Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 254


__ADS_3

Wildan dan Cinta saling tatap. Mereka langsung berlari menyusul Ratna.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Wildan.


"Aku mual banget Mas cium wangi cake itu" jawab Ratna.


Cinta langsung mendekati Ratna.


"Rat kapan jadwal kalian ke Dokter kandungan?" tanya Cinta.


"Besok" Wildan yang menjawab.


"Aku rasa akan ada kabar gembira" ucap Cinta senang.


Ratna dan Wildan saling tatap.


"Ratna baru saja memakan cake favoritnya, bisa - bisanya dia mual karena karen mencium aroma nya. Padahal sebelumnya kan kamu suka sekali makan cake itu" ungkap Cinta.


"Benar kah?" tanya Ratna.


"Ada persediaan test pack gak?" tanya Cinta.


"Ada di kamar, Mas tolong ambilkan di laci nakas dekat tempat tidur" perintah Ratna.


"Tunggu sebentar" jawab Wildan.


Wildan langsung bergegas ke kamarnya dan mengambil alat tes kehamilan. Melodi jadi penasaran apa yang mereka lakukan di dapur.


"Kalian ngapain di dapur?" tanya Melodi.


"Ratna lagi test kehamilannya Mas" jawab Cinta.


"Ya ke Dokter donk, ngapain di dapur" sambut Melodi.


"Iiiiih Mas Odi.. ya pakai test pack dulu baru ke dokter" ujar Cinta kesal melihat suaminya gak nyambung.


"Ooo" Melodi duduk di kursi yang ada di depan meja makan.


Tak lama kemudian Ratna keluar dari kamar mandi dengan memegang alat test kehamilan. Tangannya tampak bergetar dan langsung memberikannya kepada Wildan.


"Gimana.. gimana?" tanya Cinta tak sabar.


Air mata Ratna membasahi pipinya dan langsung memeluk Wildan.


"Alhamdulillah" ucap Wildan yang melihat garis dua pada alat kehamilan yang diberikan Ratna kepadanya.


Wildan langsung membalas pelukan Ratna dengan erat.


"Alhamdulillah" sahut Cinta dan Melodi.


"Selamat ya Rat, Mas Wildan. Semoga ibu dan calon dedek bayinya sehat terus sampai lahiran" ucap Cinta tulus.


"Aaamiin... Makasih Cinta" Kini giliran Ratna dan Cinta berpelukan.


"Selamat Bro sebentar lagi kamu akan jadi orang tua" ucap Melodi kepada Wildan.


"Iya" sambut Wildan.

__ADS_1


"Kita kabari Mama Mas?" tanya Ratna.


"Gak usah dulu sayang, besok aja setelah kita periksa ke Dokter, pulangnya singgah ke rumah Papa Mama" jawab Wildan.


"Udah duduk dulu Rat, ingat jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Hindari semua itu, makan yang banyak dan pikirkan kesehatan anak yang ada di dalam kandungan kamu" pesan Cinta.


"Iya Cin, sebaiknya kita kembali ke depan saja. Kasihan Radit di tinggal sendiri" ajak Ranti.


Mereka kini pindah ke ruang keluarga dimana Radit sedang asik bermain pesawat.


"Onty kenapa?" tanya Radit penasaran.


"Onty nya sebentar lagi akan punya dedek bayi sayang. Kamu akan punya teman" jawab Cinta.


"Aku kan udah punya teman Mela Mama" ujar Radit.


"Mela itu saudara kamu sayang. Anak Onty Ratna dan Uncle Wildan nanti baru jadi teman kamu" sambut Cinta.


"Oh begitu ya. Kalau begitu adiknya cepetan donk dikeluarkan dari perut Onty biar aku punya teman main" pinta Radit.


Semua tersenyum mendengar permintaan Radit.


"Gak bisa cepat - cepat sayang. Adiknya harus besar di perut Onty dulu. Nanti kalau sudah besar baru dikeluarin" jawab Melodi.


Wildan dan Ratna duduk saling berpelukan. Terlihat wajah bahagia dari kedua wajah mereka. Melodi dan Cinta pulang sore hari dari apartement Wildan.


Malam harinya setelah selesai shalat maghrib tiba - tiba.


"Aduuh Mas perutku sakit sekali" ucap Ratna.


"Sakit gimana? Sakit perut karena mau ke kamar mandi?" tanya Wildan.


Wajah Wildan berubah serius.


Ya Allah baru juga dapat kabar gembira masak iya hanya beberapa jam saja. Batin Wildan.


Wajah Ratna semakin pucat keringat mulai bercucuran di wajahnya.


"Gimana yank rasanya?" tanya Wildan.


"Semakin sakit Mas" jawab Ratna.


"Kalau begitu kita ke Rumah Sakit yuk" ajak Wildan.


"Iya Mas" sambut Ratna.


Wildan membantu Ratna memakai jaket dan jilbabnya. Karena khawatir dengan keadaan Ratna akhirnya Wildan menggendong Ratna sampai basement. Pelan - pelan Wildan meletakkan Ratna di atas kursi penumpang.


Wildan segera menghubungi Dokter Kandungan mereka.


"Halo Dok, maaf mengganggu malam - malam begini. Tadi siang istri saya test pack dan hasilnya positif tapi malam ini dia merasa perutnya sakit, seperti melilit sampai pinggang. Katanya seperti datang bulan rasanya tapi kali ini lebih sakit. Saya sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit membawa istri saya" lapor Wildan.


"Baik Pak Wildan, saya juga akan segera ke Rumah Sakit. Kita ketemu di sana untuk memeriksa keadaan Bu Ratna. Mudah - mudahan tidak terjadi apa - apa ya" jawab Dokter.


"Terimkasih Dokter" sahut Wildan.


Wildan menutup teleponnya dan segera menyalakan mobilnya. Dengan rasa khawatir dia terus melihat istrinya yang ada di samping.

__ADS_1


Wajah Ratna semakin pucat menahan rasa sakit dan takut. Tiba - tiba Ratna merasakan sesuatu dibagian bawahnya.


"Ma... Maaaaas... sepertinya ada yang mengalir di bawah" ucap Ratna.


"Sabar sayang kita hampir sampai di Rumah Sakit" ucap Wildan.


Air mata Ratna mulai mengalir, dia sadar apa yang sedang dia alami saat ini. Semua perjuangan mereka gagal.


Ya Allah mengapa secepat itu KAU beri kebahagiaan pada kami? tanya Ratna dalam hati.


"Sayaang kamu harus kuat, aku akan selalu ada disamping kamu. Jangan takut, apapun yang terjadi akan kita hadapi" hibur Wildan.


Mobil sampai di depan Rumah Sakit. Wildan segera mengangkat tubuh Ratna. Wildan bisa merasakan sesuatu yang basah di celana Ratna bagian belakang.


Saat dia melihat tangannya Wildan melihat darah.


Ya Allah... batin Wildan berucap.


"Tolong istri saya" ucap Wildan.


Wildan meletakkan Ratna di atas tempat tidur.


"Kami menjalani program bayi tabung dengan Dokter Rike. Satu jam yang lalu istri saya mengalami sakit perut makanya saya bawa ke sini. Saya sudah hubungi Dokter Rike dan beliau sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit" ungkap Wildan.


Ratna masih terus menangis. Para perawat melakukan pertolongan pertama pada Ratna. Tak lama Dokter tiba dan langsung memeriksa keadaan Ratna.


"Kamu harus kuat sayang" bisik Wildan di telinga Ratna.


Dokter membawa Ratna ke ruangan praktek nya dan melakukan USG. Terlihat raut wajah serius dari Dokter tersebut.


"Maaf Pak, Bu walau berat saya harus sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Program bayi tabung yang kita jalani gagal. Bu Ratna mengalami keguguran" ucap Dokter.


"Oh ya Allah... secepat itu KAU ambil kebahagiaan kami" gumam Wildan.


"Hiks... hiks... " Tangis Ratna pecah.


"Maaf kandungannya tidak bisa dipertahankan lagi. Kami akan melakukan pembersihan rahim agar tidak ada yang tertinggal didalam rahim Bu Ratna" lanjut Dokter.


Wildan memeluk erat tubuh Ratna mereka berdua sama - sama menangis. Tapi Wildan sadar tidak ada gunanya berlarut - larut. Wildan segera menghapus air matanya dan menarik nafas panjang.


"Lakukan yang terbaik pada istri saya Dok. Saya ingin dia kembali sehat" pinta Wildan.


"Baik Pak, kalau begitu Bapak silahkan tunggu diluar dan urus masalah administrasi. Ibu akan segera kita pindahkan ke ruangan rawat inap. Saya akan memberikan obat pencuci kandungan Ibu. Karena kehamilan baru sekitar satu bulan kita tidak perlu melakukan kuret. Minum obat saja sudah cukup" ungkap Dokter.


"Baik Dok, saya mengerti" sambut Wildan.


Wildan menatap lembut wajah Ratna yang masih menangis terisak. Dibelainya lembut puncak kepala Ratna penuh kasih sayang.


"Sayang kita harus ikhlas. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa tapi Allah yang menentukan semuanya. Kita sudah berjanji kan akan menerima semuanya dengan ikhlas?" Ucap Wildan kepada Ratna.


"Aku keluar dulu ya mau urus administrasi kamu. Kamu disini dulu aku tinggal" lanjut Wildan.


Wildan mengecup lembut kening Ratna lalu pergi keluar untuk mengurus administrasi Rumah Sakit. Malam ini Wildan dan Ratna merasa patah hati karena gagal mendapatkan keturunan untuk yang kesekian kali.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2