Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 258


__ADS_3

"Mas Wildan sudah sampai di parkiran, aku tidak bisa lama - lama. Aku harus pergi" ucap Ratna pada Rania.


"Terimakasih Rat kamu mau meluangkan waktu untuk bertemu aku" sambut Rania.


"Aku yang meminta kamu datang harusnya aku yang berkata seperti itu" ujar Ratna.


"Aku tau ini pasti berat untuk kamu tapi kamu dengan tegar dan tenang bisa bertemu denganku Rat. Aku semakin salut melihat kamu, kamu wanita yang hebat" puji Rania.


Ratna tersenyum tipis.


"Aku duluan ya Ran, sampai ketemu lagi" ujar Ratna.


Ratna berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Rania sendirian. Rania menatap kepergian Ratna dengan hati dan pikiran yang kacau.


Sungguh dia tidak tau apakah ini jalan yang benar atau tidak untuk masa depannya. Jauh dilubuk hatinya semua ini adalah mustahil. Wildan tidak pernah mencintianya sejak dulu sampai sekarang.


Setiap mereka bertemu dalam hal urusan kerja Wildan selalu menjaga jarak dan sikapnya pada Rania. Wildan terlihat sangat menghormati Rania dan tidak pernah menyinggung masa lalu.


Sehingga hal itu semakin membuat Rania menaruh rasa hormat dan kagum kepada Wildan. Hingga tawaran Pak Raharjo datang. Bisikan - bisikan dalam hati Rania mulai bermunculan dan menghadirkan harapan.


Apakah ada tempat dirinya dalam hidup Wildan. Rania berani mengambil resiko untuk tidak dicintai tapi setidaknya dia mempunyai waktu bersama Wildan. Apalagi kalau seandainya dia berhasil memberikan keturunan untuk Wildan. Mungkin perlahan - lahan bisa merubah perasaan Wildan kepadanya.


Hingga akhirnya harapan itu muncul menjadi ide gila dan dia mau menerima tawaran dari Pak Raharjo untuk menjadi istri kedua Wildan.


"Apakah kamu puas sudah melakukan semua itu?" tanya seorang pria yang tiba - tiba muncul di hadapan Rania.


"Si.. siapa kamu?" tanya Rania.


"Aku kira dengan penampilan kamu yang sudah berubah bisa merubah pikiran dan menutupi hati kamu yang kotor. Aku hampir tertipu dengan tampilan kamu sekarang" ujar Wahyu.


"Kamu siapa? Berani sekali berkata seperti itu padaku?" tanya Rania tidak suka.


"Kamu lupa dengan wajahku? Pria yang tiga tahun lalu sudah kamu jebak bersama Ratna di sebuah hotel? Kalau aku tau akan seperti ini yang terjadi, mungkin dulu aku akan ikut menuntut kamu di pengadilan bersama Ratna dan Pak Wildan. Aku akan bujuk Pak Wildan untuk tidak menarik tuntutannya karena kamu akan menghancurkan masa depan rumah tangga mereka" ucap Wahyu dengan lantang.


"Ka.. kamu Waaahyu?" tanya Rania.

__ADS_1


"Ya aku Wahyu. Kamu tau kan kalau aku juga mencintai Ratna sejak dulu. Tapi aku tidak pernah berniat buruk terhadap rumah tangga mereka. Aku bahagia jika melihat orang yang aku cintai juga bahagia. Walau sampai saat ini aku belum bisa mendapatkan pengganti wanita sebaik Ratna" jawab Wahyu.


"A.. aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Rania membela diri.


"Cih jangan pura - pura lemah kamu dan sembunyi di balik penyesalan masa lalu tapi hati kamu masih tetap busuk. Bilang saja kamu masih mencintai Pak Wildan dan ingin memilikinya. Aku tidak percaya dengan kata - kata kamu. Apa tadi kamu bilang? Kamu hanya meminta jatah satu atau dua hari bersama Pak Wildan. Itu hanya janji di awal kalau tujuan kamu sudah tercapai kamu pasti akan menuntut lebih. Bisa - bisa lama kelamaan kamu akan meminta Pak Wildan menceraikan Ratna" protes Wahyu.


"Dengar ya wanita berhari busuk, satu hal dalam percintaan yang harus kamu tau. Cinta tulus itu harus sadar bahwa tak selamanya cinta harus memiliki. Dan kalau punya cinta tulus kamu harus ikhlas orang yang kamu cintai bahagia bersama orang yang dia cintai. Jangan egois dalam mencinta. Tak selamanya apa yang kamu inginkan bisa tercapai. Sadarlah kamu Rania" ucap Wahyu dengan tegas.


Wajah Rania semakin memerah karena menahan malu.


"Kayak gak ada lagi pria lain, mengapa harus Pak Wildan yang harus kamu rebut dari Ratna?" tanya Wahyu.


"A.. apakah ada pria lain yang bisa menerima aku yang seperti ini?" tanya Rania.


"Kalau kamu benar - benar berubah. Jaga hati kamu, belajarlah tulus pasti akan ada pria yang menilai kamu dari ketulusan hati kamu tanpa harus melihat masa lalu kamu. Manusia itu tak luput dari salah dan dosa tapi jangan sampai jatuh dua kali di lubang yang sama, itu bodoh namanya" jawab Wahyu.


"Aku harap kamu bisa merubah keputusan kamu. Jangan pernah kamu berniat untuk membagi hati Pak Wildan untuk kamu" pesan Wahyu.


Wahyu pergi meninggalkan Rania sendirian. Beberapa pengunjung Restoran mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi dengan Rania.


Rania segera berlari keluar dari Restoran dan berjalan menuju parkiran mobil. Lalu dia menangis sejadi - jadinya di dalam mobil.


*****


Seminggu kemudian Ratna dan Wildan berkunjung ke rumah orang tua Wildan untuk makan malam bersama. Setelah selesai makan malam bersama mereka berbincang-bincang di ruang keluarga.


"Pa, Ma, Mas ada yang ingin aku katakan pada kalian" ucap Ratna.


Semua mata menatap ke arah Ratna. Ratna terlihat gugup dan gelisah sehingga membuat mereka penasaran.


"Apa yang ingin kamu katakan sayang? Mengapa kamu tiba - tiba seserius ini?" tanya Wildan.


"Aku ingin membicarakan tentang masa depan kita" jawab Ratna.


Wildan mengerutkan keningnya, dia bingung kemana arah tujuan Ratna akan berbicara malam ini.

__ADS_1


"Minggu lalu aku bertemu dengan Rania dan kami mengobrol panjang dari hati ke hati sebagai wanita. Aku memahami bagaimana kondisi dia saat ini dia juga memahami kondisiku. Dia bercerita bagaimana dulu Papa membujuknya untuk menerima tawaran Papa" ungkap Ratna.


"Ratna semua itu sudah berlalu. Tawaran itu sudah tidak berlaku, bukankah Papa sudah bilang pada kamu kalau Papa menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi dengan kalian. Papa tidak menuntut keturunan lagi pada kamu dan Wildan" potong Pak Raharjo.


"Aku tidak mau jadi istri yang egois Pa. Saat umroh aku sudah meminta kepada Allah jalan terbaik untuk masa depan kami. Aku sudah mencoba bicara dengan Rania dan aku bisa melihat kalau posisi Rania juga lemah. Dia hanya berharap mendapat suami yang bisa menerima keadaan dia tidak perduli walau dia harus menjadi istri ke dua. Dia juga berkata padaku kalau dia tidak akan menuntut lebih pada Mas Wildan. Dia hanya meminta satu atau dua hari bersama Mas Wildan selebihnya Mas Wildan bisa bersamaku" ungkap Ratna.


"Apa yang kamu katakan semua ini sayang? Aku tidak mengerti?" tanya Wildan mulai kesal.


Ratna menarik nafas panjang.


"Aku sudah memikirkan semuanya selama seminggu ini Mas. Dan aku sudah memutuskan kalau aku ridho dan ikhlas kalau harus di madu. Aku memberi izin kamu untuk menikah dengan Rania" ucap Ratna.


"Tidak sayang aku tidak mau. Jangan pernah kamu berkata seperti itu lagi" bantah Wildan.


"Rat kamu yang tenang dulu berpikir jangan gegabah seperti ini" ucap Bu Raharjo.


"Aku tidak gegabah Ma, aku sudah matang - matang memikirkan semuanya. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku, Mas Wildan dan Rania. Mas Wildan bisa memiliki keturunan. Rania juga bisa merubah hidupnya jadi wanita yang lebih terhormat dengan memiliki suami dan aku sudah cukup senang melihat semua itu" ujar Ratna.


Wildan langsung berdiri karena kesal mendengar ucapan Ratna.


"Aku tidak suka kamu berkata ini lagi. Aku tegaskan sekali lagi pada kamu. Aku tidak mau menikah dengan siapapun dan wanita manapun lagi. Aku gak ngerti dengan jalan pikiran kamu" tegas Wildan dengan wajah yang sedang menahan emosi.


"Aku pergi dulu untuk menenangkan diri" ucap Wildan.


Wildan pergi meninggalkan istri dan orang tuanya. Dia benar - benar marah dengan Ratna malam ini. Dari pada dia lampiaskan dengan menyakiti Ratna lebih baik dia mencoba menenangkan diri.


Ratna terkejut melihat reaksi dari Wildan seperti ini. Dia mencoba mengejar Wildan.


"Mas.. Mas Wildaaaan" panggil Ratna.


Tiba - tiba pandangan Ratna gelap dan dia jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


"Ratnaaaaaa" teriak Pak Raharjo dan istrinya.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2