
"Ramlan.. Maafkan atas kesalahanku selama ini pada kamu dan keluarga kamu. Aku mengaku salah dan lalai selama ini. Sehingga berakibat buruk pada kehidupan kamu dan keluarga kamu" ucap Pak Raharjo akhirnya.
Wildan menatap wajah Papanya tak percaya. Ternyata Papanya sangat gentleman meminta maaf langsung di hadapan semua orang kepada Pak Ramlan.
Dimana Papanya yang keras dan punya harga diri yang tinggi selama ini? tanya Wildan dalam hati.
"Sudah Pak Raharjo saya sudah memaafkan semuanya. Semua sudah berlalu dan saya sudah berdamai dengan masa lalu" sambut Pak Ramlan.
"Kini aku sadar akibat sikapku yang keras banyak orang yang sudah menjadi korban. Termasuk putraku sendiri. Karena kelalaianku di masa lalu akhinya putraku gagal menikah. Beberapa hari ini aku terus memantau keadaannya setelah gagal melamar putri kamu. Aku melihat putraku sangat terluka. Aku sadar semua karena kesalahanku. Oleh sebab itu aku ingin menyelesaikan semuanya dengan baik. Aku sadar aku dan kamu sudah tua, tidak ada baiknya kita saling bermusuhan apalagi permasalahannya karena pihak ke tiga" ungkap Pak Raharjo.
Pak Raharjo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Pak Ramlan. Kemudian Pak Raharjo mengangkat tangannya dan mengulurkannya kehadapan Pak Ramlan.
"Maafkan aku dan mari kita berbesan" ucap Pak Raharjo.
Pak Ramlan sangat tidak menyangka mantan atasannya sangat dulu sangat dia hormati dan pernah menoreh luka dan kekecewaan yang besar di hatinya kini menurunkan harga dirinya dan mau memintanya untuk berbesan.
"Sa.. saya tidak pantas Pak" jawab Pak Ramlan gugup.
Pak Raharjo langsung memeluk Pak Ramlan.
"Tidak ada kata pantas atau tidak pantas. Aku tidak pernah memandang manusia dari hartanya. Yang penting anakku suka dan bahagia itu sudah lebih dari cukup" ujar Pak Raharjo langsung merangkul Pak Ramlan.
Melihat pemandangan seperti ini, Wildan langsung mengabadikannya. Untuk bukti nanti yang akan dia bawa dihadapan Ratna.
Tak henti - hentinya Wildan mengucapkan rasa syukur dalam hatinya. Akhirnya Papanya dan Bapak Ratna sudah berdamai dan berbaikan.
"Rapat dilanjutkan" ucap Pak Raharjo kepada Wildan.
"Baik Pa, silahkan duduk semuanya" perintah Wildan kepada para peserta rapat yang tersisa.
"Akibat kejadian ini tiga jabatan kosong saat ini, oleh sebab itu saya ingin mengumumkan kepada kalian semua bahwa saya akan mengangkat Pak Ramlan sebagai Kepala Bagian Pengawasan dan Pengembangan Proyek" ucap Wildan.
"Tidak" potong Pak Raharjo
Semua mata menatap Pak Raharjo, mereka terkejut mendengar ucapan Pak Raharjo.
"Itu tidak cukup untuk membayar semua kesalahanku selama dua puluh tahun ini. Angkat saja Ramlan sebagai Direktur" lanjut Pak Ramlan.
__ADS_1
Wildan tersenyum mendengar ucapan Papanya.
"Ja.. jangan Pak. Itu terlalu besar untuk saya" cegah Pak Ramlan.
Dia sangat tidak menyangka dan merasa tak sanggup untuk menerima tanggung jawab sebesar itu.
"Tidak ada yang perlu kamu risaukan. Kamu hanya mengawasi semuanya. Laporannya kan bisa kamu kirim ke Wildan. Aku percaya kamu adalah pria yang jujur dan bertanggungjawab" jawab Pak Raharjo.
"Gimana Pak? Menurut saya jabatan itu memang sangat cocok untuk Bapak" sambut Wildan.
"Terima aja Ramlan, kami akan membantu kamu. Kamu semua di sini juga merasa sangat bersalah pada kamu. Anggap lah bantuan kami sebagai rasa penyesalan dan permintaan maaf dari kami" sahut Tommi teman kerjanya Pak Ramlan dulu.
"Benar Pak Ramlan" sambut teman - teman Ramlan yang lain.
Pak Ramlan menatap wajah Pak Raharjo dan Wildan bergantian. Dia sangat galau dan bimbang saat ini.
"Bisakah saya meminta waktu?" tanya Pak Ramlan.
"Kami tidak bisa berlama - lama di sini Ramlan. Lagian masih banyak yang harus kita bicarakan lagi selain pengangkatan kamu sebagai Dirut. Kita harus membicarakan tentang pernikahan anak - anak kita" jawab Pak Raharjo.
Setelah mempertimbangkan tawaran calon besannya akhirnya Pak Ramlan memutuskan. Dia menarik nafas panjang lalu menjawab pertanyaan Pak Raharjo.
"Alhamdulillah" sahut semuanya.
"Jangan panggil aku Bapak lagi, sebentar lagi kamu akan jadi besanku. Panggil Mas saja atau kamu mau pangy namaku saja juga tidak apa - apa" ujar Pak Raharjo.
"Jangan Pak eh Mas.. Saya panggil Mas saja ya" balas Pak Ramlan.
"Terserah kamu saja" sahut Pak Raharjo.
"Kalau begitu rapat saya tutup, untuk merayakan pengangkatan Direktur yang baru saya akan mengundang Bapak - bapak sekalian makan di Restoran XXX. Setelah kita keluar dari ruangan rapat ini kita bisa langsung menuju ke sana. Sekian rapat hari ini, saya tutup dengan hamdalah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Wildan menutup rapat.
Semua peserta rapat berdiri dan bertepuk tangan menyambut kehadiran Direktur baru di perusahaan mereka. Satu persatu teman - teman lama Pak Ramlan memberikan ucapan selamat sambil menjabat tangan Pak Ramlan.
Begitu mereka keluar dari ruangan rapat, mereka lanjut menghadiri makan siang bersama di Restoran yang tadi disebutkan Wildan. Pak Ramlan naik ke dalam mobil Wildan dan juga Pak Raharjo. Mereka bertiga menuju lokasi Restoran berada.
"Bagaimana dengan Ratna?" tanya Pak Raharjo.
__ADS_1
"Ratna biar jadi urusan saya ya Pa. Pak tolong jangan katakan apapun pada Ratna. Setelah saya kembali ke Jakarta saya akan menyelesaikan masalah saya dengan Ratna. Kalian tidak perlu khawatir saya akan mengajak Ratna kembali ke Perusahaan bekerja bersama saya dan pindah ke apartement Melodi sebelum menikah dengan saya" jawab Wildan.
"Baiklah Nak Wildan, Bapak akan ingatkan Ibu dan adik - adik Ratna di rumah" ujar Pak Ramlan.
Wildan tersenyum bahagia, kini satu masalah besar telah selesai. Wildan merasa sangat optimis bisa membawa Ratna kembali ke perusahaannya dan juga kembali menjadi tetangganya di apartement.
Setelah itu dua keluarga akan bertemu. Dia akan datang bersama kedua orang tuanya untuk melamar Ratna langsung kepada keluarga Ratna.
Wildan sudah tidak sabar untuk secepatnya kembali ke Jakarta. Dia sangat rindu kepada Ratna. Pasti Ratna tidak menyangka dia bisa secepat ini menyelesaikan masalah kesalah pahaman kedua orang tua mereka.
Setelah mereka selesai makan siang bersama. Pak Ramlan kembali ke Pati diantar oleh mobil perusahaan. Hari senin depan Pak Ramlan sudah mulai resmi bekerja di PT. Raharjo Pelangi.
Sedangkan Wildan dan Papanya berangkat menuju Jakarta dengan penerbangan sore hari. Sudah lama mereka tidak berpergian berdua saja seperti ini.
Kini mereka sudah duduk di bangku pesawat menundu pesawat lepas landas.
"Papa bangga punya anak seperti kamu" puji Pak Raharjo.
Wildan tersenyum membalas pujian Papanya.
"Bisa - bisanya Papa percaya sama bajingan itu selama bertahun - tahun. Ternyata dia musuh dalam selimut. Kamu hebat boy.. bisa memecahkan masalah yang tersembunyi selama bertahun-tahun hanya dengan dua hari" lanjut Pak Raharjo.
"Semua kan berkat pengajaran Papa. Bedanya aku lebih sabar dan lebih teliti dari Papa" jawab Wildan.
"Ya itu sifat Mama kamu. Dia sudah begitu sabar mendampingin suami seperti Papa yang suka meledak - ledak. Aaah jadi kangen Mama kamu" ucap Pak Raharjo.
"Papa mau menyindir aku nih?" tanya Wildan.
"Hahaha.. masalah kamu dan Ratna kan sudah selesai. Sebentar lagi kalian akan menikah" jawab Pak Raharjo.
"Doa kan ya Pa semoga semuanya lancar sampai hari H. Sepertinya masih ada masalah yang akan datang menghampiri kami. Kemarin aku bertemu dengan Rania dan Bella" ungkap Wildan.
"Bella? Mantan pacar kamu?" tanya Pak Raharjo terkejut.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG