Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 197


__ADS_3

"Maaf Mas, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita kearah masa depan. Aku memilih mundur" ucap Ratna.


Sontak Wildan terkejut dan tidak menyangka Ratna akan berkata seperti itu.


"Rat, apa yang kamu katakan?" tanya Wildan tak percaya.


"Aku tidak bisa bahagia sendiri Mas. Sementara Bapak dan seluruh keluargaku bersedih. Aku tidak bisa melihat air mata kekecewaan di mata Bapak" jawab Ratna sambil terisak.


Tangis Ratna pecah. Dia menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tapi bukan itu jalan keluar satu - satunya Rat. Kita bisa meyakinkan Bapak untuk... " ucap Wildan.


"Untuk menerima hubungan kita? Bapak menerimanya Mas, Bapak merestuinya, bahkan Bapak bersedia menikahkan aku dengan kamu. Tapi Bapak tidak akan pernah sanggup datang menemui kamu dan Papa kamu Mas. Bapak tidak akan sanggup hiks.. hiks.. " potong Ratna sambil menangis.


Wildan mengepalkan tangannya kesal. Marah dengan keadaan dan kenyataan baru tentang hubungan masa lalu kedua orang tua mereka. Dia tidak menyangka, sangat tidak menyangka ini akan menjadi penghalang besar hubungan mereka.


"Aku.. aku akan bekerja dengan keras Mas bila perlu seumur hidup aku akan mengabdikan diriku di perusahaan kamu untuk membayar semua apa yang telah kamu berikan pada keluargaku" ucap Ratna.


"Ratna" bentak Wildan kesal.


Dia tidak pernah mengharapkan imbalan atau bayaran atas apa yang terlah dia berikan buat keluarga Ratna. Dia ikhlas memberikan apapun untuk wanita yang sangat dia sayangi.


"Tidak Mas... aku dan keluargaku tidak bisa menerima semuanya dengan cuma - cuma. Walau kami berasal dari keluarga sederhana tapi kami hanya punya harga diri. Harga diri yang membuat kami merasa dihargai di dunia ini. Aku berjanji akan membayar semua yang telah Mas berikan pada keluargaku. Terimakasih atas semua cinta yang telah kamu berikan kepadaku, terimakasih atas semua perhatian dan kasih sayang kamu dan maaf Mas aku tidak bisa membalasnya. Aku siap jika kamu marah, siap kalau kamu menyalahkan aku. Marah saja Mas, salahkan aku karena telah mengambil keputusan seperti ini. Salahkan aku yang dengan mudahnya mundur dari hubungan ini. Aku tidak punya pilihan lain Mas. Aku harus memilih keluargaku dari pada kamu" Ratna menekan dadanya dengan kuat.


Hatinya sangat sakit sekali malam ini. Tidak pernah seumur hidupnya merasakan sakit yang seperti ini. Tapi dia harus kuat demi keluarganya, demi Bapaknya.


"Tidak Rat, aku tidak bisa menerimanya begitu saja" bantah Wildan.


"Sampaikan maafku yang sebesar - besarnya pada Om dan Tante. Mas jangan takut aku akan tetap bekerja secara profesional di perusahaan kamu. Kalau kamu keberatan, aku akan mulai cari pekerjaan baru. Dan kamu tidak perlu khawatir, aku akan tetap menepati janjiku untuk mencicil semua uang yang telah kamu berikan untuk keluargaku " ujar Ratna.


Bruk... Bruk...


Wildan memukul kursi yang mereka duduki. Tangan Wildan terlihat merah tapi dia tidak merasakan sakit sedikitpun.


"Aku harus pergi Mas, terimakasih kamu sudah datang ke sini malam ini. Titip salam untuk Om, Tante, Cinta dan Pak Melodi" pamit Ratna.


Ratna segera pergi meninggalkan bangku tempat mereka duduk tadi. Wildan terkejut dan tak menyangkan Ratna akan secepat itu pergi dari sisinya.

__ADS_1


Wildan dengan sigap segera mengejar Ratna dari belakang tapi dia kalah cepat. Ratna sudah masuk ke dalam taxi.


Mobil berlalu begitu saja dari hadapan Wildan.


"Ratnaaaaaa... " teriak Wildan dengan keras.


Membuat orang - orang yang ada di sekelilingnya menatapnya dengan tatapan aneh dan bertanya - tanya.


"Sial.. kamu tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan kita Rat" gumam Wildan kesal.


Wildan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya secara kasar. Sedangkan Ratna terus menangis di dalam taxi. Dia meremas bajunya dengan kencang.


Hatinya sangat sakit, sangat - sangat sakit. Bagaimana setelah ini dia menjalani hari - harinya? tapi ini adalah jalan terbaik untuk mereka. Dia juga tidak bisa membuat Bapaknya kecewa.


Mereka sama - sama pulang ke tempat masing-masing. Ratna pulang ke rumah sedangkan Wildan balik ke Hotel. Sesampainya Wildan di hotel dia disambut cemas oleh Cinta dan Melodi.


Sepasang pasutri itu menarik dan membawa ke Restoran hotel. Melihat tampilan Wildan yang kusut mereka sudah yakin bahwa yang terjadi sangat buruk.


"Cepat banget kamu pulang, Ratna mana?" tanya Melodi.


"Dia sudah pulang ke rumahnya" jawab Wildan.


"Gak perlu Cin, aku gak lapart" tolak Wildan.


"Udah pesanin aja yank. Kamu harus makan Wil, walau gak lapar. Aku kenal kamu, nanti kamu sakit" bujuk Melodi.


Fix tingkah Wildan saat ini hampir sama seperti saat Bela pergi. Wildan patah hati, pasti Ratna tadi memutuskan hubungan mereka. Begitu dugaan Melodi.


Cinta memesan makanan yang pasti bisa dimakan Wildan. Pilihannya jatuh pada nasi goreng dan kopi. Pelayan sudah mencatat pesanan Cinta.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" desak Melodi.


Wildan menatap wajah Melodi. Melodi bisa melihat ada amarah dan kesedihan di sana. Wildan menarik nafas panjang lalu melepaskannya dengan kasar.


"Ratna memilih mundur" ungkap Wildan.


"Ya Allah.. " sambut Cinta.

__ADS_1


"Mengapa dia selemah itu sih? Gak mau berjuang untuk masa depan kalian bersama?" tanya Wildan kesal.


"Itu pilihan yang sangat sulit Mas, tolong mengerti keadaan Ratna saat ini. Memilih antara keluarga dan orang yang sangat dia cintai. Walau sangat berat dah menyakitkan, Ratna harus memilih keluarga. Aku tau dan kenal bagaimana sifat Ratna. Dia lebih memilih dirinya yang sakit dari pada keluarganya" jawab Cinta.


"Iya tapi kan bisa dibicarakan baik - baik. Bisa membujuk Bapaknya untuk berdamai dengan masa lalu?" protes Wildan.


"Mas kan tau sendiri bagaimana selama ini Bapaknya? Dia sangat kecewa Mas, malah memilih untuk lari ke minum - minuman keras. Bagaimana membujuk Bapak Ratna untuk berdamai dengan masa lalu?" tanya Cinta.


"Apa cinta kalian di tentang oleh Bapaknya Ratna?" tanya Melodi.


Wildan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Ratna malah bilang kalau Bapaknya merestui pernikahan kami. Tapi Ratna gak sanggup melihat Bapaknya kecewa apalagi menangis" jawab Wildan.


"Ya Allah, pasti saat ini Ratna sangat sedih sekali" potong Cinta.


Cinta segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Ratna. Tapi tak lama terdengar suara operator telepon. Itu artinya ponsel Ratna gak aktif.


Cinta jadi cemas, apakah Ratna sudah sampai di rumahnya. Cinta langsung menghubungi nomor ponsel Retno.


"Assalamu'alaikum No, Mbak mau tanya. Ratna sudah sampai di rumah?" tanya Cinta.


Wildan melirik Cinta, tiba - tiba dia jadi khawatir dengan keadaan Ratna. Mengapa Cinta malah menghubungi Retno?


"Oh syukurlah, sudah lama?" selidik Cinta.


"Mbak bisa bicara dengan Ratna?" tanya Cinta lagi.


"Baiklah kalau begitu, besok saja Mbak hubungi dia lagi ya. Ya sudah makasih ya No. Assalamu'alaikum" Cinta menutup ponselnya.


Wildan menatap Cinta dengan tatapan penasaran dan berharap Cinta akan bicara secepatnya.


"Ratna sudah sampai di rumah, dia sedang mengunci dirinya di kamar dan Retno tidak berani mengganggunya. Pasti saat ini Ratna sedang menangis Mas. Oooh ya Allah pasti dia sangat sedih sekali saat ini" ucap Cinta sedih memikirkan nasib sahabatnya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2