
Gara - gara Melodi dan Cinta ini rencana Wildan dan Ratna hari ini gagal. Pasangan suami istri itu gak keluar - keluar kamar dari tadi malam. Mereka juga tidak keluar untuk sarapan pagi. Hanya pesan room service.
Ponsel keduanya juga tidak aktif sehingga Wildan dan Ratna tidak bisa menghubungi mereka. Sementara untuk meninggalkan mereka di sini rasanya terlalu kejam.
Wildan mengambil kesempatan untuk membujuk Ratna karena sampai pagi ini Ratna masih mode ngambek kepadanya. Kini mereka berdua duduk di restoran hotel menikmati sarapan pagi.
"Rat.. " panggil Wildan.
Ratna hanya diam dan sibuk menikmati makanannya.
"Sayaaaaank.. " rayu Wildan lagi.
"Stop panggil sayang Mas, kita belum halal. Lagian aku sepertinya akan berubah pikiran" ucap Ratna kesal
"Ups.. jangan donk Rat.. masak udah dekat ke kampung kamu, kamu malah berubah pikiran" cegah Wildan.
"Mas belum mau juga cerita tentang Bela?" tanya Ratna.
"Apa yang harus aku ceritakan Rat. Bela hanya masa lalu aku" jawab Wildan.
"Ya kan Mas bisa cerita apa saja tentang Bela" ujar Ratna kesal.
"Baik aku akan cerita" sahut Wildan.
Wildak menarik nafas panjang.
"Bela adalah mantan pacar aku, cinta pertamaku" ungkap Wildan.
Ratna menatap mata Wildan. Ratna tidak bisa membaca perasaan Wildan saat ini.
"Aku bertemu dengannya saat kuliah dan kami pacaran. Kami menjalin hubungan selama empat tahun hingga akhirnya dia pergi keluar negeri. Dia dapat tawaran pekerjaan disana dan ingin mengembangkan kariernya. Sampai saat ini aku tidak tau dia dimana dan aku tidak bertemu dengannya" ungkap Wildan.
Ratna masih terus menatap mata Wildan.
"Udah, selesai. Aku sudah tidak punya hubungan lagi dengannya. Kami tidak pernah saling sapa karena aku tidak tau nomor kontaknya lagi" sambung Wildan.
"Tapi bagaimana dengan perasaan kamu Mas?" tanya Ratna.
__ADS_1
Itu yang paling penting, walau sosok wanita itu tidak ada tapi kalau hati Wildan masih menyimpan perasaan pada wanita itu tentu sama saja. Tidak ada gunanya mereka membuat rencana serius seperti ini.
Ratna tidak ingin rumah tangga mereka berjalan tanpa Cinta. Memang Wildan sudah berubah dia bukan pria nakal yang pernah Cinta ceritakan dulu. Wildan juga bukan seperti Bapaknya yang suka menyakiti Ibunya.
Tapi itu tetap sama karena Ratna bukan wanita satu - satunya di hati Wildan. Ternyata ada wanita lain saingan tanpa wujud nyata. Ratna tidak tau bagaimana wujudnya, tampilannya dan pribadinya.
Ratna langsung merasa tidak percaya diri. Karena Bela adalah wanita pertama yang mengisi hati Wildan. Pasti sangat sulit melupakannya. Apalagi perpisahan mereka hanya karena perbedaan tujuan hidup bukan karena sesuatu yang lebih menyakitkan.
Pasti kenangan - kenangan Wildan bersama Bela masih tetap indah. Pasti Wildan belum melupakan Bela. Air mata Ratna tanpa bisa dia bendung kini berhasil lolos jatuh di pipinya.
"Kamu kenapa menangis? Apa aku salah? Apa aku menyakiti kamu?" tanya Wildan.
Ratna langsung menghapus air matanya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku Mas?" tanya Ratna.
"Apa yang harus aku jawab Ratna. Hubunganku dengan Bela sudah selesai itu artinya ya selesai. Tidak ada lagi yang aku rasakan semua sudah berakhir" jawab Wildan.
"Mas yakin? Kalau kalian bertemu lagi bagaimana? Apakah kalian akan melanjutkan hubungan kalian yang berakhir begitu saja? Kalau dia kembali ke Indonesia dan bersedia ikut dengan Kakak bagaimana?" tanya Ratna.
Melodi ingin menghapus rasa sepi karena orang tuanya meninggal dunia. Sedangkan dirinya karena ingin melupakan sosok Bela dan melupakan patah hatinya.
Dihati Wildan nama Bela, kenangan Bela bahkan wajah Bela masih terasa indah. Tapi dia sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan hubungan dengan Bela.
Bela telah memutuskan harapan Wildan untuk membangun rumah tangga bersama. Dia pergi begitu saja meninggalkan Wildan hanya karena alasan ingin mengembangkan karirnya.
Wildan menarik nafas panjang.
"Aku yakin Rat, kita sudah sejauh ini. Aku sudah menjalin hubungan serius dengan kamu. Kamu sudah bertemu keluargaku dan aku juga sudah ketemu dengan keluarga kamu. Apa kamu masih meragukan perasaanku pada kamu?" tanya Wildan.
Ratna masih ragu dengan jawaban Wildan.
"Lihat aku Rat, bukankah aku sudah katakan pada kamu tujuan aku berumah tangga dan menikah itu apa? Aku ingin mencari ketenangan hidup, kenyamanan berumah tangga. Kamu lah yang aku cari, kamulah yang pantas untuk menjadi masa depanku" ucap Wildan meyakinkan Ratna juga meyakinkan dirinya sendiri.
Yah Wildan kembali ingat pada tujuan masa depannya. Untuk apa dia menunggu Bela yang sibuk mengejar karirnya. Bela berbeda dengan Ratna. Bela wanita ambisius yang rela mengorbankan hati dan cintanya demi sebuah karir.
Lagian Ratna adalah wanita solehah. Apalagi yang dia cari? Ratna cantik, pintar dan solehah. Dia sudah punya segalanya harta, kesuksesan dan penampilan.
__ADS_1
Wildan juga sudah jalani kehidupan bebas selama beberapa tahun belakangan ini. Dia sudah puas bahkan kini sangat menyesal telah menjalani hidup seperti dulu. Yang dia butuhkan adalah wanita yang bisa mengingatkan dia untuk selalu mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta.
Ratna luluh dengan kata - kata Wildan. Mata Wildan mengartikan kalau dia memang sungguh-sungguh. Lagian Wildan sudah banyak berkorban untuk keluarganya.
Hutang keluarganya sudah dibayar, Ibunya di belikan sawah. Sudah dibangunkan ruko dan kini rumahnya sedang di renovasi. Bahkan Bapaknya sampai masuk rehabilitasi semua karena jerih payah Wildan.
"Oke Mas aku percaya dengan kata - kata kamu. Tapi kalau kamu bertukar pikiran aku mohon putuskan sebelum kita menikah. Aku tidak mau ada perselingkuhan apalagi perceraian dalam rumah tangga. Mungkin aku akan merasakan sakit tapi tidak apa dari pada bercerai, nanti anak - anak yang jadi korban" pinta Ratna.
"InsyaAllah aku tidak akan berubah pikiran Rat" tegas Wildan.
Wildan menatap jam tangannya.
"Sudah hampir siang Rat, sepertinya kita harus panggil Melodi dan Cinta ke kamar mereka. Habis shalat jumat baru kita gerak ke Pati. Sialan Odi, gara - gara dia rencana kita rusak semua" ucap Wildan.
Wildan dan Ratna berdiri mereka berjalan menuju kamar Cinta dan Melodi yang tak jauh letaknya dari kamar mereka. Wildan langsung menekan bel kamar mereka.
Ting.. Tong..
Tak lama pintu kamar di buka.
"Siapa Mas?" tanya Cinta dari dalam kamar.
"Room service yank" jawab Melodi.
"Room service gundulmu Od. Ayo cepat bersiap, kita cari mesjid dekat sini untuk shalat jumat. Selesai shalat jumat kita langsung berangkat menuju kampung Ratna. Kamu enak - enakan di kamar honeymoon kami nungguin diluar. Mana ponsel kalian mati lagi dua - duanya" umpat Wildan kesal.
"Hahahaha.. kami sengaja kasih kamu waktu untuk membujuk Ratna yang lagi ngambek. Apa kalian sudah baikan?" tanya Melodi tersenyum tipis.
"Kamu sahabat apa bon cabe sih, mulut kamu pedas banget ngalahin pedasnya mulut tetangga" sahut Wildan emosi.
"Hahaha... " tawa Melodi pecah mendengar amarah Wildan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1