
Tibalah hari pertunangan Wildan dan Rania. Sejak sore Ratna sudah tiga di rumah Cinta. Tentu saja dengan wajah sedihnya.
"Udah Rat kamu jangan sedih - sedih lagi. Aku dapat bocoran dari Mas Melodi katanya kamu memang harus hadir malam ini. Karena Mas Wildan akan melakukan pertunjukan yang seru malam ini. Sayang sekali kalau kamu harus melewatkannya" ucap Cinta mencoba menghibur sahabatnya.
"Iya pertunjukan kalau dia akan menyematkan cincin tunangan di jari Rania. Pasti wanita itu akan tersenyum mengejek kearah ku" sahut Ratna semakin sedih.
"Kamu jangan langsung berpikiran sepet itu. Menurutku ada sesuatu yang lebih seru makanya Mas Melodi berkata seperti itu" sambung Cinta.
"Sebenarnya aku malas banget datang malam ini Cin. Tapi karena kamu memaksa dan karena kamu juga sudah membelikan aku gaun cantik malam ini jadi aku kuatkan diri untuk datang. Setidaknya biarlah aku akhiri kisah cintaku dengan indah malam ini. Aku akan hadir dengan penampilan terbaikku. Berdandan dengan cantik hingga Pak Wildan merasa menyesal telah bertunangan dengan Rania" ujar Ratna menghibur dirinya.
"Bagus itu kalau kamu berpikiran seperti itu. Aku sangat mendukung niat kamu tersebut.
"Ayo kita berdandan, malam ini kamu gak boleh kalah dengan Rania. Siapa tau Mas Wildan gak dapat malam ini tapi Allah mengirimkan pria lain malam ini yang lebih tampan dan lebih segalanya dari Mas Wildan" ujar Cinta.
"Aamiin" jawab Ratna.
Mereka mulai bermake up. Cinta sengaja memesan MUA untuk mendandani dia, Ratna dan Bik Sumi malam ini.
Make up nya di lakukan di kamar tamu di mana Ratna akan tidur malam ini. Setelah selesai make up mereka langsung memakai gaun yang Cinta pesan.
Ketiganya tampil dengan sangat cantik. Mereka langsung keluar dari kamar karena takut telat sampai ke lokasi acara.
"Kamu cantik sekali sayang. Bukankah begitu Pak Ilham?" ujar Melodi.
"Tentu saja Den, Neng Sumi menang cantik" sambut Pak Ilham.
Cinta dan Melodi saling tatap dan akhirnya mereka berdua tersenyum dan sadar kalau sepasang pria dan wanita tua itu sedang dimabuk asmara.
"Terimakasih Kang. Neng jadi malu" sahut Bik Sumi.
"Kalian sudah siap semua?" tanya Melodi.
"Sudah Mas" jawab Cinta.
"Yuk kita pergi" ajak Melodi.
Mereka pergi dengan mengendarai dua mobil. Melodi dan Cinta naik mobil yang dikemudian Melodi sendiri. Sedangkan Pak Ilham, Bik Sumi dan Ratna naik mobil baru Cinta yang dibelikan Melodi dan dibawa oleh supir yang biasa antar jemput Cinta kemana saja dia mau.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah hotel mewah tempat acara pertunangan Wildan dan Rania dilangsungkan.
Ratna berjalan sambil menggandeng tangan Bik Sumi.
"Tangan kamu dingin sekali Rat" ujar Bik Sumi.
__ADS_1
Bik Sumi tau sedikit tentang perasaan Ratna. Dia juga mengerti pasti saat ini Ratna sangat nervous sekali datang ke acara ini.
Dari kejauhan mereka bisa melihat Wildan dan Rania berdiri berdampingan menyambut tamu yang datang. Hati Ratna semakin sakit melihatnya.
Sementara Wildan sangat terpesona dengan tampilan Ratna malam ini. Ratna terlihat sangat berbeda dan sangat cantik.
Cinta berbisik disamping Ratna.
"Lihat Rat, Mas Wildan terpesona melihat kamu malam ini" ucap Cinta.
"Gak mungkin Cin, lihatlah Rania sangat cantik dan sempurna malam ini" balas Ratna.
"Akhirnya kalian datang juga" sambut Wildan.
"Iya nih hampir telat, gara - gara nungguin Ratna. Make up nya gak siap - siap dia ingin tampil cantik malam ini katanya" sahut Melodi.
Ratna hanya bisa tertunduk malu. Sedangkan Rania sangat kesal mendengar ucapan Melodi.
Mereka saling berjabat tangan.
"Silahkan ambil tempat duduk kalian. Terimakasih sudah datang ke acara ini" ujar Wildan tulus.
Lagi - lagi pandangannya tak pernah lepas dari wajah Ratna.
"Baiklah kalau begitu" sahut Melodi.
Rania tampak senang sekali malam ini, dia tak henti - hentinya melirik ke arah Wildan. Tibalah saat pemasangan cincin pertunangan.
Pembawa acara memanggil mereka berdua untuk naik ke atas pentas. Musik sayup - sayup terdengar mengiringi rangkaian acara inti.
Tiba - tiba layar di dinding dekat Wildan dan Rania menyala menampilkan sosok Rania yang sedang berjalan ke Restoran Hotel. Rania disambut oleh Mr. Smithson.
Mereka saling berpelukan dan Mr. Smithson mencium pipi Rania. Walau pada saat itu Rania sedang sangat kesal tapi di layar monitor tidak terlihat sama sekali. Mereka persis seperti sepasang kekasih yang sedang melepas rindu. Sontak para tamu undangan bersorak riuh.
"Apa - apaan ini Rania?" tanya Wildan.
Wildan yang akan memasangkan cincin di jari Rania berhenti. Rania tidak tau kalau dalam hati Wildan sedang bersorak senang. Malam ini perjodohan dia dan Rania akan segera berakhir.
Pa.. bersiaplah untuk membatalkan perjodohanku dengan Rania. Batin Wildan bersorak menang.
Wajah Rania pucat dia sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Si.. siapa yang melakukan semua ini?" tanya Rania.
__ADS_1
"Bukan itu harusnya yang dipertanyakan. Apa yang terjadi saat itu? Bukankah kejadian ini pada saat kamu mengantarkan oleh - oleh untuk Mr. Smithson?" tanya Wildan.
Mereka berdua dan para tamu undangan kembali menonton kegiatan Rania di hotel seperti sedang menonton sebuah film perselingkuhan.
Tampak di sana Rania dan Mr. Smithson sedang berbincang-bincang mesra. Lalu Rania dan Mr. Smithson berdiri dan berjalan menuju lift sambil saling rangkul. Mereka hilang di balik pintu lift.
Lalu tak lama kemudian Rania dan Mr. Smithson sudah berada di lantai atas dan mereka terlihat sedang masuk ke dalam kamar hotel.
"Whoaaaa... " sorak para tamu.
Filmnya dipercepat hingga satu jam kemudian Rania keluar dengan rambut yang sudah basah dan terlihat segar. Keluar dari kamar hotel sambil tersenyum.
Mr. Smithson mengantarkan dirinya sampai ke pintu kamar dengan hanya menggunakan bathrobe kamar mandi. Mereka melakukan ciuma* bibir untuk salam perpisahan.
"Cuit.. cuiiit... " sorak salah seorang tamu.
Wajah Rania sudah memerah seperti kepiting kepanasan.
"Ada apa ini Rania, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi disana?" tanya Wildan dengan wajah serius.
"A.. aku.. " ucap Rania terbata - bata.
Pak Raharjo langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kedua orang tua Rania.
"Aku tidak ingin pertunangan ini dilanjutkan. Aku tidak sudi menerima menantu seperti itu yang tak lebih seperti wanita ****** dan murahan. Malam ini perjodohan ini selesai" ucap Pak Raharjo dengan tegas.
"Jangan begitu Raharjo.. apa tidak bisa kita bicarakan dengan baik - baik? lihatlah para tamu undangan sudah hadir semua di sini" bujuk Papa Rania.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dan tidak perlu terlalu lama berpikir. Aku tidak sudi punya menantu yang suka hidup seperti itu. Belum bertunangan saja dia sudah suka selingkuh, gimana nanti saat dia sudah menikah" jawab Pak Raharjo.
"Wil jangan lakukan ini" pinta Rania dengan wajah memohon.
"Harusnya kamu berpikir Rania saat melakukan semua itu. Bukan sekarang kamu memohon kepadaku seperti ini. Aku sudah mau menerima pertunangan ini tapi kamu yang merusak semuanya. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kamu dengarkan apa kata Papaku. Pertunangan kita batal" ucap Wildan.
Wildan segera turun dari pentas lalu disusul oleh Rania.
"Papa" Rania memanggil Papanya untuk meminta pembelaan.
"Kamu memang selalu pintar membuat malu keluarga" sambut Papa Rania.
Papa Rania pergi meninggalkan tempat karena malu dengan semua tamu undangan. Rania langsung mengejar kedua orang tuanya dan pergi meninggalkan tempat acara pertunangan berlangsung.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG