
Pak Sudibyo berjalan menuju lift lalu turun ke lantai dasar. Di dalam perjalanan lift berhenti kemudian pintunya lift terbuka.
Sangat kebetulan sekali berdiri di hadapannya seorang pria. Ya, dia adalah Wahyu. Untuk sesaat mereka saling tatap. Hingga akhirnya Wahyu tersadar dan memberikan hormat kepada Pak Sudibyo dengan menundukkan kepalanya.
Setelah itu Wahyu masuk ke dalam lift. Kini mereka berdua berasa di tempat yang sama. Wahyu berusaha bersikap normal padahal di dalam hatinya merasa sangat gugup.
Pasti Papa Rania mencari tau tentang diriku kepada Pak Melodi. Tapi tak apa, kalau memang Rania adalah jodohku pasti Allah akan memperlancar semuanya. Batin Wahyu.
"Kamu punya waktu sebentar? Bisa kita bicara?" tanya Pak Sudibyo memecah keheningan.
Wahyu menatap wajah Pak Sudibyo.
"Bi.. bisa Pak" sahit Wahyu.
Ting...
Pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju kantin dilantai paling dasar.
"Silahkan duduk" ucap Pak Sudibyo.
Wahyu duduk tepat di depan Pak Sudibyo.
"Saya sudah mendapat semua informasi tentang kamu" ucap Pak Sudibyo memulai pembicaraan.
Wahyu hanya diam dan mencoba mendengarkan.
"Kamu sudah tau kan tentang masa lalu Rania?" tanya Pak Sudibyo.
Wahyu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah Pak" jawab Wahyu.
"Termasuk dengan alasan penyebab gagalnya pertunangannya dengan Wildan?" tanya Pak Sudibyo.
Wahyu kembali menganggukkan kepalanya.
"Saya tanya kepada kamu saat ini. Apa kamu bisa menerima masa lalu anak saya yang semua orang sudah tau dan menganggapnya buruk? Bahkan putri saya sendiri sampai saat ini masih sangat menyesalinya dan begitu malu?" tanya Pak Sudibyo.
Sebenarnya Pak Sudibyo ingin menangis saat ini. Bukan hanya Rania yang menyesali masa lalu. Dia sendiri juga sangat menyesali masa lalu karena pernah gagal mendidik Rania jadi gadis baik.
Tapi Pak Sudibyo tidak ingin salah lagi kedepannya. Dia akan melindungi putrinya dengan sekuat tenaganya.
Pak Sudibyo berusaha terlihat kuat dan tangguh demi memperjuangkan harga diri putrinya walau harga diri itu sendiri sebenarnya sudah tercoreng.
"InsyaAllah saya terima Pak" jawab Wahyu.
"Apa jaminan saya agar bisa mempercayai kamu?" tanya Pak Sudibyo.
"Tapi sebenarnya semua itu tidak perlu Pak. Karena ada Allah yang setiap saat mengawasi hidup saya, hanya kepada NYA saya takut Pak. Saat saya memantapkan hati saya untuk melamar Rania saya sudah memikirkannya matang - matang. Pernikahan bukan mainan Pak apalagi saya seorang laki - laki. Saat ijab kabul di ikrarkan, saat itu juga tanggung jawab Bapak sebagai orang tua pelindung Rania akan pindah menjadi tanggung jawab saya sebagai suaminya. Pada saat itu saya bertanggung jawab kepada Allah atas hidup Rania. InsyaAllah saya akan menjaga, melindungi dan mendidik Rania menjadi istri solehah Pak. Saya sudah katakan pada Rania, saya mungkin tidak akan bisa memberikan semua apa yang telah Bapak berikan kepadanya, terutama masalah harta. Tapi kalau dia bersedia hidup sederhana bersama saya, saya akan memperjuangkan dan membahagiakan dia Pak" janji Wahyu.
Seketika mata Pak Sudibyo basah.
"Setiap manusia pernah salah Pak, apalagi kita hanya manusia biasa. Allah saja masih memberikan pengampunan pada hambaNYA yang penuh dosa. Lantas bagaimana dengan kita yang hanya sebagai makhluk ciptaanNYA. Apakah kita pantas merasa lebih tinggi dari manusia yang lain?" jawab Wahyu.
"Saya melihat perubahan pada diri Rania tapi ada bagian dirinya yang terlihat rapuh dan butuh perlindungan. Itu yang saya tawarkan kepadanya. Kalau dia mau menerima saya dan bersedia hidup sederhana tolong ketemukan saya dengan orang tua kamu. Makanya kemarin saya datang menemui Bapak. Rania berkata restua Bapak adalah jawaban darinya" lanjut Wahyu.
"Lantas bagaimana dengan keluarga kamu? Mungkin kamu bisa terima masa lalu anak saya. Bagaimana dengan orang tua kamu?" tanya Pak Sudibyo.
"Orang tua saya tidak pernah mempermasalahkan siapa istri saya Pak. Asalkan statusnya bukan istri orang dan saya tidak mengganggu hubungan seseorang saya boleh menikahi wanita manapun juga. Saya rasa syarat itu tidak ada yang saya langgar. Status Rania masih single dan dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun juga. Saya bisa pastikan orang tua saya akan menerima Rania Pak. Saya hanya khawatir Bapak yang tidak bisa menerima saya sebagai menantu Bapak" jawab Wahyu.
__ADS_1
Pak Sudibyo menarik nafas panjang.
"Rania adalah putri saya satu - satunya, saya sangat menyayangi dia. Bahkan karena kasih sayang itu saya sempat melakukan kesalahan dalam mendidiknya. Saya sempat merasa gagal sebagai orang tua karena tidak bisa mendidik putri saya untuk menjaga kehormatannya. Tapi saya sadar tidak ada kata terlambat, selama saya masih hidup Allah pasti akan beri kesempatan dan hidayah kepada saya dan keluarga saya. Kami bangkit bersama - sama menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Alhamdulillah Rania juga berubah walau masa lalu tak pernah bisa di hapus" ungkap Pak Sudibyo.
"Tiga tahun lalu setelah peristiwa Rania menjebak kamu dan Ratna istrinya Wildan. Saya merubah pola didik saya kepada Rania. Saya ajak dia pergi meninggalkan semua apa yang kami punya di Jakarta ini. Kami pergi jauh ke sebuah desa dan sama - sama belajar hidup sederhana. Alhamdulillah kami bisa melewatinya hingga saya benar - benar percaya bahwa putri saya sudah berubah baru setelah itu saya memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta dan memberikan tanggung jawab kepada Rania untuk kembali mengurus semua apa yang saya punya. Jadi kalau kamu khawatir Rania tidak bisa hidup sederhana kamu tidak perlu khawatir, dia sudah berhasil melewatinya" lanjut Pak Sudibyo.
Wahyu bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban dari Pak Sudibyo.
"Kapan orang tua kamu bisa datang ke rumah saya?" tanya Pak Sudibyo.
Seketika mata Wahyu terbuka lebar serasa tidak percaya mendengar kata - kata Pak Sudibyo.
"M.. mi.. minggu depan Pak" jawab Wahyu terbata - bata.
"Baiklah kalau begitu saya tunggu kedatangan kamu bersama kedua orang tua kamu minggu depan. Tapi ingat perkataan saya tadi Wahyu. Rania adalah putri saya satu - satunya. Kalau kamu berniat untuk menyakitinya lebih baik kami pikirkan selama satu minggu ini. Selama saya masih hidup, saya akan menghancurkan siapapun orang yang berniat untuk menyakiti anak saya. Saya tidak perduli siapapun orang tersebut, saya tidak takut. Saya kasih kamu kesempatan lagi satu minggu ke depan. Kalau kamu masih ragu - ragu lebih baik kamu mundur" ancam Pak Sudibyo.
"InsyaAllah saya akan mempertimbangkan semuanya yang Bapak katakan. Tapi saya juga bisa pastikan saat ini juga Pak. Baik hari ini ataupun minggu depan ataupun dimasa yang akan datang. Jawaban saya akan tetap sama. Saya ingin membahagiakan dan melindungi Rania. Minggu depan saya akan bawa orang tua saya untuk menemui Bapak" jawab Wahyu tegas.
Pak Sudibyo berdiri lalu menyentuh bahu Wahyu dengan lembut.
"Saya tunggu kedatangan kamu dan orang tua kamu minggu depan di rumah saya" jawab Pak Sudibyo.
Setelah itu pria tua itu berjalan meninggalkan Wahyu yang sudah bisa bernafas lega.
"Alhamdulillah satu masalah telah selesai teratasi. Lancarkan semua niat baikku ini ya Allah" gumam Wahyu pada diri sendiri.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG