
Tiga hari menjelang acara pertunangan Wildan dan Rania. Ratna terlihat semakin tidak semangat. Sedangkan Rania semakin diatas angin.
"Akm.hirnya sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Wildan. Kamu jangan coba - coba mengganggu calon suamiku" ujar Rania.
Ratna hanya diam dan tidak menjawab ataupun melawan. Karena dia sudah semakin tau diri. Dia hanyalah seorang karyawan biasa.
Yah mungkin Wildan mengajaknya pindah ke Perusahaan ini karena ingin menggantikan pekerjaan Rania setelah Rania dan Wildan menikah.
Satu bulan waktu yang diberikan Pak Raharjo kepadanya. Waktu itu tepat minggu depan saat acara pertunangan Wildan dan Rania.
Ratna semakin mengerti maksud perkataan Wildan sebulan yang lalu. Kalau Rania berhasil mendidik Ratna maka dia akan segera naik pangkat.
Dan semua itu benar, tepat sebulan Ratna bekerja di PT. Raharjo Group. Rania naik pangkat menjadi tunangan Wildan.
"Hei gadis kampung, kamu dengar tidak perkataanku?" bentak Rania.
"Dengar Ran, kamu tidak perlu memberi penekanan dengan suara tinggi kamu. Kamu bicara pelan pun aku dengar kok. Aku cukup tau diri dimana batasanku" jawab Ratna.
"Bagus kalau begitu" ujar Rania merasa menang.
Acara pertunangan Wildan dan Rania dilakukan di sebuah hotel mewah. Seluruh karyawan, keluarga besar dan relasi bisnis PT. Raharjo Group diundang keacara tersebut.
Menjelang acara tersebut Wildan memang sengaja menjaga jarak kepada Ratna. Dia ingin menyelesaikan terlebih dahulu urusannya dengan Rania. Tujuannya agar Rania segera keluar dari Perusahaan ini dan dia bebas mendekati Ratna tanpa ada pengganggu.
Tapi Ratna semakin sedih dan patah hari karenanya. Hampir setiap malam dia menangis karena hatinya sangat sakit melihat Wildan yang semakin cuek kepadanya. Sedangkan Rania yang terlihat semakin sombong dan bangga karena dia akan menikah dengan Wildan.
Siang ini Ratna dan Cinta janjian makan siang diluar. Cinta sengaja mengajak Ratna keluar berdua dengan tujuan ingin menghibur sahabatnya itu. Pasti saat ini Ratna sangat sedih karena sebentar lagi Wildan akan tunangan.
"Pak apa ada yang Bapak butuhkan makan siang ini?" tanya Ratna.
"Tidak, kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Wildan.
"Saya mau izin makan siang diluar" jawab Ratna.
Wildan terlihat sedang memikirkan sesuatu lalu dia menarik nafas.
__ADS_1
"Ya sudah kamu pergi saja" jawab Wildan.
"Bapak mau makan siang apa?" tanya Ratna.
"Biar nanti saya suruh Rania saja yang pesan" jawab Wildan.
Ratna tampak kecewa karena Wildan tetap lebih memilih Rania.
"Kalau bagitu saya pamit dulu Pak" ujar Ratna.
Ratna berbalik dan keluar dari ruangan kerja Wildan. Wildan sebenarnya sedih melihat wajah Ratna tak bersemangat seperti itu. Tapi semua ini harus dia lakukan agar Rania tidak menaruh curiga pada rencananya.
"Sabar ya Rat, aku akan segera menyelesaikan rencanaku dengan cara yang sangat spektakuler" gumam Melodi.
Istirahat makan siang Ratna dijemput Cinta ke kantornya. Cinta diantar oleh supir. Setelah Ratna masuk ke dalam mobil mereka langsung menuju restoran yang sudah dipesan private.
Tentu saja itu syarat dari Melodi. Kalau Cinta mau pergi makan diluar harus di tempat private karena proses hukum Sofia masih berjalan. Melodi tidak ingin Cinta disakiti lagi oleh orang - orang yang berhubungan dengan Sofia.
Kini mereka sudah sampai di ruangan private. Cinta dan Ratna duduk hadap - harapan. Cinta bisa melihat jelas raut sedih sahabatnya.
Walau dia tau apa yang sedang dirasakan Ratna tapi Cinta tetap bertanya agar Ratna mengeluarkan sendiri unek - unek dalam hatinya. Tujuannya agar beban batin Ratna berkurang setelah bercerita dan mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Pak Wildan akan tunangan Cin dengan Rania. Tiga hari lagi, waktunya sudah sangat dekat" jawab Ratna.
Cinta mulai mendengarkan Ratna berkeluh kesah dengan penuh perhatian.
"Aku selalu bertanya apa maksud Pak Wildan mengajak aku ikut bekerja di Perusahaannya. Melihat perhatiannya setiap hari dulu membuat aku sedikit berharap. Apakah aku salah berharap lebih Cin?" tanya Ratna dengan mata berkaca - kaca.
"Aku juga melihat kalau Pak Wildan punya perhatian kepada kamu" sambut Cinta.
"Iya tapi itu dulu Cin, setelah pindah ke Perusahaannya perhatiannya berkurang. Dia mulai menjauh, sering banyak alasan untuk tidak pulang bareng, tidak makan malam di rumah daaaaan dia semakin cuek padaku" ujar Ratna.
"Kamu tau, aku juga dapat tekanan dari Rania setiap harinya. Aku di tuduh pelakorlah, gadis kampung, gadis penggoda dan banyak lagi lainnya" sambung Ratna.
"Ih gak salah tuh? Yang punya gaya wanita penggoda itu dia" potong Cinta kesal.
__ADS_1
"Yah tapi akhirnya kan Pak Wildan memang memilih dia" sahut Ratna.
"Yang aku dengar sih dari Mas Melodi, mereka di jodohin oleh kedua orang tua mereka Rat" ujar Cinta.
"Iya tapi kedua - duanya emang sama - sama suka. Kalau tidak gak mungkin acara tunangan mereka berlangsung. Apalagi aku lihat Pak Wildan memang semakin dekat dengan Rania. Sekarang apa - apa Rania. Pesan makan Rania, meeting di luar Rania. Aku hanya disuruh susun jadwal dan siapkan materi meeting" ungkap Ratna.
"Orang tua Rania itu juga punya perusahaan yang nanti akan diserahkan kepada Rania Rat, dia bekerja di Perusahaan Mas Wildan karena ingin belajar. Mungkin itu sebabnya makanya Mas Wildan sering membawa dia kemana - mana" ujar Cinta.
Ratna menarik nafas berat.
"Haaah enatahlah Cin. Aku rasanya udah gak kuat lagi bekerja di sana. Setiap hari melihat mereka dekat dan semakin mesra. Kalaupun yang kamu katakan itu benar, Rania keluar dari Perusahaan untuk menjalankan usaha keluarganya tapi status Rania sudah berubah menjadi tunangan atau mungkin sudah menjadi istrinya Pak Wildan. Untuk apa aku berada di dekat Pak Wildan dengan semua perasaanku ini Cin. Sement dia sudah terlarang untuk aku raih" ungkap Ratna.
Cinta menggenggam tangan Ratna untuk memberikan semangat.
"Tolong tanyakin Pak Melodi Cin, kalau aku balik ke Perusahaannya masih bisa gak? Aku mau balik aja kerja di Sanjaya Corp. Disana juga banyak teman - teman yang lebih baik daripada di kantorku yang sekarang. Di sana ada Loly, Suri dan Wahyu yang lucu. Ada Santi yang sabar dan Baim yang kalem tapi bijaksana" ujar Ratna sedih.
"Di perusahaan ini aku kesepian dan sendiri. Dulu sih ada Pak Wildan yang selalu ada di dekatku, melindungiku di kantor kalau Rania galak padaku. Tapi sekarang dia menjaga jarak dan cuek padaku" sambung Ratna.
Akhirnya air mata Ratna jatuh juga ke pipinya. Cinta menggenggam tangan Ratna erat mencoba menenangkan.
"Sabar Rat, tak selamanya cinta memang harus berbalas. Mungkin Pak Wildan bukan jodoh kamu. Teruslah berdoa semoga Allah beri pengganti yang lebih baik dari Pak Wildan" ucap Cinta mencoba menenangkan.
"Tapi sangat sulit melewatinya Cin, perasaanku semakin dalam untuknya. Aku sudah sangat mencintainya" ungkap Ratna sambil terisak.
Cinta berdiri dan pindah tempat duduk di samping Ratna. Dia merangkul Ratna dan memeluknya agar kesedihan Ratna mereda.
.
.
BERSAMBUNG
Apa yang terjadi dengan acara pertunangan Wildan? Tunggu cerita selanjutnya ya guys..
Jangan lupa like, vote, komentar, kembang juga kopinya. Agar aku lebih semangat lagi. Terimakasih
__ADS_1