Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 246


__ADS_3

Malam harinya di kediaman keluarga Raharjo. Wildan sedang duduk santai dengan Papanya di teras belakang rumah mereka.


"Papa baru saja pulang menjenguk Sudibyo di kampung. Disana Papa juga bertemu Rania Wil. Dia sudah jauh berubah, sekarang Rania sudah menutup auratnya dan sudah lebih santun" ucap Pak Raharjo.


"Syukurlah kalau dia sudah berubah dan bertaubat Pa" sambut Wildan.


"Papa sudah bicarakan dengan Sudibyo untuk kembali mempercayakan perusahaan Sudibyo di tangan Rania. Bagaimana menurut kamu?" tanya Pak Raharjo.


"Aku tidak masalah, bagaimanapun mereka adalah pemiliknya. Aku hanya menjalankan amanah Om Sudibyo. Kalau dia ingin mengambil kembali Perusahaannya aku siap menyerahkannya" jawab Wildan tegas.


Pak Raharjo tersenyum puas mendengarkan jawaban putranya.


"Tidak seperti itu konsepnya Wil, kalau kita kembalikan perusahaan Sudibyo nanti Rania akan tau kalau dulu kamu dan Papanya melakukan sandiwara. Papa dan Sudibyo sudah menyusun rencana. Jadi kamu menerima Rania sebagai Direktur di sana dan Rania hanya mendapatkan gaji karena telah menjalankan tugasnya. Ini masih menjadi percobaan untuk Rania. Kalau dia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik baru secara perlahan Perusahaan Sudibyo dikembalikan kepada Rania" ujar Pak Raharjo.


Wildan tampak sedang berpikir.


"Baik Pa aku setuju. Senin depan Rania bisa datang ke kantor, nanti aku akan bicarakan dengan dia bagaimana ketentuan dia bekerja di anak perusahaan PT. Raharjo Group" sambut Wildan.


"Oke.. Papa akan bicarakan hal ini dengan Sudibyo. Rania hanya kamu kasih fasilitas mobil kantor saja Wil. Biar rumah dia cari sendiri. Sudibyo ingin lihat apakah Putrinya bisa mengatur hidupnya dengan baik" ucap Pak Raharjo.


"Iya Pa, aku akan laksanakan semua yang Papa dan Om Sudibyo pesan kan" jawab Wildan.


Sebelum tidur seperti biasa Ratna dan Wildan ngobrol sebentar sebagai pengantar tidur mereka.


"Yank senin depan Rania akan mulai bekerja di Perusahaan milik keluarganya" ucap Wildan kepada Ratna.


"Oh ya?" tanya Ratna terkejut.


"Hari ini rupanya baru pulang dari tempat tinggal mereka di desa. Papa melihat Rania sudah jauh berbeda. Sekarang Papa bilang Rania sudah memakai jilbab" jawab Wildan.


"Alhamdulillah kalau dia sudah berubah ya Mas" sambut Ratna.


"Ya aku juga bilang begitu dan masalah Perusahaan mereka aku tidak keberatan kalau mereka ambil lagi. Toh Perusahaan itu memang milik mereka. Aku dan Om Sudibyo kan hanya sandiwara" ungkap Wildan.


"Iya Mas untuk apa mengambil sesuatu yang memang bukan hak kita, lebih baik kembalikan saja kepada pemilik yang sesungguhnya" ujar Ratna.


"Tapi Om Sudibyo belum seratus persen mempercayakan Perusahaan itu kepada Rania. Rania hanya akan bekerja sebagai Direktur dan dia hanya mendapatkan gaji atas kerjanya ditambah fasilitas mobil dinas" sambung Wildan.


"Kenapa begitu Mas?" tanya Ratna penasaran.


"Om Sudibyo ingin tau apakah Rania bisa mengatur hidupnya. Mungkin Om Sudibyo ingin mengetes kesungguhan Rania berubah" jawab Wildan.


"Ooh begitu.. menurut aku tidak ada salahnya. Kalau kata orang bijak, setiap kita naik level kehidupan kita pasti akan ada ujiannya. Rania kan dulu hidup berkecukupan, terus di uji dengan hidup susah, walau susah sesuai versi mereka ya. Sekarang Rania diuji lagi kembali hidup senang. Kita lihat bersama apakah Rania bisa lulus dalam ujian ini" sambut Ratna.


"Yah semoga saja. Kalau dia memang berhasil dan lulus aku rasa dia akan sukses. Dia kan juga tamatan luar negeri, ilmu yang dia pelajari tidak kalah hebat. Kesalahannya kemarin dia sangat ceroboh dan terlalu mengikutkan hawa nafs*, dia salah langkah dalam pergaulan bebas" ucap Wildan.


"Aku berharap dia memang benar - benar berubah menjadi wanita yang lebih baik. Mendapatkan jodoh yang benar - benar mencintai dia dengan tulus, bisa menerima dia apa adanya" Doa Ratna tulus.


"Aamiin" sambut Wildan.


"Udahan yuk Mas aku udah ngantuk. Kita tidur ya.. oaaa" Ratna menutup mulutnya saat menguap.


Wildan langsung mempererat pelukannya. Dia memberikan sentuhan - sentuhan kecil sebagai kode untuk Ratna kalau dia menginginkan sesuatu.


"Yaaank aku kok tiba - tiba pengen berenang" ujar Wildan.


"Malam lho Mas, apa Mas gak kedinginan?" tanya Ratna tidak mengerti dengan kode yang Wildan layangkan.

__ADS_1


"Kan ada kamu yang bisa menghangatkan aku" sambut Wildan.


Tangan Wildan semakin nakal sehingga Ratna mengerti apa maksud Wildan berkata seperti itu.


"Olaaaah mau yang itu toh" ujar Ratna.


"He em.. tau aja" timpa Wildan.


"Ya udah lanjut" sambut Ratna.


"Yeees terimakasih sayangku" sahut Wildan dengan semangat.


Wildan langsung merubah posisinya sehingga bisa dengan leluasa memberikan sentuhan - sentuhan dahsat yang membuat Ratna melambung ke langit yang ke tujuh.


Kini keduanya sedang berenang di lautan asmara. Saling kejar mengejar siapa yang lebih dulu sampai ke titik puncak.


Setelah keduanya selesai mereka saling berpelukan mesra.


"I love you sayang" gumam Wildan.


"Love you too Mas sayang" balas Ratna.


Ya Allah semoga usaha kami malam ini berhasil dan kabulkanlah doaku malam ini ya Allah. Biarkan benih cinta kasih kami malam ini berkembang dengan baik di rahimku. Doa Ratna dalam hati.


Keduanya kini tidur dengan lelap dan saling berpelukan.


******


Hari senin pun tiba. Ratna sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Matanya sedang fokus menatap layar monitor komputernya.


"Wa'alaikumsalam" sahut Ratna.


Ratna mengalihkan pandangannya ke arah suara tadi. Alangkah terkejutnya Ratna melihat siapa yang ada di hadapannya.


Seorang wanita cantik tampil sangat elegant menggunakan blazer hitam dan memakai jilbab corak dengan warna senada sedang tersenyum ramah kepadanya.


Ratna terperanjat menatap wanita yang sepertinya sangat dia kenal.


"Ra.. Rania?" tanya Ratna.


Wanita yang di panggil Rania itu tersenyum mengangguk di hadapan Ratna. Dia terlihat sangat cantik pagi ini di hadapan Ratna.


"Iya aku Rania, lama tidak bertemu Ratna.


Rania langsung memeluk Ratna dengan erat seolah mereka adalah teman lama yang sudah lama tidak bertemu.


"Eh iya Ran, apa kabar kamu?" tanya Ratna mengalihkan rasa keterkejutannya.


"Alhamdulillah sehat seperti yang kamu lihat" jawab Rania.


"Syukurlah" sahut Ratna.


"Wildan ada?" tanya Rania.


"Ada, tunggu sebentar ya" jawab Ratna.


Ratna mengetuk pintu Direktur Utama yang tak lain adalah suaminya.

__ADS_1


"Masuk" sahut Wildan dari dalam.


Ratna masuk ke dalam ruangan Wildan.


"Mas Rania sudah datang" lapor Ratna.


Wildan menurut berkas yang ada di hadapannya lalu menyerahkannya kepada Ratna.


"Suruh masuk. Kamu mau ikut di dalam?" tanya Wildan.


Wildan tidak ingin ada kesalah pahaman dengan istrinya.


"Tidak usah Mas, kalian ngobrol berdua aja. Ini kan masalah kantor" tolak Ratna.


"Ya sudah kalau begitu panggil dia" ujar Wildan.


"Baik" jawab Ratna.


Ratna berbalik dan keluar ruangan Wildan lalu menyuruh Rania untuk masuk.


"Silahkan masuk Rania" perintah Ratna.


"Terimakasih Ratna. Apa kamu tidak ingin bergabung dengan kami?" tanya Rania.


"Tidak usah Ran, aku lagi ada kerja. Kalian ngobrol berdua aja. Mas Wildan sudah menunggu kamu" jawab Ratna.


"Baiklah kalau begitu Rat, aku tinggal dulu ya" sahut Rania.


Rania masuk ke dalam ruangan Wildan. Wildan tampak terkejut dengan penampilan Rania yang sangat berbeda sekarang tapi dia langsung bersikap normal kembali.


"Pagi Wil, Papa bilang kamu memanggil aku untuk datang ke sini" sapa Rania dengan ramah.


"Yah itu benar, silahkan duduk Rania" sambut Wildan.


Rania duduk di atas sofa yang ada di ruangan Wildan. Wildan kemudian duduk di hadapan Rania.


"Aku ingin menawarkan pekerjaan kepada kamu. Aku merasa sayang melihat ilmu kamu harus terkubur karena kamu tinggal di desa. Aku berpikir tidak ada salahnya kalau aku memberi kamu kesempatan untuk kembali mengurus bekas Perusahaan kamu dulu. Aku ingin memberi tawaran kepada kamu untuk kembali menjadi Direktur di salah satu anak perusahaanku yang tak lain adalah bekas Perusahaan keluarga kamu?" tanya Wildan.


Rania tampak sedang berpikir dan mempertimbangkan tawaran Wildan.


"Kamu akan aku kasih gaji tinggi dan fasilitas mobil kantor, gimana Ran? Aku sangat berharap kamu mau menerimanya?" tanya Wildan lagi.


Rania menarik nafasnya panjang. Jujur di dalam hatinya memang ingin kembali bekerja seperti dulu. Tapi Rania malu untuk memulai lagi dari awal.


"A.. aku tidak yakin apakah aku bisa mengerjakan tugas itu dengan baik Wil" elak Rania halus.


"Dengan bekal ilmu dan pengalaman kamu sebelumnya. Aku yakin kamu pasti bisa menjalankan perusahaan itu dengan baik. Ayolah Ran terima, tidak ada salahnya kamu kembali. Kalau ada yang sulit kamu bisa kok bertanya kepadaku. Aku akan sangat senang membantu kamu" bujuk Wildan.


Rania menarik nafas panjang.


"Baiklah Wil, aku akan terima tawaran kamu" jawab Rania akhirnya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2