi tegang dan tangisnya terhenti. Dia terkejut siapa yang melihatnya lemah seperti saat ini.


Sungguh dia tidak ingin ada yang melihat dia selemah ini. Egonya masih sangat tinggi untuk dilihat orang serapuh saat ini.


"Maaf Den mengganggu, kedua orang tua aden pasti tidak suka melihat aden seperti ini. Aden adalah pria yang kuat, jangan menangis seperti ini. Dalam hidup kita pasti akan selalu menghadapi masalah. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Bersabar dan pasrahkan semua kepada Allah. InsyaAllah DIA akan kasih jalan keluarnya. Yakinlah Allah tidak akan kasih kita cobaan kalau kita tidak sanggup untuk menghadapinya" ucap seorang pria.

__ADS_1


Melodi segera menghapus air matanya dan melihat tampilan pria tua berpakaian kaos oblong yang sudah kusam memakai celana kain berwarna hitam sampai mata kaki. Dia juga memakai peci yang sudah berubah warna dari hitam menjadi abu - abu.


Siapa dia? Apakah dia sesorang yang diutus Papa Mama untuk menemaniku? Tanya Melodi dalam hati.


"Berdiri Den, kalau terlalu lama berlutut seperti itu pasti kaki aden nanti kram. Mari kita duduk di sana" ajak Pria itu sambil menunjuk ke arah pondok tua yang masih ada di dalam kawasan TPU


Melodi berdiri mengikuti perintah pria tua itu. Lalu mereka berjalan menuju pondok tua yang tak jauh dari makam kedua orang tuanya.


"Silahkan duduk Den, maaf pondoknya sudah reyot begini" ucap pria itu mempersilahkan.


Melodi duduk di kursi kayu yang juga terlibat sangat tua. Bahkan saat Melodi duduk terdengar bunyinya.


"Terimakasih Pak" ucap Melodi.


Melodi memperhatikan sekeliling pondok dia melihat ada sapu, arit dan karung goni.


"Bapak ini penjaga TPU ini Den, tugas Bapak memberikan semua area perkuburan ini. Hitung - hitung amal zariah Den. Yah terkadang Bapak juga dapat rezeki kalau ada pengunjung datang dan memberi sedekah mereka" jawab pria itu.


Melodi menatap wajah tua pria itu. Kulitnya terlihat kering dan banyak kerutan di wajahnya. Tubuhnya juga kurus tapi masih terlihat gagah.


Pria itu menatap Melodi balik.


"Dua makam tadi, makam kedua orang tua Aden kan?" tanya pria itu.


"Iya Pak" jawab Melodi.


"Bapak tidak pernah melihat Aden selama ini?" tanya Pria itu.

__ADS_1


"Iya, saya jarang memang datang ke sini. Belakangan ini saya sangat sibuk sekali jadi belum sempat datang ke sini lagi" jawab Melodi.


"Boleh tau kedua orang tua aden meninggal karena apa? Tadi Bapak baca di pusaranya tanggal kematian mereka sama?" selidik pria itu.


"Kedua orang tua saya meninggal karena kecelakaan tujuh tahun yang lalu Pak. Mereka meninggal dunia di lokasi kejadian kecelakaan" jawab Melodi.


"Innalillahi.. sudah tujuh tahun berlalu tapi mengapa aden masih sesedih itu?" tanya pria itu penasaran.


"Saat kedua orang tua saya meninggal saya hanya tinggal sebatang kara Pak. Saat itu usia saya masih dua puluh tahun. Saya masih kuliah dan setelah kematian orang tua saya perusahaan Papa mengalami masalah dan terancam bangkrut. Saya berjuang menyelamatkan apa yang sudah di bangun Papa saya. Sembari saya menyelesaikan kuliah. Saat itu saya dibantu oleh sahabat saya juga keluarganya hingga akhirnya saya bisa bangkit dan sesukses sekarang. Tapi beberapa hari ini sahabat saya itu terus menerus mengatakan kalau dia akan keluar dari perusahaan saya dan akan fokus mengurus perusahaan orang tuanya. Dia juga mengatakan akan menikah. Entah mengapa kata - katanya membuat saya tertekan dan merasa akan ditinggalkan kembali seperti dulu. Selama ini sahabat saya ini selalu berada di sisi saya, memberikan semangat serta dukungannya tapi kini dia akan meninggalkan saya.. Saya sadar pada akhirnya memang kita harus berjalan sendiri - sendiri. Merangkai masa depan sendiri tapi saya belum siap ditinggalkan, saya merasa sepi dan sendirian" ungkap Melodi meluapkan isi hatinya.


"Begitulah kehidupan Den. Pada akhirnya kita juga akan menghadapi sakratul maut sendirian. Berjuang sendiri hingga akhir, tidak akan ada yang bisa membantu kecuali amal perbuatan kita selama di dunia ini. Kalau boleh bapak kasih saran, mulai lah persiapkan diri Aden untuk masa depan. Teman Aden akan menikah, mengapa Aden juga tidak seperti dia. Bangun keluarga kalian masing - masing. Isi kekosongan dalam hidup Aden bersama istri dan anak - anak Aden nanti kelak. Aden tidak sendiri ada Allah bersama Aden setiap saat" ucap pria tua itu.


"Tapi saya sudah lama meninggalkanNYA Pak, saya malu dan saya tidak tau bagaimana caranya kembali" ungkap Melodi.


Pria itu kembali menepuk bahu Melodi pelan.


"Kamu mau Bapak bantu?" tanya pria itu.


Diluar kesadaran Melodi dia menganggukkan kepala pada pria tua itu.


"Ayo kita ke rumah Bapak. Rumah Bapak tak jauh dari TPU ini" ajak pria itu dengan lembut kepada Melodi.


Mereka berdiri dan berjalan meninggalkan area TPU.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2