
Mereka sampai di kota Pati hampir tengah malam. Ratna dan Ibunya kembali ke rumah mereka. Sedangkan Wildan kembali ke Hotel tempat dia menginap.
Keesokan paginya Wildan datang pagi - pagi sekali ke rumah Ratna karena hari ini dia berencana akan membawa keluarga Ratna piknik. Ratna terkejut melihat kedatangan Wildan yang menurutnya sangat pagi.
"Mas sudah sarapan?" tanya Ratna.
"Sudah tadi sarapan di hotel sebelum berangkat ke sini" jawab Wildan.
"Eh Mas Wildan sudah datang pagi amat Mas?" tanya Retno.
"Iya, Mas mau ajak kalian jalan - jalan" jawab Wildan.
"Serius Mas?" tanya Retno.
Ratna melirik Wildan yang saat ini tersenyum manis, semanis gula.
"Serius donk, masak Mas bohong sama kalian. Udah panggil yang lain dan bilang juga sama ibu untuk siap - siap. Kita jalan - jalan, bawa Mas ke tempat wisata yang bagus di kota ini sebelum Mas dan Mbak kamu pulang ke Jakarta" perintah Wildan.
"Oke Mas tunggu sebentar ya" balas Retno.
Retno langsung balik badan dan berjalan ke arah dapur. Ratna menatap calon suaminya dengan tatapan penuh makna. Pria ini terlalu istimewa datang ke hidupnya.
"Mulai besok bahan - bahan bangunan akan datang, bilang sama Ibu ya.. Sementara bagian depan dulu akan dibangun ruko. Nanti kalau rukonya sudah selesai ibu dan adik - adik kamu pindah sementara ke depan. Setelah itu baru rumah ini di renovasi. Kalau rumahnya sudah selesai baru kita masukin barang- barang jualan. Kamu sudah memikirkan akan membuka usaha apa untuk Ibu dan adik - adik kamu?" tanya Wildan.
"Mas ini terlalu banyak untuk keluargaku" Ratna menolak secara lembut.
"Keluarga kamu adalah keluargaku juga. Aku ingin membuat kamu bahagia, dan aku tau mereka lah kebahagiaan kamu. Kalau keluarga kamu sudah bahagia baru kamu mikirin aku, ya kan?" Wildan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Ratna.
Ratna menarik nafas panjang. Walau dia memang sangat mencintai Wildan tapi berat rasanya menerima semua pemberian Wildan ini. Terlalu banyak dan mahal, dia merasa malu seperti wanita materialistis yang memandang harta Wildan.
Tapi Ratna tau Wildan memang tulus ingin membantu dan membahagiakannya. Dan juga Ratna tidak bisa menolak semua apa yang sudah Wildan putuskan.
Ratna tau bagaimana sifat Wildan, sekali dia berencana pasti akan langsung di laksanakan dan tidak tanggung - tanggung. Dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan dengan cara terbaik.
Buktinya hutang Bapaknya langsung lunas kemarin juga. Bapaknya juga diantarkan ke pusat rehabilitasi agar cepat sembuh. Dan sekarang Wildan akan membangun ruko dan rumah untuk keluarganya bahkan setelah itu akan membukakan usaha untuk keluarganya.
"Kok diam? bingung mau buka usaha apa?" tanya Wildan membuyarkan hayalan Ratna.
"Mmm sembako aja deh Mas, di kampung ini yang jual sembako ya para rentenir. Penduduk yang susah suka ngutang dengan bunga yang besar" jawab Ratna.
"Kalau begitu kita buka bank simpan pinjam saja di sini?" goda Wildan.
"Maaaaas" Potong Ratna dengan wajah kesal.
"Hahaha.. padahal aku pengen lihat senyuman kamu eh malah cemberut" ujar Wildan.
__ADS_1
Tiba - tiba Rafika datang dari arah belakang.
"Mas kata Mbak Retno kita mau jalan - jalan ya?" tanya Rafika meyakinkan.
Wildan tersenyum melihat calon adik iparnya itu.
"Iya, udah mandi belum biar kita segera pergi?" tanya Wildan balik.
"Udah.. udah Mas. Sebentar ya aku siap - siap" jawab Rafika senang.
"Aku kebelakang dulu ya Mas mau ajak Ibu" ujar Ratna.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil Wildan.
"Kita mau kemana ini?" tanya Wildan.
"Mmm... " Ratna masih berpikir.
"Mas ke Amazon Waterland and Them Park ya" potong Rafika.
"Fika jangan ke sana. Mas Wildan pasti udah biasa ketempat begituan. Di Jakarta kan ada ancol dan dufan" cegah Riska.
"Tapi kita belum pernah ke sana Mbak, teman - temanku kalau hari libur banyak yang jalan - jalan ke sana, mandi kolam dan main air" jawab Rafika.
Wildan tersenyum sambil melirik ke arah Ratna. Ratna ingin mencegah adik - adiknya tapi Wildan langsung memotong.
"Tapi kami kan gak punya baju renang Ma?" tanya Riska.
"Ya kita beli dulu sebelum ke sana" jawab Wildan.
"Mas" potong Ratna.
"Tidak apa, kita ke sana aja ya. Aku jadi penasaran seperti apa tempatnya" jawab Wildan cepat.
Mereka segera menuju tempat yang diinginkan Rafika tapi sebelumnya singgah dulu ke toko perlengkapan berenang. Adik - adik Ratna menyambutnya dengan senang.
Mereka dengan semangat memilih baju renang yang mereka inginkan. Seumur hidup mereka belum pernah mempunyai baju renang. Apalagi Wildan menyuruh mereka memilih baju yang mereka inginkan.
Setelah selesai barulah mereka masuk ke arena permainan air dan kolam renang. Wildan, Ratna dan Ibunya duduk di sebuah pondok sambil menunggu adik - adik Ratna bermain air.
Adik - adik Ratna sudah masuk ke kolam dan bermain air. Ratna memesan makanan untuk mereka.
"Bu besok bahan bangunan akan mulai masuk. Kata Mas Wildan akan dibangun ruko dulu di depan rumah setelah ruko selesai Ibu dan adik - adik pindah dulu ke depan baru rumah kita di renovasi" ucap Ratna memulai pembicaraan.
"Nak Wildan jangan berlebihan, kami tidak pantas menerimanya. Kamu sudah banyak membantu keluarga kami" tolak Ibunya Ratna.
__ADS_1
"Itukan sudah ada dalam surat perjanjian Bu, kalau aku mangkir berarti aku salah donk" sahut Wildan.
"Ibu mau buka usaha apa?" tanya Ratna.
"Ibu gak tau Nduk" jawab Bu Ramlan.
"Kata Retno dia mau bukan bank simpan pinjam Bu" goda Wildan.
"Maaaas" potong Ratna.
"Bank simpan pinjam?" tanya Bu Ramlan bingung.
"Buka toko sembako aja ya Bu, harga grosir biar kita bisa membantu warga yang susah dengan menjual bahan sembako dengan harga lebih murah" jawab Ratna.
"Terserah kamu Nduk" sambut Bu Ramlan.
"Sawah Ibu disewain aja Bu, jangan bersawah lagi. Ibu kan sudah tua, waktunya istirahat" ujar Wildan.
"Tapi Mas tokonya kan belum mulai berjalan?" tanya Ratna.
"Kamu kirim aja gaji kamu setiap bulan, nanti akan aku kasih bonus" jawab Wildan santai.
"Jangan Nak Wildan" cegah Bu Ramlan.
"Kalau soal kiriman Ibu jangan khawatir. Aku kan sudah janji setelah aku kerja aku yang tanggung semua biaya" ujar Ratna.
"Tapi kamu kan tau Nduk Ibu gak bisa diam aja di rumah?" sambut Bu Ramlan.
"Mmm.. gimana kalau Ibu jualan kue aja sementara. Kan bisa di titipin di warung Bu?" tanya Ratna.
Bu Ramlan tampak sedang berpikir.
"Iya deh kalau begitu Ibu akan temui beberapa warung apa mereka mau terima" jawab Bu Ramlan.
"Naaah udah kelar kan semua. Kalau di musyawarahkan pasti dapat jalan keluarnya Bu. Mudah - mudahan Bapak cepat pulang" sahut Wildan.
"Kalau Bapak pulang nanti Bapak aja yang urus sawah biar dia ada kerjaan. Dari pada ngumpul sama teman - temannya yang tukang mabuk itu" ujar Ratna.
"Boleh juga itu, mencegah Bapak bertemu dengan teman - teman lamanya" sambut Wildan.
"Mudah - mudahan Bapak benar - benar bertaubat dan berubah. Umur sudah tak muda lagi. Sudah saatnya mendekatkan diri kepada Allah. Semoga Bapak istikomah" ucap Bu Ramlan.
"Aaamiin.. " jawab Wildan dan Ratna.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG