
Selepas Isya Wahyu tiba di rumah Rania. Sebelumnya Rania sudah sampaikan kepada Papa dan Mamanya kalau malam ini akan ada temannya seorang laki - laki datang ke rumah mereka.
"Assalamu'alaikum" ucap Wahyu saat masuk ke dalam rumah Rania.
Mata Rania berkaca - kaca, dia tidak menyangka ternyata Wahyu serius dengan ucapannya kemarin saat mereka makan malam di warung pinggir jalan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Rania.
Keduanya tampak canggung.
"Orang tua kamu ada kan?" tanya Wahyu.
"A.. ada. Silahkan masuk" sambut Rania.
Rania langsung mengajak Wahyu masuk ke ruangan keluarga. Wahyu melirik sekeliling rumah Rania dan dia semakin tidak percaya diri.
Bagaimana aku bisa menafkahi Rania nanti kalau standar hidup keluarganya seperti ini? Aku sangat yakin gajiku selama satu bulan hanya bisa membeli makan mereka sehari. Batin Wahyu semakin tidak percaya diri.
"Silahkan duduk Yu, aku panggil Papa sebentar ya" ucap Rania.
Wahyu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Kedua tangannya saling meremas untuk menutupi kegelisahannya. Tak lama kemudian Rania datang bersama kedua orangtuanya.
"Ehm... " Papa Rania seperti memberi kode.
Wahyu langsung berdiri dan menyambut kedatangan kedua orang tua Rania. Wahyu menjabat kedua orang tua Rania.
"Perkenalkan Pak nama saya Wahyu" ucap Wahyu.
__ADS_1
"Sudibyo" jawab Pak Sudibyo penuh wibawa.
Wahyu menelan salivanya. Dia benar - benar tegang saat ini. Bulir - bulir keringat mulai keluar di wajahnya padahal ruangan keluarga di rumah Rania menggunakan pendingin ruangan.
"Kamu kenal Rania dimana?" tanya Pak Sudibyo.
Seketika Rania dan Wahyu saling pandang. Rania tidak ingin membantu Wahyu menjawab pertanyaan Papanya. Dia ingin melihat seberapa besar kesungguhan Wahyu untuk melamar dirinya.
"Sa.. saya karyawan di Perusahaan Sanjaya Corp Pak. Tepatnya dulu saya rekan kerja istrinya Pak Melodi saat bekerja di kantor. Saya juga berteman dengan Ratna istrinya Pak Wildan saat sama - sama bekerja di Perusahaan yang sama. Lalu Cinta berhenti bekerja karena menikah sedangkan Ratna pindah ke Perusahaan milik Pak Wildan. Setelah Cinta dan Ratna tidak bekerja lagi di kantor tempat saya berkerja kami tetap berteman akrab. Saya bertemu dengan Rania hanya tiga kali Pak. Tapi saling bertegur sapa baru dua kali. Pertama saat Rania bertemu dengan Ratna di sebuah Mall dan yang kedua kemarin malam di pelataran Mesjid Ar- Rahman. Kalau di bilang teman sebenarnya masih belum begitu dekat tapi kami saling kenal" jawab Wahyu jujur.
Rania tidak menyangka ternyata Wahyu adalah pria yang jujur dan pemberani.
"Kalau begitu kamu pasti sudah mendengar sesuatu tentang Rania?" selidik Pak Sudibyo.
Wahyu menganggukkan kepalanya penuh hormat.
"Bagian dari masa lalu Rania bagaimana?" tanya Pak Sudibyo penasaran.
Rania menutup kedua matanya sambil menarik nafas panjang.
"Saya tidak akan basa - basi lagi Pak. Tiga tahun yang lalu Rania melakukan tindakan melanggar hukum dengan menjebak Ratna yang saat itu adalah calon istrinya Pak Wildan dengan seorang pria di sebuah Hotel. Pria yang di jebak bersama Ratna itu adalah saya Pak. Dan saat itulah pertemuan pertama kami Pak, walau saat itu saya tidak sadarkan diri di hadapan Rania" ungkap Wildan jujur.
Pak Sudibyo menatap tajam ke arah Wahyu tapi tatapan Pak Sudibyo itu tidak sedikitpun membuat Wahyu takut. Wahyu tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk Rania. Apalagi berniat untuk balas dendam atas apa yang Rania lakukan dulu.
Wahyu sudah bisa melupakan semua itu dan sudah memaafkan Rania sejak dulu. Walau memang bukan dia yang dirugikan saat itu melainkan Ratna. Semua data pribadi Wildan berhasil di tutupi oleh Wildan dan Melodi. Demi untuk menyelamatkan nama baik Ratna yang pada saat itu adalah calon istrinya Wildan.
"Lantas apa maksud kedatangan kamu ke sini?" tanya Pak Sudibyo to the point.
__ADS_1
Saat Rania mengungkapkan kalau malam ini mereka akan kedatangan seorang tamu laki - laki yang Rania sebut teman. Pak Sudibyo sudah penasaran karena cara penyampaian Rania tidak seperti biasanya.
Naluri seorang ayah mengatakan pasti ada suatu hubungan serius antara Rania dengan teman laki - lakinya itu. Apalagi Pak Sudibyo saat ini tau kalau Rania tidak punya teman laki - laki dan menjaga jarak dengan semua pria.
Rania seperti trauma dan malu dengan kehidupan masa lalunya dulu. Oleh sebab itu Pak Sudibyo menebak pasti pria yang datang malam ini punya tujuan khusus.
Walau Pak Sudibyo yakin putrinya bukan lah anak yang bodoh tapi Pak Sudibyo berencana untuk menguji pria yang ada di hadapannya ini. Pak Sudibyo tidak mau pria ini mendekati putrinya karena ada maksud tertentu yang tentunya buruk untuk putri dan keluarganya.
Wahyu menarik nafas panjang dan mencoba untuk mengatasi kegugupan nya.
"Adapun tujuan saya datang ke rumah ini adalah untuk mengajak Rania ta'aruf Pak yang pada akhirnya akan bertujuan untuk menuju pernikahan. Sejak kejadian tiga tahun lalu saya sadar, mengapa Allah memberikan cobaan berat dalam hidup saya pasti ada sesuatu yang salah dengan hidup saya. Semenjak saat itu saya memperbaiki diri saya dan meminta ampun kepada Allah. Saya mengetahui dari Ratna kalau Pak Wildan dan Ratna memaafkan kesalahan Rania. Dan sejak saat itu saya mendengar Rania menghilang jauh meninggalkan Jakarta. Lalu beberapa tahun yang lalu saya mendengar dari Ratna dan Cinta kalau Rania sudah kembali dengan perubahan yang lebih baik. Hingga beberapa bulan ini saya mendengar kalau Ratna sedang gelisah dikarenakan Bapak dan orang tuanya Pak Wildan ingin kembali menyambung perjodohan antara Rania dengan Pak Wildan yang dulu sempat gagal. Karena alasan Ratna belum bisa memberikan keturunan bagi keluarga Raharjo. Jujur saat itu saya sangat marah kepada Rania Pak. Karena saya tau beberapa tahun ini Rania dan Ratna berteman baik. Bisa - bisanya Rania dengan tega menyakiti perasaan Ratna" jawab Wahyu dengan jujur.
"Saat pertemuan kedua kami, saya marah kepada Rania. Karena saya mendengar alasan Rania menerima perjodohan antara Bapak dengan Pak Raharjo tanpa memikirkan perasaan Ratna" lanjut Wahyu.
Rania tertunduk sedih dan merasa bersalah setiap kali mengingat kejadian saat dia bertemu dengan Ratna.
"Tapi entah mengapa kata - kata Rania terus bermain di kepala saya. Saya merasa ada rasa keputus asaan dan kesedihan dari Rania sehingga dia sanggup menerima tawaran untuk menjadi istri kedua Pak Wildan. Saya merasa Rania membutuhkan sosok pria yang bisa membimbing dia untuk hidup lebih baik lagi dan terlebih bisa menerima dirinya apa adanya dengan kehidupan masa lalunya yang tidak akan pernah bisa di hapus" lanjut Wahyu.
"Berhari - hari saya pikirkan hingga di pertemuan ketiga kami saya melihat Rania di pelataran Mesjid dengan mata basah. Lalu diam - diam saya melihat dia berdoa sambil menangis. Entah mengapa ada keinginan dari dalam hati saya ingin melindungi Rania. Ingin memberikan sandaran disaat - saat dia merasa putus asa atas jodohnya. Makanya saya memberanikan diri saat itu juga untuk menawarkan pada Rania proses ta'aruf. Tapi saya hanya bisa menawarkan hidup yang jauh lebih sederhana dari kehidupan Rania di rumah ini Pak. Rania memberi jawaban, saya harus meminta izin Bapak dulu. Makanya malam ini saya beranikan diri untuk melamar Rania di hadapan Bapak. Saya hanya bisa berjanji untuk membahagiakan Rania semampu saya Pak, mungkin tidak bisa dengan harta kekayaan yang berlimpah tapi saya akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Rania. Apakah Bapak menerima lamaran saya ini?" tanya Wahyu.
Apakah Pak Sudibyo akan menerima lamaran Wahyu? Lanjut bab berikutnya ya guys.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1