
"Sial.. apa yang kamu mau Ratna? Kamu benar - benar ingin kita putus?" ucap Wildan kesal.
Wildan segera berjalan menuju pintu, dia keluar apartementnya lalu menuju apartement Ratna. Dia memencet bel apartement Ratna.
Setelah berulang kali tapi Ratna tetap tidak membukanya. Dengan kesal Wildan menekan sandi apartement Ratna tapi tetap tidak bisa terbuka.
Dengan kesal Wildan memukul pintu apartement Ratna dengan keras. Tak lama kemudian seseorang dari apartement sebelah keluar dan melihat apa yang sedang Wildan lakukan.
Tak ingin mengganggu kenyamanan orang lain akhirnya Wildan kembali ke apartementnya. Dengan kesal Wildan meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Ratna.
"Telepon yang Anda tuju sedang sibuk cobalah beberapa saat lagi" ucap operator.
"Aaaakh.. Ratna.. kamu benar - benar ingin menjauh dariku? Kamu memang ingin semua ini berakhir?" ucap Wildan kesal.
Hilang sudah selera makannya. Wildan langsung masuk kamar, mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia keluar dan berjalan ke dapur mencari sesuatu.
Dia ingin minum kopi, tiba - tiba dia ingat dan melihat di dalam microwave. Wildan menemukan secangkir kopi buatan Ratna. Dia langsung meminumnya.
Wildan kembali menatap makanan yang tersaji di meja. Dan akhirnya Wildan memakan semua makanan yang dimasak Ratna hingga kandas tak bersisa.
Setelah makan Wildan berjalan ke balkon menikmati udara malam sambil memikirkan jalan keluar dari permasalahan dia dan Ratna.
Hingga akhirnya Wildan menemukan satu ide untuk menuntaskan permasalahan Bapaknya Ratna. Besok Wildan akan segera mencari tahu apakah dalang atau orang yang memfitnah Bapak Ratna masih bekerja di salah satu anak perusahaan milik orang tuanya.
******
Keesokan harinya Wildan sengaja bangun lebih cepat untuk bisa bertemu dengan Ratna. Dia bersiap dan menunggu Ratna di depan pintu apartementnya.
Dua puluh menit dia sudah menunggu tapi Ratna belum juga keluar. Jam sudah menunjukkan hampir jam delapan pagi.
"Apa Ratna sudah pergi? Sial, aku kalah cepat hari ini" gumam Wildan kesal.
Wildan segera pergi meninggalkan apartementnya dan berangkat menuju kantornya. Benar saja ternyata Ratna sudah duduk serius mengerjakan pekerjaannya di depan meja kerjanya.
"Keruanganku sebentar" perintah Wildan.
"Baik Pak" sambut Ratna sigap.
__ADS_1
Ratna langsung berdiri dan keluar dari meja kerjanya lalu berjalan menyusul Wildan masuk ke dalam ruangannya. Ratna berdiri di depan meja kerja Wildan. Sedangkan Wildan baru saja duduk dikursi kebesarannya.
"Kenapa kamu tidak pernah menjawab teleponku tadi malam? Kamu juga tidak membukakan pintu apartement kamu?" tanya Wildan kesal.
"Maaf Pak, sudah diluar jam kantor. Saya rasa semua urusan pekerjaan sudah selesai dan tidak ada yang perlu di bahas lagi. Mengenai membukakan pintu, mohon maaf sekali saya memang tidak menerima tamu lagi setelah saya pulang. Saya ingin istirahat dan tidak mau di ganggu" jawab Ratna datar.
Braaak..
Wildan memukul meja kerjanya membuat tubuh Ratna terlonjak karena terkejut.
"Rat, aku tidak bisa kamu perlakukan seperti ini. Aku tidak bisa Rat, kita masih bisa bicara baik - baik. Aku akan mencari orang yang sudah memfitnah Bapak kamu. Mari kita berjuang bersama untuk masa depan kita. Aku tidak ingin berakhir, semua belum berakhir" ucap Wildan.
Wildan menatap mata Ratna dengan sendu. Untuk sesaat mereka saling tatap, kemudian Ratna menundukkan pandangannya.
Ratna menarik nafas panjang.
"Sudah saya bilang Pak, ini di kantor. Kita tidak bisa membahas masalah pribadi di sini" ujar Ratna.
"Tapi di luar sana kamu tidak kasih aku kesempatan Rat. Kamu tidak memberi aku waktu untuk membahas masalah hubungan kita. Mana Ratna yang pemberani dulu, Ratna yang pantang menyerah, Ratna yang ceria dan selalu berpikir positif dan optimistis? Mengapa kamu jadi lemah dan putus asa seperti ini?" tanya Wildan.
"Saya tidak menyerah Pak, sata tetap akan berjuang untuk keluarga saya" jawab Ratna.
Ratna berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Wildan. Dia harus kuat demi keluarganya.
"Maaf Pak masalah kita sudah selesai. Kita kembali kedalam kondisi saat ini. Sekarang kita dikantor dan tidak bisa membahas masalah pribadi di sini. Ini jadwal Bapak hari ini. Jam sepuluh sampai siang Bapak ada rapat di Sanjaya Corp, ini bahan rapatnya Pak. Kalau tidak ada lagi yang Bapak butuhkan saya pamit ke ruangan saya" ucap Ratna sambil menyerahkan beberapa berkas untuk rapat.
Wildan tak sabar lagi menghadapi Ratna yang seperti ini. Dia melewati batas, dengan sigap Wildan langsung meraih tangannya dan menggenggam erat tangan Ratna.
Ratna terlihat terkejut dan berusaha menarik tangannya.
"Pak tolong lepaskan tangan saya. Ini dikantor Pak, jangan sampai terjadi keributan" ancam Ratna.
"Kamu mau mengancamku?" tantang Wildan.
"Tidak Pak, saya hanya ingin menjaga nama baik Bapak. Saya tidak ingin orang lain berpikiran buruk tentang Bapak atas apa yang Bapak lakukan pada saya" jawab Ratna.
Wildan melepaskan tangan Ratna. Ratna langsung menjauh dari meja kerja Wildan.
__ADS_1
"Saya permisi Pak" ucap Ratna.
Ratna berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan kerja Wildan.
"Shiiiiit...... kamu benar - benar menguji kesabaran aku Ratna" ucap Wildan kesal.
Jam sembilan Wildan keluar dari ruangannya sambil membawa bahan rapat yang akan dia bahas bersama Melodi. Mereka akan menjalin kerjasama perusahaan mereka.
Wildan melewati meja Ratna tanpa menatap Ratna sedikitpun. Mereka seperti perang dingin tanpa tegur sapa.
Begitu Wildan pergi, Ratna menarik nafas panjang dan meraih tisu.
Ratna menangis sambil menundukkan wajahnya diatas meja.
"Hiks.. hiks... "
Ceklek...
Tiba - tiba terdengar pintu ruangan Wildan terbuka. Sontak Ratna mengangkat wajahnya dia melihat punggung Wildan yang berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Ratna langsung menghapus air matanya dengan tisu dan pura - pura sibuk menatap layar komputernya. Tak lama kemudian Wildan keluar lagi dan sempat melirik Ratna dengan tatapan sendu.
Wildan sangat yakin kalau Ratna memang sangat mencintainya. Saat ini Ratna pasti merasa sangat sakit dan tertekan karena keadaan mereka.
Tapi Wildan marah karena Ratna semudah itu mengalah dan menyerah. Wildan geram karena Ratna memilih mundur dan tidak mau membahas masalah mereka lagi. Ratna seperti menjauh dan mengelak.
Wildan segera berangkat menuju kantor Melodi. Satu jam kemudian dia sudah sampai di kantor Melodi. Mereka meeting sekitar dua jam setelah itu istirahat untuk makan siang bersama.
"Kenapa kamu kusut seperti ini?" tanya Melodi.
"Udah dua hari ini aku pusing menghadapi Ratna. Sikapnya berubah, dia semakin menjauh dariku. Dia benar - benar menyerah" jawab Wildan putus asa.
Melodi turut prihatin atas apa yang sedang dialami sahabatnya.
"Kamu harus gerak cepat Wil. Jangan sampai berlarut - larut. Cobaan menikah memang pasti selalu ada bagi semua orang. Mengenai ringan atau beratnya tergantung pribadinya masing - masing. Yakinlah semua itu karena kalian berdua sanggup menghadapinya. Kalau memang jodoh seberat apapun masalah kalian pasti akan kalian lewati. Sabar Wil, kamu pasti bisa menghadapinya " ucap Melodi memberikan semangat.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG