
Besok paginya Cinta, Melodi, Wildan dan kedua orang tuanya sudah berkumpul di Restoran Hotel. Bapak dan Ibu Raharjo melihat keadaan putra mereka yang terlihat sangat menyedihkan.
Ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat Melodi putus dengan pacar pertamanya. Dia ditinggal pergi ke luar negeri.
"Ehm.. Wil, apa perlu Papa bertemu dengan Bapaknya Cinta?" tanya Pak Raharjo.
"Maaf Om saya potong. Untuk apa Om? Saya takut Bapaknya Ratna malah marah sama Om. Buktinya kemarin Bapaknya terlihat sangat marah sampai pergi meninggalkan kita semua" jawab Cinta.
"Om tidak takut, Om juga punya alasan yang jelas mengapa Om dulu memecatnya" balas Pak Raharjo.
"Apa Papa sudah mencari bukti - bukti lain saat itu?" tanya Wildan.
"Untuk apa Papa cari, bukti yang ada sudah sangat jelas" jawab Pak Raharjo tidak merasa bersalah.
Dia tetap bersikeras bahwa saat itu dia sudah mengambil keputusan yang tepat.
"Untuk apa Papa memelihara pengkhianat?" lanjut Pak Raharjo.
Wildan mengerti bagaimana sifat Papanya. Papanya sangat tegas jika sudah tidak menyukai seseorang. Dulu Papanya juga bersikap seperti ini pada Ratna saat pertama kali.
"Tapi kan Pa bisa saja memang benar Bapaknya Ratna di fitnah. Buktinya Papa sendiri yang bilang kalau Bapaknya Ratna itu orang yang jujur?" ujar Wildan.
"Justru itu Papa jadi sangat kecewa, makanya Papa segera memecatnya. Papa sudah baik kepadanya eh dia malah berkhianat. Kamu kan tau Papa sangat benci pada orang yang seperti itu" sambung Pak Raharjo.
"Aaaakh.. " Wildan jadi semakin kesal.
"Sudahlah Wil jangan diteruskan. Papa jadi gak suka lihat keluarga Ratna. Ngapain juga kamu seperti ingin mengemis cinta Ratna. Wanita di dunia ini masih banyak, cari aja yang lain" ucap Pak Raharjo kesal.
"Pa... yang sepet Ratna itu sudah langka" potong Mama Wildan.
"Tapi keluarganya itu Ma. Bapaknya adalah pengkhianat di kantor Papa. Bisa saja nanti anaknya juga akan bersikap seperti itu pada Wildan" sambut Papa Wildan.
"Pa, jangan bicara seperti itu tentang Ratna" protes Wildan kesal.
Dia jadi semakin pusing, masalahnya jadi semakin berat. Sekarang Papanya jadi balik tidak suka pada Ratna karena Ratna adalah anak dari mantan karyawan Papa yang berkhianat.
__ADS_1
"Ya kata orang buah jatuh tak jauh dari pohonnya" jawab Pak Raharjo.
"Aku yakin Om, Ratna bukan orang seperti itu" bela Cinta.
"Sudah Ma, lebih baik kita pulang saja. Kita kembali ke Jakarta pagi ini. Papa jadi malas lama - lama di sini. Kalian juga, sebaiknya kita pulang bareng aja. Ngapain juga kalian di sini. Kamu? Mau bujuk Ratna? Mau ngemis cintanya Ratna? Untuk apa kamu merendahkan diri kamu? Kamu pria sukses dengan ketampanan dan kekayaan serta kekuasaan. Banyak wanita - wanita diluar sana yang rebutan ingin jadi istri kamu. Ngapain harus merendahkan diri di hadapan wanita anak mantan pengkhianat" ucap Pak Raharjo kesal.
"Astaghfirullah... " gumam Cinta.
Cinta ingin membela Ratna tapi Melodi menahannya.
"Sebaiknya kita ikut pulang juga yank, biar saja masalah ini diselesaikan Ratna dan Wildan. Kita tidak perlu ikut campur. Walau kamu sahabat Ratna tapi Ratna kan sudah ambil keputusan. Dia sudah dewasa, dia pasti tau keputusan yang terbaik untuk hidupnya" ucap Melodi.
Cinta tak bisa membantah ucapan suaminya. Apa yang dikatakan Melodi memang sangat benar. Sebagai Sahabat hanya bisa mendukung dan mengingatkan. Keputusan tetap berada di tangan mereka sendiri.
Cinta hanya bisa mendoakan Ratna dalam hati. Semoga Ratna bisa sabar dan tabah menjalani masalah berat dalam hidupnya saat ini.
"Ayo Wil siap - siap. Kamu juga harus ikut pulang. Ngapain kamu sendirian di sini" desak Pak Raharjo.
Dengan berat hati akhirnya Wildan menuruti perkataan Papanya untuk kembali ke Jakarta bersama orang tua dan sahabatnya.
Wildan
Rat, aku balik ke Jakarta. Dari tadi aku coba hubungi kamu tapi ponsel kamu tidak aktif. Aku tunggu kamu di Jakarta ya. Ayo kita bicarakan lagi semuanya nanti saat kamu sudah di Jakarta. Hati - hati saat kembali ke Jakarta. I love you 🥰
Wildan mematikan ponselnya sebelum pesawat lepas landas. Sedangkan Ratna yang sejak tadi malam terus mengurung dirinya di dalam kamar dan keluar hanya saat dia ingin ke kamar mandi.
Mata Ratna tampak bengkak karena menangis semalaman. Seluruh keluarganya tak ada yang berani menyapanya.
Pak Ramlan membawa sepiring sarapan pagi mencoba untuk membujuk putri sulungnya itu.
Tok.. tok..
"Nduk buka pintunya Bapak mau bicara" panggil Pak Ramlan.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Ratna duduk kembali di atas tempat tidur. Pak Ramlan masuk dan menyusul Ratna duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Makan dulu Nduk, dari tadi malam kamu belum makan kan" ucap Pak Ramlan.
"Aku gak lapar Pak" tolak Ratna.
"Nanti kamu sakit Nduk" bujuk Pak Ramlan.
Ratna diam.
"Kalau kamu terus seperti ini, Bapak akan menemui Wildan dan akan memintanya langsung untuk segera menikahi kamu. Bapak ikhlas Nduk, bukannya Bapak sudah bilang pada kamu kemarin. Bapak hanya ingin kamu bahagia. Jangan menyiksa diri kamu seperti ini" ucap Pak Ramlan sedih.
Ratna menatap wajah Bapaknya. Dia tak tega melihat wajah Bapaknya yang seperti itu. Ratna segera meraih piring yang ada di tangan Pak Ramlan.
"Makan ya" bujuk Pak Ramlan dengan nada yang lembut.
Ratna mulai menyuap satu persatu makanan di dalam piring. Dengan penuh kasih sayang Pak Ramlan mengusap lembut puncak kepala Ratna.
"Jika ini sangat berat, katakan pada Bapak Nduk. Apapun akan Bapak lakukan untuk kebahagian kamu. Walau Bapak harus menginjak harga diri Bapak sendiri" ucap Pak Ramlan.
Ratna menggelengkan kepalanya. Air matanya kembali menetes dan mengalir di pipinya.
"Tidak Pak, sakit ini hanya sementara, hanya sebentar. Nanti juga akan hilang. Aku hanya butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku. Jangan merasa bersalah padaku Pak. Aku yakin semua adalah kehendak Allah. Kalau Mas Wildan adalah jodohku, suatu saat kami pasti akan menikah. Kalau dia memang bukan jodohku Allah pasti akan menjauhkan kami, cepat ataupun lambat" ujar Ratna.
Bukan hanya Ratna yang merasa sakit, Pak Ramlan sendiri juga merasakan sakit. Pasti putrinya saat ini sangat sedih. Tapi walaupun begitu dia masih berusaha tegar
Ratna memang gadis mandiri dan sangat dewasa. Dia berhasil menjadi contoh teladan bagi adik - adiknya. Selain pintar, baik budi pekertinya, Ratna juga rela berkorban demi keluarga.
Itu sudah menjadi sifat Ratna yang sangat dikenal Pak Ramlan sejak Ratna kecil. Pak Ramlan menarik nafas panjang.
"Bapak selalu mendoakan kebahagian kamu Nduk. Seperti kata kamu barusan. Kalau Nak Wildan memang bukan jodoh kamu, Bapak sangat berharap kamu akan dapat pengganti yang jauh lebih baik dari dia. Bapak hanya ingin kamu bahagia. Ingat Bapak akan tetap mendukung kamu. Apapun keputusan kamu Bapak akan terima. Sekarang kamu makan ya, habiskan semuanya. Bapak keluar dulu" ujar Pak Ramlan.
Sebelum pergi Pak Ramlan mencium puncak kepala puterinya. Ratna menangis sambil menghabiskan makanan yang ada di dalam piring. Walau tiba - tiba lidahnya mati rasa tapi tanpa mempedulikan itu semua Ratna menelan semuanya tak bersisa. Semua demi permintaan Bapaknya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG