
Pak Ilham dan Bik Sumi duduk di atas pelaminan sederhana. Sesuai dengan permintaan Bik Sumi dan Pak Ilham karena mereka tidak ingin pesta yang berlebihan.
Padahal Melodi sudah menyiapkan dananya sebesar apapun. Pak Ilham dan Bik Sumi menolaknya dengan halus. Alasan mereka karena mereka sudah tua dan ini juga pernikahan kedua bagi mereka bedua.
"Selamat ya Bik" ucap Cinta dan Amel.
"Terimakasih Nduk" jawab Bik Sumi.
Cinta dan Amel langsung memeluk Bik Sumi bersamaan.
"Terimakasih Bik selama ini sudah mengasuh dan mendidik kami jadi seperti ini" ucap Amel.
Amel dan Cinta meneteskan air mata. Bagi mereka Bik Sumi lah orang tua mereka saat ini.
"Bibik juga berterimakasih pada kalian karena kalian sudah tumbuh jadi anak - anak hebat. Bibik nanti tidak akan malu bertemu tuan dan nyonya di akhirat" jawab Bik Sumi.
"Selamat bahagia ya Bik, semoga sakinah mawaddah warrahmah" ucap Cinta.
"Aamiin" jawab Bibik.
Melodi juga menjabat tangan Pak Ilham dengan penuh rasa hormat.
"Selamat ya Pak, semoga Bapak dan Bibik bahagia" ucap Melodi.
"Terimakasih Den, Bapak jadi sungkan Aden perlakukan seperti ini" sambut Pak Ilham.
"Sudah Pak jangan ucapkan itu lagi" sahut Melodi.
"Jangan lupa besok pagi bersiap - siap untuk berangkat Pak" sambung Melodi.
"Iya Den" jawab Pak Ilham.
Wildan dan Ratna juga bergantian mengucapkan selamat kepada Pak Ilham dan Bik Sumi. Pesta berlangsung dengan sederhana tapi tetap mewah. Dan acara selesai siang hari.
Setelah itu Pak Ilham dan Bik Sumi istirahat di kamar karena nanti malam mereka menginap di hotel kemudian besok pagi akan berangkat ke Bandara dan berangkat umroh.
Surya beserta Amel dan anak Bik Sumi bersama - sama membereskan dan membersihkan rumah. Cinta dan Melodi kembali ke rumah desa mereka.
Sedangkan Ratna dan Wildan memilih berjalan - jalan di pinggir sungai menikmati suasana sore hari di kampung.
Mereka duduk di atas batu pinggir sungai.
"Apakah kampung kamu suasana sama seperti di sini?" tanya Wildan penasaran.
"Yaaah gak jauh beda Mas" jawab Ratna.
"Pasti enak juga ya di sana" ujar Wildan.
__ADS_1
Wajah Ratna berubah jadi sendu.
"Mm.. tidak Mas" sahut Ratna.
Wildan menatap Ratna, dia sangat penasaran mengapa raut wajah Ratna berubah secepat ini.
"Sebenarnya aku belum cerita pada Mas tentang keluargaku" ucap Ratna memulai pembicaraan mereka.
Wildan dengan penuh kesabaran menunggu Ratna bercerita tentang keluarganya.
"Keluargaku tidak seharmonis keluarga Cinta. Tidak senyaman rumah tangga Pak Ilham dan Bik Sumi" ungkap Ratna.
"Ibuku seorang petani. Aku anak paling besar dari empat saudara. Tiga adik - adikku masih sekolah dibangku SMU dan SMP. Bapakku seorang pemabuk Mas. Dia selalu memberikan contoh buruk bagi kami anak - anaknya. Ibu yang banting tulang membesarkan dan menyekolahkan kami" sambung Ratna dengan wajah sedihnya.
Sontak Wildan sangat terkejut mendengar cerita Ratna.
"Aku takut saat Mas datang Bapak akan menerima Mas dengan maksud atau syarat tertentu" lanjut Ratna.
"Tidak apa, apapun syarat dari Bapak kamu, aku akan coba penuhi" jawab Wildan dengan penuh kesabaran.
Ratna menggelengkan kepalanya.
"Aku malu pada keluarga kamu Mas. Tidak ada yang bisa dilihat dari keluargaku. Bapak nanti akan memanfaatkan kamu" ujar Ratna.
"Mas tau kenapa aku tidak bisa masak dulu, sebelum Cinta mengejariku memasak di apartement Pak Melodi?" tanya Ratna.
"Itu karena aku sibuk mencari udang dengan bekerja di sawah membantu Ibu. Setelah aku dan Ibu pulang ke rumah aku hanya disuruh Ibu belajar" ungkap Ratna dengan mata berkaca - kaca.
"Kadang aku berpikir lebih baik aku tidak punya ayah seperti Cinta. Dia punya kenangan indah tentang kedua orang tuanya. Sedangkan aku hanya tersisa trauma dan ketakutan setiap kali pulang kampung. Itu sebab nya aku sangat jarang pulang. Aku hanya kirim uang pada Ibu untuk biaya sekolah adik - adikku" sambung Ratna.
Ingin rasanya Wildan menggenggam tangan Ratna atau memeluk wanita itu. Wildan tau saat ini pasti Ratna sangat malu dan sedih mengingat tentang Bapaknya. Sampai - sampai dia Ratna berpikir lebih baik kalau dia tidak punya Bapak saja.
Wildan hanya menyentuh pindah Ratna.
"Bagaimanapun prilaku, sifat dan tingkah laku Bapak kamu, dia tetap Bapak kamu. Kamu harus menghormati dan menyayanginya. Tanpa dia kamu tidak akan ada di dunia ini" ucap Wildan.
Bahu Ratna bergetar, air matanya mulai menetes dan dia mulai terisak.
"Rat pleaseee jangan menangis. Aku tidak kuat melihat kamu menangis seperti ini. Kalau tidak ingat ini di kampung sudah aku peluk kamu dari tadi. Shiiiiiit.... aku memang ingin segera menikah dengan kamu Rat tapi bukan karena di grebek orang kampung karena peluk - pelukan di pinggir sungai" umpat Wildan kesal karena dia hampir tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Ratna.
Tangisan Ratna langsung berhenti, dia melirik ke wajah Wildan. Entah siapa yang memulai lebih dulu. Keduanya jadi tertawa.
"Hahaaha.. " Wildan tertawa karena lucu membayangkan mereka di grebek orang kampung karena ketahuan peluk - pelukan di pinggir sungai dengan Ratna.
"Maaaaas" ucap Ratna.
"Aku ngebayangin dinikahkan di rumah Bik Sumi dengan kadi nikah dan pelaminan yang sama" ujar Wildan.
__ADS_1
"Hemat ya Mas" sambut Ratna.
Seketika Ratna melupakan kesedihannya tadi.
"Weiiiis demi kamu semua akan aku lakukan. Masak iya kita nikahnya numpang. Aku masih bisa menyiapkan pesta pernikahan yang mewah demi untuk kamu" ujar Wildan.
Wajah Ratna kembali sendu.
"Jangan Mas yang sederhana saja. Nanti Bapak akan manfaatin Mas" tolak Ratna.
"Sudah Rat jangan dipikirkan lagi, nanti kamu sedih dan nangis lagi. Atau kamu memang mau kita menikah saat ini juga? Aku sih mau banget, sini biar aku peluk kamu" goda Wildan untuk menghibur Ratna agar Ratna tidak menangis lagi.
"Ye nggak mau ah Mas. Aku mau menikah di depan Ibu dan adik - adikku. Mereka harus menyaksikan hari bahagiaku. Aku ingin mereka juga ikut merasakan kebahagian yang aku rasakan" ujar Ratna.
Wildan tersenyum menatap calon istrinya penguasa hatinya saat ini, besok dan selamanya.
"Mas" panggil Ratna.
"Ya sayang" jawab Wildan dengan penuh kelembutan.
Dia tersenyum penuh kasih sayang dan sabar.
"Simpan aja sayangnya setelah kita menikah ya" pinta Ratna.
Wildan menarik nafas panjang.
"Baik lah, ada apa?" tanya Wildan.
"Kalau aku menikah gak apa - apakan aku tetap bekerja? Aku ingin membantu Ibu dan adik - adikku?" pintar Ratna dengan penuh harap.
"Aku tidak bisa seperti Cinta, berhenti bekerja setelah menikah. Dia tidak punya tanggungan apapun. Aku punya Ibu dan tiga adik - adik yang masih harus sekolah" sambung Ratna dengan mata berkaca - kaca.
Wildan menatap Ratna dengan penuh Cinta.
"Kalau itu permintaan kamu sebenarnya kamu tidak perlu bekerja keras lagi. Aku dengan ikhlas akan membantu keluarga kamu. Siapapun juga, Ibu, adik - adik kamu ataupun Bapak kamu" jawab Wildan.
Ratna menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mas, aku tidak punya muka lagi nanti untuk menatap kamu dan keluarga kamu" sahut Ratna.
Wildan menarik nafas panjang.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi" janji Wildan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG