Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 232


__ADS_3

Satu hari kemudian.


"Mas ada yang ingin bertemu kamu" ujar Ratna yang baru saja masuk ke dalam ruangan Wildan.


"Siapa?" tanya Wildan ingin tahu, perasaan dia gak punya jadwal tamu berkunjung hari ini.


"Papanya Rania" jawab Ratna sambil memperhatikan wajah Wildan dengan serius.


"Papa Rania? Ngapain dia datang ke sini?" tanya Wildan semakin penasaran.


Ratna mengangkat bahunya.


"Mungkin ingin membicarakan tentang Rania" tebak Ratna.


Wildan menutup layar laptopnya.


"Suruh beliau masuk" ujar Wildan.


"Baik" sambut Ratna.


Ratna berbalik dan berjalan keluar ruangan Wildan.


"Silahkan masuk Pak. Pak Wildan sudah menunggu di dalam" ucap Ratna sopan.


"Kamu kan calon istrinya Wildan?" tanya Papanya Rania.


Ratna tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya Pak" jawab Ratna.


"Maafkan atas perbuatan anak saya ya pada kamu. Saya memang sudah salah mendidiknya. Semua keinginannya selalu saya turuti sehingga dia tumbuh menjadi anak yang manja" ucap pria itu sedih.


Wajahnya menyiratkan mimik lelah dan sedih. Mungkin pria tersebut sedang berusaha untuk menyelamatkan masa depan anaknya, walau seberapa buruk anaknya bagaimanapun Rania tetap putrinya.


Ratna menarik nafas panjang.


"Saya sudah memaafkan beliau Pak" jawab Ratna sopan.


"Terimakasih, kamu memang gadis yang baik. Pantas saja Wildan lebih memilih kamu ketimbang putri saya" ujar Papa Rania masih dengan tatapan sedih.


"Kalau begitu saya masuk dulu ya" sambung Pria tua itu.


"Silahkan Pak" jawab Ratna singkat.


Pria itu berjalan masuk ke ruangan Wildan.


"Selamat Pagi Wildan" sapa pria tua itu kepada Wildan.


"Pagi Om, silahkan duduk" sambut Wildan.


Wildan menjabat tangan Papanya Rania dengan sangat sopan dan mempersilahkan pria tua itu duduk.

__ADS_1


"Apa kabar Om?" tanya Wildan basa - basi.


"Tidak baik Wil. Rania selalu pintar menambah beban pikiran Om" jawab Pria itu.


"Maaf Om, bukannya saya membenci Rania tapi saya hanya mengamankan nyawa calon istri saya agar Rania tidak melakukan hal yang buruk" ucap Wildan.


"Om mengerti dan Om tidak menyalahkan kamu. Om tau kamu pria yang baik dan bertanggung jawab, makanya dulu Om sangat berharap kamu bisa menjadi menantu Om. Membimbing Rania untuk hidup lebih baik lagi. Tapi ternyata kalian tidak berjodoh" sahut Pria itu.


"Ada yang bisa saya bantu Om?" tembak Wildan.


Dia sangat yakin kedatangan sahabat Papanya itu tak lain dan tak bukan pasti ingin membicarakan tentang putrinya yaitu Rania.


"Ini tentang Rania Wil" jawab Pria itu.


Wildan diam dan membiarkan pria itu berbicara untuk mengungkapkan maksud dan tujuan dia datang ke kantor Wildan.


"Om mau meminta sesuatu pada kamu" pinta Pria itu.


Wildan menarik nafas panjang.


"Apa itu Om?" tanya Wildan.


"Tolong tarik tuntutan kamu pada Rania. Dia anak Om satu - satunya. Hanya dialah tumpuan masa depan Om, harapan Om dan penerus semua harta dan perusahaan Om. Kalau dia mendekam di penjara habis semua Wil. Masa depan Rania dan masa depan keluarga Om. Om mohon kebaikan hati kamu, sekali ini saja. Tolong cabut tuntutan kamu pada Rania" ungkap pria itu dengan wajah memelas.


"Masalahnya tidak semudah itu Om, bukan hanya aku saja yang menuntut Rania, tapi juga Melodi. Istrinya sedang hamil muda dan Rania dengan sengaja terbukti ingin mencelakakan Istri Melodi juga calon istri saya. Om kenal Melodi kan? Dia orang yang sulit diajak kompromi dalam masalah seperti ini, apalagi menyangkut masalah keluarga. Selama ini dia tinggal sebatang kara, kini dia sudah punya keluarga kecil dan hidup keluarga terancam. Melodi pasti tidak akan tinggal diam Om" jawab Wildan.


Wajah Papa Rania semakin terlihat putus asa.


"Temui istrinya Om. Hanya istrinya yang bisa membuat dia berubah pikiran. Kemarin saja, untung istrinya yang memohon agar Melodi tidak menghajar Rania. Kalau tidak aku tidak bisa jamin bagaimana hidup Rania saat ini" jawab Wildan.


"Bisa saya bertemu dengan istrinya?" tanya Papa Rania.


"Waduh itu dia yang susah Om. Sejak kejadian kemarin Melodi melarang dan sangat menjaga ketat keamanan istrinya" jawab Wildan.


"Tolonglah Wildan bantu Om. Om janji ini yang terakhir Om merepotkan kamu. Lain waktu tidak akan lagi. Bila perlu kita buat surat perjanjian agar Rania tidak bisa berbuat semena - mena lagi. Om juga sangat berharap, peristiwa ini bisa membuat dia jera" pinta Papa Rania dengan memelas.


"Baiklah Om besok pagi saya akan ajak Om datang ke rumah Melodi. Nanti kita bisa bertemu dengan mereka langsung. Om bisa mengungkapkan keinginan, maksud dan tujuan Om untuk menemui mereka" ujar Wildan.


"Baik Wildan, Om akan ikuti perintah kamu. Kalau begitu besok kita ketemu lagi ya" balas pria itu.


"Iya Om nanti saya kabari Om tempat janjian kita ketemu. Baru setelah itu kita datang ke rumah Melodi.


"Terimakasih Wildan, Om merasa ada sedikit harapan untuk masa depan Rania. Kalau begitu Om pamit pulang dulu ya" pinta Papa Rania.


"Iya Om hati - hati" sambut Wildan.


Mereka saling berjabat tangan lalu pria tua itu keluar dari ruangan Wildan.


*****


Sesuai kesepakatan mereka pagi ini Wildan bersama Ratna janjian dengan Papa Rania datang ke rumah Melodi. Mereka sudah sampai di pintu depan rumah Melodi dan Cinta.

__ADS_1


"Ratna, kok gak bilang - bilang mau datang?" tanya Cinta ramah.


"Kami mau buat kejutan. Nih aku bawa mangga muda untuk kamu" ucap Ratna sambil memberikan bungkusan kepada Cinta.


"Waaah pasti enak banget ini. Mmmmm... air liur ku rasanya sudah mau keluar" jawab Cinta.


"Melodi ada kan Cin?" tanya Wildan.


"Ada di belakang lagi ngobrol sama Pak Ilham" jawab Cinta.


"Ada yang mau ketemu sama kalian berdua" ungkap Wildan.


Cinta melirik ke arah Pria yang ada di samping Wildan. Dia merasa seperti pernah melihat pria tua itu. Tapi Cinta lupa dimana dia pernah bertemu dengan pria itu.


"Ayo masuk, silahkan Pak... " sapa Cinta ramah.


Pria itu terus memperhatikan sambutan Cinta yang hangat kepada tamu yang tidak dia kenal. Mereka masuk ke dalam rumah.


"Langsung aja kebelakang yuk Pak. Di belakang lebih enak pemandangannya" ajak Cinta.


Pria itu sangat terkejut melihat sambutan Cinta yang sangat luar biasa. Di dalam hati dia sangat memuji sopan santun Cinta.


Sudah cantik, solehah, baik lagi. Pantas saja Melodi sangat mencintai istrinya. Batin Papa Rania.


Mereka berjalan menuju teras belakang.


"Maaaas ada tamu nih" panggil Cinta.


"Tunggu sebentar" sahut Melodi.


Melodi lagi asik memberi makan ikan - ikannya di dalam kolam. Wildan, Ratna, Cinta dan Papa Rania duduk di kursi santai teras belakang rumah Melodi.


Tak lama kemudian Melodi datang menemui mereka semua. Tapi begitu Melodi melihat siapa tamu yang datang, dia langsung memasang wajah dingin dan tidak bersahabat.


Cinta merasakan sikap dingin suaminya itu. Tapi dia bingung mengapa suaminya itu seperti tidak suka melihat siapa yang datang. Bukannya tamu mereka datang bersama Wildan? Itu artinya pasti tamu baik.


"Ada apa Om ke sini?" tanya Melodi langsung.


Cinta menyenggol tangan suaminya untuk memberi kode kepada Melodi bahwa sikapnya sudah kelewatan.


"Maaaas" bisik Cinta.


"Kamu tau siapa pria ini?" tanya Melodi kepada Cinta.


Cinta hanya menatap wajah Melodi.


"Dia adalah orang tua dari wanita yang ingin membunuh kamu. Dia Papa Rania" ungkap Melodi.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2