Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 175


__ADS_3

"Enak saja tidak ada laki - laki di rumah ini. Jadi aku ini dianggap apa di rumah ini?" sambut suara itu.


Sontak Ibu Ratna terkejut dan berwajah pucat. Dia menatap wajah Wildan dengan tatapan cemas. Mereka berdiri menyambut kedatangan pria itu.


Pria itu berdiri di samping istrinya yang berada tepat di hadapan Wildan. Pria dengan tubuh besar menatap wajah Wildan dengan lantang.


"Siapa pria ini?" tanya Bapaknya Ratna.


"Mm.. anu Pak temannya Ratna, mereka baru datang dari Jakarta" jawab Ibu Ratna dengan wajah takut.


"Oh jadi anak durhaka itu sudah pulang?" tanya Bapak Ratna.


"Astaghfirullah Pak kok bicara begitu sama anak sendiri?" tanya Ibu Ratna.


"Iya semenjak dia jadi orang hebat di Jakarta sana dia suka mengatur di rumah ini. Sudah merasa hebat karena dia sering mengirim uang pada kamu. Tapi dia lupa pada aku Bapaknya. Kalau bukan karena sumbangsihku dia tidak akan bisa lahir ke dunia ini" ujar Bapak Ratna dengan tatapan marah.


Wildan menatap calon mertuanya dengan tatapan biasa saja. Tidak ada menunjukkan kalau dia takut dengan tatapan Bapaknya Ratna yang mengintimidasi.


Ratna langsung keluar dari kamar dengan wajah cemas dan khawatir. Dia segera menghampiri Bapaknya dan menarik tangan Bapaknya lalu menciumnya.


"Masih ingat pulang kamu? Aku kira kamu tidak sudi lagi menginjakkan kakimu di rumah yang buruk ini?" tanya Bapak Ratna dengan kasar.


"Pak" ucap Ratna dengan mata berkaca - kaca.


Ratna sangat malu di hadapan Wildan mendapatkan sambutan seperti ini dari Bapak kandungnya. Wildan menatap Ratna dengan senyuman untuk menenangkan hati Ratna.


"Siapa pria ini?" tanya Bapak Ratna.


"I.. ini Mas Wildan Pak, teman kerjaku di Jakarta" jawab Ratna dengan takut - takut.


"Mau apa kamu datang ke rumah ini bawa laki - laki? Apa pekerjaan kamu sudah bertambah di Jakarta jadi perempuan gak benar?" tanya Bapak Ratna.


"Astaghfirullah Pak" sahut Ibu Ratna dan Ratna bersamaan.


Adik - adik Ratna tampak ketakutan dengan apa yang mereka saksikan saat ini.


Retno keluar dari dapur membawa dua gelas minuman. Dengan tangan bergetar dia meletakkan gelas - gelas itu diatas meja.


"Siapa yang kasih izin kalian menerima pria asing di rumah ini?" tanya Bapak Ratna.

__ADS_1


"Pak Nak Wildan ini teman putri kita, mereka datang baik - baik ke sini" potong Ibu Ratna.


"Kalau datang baik - baik harusnya dia membawa sesuatu, bukan dengan tangan kosong seperti ini. Tamu tidak tau sopan santun" ujar Bapak Ratna.


"Pak, Kami ada membawa oleh - oleh dan masih aku letak di kamar" jawab Ratna.


Bapak Ratna memperhatikan tampilan Wildan dari atas sampai bawah. Dia seperti menemukan sesuatu dalam diri Wildan.


"Duduk" perintah Bapaknya Ratna.


Bapak Ratna duduk di kursi yang ada disamping istrinya. Ibu Ratna ikutan duduk.


"Duduk Mas" ucap Ratna kepada Wildan.


Wildan tersenyum menatap Ratna agar Ratna tidak khawatir dan cemas.


Tidak apa Rat, aku sudah mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan keluarga kamu. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah takut. Batin Wildan.


Mas maafkan sikap Bapak kepada kamu. Ini lah yang aku takutkan saat mengenalkan kamu kepada Bapak. Tangis Ratna dalam hati.


Kini mereka sudah duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah Ratna.


Dia melihat ke arah halaman rumah mereka berharap melihat ada kendaraan yang terparkir di sana.


"Ka.. kami naik Bus Pak" jawab Ratna.


"Cih jauh - jauh kuliah di Jakarta hanya dapat pria yang seperti ini. Dasar tidak ada gunanya" umpat Bapak Ratna.


Tubuh Ratna semakin kaku mendengar umpatan Bapaknya yang penuh amarah. Rasa malunya kepada Wilda tak bisa dikatakan lagi.


Wildan tersenyum tipis dia mulai mengerti, inilah yang ditakutkan Ratna tadi. Makanya Ratna meminta Wildan untuk menyembunyikan mobilnya di hotel saja.


"Paaak" ucap Ibunya Ratna.


"Punya empat anak perempuan harus menjadi harta yang berharga. Untuk apa kalian lahir dengan wajah cantik kalau tidak bisa menjerat pria - pria kaya. Tidak bisa memberikan aku uang" ujar Bapak Ratna dengan kesal.


"Astaghfirullah Pak, anak - anak kita bukan untuk dijual Pak" potong Ibunya Ratna.


"Aku bukan ingin menjual mereka. Aku hanya ingin mereka sadar bahwa mereka harus bermanfaat untukku. Mereka harus membalas budi karena akulah yang membuat mereka bisa lahir ke dunia ini" ucap Bapaknya Ratna.

__ADS_1


Ratna hanya bisa menunduk malu, hancur sudah nama baiknya di mata Wildan. Dia tidak menyangka Bapaknya akan berkata seburuk itu kepada anak - anaknya. Bahkan di depan Wildan tanpa malu Bapaknya terang - terangan meminta anak - anaknya untuk memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.


Bapak Ratna menatap tajam ke arah Wildan.


"Apa tujuan kamu datang ke rumah ini? Jauh - jauh datang dari Jakarta ke sini pasti kamu punya tujuan kan?" tanya Bapak Ratna to the point.


"Bapaaaak" ucap Ibu Ratna mengingatkan suaminya.


"Kamu perempuan diam saja, aku kepala keluarga di sini. Biar aku yang menyelesaikannya" bantah Bapaknya Ratna.


Wildan tersenyum tipis dan terlihat sangat santai menanggapi sikap Bapaknya Ratna.


"Bapak benar, jauh - jauh melakukan perjalanan dari Jakarta ke kota ini tentu saja saya mempunyai satu tujuan. Saya ingin menjalin hubungan serius dengan putri Bapak" jawab Wildan dengan tegas.


Ratna meremas tangannya karena sangat cemas. Ibunya Ratna menatap mata Wildan dengan tatapan tajam. Dia mencoba mencari keseriuaan dari gerak - gerik Wildan.


"Hahaha.. sudah aku duga. Belum pernah anakku membawa seorang pria ke rumah ini. Baru kali ini dia berani membawa seorang teman pria. Pasti ada alasan besar dia melakukan semua ini" sambut Bapak Ratna senang.


Ratna semakin menundukkan wajahnya. Belum juga bisa santai di rumahnya mereka langsung disambut dengan cara seperti ini oleh Bapaknya.


Tidak ada pelukan kerinduan dan kasih sayang karena putri sulungnya yang sudah lama merantau di Ibukota bisa pulang ke rumah setelah bertahun - tahun lamanya.


Tanpa bisa Ratna bendung lagi airmatanya perlahan jatuh membasahi pipinya. Harga dirinya sudah hancur sebagai perempuan dibuat oleh Bapak kandungnya sendiri.


"Apa yang kamu punya sehingga kamu sangat berani datang ke rumah ini? Izin dariku tentu saja tidak gratis. Kamu harus tahu itu? Aku membesarkan anakku ini dari kecil hingga dia besar dan secantik ini semua dengan banyak biaya. Dia bisa sekolah di Jakarta sana dan bekerja di Perusahaan yang bagus juga butuh biaya. Kamu enak - enak saja meminta izin dengan tangan kosong?" tanya Bapak Ratna.


Sebenarnya Wildan sudah mempersiapkan hatinya tapi jujur dia juga sangat terkejut mendengar pertanyaan Bapaknya Ratna seperti ini. Sedikitpun tidak ada rasa malu sebagai orang tua yang terlihat jelas sedang ingin menjual anak gadisnya kepada seorang pria.


Wildan menarik nafas panjang.


"Saya punya cinta dan kasih sayang tulus pada putri Bapak, saya berjanji akan membahagiakannya sampai akhir hayat saya" jawab Wildan.


"Hahahaha.... janji manis. Kamu pikir cinta dan kasih sayang kamu saja itu sudah cukup? kamu harus membayar ganti rugi semua biaya yang sudah aku keluarkan selama ini untuknya" pinta Bapaknya Ratna.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2