
"Ratnaaaaa" teriak Pak Raharjo dan Istrinya.
Sontak Wildan berbalik badan dan melihat Ratna sudah tergeletak di lantai. Wildan langsung berlari mendekati istrinya.
"Sayang... sayang... bangun sayaaaaaang" ucap Wildan khawatir.
Pak Raharjo dan Bu Raharjo juga tak kalah panik.
"Bawa ke Rumah Sakit Wil" perintah Pak Raharjo.
"Iya Pak, yuk Pa, Ma. Tolong temani aku" pinta Wildan.
"Iya.. iya.. ayo cepat" sambut Bu Raharjo.
Wildan menggendong Ratna dan segera membawanya ke mobil. Bu Raharjo duduk di kursi belakang dan memangku kepala Ratna. Sedangkan Wildan dan Papa nya duduk di depan.
"Kenapa Ratna pingsan? Apa sudah sering dia seperti ini?" tanya Pak Raharjo.
"Tidak Pa, baru kali ini. Aku juga tidak tau kenapa dia pingsan" jawab Wildan.
"Tadi Mama perhatikan dia juga makannya sedikit dan sepertinya tidak nafs* makan" sambut Bu Raharjo.
Tiba - tiba Pak Raharjo membelalakkan matanya.
"Apa Ratna mengidap suatu penyakit parah?" tanya Pak Raharjo.
"Papaa... " ucap Bu Raharjo mengingatkan.
"Ya habis Ratna aneh malam ini. Dia tiba - tiba mengatakan pada kita semua kalau dia ridho dan ikhlas di madu. Dia juga sudah bertemu dengan Rania dan membicarakan tentang pernikahan Wildan dengan Rania. Sepertinya Ratna sedang menyusun sebuah rencana" ungkap Pak Raharjo.
Semua terdiam mendengar penjelasan Pak Raharjo. Yang dikatakan Pak Raharjo memang benar adanya. Bahkan Wildan sangat marah ketika mendengar saran dari Ratna yang menyuruhnya untuk menikah dengan Rania.
"Papa jangan berkata seperti itu, buat Mama semakin khawatir aja" ujar Bu Raharjo.
"Ya beneran aneh kan? Papa sudah membatalkan rencana dengan Sudibyo. Papa tidak lagi memaksa kalian untuk segera punya anak. Mengapa malah Ratna yang bertemu Rania? Apa Ratna sedang mempersiapkan penggantinya sebelum dia pergi?" tanya Pak Raharjo.
"Pa tolong jangan bicara seperti itu lagi. Apapun yang terjadi dengan Ratna aku tidak akan mencari penggantinya. Dan aku harap apa yang terjadi dengan Ratna bukan suatu pertanda buruk. Mungkin dia kelelahan saja" ujar Wildan mengingatkan.
"Semoga saja begitu Wildan" sambut Pak Raharjo.
"Ratna bangun sayaaaaang" panggil Bu Raharjo.
"Cepat sedikit Wildan, kamu lambat sekali menyetirnya" perintah Pak Raharjo.
Wildan mulai konsentrasi dan fokus menyetir. Satu - satunya yang dia inginkan saat ini adalah sampai secepatnya di rumah sakit.
Dalam hati Wildan tak henti - hentinya berdoa semoga apa yang Papanya katakan tadi tidaklah benar. Walau dalam hatinya ada kecemasan yang sangat.
Wildan sendiri tidak habis pikir mengapa Ratna sampai berani bertemu Rania dan membicarakan tentang pernikahan. Sedangkan setelah Ratna keguguran mereka tidak pernah membicarakan hal itu bahkan menyinggungnya saja tidak.
Apa benar Ratna saat ini sedang sakit? Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku sayang? Mengapa kamu melakukan semua ini padaku? Aku tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada kamu. Aku tidak sanggup. Teriak batin Wildan.
__ADS_1
Wildan mencoba mengingat - ingat kondisi Ratna setelah keguguran. Ratna memang terlihat lebih banyak melamun saat sendiri. Ratna juga lebih pendiam dan murung.
Wildan sering melihat malam - malam Ratna bangun dan shalat tahajjud kemudian dia akan menangis berdoa kepada Allah.
Ya Allah setelah semua perjuangan kami ini mengapa akhirnya jadi seperti ini. Jangan terlalu kejam padaku ya Allah, aku tidak sanggup menjalani hidup ini tanpa Ratna. Pinta Wildan dalam hati.
Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit. Wildan menggendong Ratna dan membawanya ke UGD. Ratna langsung diperiksa oleh Dokter yang berjaga. Wildan dan kedua orang tuanya tampak sangat khawatir menunggu di luar.
"Keluarga Ibu Ratna" panggil seorang perawat.
"Ya saya Sus, saya suaminya" sambut Wildan cepat.
"Silahkan masuk ke dalam Pak, Dokter ingin bicara dengan Bapak" ucap Perawat.
Wildan menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Jangan takut, kita hadapi sama - sama" ujar Pak Raharjo sambil menepuk bahu putrnya.
Melihat wajah panik Wildan seperti ini membuat Pak Raharjo semakin sadar kalau putranya sangat mencintai istrinya. Pak Raharjo berdoa dalam hati semoga tidak ada sesuatu yang membahayakan nyawa menantunya.
Pak Raharjo tidak bisa membayangkan bahagimana hancurnya hati putranya kalau harus kehilangan istrinya.
Wildan berjalan masuk ke dalam ruang UGD dan langsung menemui Dokter. Sembari melirik ke arah Ratna yang tampaknya sedang tertidur lemas.
"Apa yang terjadi dengan istri saya Dok?" tanya Wildan takut.
"Bapak suaminya Bu Ratna ya?" tanya Dokter balik.
"Iya Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Wildan lagi
"Tidak ada yang mengkhawatirkan Pak dengan Ibu. Ibu hanya kelelahan dan banyak pikiran. Tapi saya mencurigai sesuatu. Bu Ratna saya rujuk ke Dokter spesialis ya" jawab Dokter.
"Apa istri saya punya penyakit serius?" tanya Wildan terkejut.
Dia semakin cemas mendengar perkataan Dokter.
"Saya hanya menduga saja tapi belum bisa memastikan karena masih terlalu dini. Sepertinya istri Bapak hamil" jawab Dokter.
"Apa Dok istri saya hamil?" tanya Wildan tak percaya.
Mereka sudah menjalani berbagai cara untuk program hamil tapi selalu gagal hingga akhirnya mereka memilih istirahat sejenak dan untuk sementara melupakan semua keinginan mereka untuk memiliki anak.
Bukan berniat untuk menyerah dan pasrah. Mereka tau kesempatan dan waktu mereka masih panjang. Masih banyak peluang mereka untuk memiliki anak.
Mereka hanya sedang menata hati untuk lebih ikhlas menerima apapun yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Saling menguatkan dan saling mengerti.
Tapi benarkah apa yang dokter katakan ini? Di hadapan Wildan berdiri seorang Dokter umum yang masih muda. Mungkin dia belum berpengalaman atau mungkin bukan bidangnya untuk memastikan kehamilan Ratna makanya Dokter tersebut merujuk mereka untuk pergi ke Dokter Kandungan.
"Ya dugaan saya seperti itu Pak, sekarang saya rujuk ke Dokter kandungan ya. Agar Dokter bersangkutan lebih lanjut melakukan pemeriksaan" jawab Dokter.
"Baik.. baik.. Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya" sambut Wildan dengan mata berkaca - kaca.
__ADS_1
Dokter menuliskan surat rujukan kepada Wildan.
"Ini surat rujukannya Pak, silahkan Bapak urus administrasi dulu biar Ibu istirahat sebentar" perintah Dokter.
"Terimakasih Dokter" jawab Wildan dengan penuh semangat.
Wildan menerima surat rujukan lalu berjalan ke ruangan administrasi untuk mengurus semuanya. Secercah harapan terbit di hati Wildan. Di dalam hati dia tak berhenti berdoa semoga apa yang Dokter tadi katakan benar adanya.
Setelah selesai mengurus administrasi Ratna dibawa menggunakan kursi roda menuju praktek Dokter Kandungan. Begitu melihat Ratna dan Wildan keluar dari ruang UGD Pak Raharjo dan istrinya segera menyambut mereka.
"Bagaimana keadaan Ratna Wil?" tanya Bu Raharjo khawatir.
"Ratna mau menjalani pemeriksaan lanjutan Ma ke Dokter Spesialis" jawab Wildan.
Perawat mendorong kursi roda Ratna ke bagian kandungan. Pak Raharjo dan istrinya saling pandang.
"Apa Ratna punya penyakit parah dengan kandungannya Pa setelah dia keguguran?" tanya Bu Raharjo pada suaminya.
"Papa juga gak tau Ma. Kita tunggu saja di luar" jawab Pak Raharjo.
Ratna dan Wildan masuk ke ruangan prakter Dokter. Saat ini Ratna sudah berbaring lemah di atas tempat tidur. Perawat mengoleskan gel ke atas perut Ratna dan mulai melakukan pemeriksaan.
Wildan dan Ratna saling berpegangan tangan erat. Mereka saling menguatkan dan terus berdoa. Semoga kali ini Allah mendengarkan doa - doa mereka.
"Selamat Pak, Bu sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua dari anak - anak yang lucu" ucap Dokter.
"Alhamdulillah ya Allah... " sambut mereka.
Keduanya sama - sama meneteskan air mata.
"Bagaimana kondisi kandungan istri saya Dok. Hampir dua bulan yang lalu istri saya baru saja mengalami keguguran pasca program bayi tabung. Kami takut kondisinya lemah?" tanya Wildan.
"Keduanya terlihat sehat Pak" jawab Dokter.
"Keduanya?" tanya Wildan.
Dokter tersenyum ramah menatap pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu.
"Ya keduanya, selamat sekali lagi. Ibu hamil anak kembar" ucap Dokter.
Wildan langsung memeluk tubuh Ratna dan mencium pipi Ratna penuh kasih sayang.
"Ya Allah alhamdulillah.. terimakasih KAU telah mendengar doa - doa kami" ucap Wildan.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers... apa kabar kalian? Apakah ada yang ngambek karena Wildan mau poligami? Sampai ngancam gak mau baca lagi novel ku?
__ADS_1
Menurut kalian apakah Wildan akan poligami? lanjut ya bab berikutnya..
Cukup ya hari ini, jangan ada yang minta update lagi. Tunggu kelanjutannya besok.