
Wildan tiba di Cafe sekitar jam sepuluh malam. Dia mencoba menghubungi Ratna tapi teleponnya tidak di angkat. Wildan menghubungi Cinta.
"Assalamu'alaikum Cinta" ucap Wildan.
"Wa'alaikumsalam Mas Wildan" sambut Cinta.
"Cin, Ratna dimana ya?" tanya Wildan.
"Lho Mas Wildan belum ketemu Ratna? Dia tadi menunggu Mas di Cafe" jawab Cinta.
"Dia menungguku sendirian?" tanya Wildan khawatir.
"Tidak, ada Wahyu menemaninya" jawab Cinta.
"Tapi aku sudah cari di Cafe mereka tidak ada Cin" ujar Wildan.
"Coba telepon Wahyu Mas" perintah Cinta.
"Oke aku akan coba hubungi Wahyu ya. Makasih ya Cin maaf mengganggu" ucap Wildan.
"Tidak apa Mas kami juga baru sampai rumah" balas Cinta.
Telepon terputus dan Wildan langsung menghubungi nomor Wahyu. Tapi sama teleponnya tidak di jawab. Wildan semakin panik.
"Kemana sih kalian? Kenapa gak jawab teleponku" gumam Wildan.
Wildan menanyakan kepada pelayan dengan menunjukkan foto Ratna. Ternyata Ratna sudah selesai membayar tagihan makanan mereka sekitar satu jam yang lalu.
Dan ruangan tempat mereka berkumpul tadi sudah terisi oleh orang lain. Itu artinya Ratna sudah pulang sekitar satu jam yang lalu.
"Kamu kemana Ratna?" tanya Wildan.
Wildan mulai cemas dan panik. Tiba - tiba ponsel Wildan bergetar tanda pesan masuk. Dia membuka ponselnya dan alangkah terkejutnya Wildan saat melihat isi pesan tersebut.
Wildan melihat foto Ratna tanpa busana bersama Wahyu di sebuah hotel. Pesan itu juga menuliskan nama hotel tempat Ratna dan Wahyu memadu kasih.
__ADS_1
"Shiiiit.. ini tidak mungkin. Pasti ada yang tidak beres di sini. Aku tidak percaya Ratna bisa mengkhianati aku seperti ini" ucap Wildan geram.
Wildan langsung keluar dari Cafe dan berlari menuju mobilnya. Kemudian Wildan melajukan mobilnya menuju Hotel yang tertulis di pesan yang dikirim kepadanya lengkap dengan nomor kamarnya.
Untung saja letak hotelnya tak jauh dari Cafe. Dengan cepat Wildan sudah sampai di hotel. Dia segera berlari ke resepsionis dan menanyakan kamar yang tertera di dalam pesan.
Ternyata kamar tersebut dipesan atas nama Ratna. Wildan menjelaskan kepada karyawan Hotel bahwa Ratna adalah calon istrinya dan dia harus masuk ke kamar tersebut.
Akhirnya Wildan bisa meyakinkan karyawan Hotel. Mereka berjalan menuju kamar yang Ratna pesan. Jantung Wildan tak karuan, rasanya mau copot karena amarah campur rasa tidak percaya.
Pintu kamar terbuka tapi Wildan meminta pelayan tutup mulut dan meninggalkannya sendirian di kamar itu. Wildan sangat terkejut melihat apa yang ada di hadapannya.
Ratna dan Wahyu tanpa busana berpelukan sambil tak sadarkan diri. Di nakas samping tempat tidur terlihat beberapa botol minuman keras.
Wildan mencoba membangunkan Ratna dan Wahyu tapi mereka tidak juga sadar. Wildan ingin sekali marah meluapkan amarahnya tapi dia mencoba bersabar.
Dengan penuh kesabaran Wildan memakaikan pakaian Ratna. Tanpa bisa dia cegah air matanya mengalir dari sudut matanya. Hatinya sangat hancur saat ini tapi rasa cintanya pada Ratna tak bisa hilang dalam sesaat.
Wildan mencoba berpikiran tenang. Mungkin lebih baik besok dia tanyakan langsung kepada Ratna apa alasan Ratna melakukan hal ini. Kalau memang Ratna tidak mencintainya dan menikah dengannya hanya karena balas budi lebih baik pernikahan mereka dibatalkan saja.
Setelah pakaian Ratna lengkap terpakai Wildan menggendong Ratna dan membawanya keluar dari Hotel. Wildan membawa Ratna pulang ke apartementnya dan meletakkan Ratna diatas tempat tidur kamar Ratna.
"Od, bisa kita bertemu?" tanya Wildan melalui panggilan telepon.
"Ada apa Wil, mengapa malam - malam begini? Apa kamu sudah menemukan Ratna?" tanya Melodi bingung.
"Sudah, dia sudah tidur di apartementnya. Aku ingin bicara sesuatu pada kamu dan tidak bisa melalui telepon. Kita harus bertemu" pinta Wildan.
"Oke kita bertemu di Cafe XXX" sambut Melodi.
Wildan langsung menutup teleponnya dan pergi meninggalkan apartementnya. Tiga puluh menit kemudian dia sudah bertemu Melodi di sebuah Cafe yang disebutkan Melodi tadi.
Melodi terkejut melihat tampilan Wildan yang terlibat kacau. Wildan memakai kemeja pakaian kerjanya dengan bentuk yang sudah acak - acakan. sebagian ujung bajunya sudah keluar dari celana. Tangan kemeja Wildan sudah digulung asal - asalan sampai sikunya.
"Ada apa dengan kamu? Mengapa kamu berpenampilan seperti ini?" tanya Melodi bingung.
__ADS_1
Wildan menghempaskan pantatnya di sofa yang ada di samping Melodi.
"Pernikahanku batal Od, semua sudah hancur. Hancur semua" ucap Wildan dengan sedih.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Melodi semakin bingung.
"Kamu tau dimana aku menemukan Ratna tadi?" tanya Wildan.
"Dimana?" tanya Melodi penasaran.
"Di Hotel bersama Wahyu. Mereka aku temukan di kamar hotel dalam keadaan mabuk berat dan tak sadarkan diri" ungkap Wildan.
"Ka.. kamu serius Wil?" tanya Melodi tak percaya.
"Gak mungkin aku main - main Od" jawab Wildan.
"Tapi aku tidak percaya, Ratna tidak mungkin melakukan itu semua" ujar Melodi.
"Aku juga ingin tidak mempercayainya, tapi aku menyaksikannya langsung Od. Aku yang memakaikan pakaian Ratna dan membawanya pulang. Dia aku letakkan dikamarnya masih dalam keadaan mabuk berat" ucap Wildan.
"Aku masih tidak percaya Wil, kamu juga harus berpikiran seperti itu. Coba kamu cari tau apa yang terjadi di Cafe tadi. Mengapa Wahyu dan Ratna bisa melakukan semua itu. Jangan ikuti amarah kamu. Jangan sepet aku Wil karena amarah jadi menyakiti Cinta, wanita yang sangat aku cintai. Kamu lebih mengenal Ratna kamu pasti sangat tau Ratna tidak akan melakukan apa yang kamu katakan tadi" nasehat Melodi.
"Aku ingin tidak mempercayainya Odiiii.. tapi tanganku ini yang langsung memakaikan pakaiannya dan menggendongnya pulang" ujar Wildan dengan matanya yang sudah basah.
Hatinya sangat hancur, walau semua diluar kesadaran Ratna tapi ini tidak bisa dimaafkan. Bagaimana bisa Ratna mau terbujuk rayuan Wahyu untuk minum minuman beralkohol?
Ratna sangat membenci Bapaknya yang suka mabuk - mabukan tapi mengapa dia juga melakukan hal yang sama? Apa dia dijebak? Tapi kondisi Wahyu juga sama dengan Ratna.
Selama ini Wildan selalu bersama Ratna kemanapun. Tidak ada celah atau kesempatan Ratna untuk bertemu dengan Wahyu. Bagaimana mereka bisa mengkhianati dirinya seperti itu?
Wildan menjambak rambutnya karena kepalanya terasa sangat pusing memikirkan semua hal yang terjadi saat ini.
"Aku percaya kamu bisa menyelesaikan semua ini dengan kepala dingin. Kamu bukan seperti aku yang dulu Wil. Kamu lebih mengdahulukan akal pikiran kamu dibandingkan amarah kamu. Sekarang gunakan akal kamu dan tekan amarah kamu. Kamu juga punya orang yang bisa kamu percayakan mencari informasi atas semua ini. Suruh mereka mengusut tuntas masalah ini. Kamu pulang ke apartement, shalat dan minta petunjuk dari Allah. Istirahat lah agar pikiran kamu lebih tenang dan besok bisa berpikir lebih baik lagi. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, ingat itu" pesan Melodi.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG