Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 212


__ADS_3

Pagi harinya setelah sarapan pagi di hotel, Wildan dan Pak Ramlan bersiap - siap untuk berangkat menuju PT. Raharjo Pelangi. Mereka masuk ke dalam kantor. Sontak semua karyawan memberi hormat kepada mereka.


Pak Ramlan mundur selangkah dan berjalan di belakang Wildan tapi Wildan menghentikan langkahnya.


"Tetap disamping saya Pak, jangan jalan di belakang" ucap Wildan.


"Ba.. Baik Nak Wildan" sahut Pak Ramlan.


Mereka berjalan menuju ruangan meeting dan menunggu para pejabat yang kemarin dipanggil Wildan. Satu persatu para pejabat itu masuk ke ruangan meeting.


Mereka terkejut karena meeting kali ini Wildan membawa seseorang yang tidak mereka kenal.


"Ra.. Ramlan" panggil pria yang bertugas dibagian Pemasaran.


"To.. Tommi" sambut Pak Ramlan.


Pria yang bernama Tommi langsung menghampiri Pak Ramlan. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan.


Tepat jam sembilan pagi rapat dimulai.


"Baik, rapat hari ini kita mulai. Saya minta data dari bagian keamanan" pinta Wildan.


Sontak Direktur tegang. Pejabat dari bagian Pengawasan dan keamanan perusahaan berdiri menyerahkan temuan - temuan yang dia simpan beberapa tahun ini. Kemarin setelah rapat, Wildan mengirim pesan kepadanya untuk meminta laporan CCTV yang mencurigakan.


Dengan tangan yang bergetar Pria itu memberikan file yang berisikan rekaman CCTV.


"Tolong diputar" perintah Wildan.


Pria itu memasangkan file data ke layar komputer yang terhubung dengan proyektor sehingga semua orang bisa melihat cuplikan video dari rekaman CCTV.


Tampak dalam video tersebut Direktur bekerjasama dengan Bagian Pengawas dan Perencanaan Proyek juga Kepala Bagian HRD sedang menyeludupkan bahan - bahan proyek ke dalam sebuah truk.


Video lain yang serupa juga diputar setelahnya. Tiga pejabat ini terlibat kerjasama dalam melakukan kejahatan di Perusahaan ini.


"Ini bisa juga disebut pencurian dan penggelapan. Silahkan di catat Pak apa yang harus kita tuntut kejahatan mereka secara hukum" perintah Wildan.


Pejabat bagian keamanan perusahaan segera menjalankan perintah Wildan. Tampak tiga pejabat yang dimaksud terdiam dengan wajah pucat.


"Tambahkan juga tuduhan pencemaran nama baik. Mereka sudah membunuh karakter para korban yang telah mereka jadikan kambing hitam. Dengan catatan kejahatan mereka di pecat pasti perusahaan lain diluar disana tidak ada yang mau menerima mereka bekerja di perusahaan mereka" sambung Wildan.

__ADS_1


Tiga pria itu hanya bisa diam.


"Bapak sudah memanggil pihak kepolisian seperti yang saya perintahkan?" tanya Wildan pada bagian keamanan perusahaan.


"Su.. sudah Pak" jawab Pria itu gugup.


"Apa yang lain tidak mengetahui persekongkolan mereka?" tanya Wildan.


"Ma.. maaf Pak, saya sudah lama mengetahuinya. Ta.. tapi saya mendapat tekanan dengan ancaman pecat" ucap pejabat di bagian keamanan.


"Sa.. saya juga. Maafkan aku Ramlan, pada saat kamu dipecat aku sangat pengecut tidak bisa membela kamu. Aku sudah lama mencari kamu untuk meminta maaf atas sikapku yang pengecut. Dan atas aksi tutup mulutku mereka menawarkan jabatan kepadaku. Bertahun - tahun aku merasa bersalah Ramlan, maafkan aku" ungkap Tommi.


Pak Ramlan menarik nafas panjang.


"Sudah lah Tom, semua sudah berlalu. Yang penting kejahatan mereka bisa dibongkar agar tidak ada lagi yang menjadi korban" sambut Pak Ramlan.


Tak lama datang beberapa polisi ke ruangan rapat.


"Tolong tangkap mereka Pak, ini barang - barang bukti yang kami temukan atas kejahatan yang telah mereka lakukan. Semua yang ada di sini bersedia menjadi saksi atas kejahatan mereka" ujar Wildan pada pihak kepolisian.


"Baik Pak" Jawab Pak Polisi.


"Apa lagi yang ingin anda bicarakan? Anda ingin membela diri? Siapa lagi kali ini yang akan anda korbankan? Dua teman Anda yang selalu patut mengikuti perintah Anda?" tanya Wildan.


"Maafkan saya Pak, saya bersedia untuk mengganti semua kerugian perusahaan tapi tolong Pak jangan pencarakan saya" pinta Pak Direktur.


"Mungkin anda bisa membayar kerugian perusahaan tapi uangnya berasal dari uang perusahaan yang anda curi dan anda kembangkan menjadi usaha pribadi anda untuk mengisi pundi - pundi kekayaan anda. Tapi bagaimana dengan kehidupan para karyawan jujur yang anda jadikan korban. Salah satu contohnya Pak Ramlan. Dia punya empat orang anak, selama dua puluh tahun ini mereka hidup dengan susah sedangkan anda dan keluarga anda hidup dengan aman dan nyaman di rumah tanpa pernah kekurangan apapun. Apa pernah anda pikirkan semua itu?" tanya Wildan dengan geram.


Pria itu terdiam, nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membela diri. Tiga pria mantan pejabat di PT. Raharjo Pelangi sudah pasrah pada hukuman yang akan mereka dapatkan.


Tiba - tiba ponsel Wildan berdering. Dia menatap layar ponselnya dan yang tertera di sana nama Papanya.


"Assalamu'alaikum Pa" ucap Wildan.


"Wa'alaikumsalam. Apa rapatnya sudah selesai?" tanya Pak Raharjo.


"Belum tapi hampir selesai" jawab Wildan.


"Jangan ditutup dulu, tunggu sebentar. Papa sudah hampir sampai" cegah Pak Raharjo.

__ADS_1


Wildan terkejut mendengar ucapan Papanya. Tadi malam memang dia sempat berkomunikasi dengan Papanya mengenai permasalahan di anak perusahaan mereka.


Wildan mengatakan kalau saat ini dia berada di Semarang dan sedang mencari kebenaran atas peristiwa dua puluh tahun yang lalu di anak perusahaan mereka. Yang menyangkut nama baik calon mertuanya, Pak Ramlan.


Pak Raharjo yang pada dasarnya mempunyai sifat paling benci terhadap seorang pengkhianat segera mengambil tindakan. Pagi - pagi sekali beliau berangkat dengan penerbangan pagi menuju Semarang.


Sayang pesawat delay sehingga dia hampir saja terlambat menghadiri rapat. Untung masih ada waktu dan rapat belum selesai.


"Tunggu Pak, jangan bawa mereka dulu. Masih ada yang harus kita tunggu" pinta Wildan kepada para polisi.


Tiga pengkhianat saling pandang. Mereka bingung siapa lagi yang harus mereka tunggu. Sekitar sepuluh menit kemudian Pak Raharjo sudah sampai di PT. Raharjo Pelangi.


Semua tampak tegang melihat kehadiran Pak Raharjo. Semua berdiri menyambut kedatangannya. Begitu Pak Raharjo sampai di ruangan rapat dia langsung menghampiri sang Direktur.


Plak.. Plak...


Pak Raharjo menampar pipi Direktur dengan sangat keras. Direktur sampai mundur dua langkah akibat tamparan yang diberikan Pak Raharjo di wajahnya.


"Ternyata aku memelihara pencuri di Perusahaan ini. Selama ini aku sudah mempercayai kamu, bahkan aku memberikan jabatan tertinggi di Perusahaan ini kepada kamu. Ternyata ini yang kamu lakukan selama ini. Kamu mencoreng nama baikku" bentak Pak Raharjo.


Pria itu langsung duduk berlutut di kaki Pak Raharjo. Disusul dua pejabat lainnya.


"Ma.. maafkan saya Pak. Maafkan saya, saya memang bersalah" ucap Direktur.


"Bawa mereka pergi secepatnya Pak, sebelum kesabaran saya habis. Bisa - bisa saya membunuh mereka di sini" ucap Pak Raharjo kepada Polisi.


Polisi segera membawa tiga pengkhianat. Wildan kemudian memegang tubuh Papanya yang tampak bergetar karena menahan amarah. Dia takut kondisi Papanya jadi memburuk karena tidak bisa menahan emosi.


"Sudah Pa, mereka akan segera di hukum" ucap Wildan memenangkan Papanya.


"Si.. silahkan duduk Pak" ucap pejabat perusahaan yang masih ada di ruangan meeting.


Pak Raharjo akhirnya duduk di kursi ruangan rapat. Setelah detak jantungnya stabil dan dia bisa menguasai emosinya. Pak Raharjo menatap wajah Pak Ramlan dengan tatapan bersalah.


"Ramlan.. Maafkan atas kesalahanku selama ini pada kamu dan keluarga kamu. Aku mengaku salah dan lalai selama ini. Sehingga berakibat buruk pada kehidupan kamu dan keluarga kamu" ucap Pak Raharjo akhirnya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2