
Ratna dan keluarganya menginap di kamar yang sangat besar. Ratna sengaja memilih family room untuk keluarganya.
Belum pernah mereka mengalami hal seperti ini bersama keluarga. Sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi keluarga mereka.
Bapak dan Ibu Ramlan tidur di satu tempat tidur. Ratna tidur dengan Rafika sedangkan Retno bersama Riska. Malam ini mereka hanya membawa pakaian seadanya.
Sebelum tidur mereka sempat berbincang-bincang sejenak.
"Bagaimana perasaan Bapak saat ini?" tanya Ratna.
"Bapak lega Nduk. Bapak lega hidup seperti ini, bisa berkumpul dengan kalian dalam keadaan Bapak yang seperti ini. Akhirnya Bapak bisa keluar dari lubang neraka" jawab Pak Ramlan.
"Alhamdulillah Pak, aku juga sangat lega. Akhirnya keluarga kita diberi Allah kesempatan menjadi keluarga yang harmonis seperti keluarga - keluarga lainnya" sambut Ratna.
"Semua karena Bapak kalian semua hidup susah" air mata Pak Ramlan keluar dari sudut matanya.
"Sudah Pak jangan menyalahkan diri sendiri. Bapak sudah mau berusaha hidup lebih baik saja Ibu sudah sangat bersyukur. Yang penting jangan pernah kembali lagi ya Pak ke jalan itu" sahut Bu Ramlan.
"InsyaAllah Bu, Bapak tidak akan kembali lagi ke jalan yang dulu. Cukup sudah kalian semua hidup menderita karena perbuatan Bapak. Bapak merasa bersalah dan sangat berdosa. Bapak sangat bersyukur punya istri seperti kamu yang bisa kuat di saat Bapak tidak bisa diandalkan. Kamu berhasil mendidik anak - anak kita menjadi anak - anak yang pintar dan solehah. Hanya mereka yang kita punya Bu, mereka adalah harta kita. Kamu bisa menjaga mereka dengan baik. Bapak berterimakasih pada kamu Bu" ucap Pak Ramlan.
Bu Ramlan tersenyum penuh kelembutan pada suaminya.
"Ibu selalu berdoa Bapak kembali seperti dulu. Ibu tau Bapak yang kemarin bukanlah diri Bapak yang dulu. Bapak hanya kecewa pada hidup karena berhenti bekerja dengan tidak hormat" ujar Bu Ramlan.
"Harusnya Bapak tidak boleh larut dalam kekecewaan Bapak yang besar saat itu. Harusnya Bapak bisa bangkit dan berusaha bukan malah lari pada minum - minuman keras" ucap Pak Ramlan menyesal.
Bu Ramlan menggenggam tangan suaminya penuh kasih sayang.
"Semua sudah berlalu Pak, jangan disesali. Sudah Pak ikhlaskan saja semunya. Yang penting bagaimana kita membesarkan dan mengantarkan anak - anak kita ke pintu kesuksesan dan kebahagian" sambut Bu Ramlan.
__ADS_1
Pak Ramlan menatap Ratna.
"Nduk apa kamu bahagia bersama Wildan? Tidak ada yang kamu sembunyikan kan nduk pada Bapak dan Ibu? Bapak tau Nak Wildan memang sangat baik, tapi Bapak gak pernah bertanya langsung pada kamu. Apakah kamu memang mencintainya?" tanya Pak Ramlan.
Ratna tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Pak, aku mencintai Mas Wildan" jawab Ratna sambil tersenyum malu.
"Bapak hanya ingin kamu bahagia Nduk, setelah kamu menikah nanti jangan pikirkan kami lagi. Carilah kebahagiaan kamu, fokus pada hidup dan rumah tangga kamu. Bapak dan Ibu akan memperjuangkan hidup kami juga adik - adik kamu" pesan Pak Ramlan.
Air mata Ratna jatuh perlahan. Dia sangat terharu pada ucapan Bapaknya.
"Tugas kamu sebagai anak paling besar sudah selesai Nduk, kamu sudah berhasil mengangkat derajat keluarga kamu. Sekarang tugas kamu lainnya setelah menikah bangunlah rumah tangga yang lebih baik dari pada rumah tangga Bapak dan Ibu. Bapak bukan contoh orang tua yang baik yang bisa jadi panutan kamu" pesan Pak Ramlan ikutan menangis.
Ratna tak kuat melihat air mata Bapaknya langsunh memeluk erat tubuh Pak Ramlan.
"Bagaimanapun Bapak dulu, Bapak tetap jadi pahlawanku. Bapak tetap jadi cinta pertamaku. Terimakasih dulu sempat memberikan kenangan yang manis saat aku kecil, aku masing mengingatnya Pak. Bapak begitu sayang pada keluarga. Manusia tak luput dari salah, bisa saja manusia tergelincir dalam jurang kehidupan seperti yang Bapak alami. Yang penting Bapak bisa selamat keluar dari jurang itu. Mari Pak sama - sama kita bangun keluarga kita ini dengan kehidupan yang lebih baik. Aku rasa Ibu tidak mengharapkan harta dan kekayaan, sekarng mungkin Ibu hanya membutuhkan teman hidup, teman beribadah di hati tuanya" ucap Ratna sambil menangis.
"Ratna benar Pak, aku hanya ingin kita menua bersama dan menjalani hidup ini dengan bahagia. Sudah cukup apa yang kita punya saat ini Pak. Ibu tidak ingin yang lain. Ibu ingin Bapak yang dulu. Ingatkan dulu apa yang Bapak ucapkan pada Ibu saat Bapak mengajak Ibu menikah?" tanya Bu Ramlan.
Pak Ramlan menangis haru.
"Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu" jawab Pak Ramlan.
"Oooowh.. Bapak so sweet sekali" sambut anak - anaknya.
Mereka semua berpelukan sambil menangis haru. Ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan yang ingin menyambut datangnya hari baru yang bahagia untuk keluarga mereka.
Semua merasa lega akhirnya bisa berakhir semanis ini. Tidak ada lagi rasa takut dan cemas Bu Ramlan dan anak - anaknya saat Pak Ramlan ada di rumah.
__ADS_1
Begitu juga dengan Pak Ramlan yang sudah bisa menerima kegagalannya dulu dan berusaha bangkit hidup lebih baik lagi. Menjadi kepala keluarga seutuhnya walau sudah hampir lewat.
Tapi tetap tidak ada kata terlambat dari pada tidak dilakukan sama sekali. Gagal lebih baik dari pada kita tetap pada posisi semula dan tak pernah berani untuk mencobanya.
Begitulah yang dijalani Pak Ramlan dan keluarganya saat ini. Penuh harapan semoga Allah melihat kesabaran dan ketabahan mereka selama ini. Semoga Allah juga melihat niat baik Pak Ramlan yang ingin berubah untuk hidup lebih baik lagi mencari ridho Allah.
Akhirnya mereka saling melepas pelukan dan menghapus air mata masing-masing.
"Sudah larut malam, besok masih banyak yang harus kita lakukan. Yuk kita istirahat dan tidur" ajak Pak Ramlan.
"Iya Pak" jawab yang lainnya kompak.
Ratna dan adik - adiknya mengambil posisi tidur sesuai dengan kesepakatan mereka. Pak Ramlan dan Bu Ramlan juga sudah berbaring di atas tempat tidur mereka.
Tak lama kemudian istri dan anak - anak Pak Ramlan sudah tidur dengan lelap. Pak Ramlan berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.
Dia menjalankan shalat taubat dan berdoa mengucapkan syukur kepada Allah atas hidayah dan karunia yang telah Allah berikan kepadanya dan keluarganya.
"Ya Allah aku malu meminta di hadapanMU. Aku yang hina ini yang punya banyak dosa, memohon kepadaMU. Lindungilah keluargaku dari segala perbuatan buruk, dari segala prasangka buruk, dari segala niat buruk seseorang untuk merusak keutuhan keluarga kami ini ya Allah. Jauhkan kami dari segala marabahaya. Terimakasih KAU telah memberikan aku begitu banyak kenikmatan dalam hidup ini. Memiliki harta yang tak ternilai harganya, anak - anak solehah. Aku mohon bahagiakan hidup mereka kelak ya Allah. Aku mohon jangan berikan mereka pasangan hidup seperti hamba yang tak bertanggungjawab pada hidup istri dan anak - anak hamba" Air mata Pak Ramlan begitu deras mengalir.
Rasa syukur dan rasa bersalah juga penyesalan menyertai doa - doanya.
"Berikan mereka semua kebahagiaan yang lebih indah lagi dari saat ini. Maafkan semua dosa dan kesalahanku ya Allah. PadaMU aku memohon dan meminta ampunan. Aamiin.. ya Rabbal 'alamiin.. " ucap Pak Ramlan mengakhiri doanya malam ini.
Usai shalat Pak Ramlan menyusul istri dan anak - anaknya istirahat dan tidur. Hatinya terasa sangat tenang dan damai sekali.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG