Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 262


__ADS_3

Sepekan berlalu, Ratna dan Wildan sudah kembali ke rumah orang tua Wildan. Bu Raharjo merawat menantunya dengan sangat baik. Bahkan Ratna sangat dimanjakan sekali dengan kehamilannya ini.


Hal ini membuat Wildan merasa lega. Dia jadi lebih tenang meninggalkan Ratna di rumah saat dia harus pergi kerja. Kedua orangtuanya sangat senang menanti kehadiran cucu - cucu mereka beberapa bulan lagi.


Hari ini Wildan akan mengadakan rapat dengan beberapa relasi bisnisnya, termasuk Perusahaan Rania. Sebenarnya Wildan malas sekali bertemu dengan Rania tapi dia harus bersikap profesional.


Rapat berajalan hampir seharian. Dimulai jam sembilan pagi, jeda istirahat makan siang dan shalat. Jam setengah dua siang dilanjut sampai jam lima sore.


Saat rapat selesai Wildan buru - buru pergi meninggalkan ruangan rapat dan mau kembali ke ruangannya untuk bersiap pulang. Rania memberanikan diri untuk menerobos masuk ke ruangan kerja Wildan.


"Maaf Wil aku mau bicara sebentar dengan kamu masalah pribadi" ucap Rania.


Wildan memperlihatkan sikap tidak suka. Dari dulu dia tidak pintar basa - basi. Kalau memang tidak suka dia akan menunjukkan wajah tidak suka kepada siapapun tidak ada terkecuali.


Wildan selalu bersikap dan bertindak tegas. Kepada orang tuanya, mertuanya bahkan kepada istrinya saja dia akan bersikap seperti itu. Jika dia tidak suka akan sulit berganti menjadi kata ya.


"Aku tidak punya waktu Rania. Aku harus pulang untuk bertemu istriku. Aku sangat merindukannya" ucap Wildan.


Wajah Rania tampak murung.


"Maafkan aku atas kejadian beberapa waktu yang lalu Wil. Aku tidak bermaksud ingin merusak rumah tangga kamu dan Ratna" ungkap Rania.


"Aku sangat kecewa pada kamu. Dulu kamu pernah melakukan kesalahan berat tapi aku dan Ratna memberi kamu kesempatan untuk berubah. Lalu kamu muncul dengan tampilan berbeda. Kami sempat terkecoh bahkan Ratna dengan polosnya mau berteman dengan kamu. Tapi apa yang kamu lakukan pada Ratna. Tega - teganya kamu menyakiti hati istriku yang begitu baik pada kamu. Kamu kan juga perempuan, harusnya kamu bisa merasakan bagaimana perasaan Ratna saat itu. Kamu seperti mengambil keuntungan dari kelemahan Ratna dan dengan berbekal restu Papaku kamu berharap lebih. Coba kamu tempatkan diri kamu sendiri di tempat Ratna. Kamu menikah dengan suami kamu tiba - tiba mengetahui masa lalu kamu dan kecewa sehingga menjadikan alasan itu untuk menikah dengan wanita lain. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu ikhlas memberi izin suami kamu untuk menikah lagi?" tanya Wildan geram.


Rania meremas pakaiannya dan tertunduk malu.


"A.. aku sangat bersalah pada Ratna Wil, pada kamu" ucap Rania.

__ADS_1


"Aku kira dengan tampilan kamu sekarang kamu sudah berubah total Rania. Ternyata hati kamu masih tetap egois dan tamak. Demi meraih apa yang kamu inginkan kamu akan melakukan segala cara tak perduli walau cara itu telah menyakiti orang yang sudah menghargai kamu selama ini. Bahkan istriku sudah menganggap kamu sebagai sahabatnya tapi tega - teganya kamu ingin mengambil apa milik istriku dan ingin berbagi dengannya. Harusnya kamu berkaca Rania. Walau berat mungkin istriku mau melakukannya tapi kamu lupa dengan aku. Sejak awal aku hanya mencintai istriku jadi jangan harap aku akan meninggalkannya apalagi untuk menikah dengan kamu. Apalagi saat ini istriku sedang hamil. Jangan coba - coba untuk melakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Kalau sampai hal itu terjadi aku akan menghancurkan kamu. Aku tidak perduli siapa kamu dan orang tua kamu. Siapa yang berani mengganggu keluargaku akan aku hancurkan" tegas Wildan.


"Ra.. Ratna hamil?" tanya Rania terkejut.


"Ya istriku hamil. Aku tegaskan pada kamu sekali lagi. Aku akan terus memantau kamu jadi jangan sampai kamu berbuat macam - macam pada istri dan anak - anakku" ancam Wildan.


Wildan langsung meraih tas kerjanya dan pergi meninggalkan Rania sendiri di ruangan kerja Wildan. Air mata Rania jatuh dengan derasnya.


Mungkin inilah balasan untuknya karena sudah berniat untuk mengkhianati wanita baik seperti Ratna. Dan itu juga balasan atas kebaikan Ratna selama ini pada siapapun. Akhirnya Ratna hamil secara alami.


Cukup lama Rania menyesali dirinya sendiri dan merasa bersalah. Dia menangis dengan tersedu - sedu. Setengah jam kemudian barulah dia pergi dari ruangan Wildan.


Hatinya sangat kacau saat ini, Rania tidak tau kemana dia akan pergi. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya. Akhirnya Rania memilih untuk singgah di Mesjid yang ada di pinggir jalan.


Dia mendengar suara adzan maghrib dan berhenti untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang muslimah. Hanya kepada Allah dia bisa mencurahkan isi hatinya saat ini.


Rania shalat dengan sangat khusyuk, setelah shalat dia kembali berdoa kepada Allah meminta ampunan dosanya.


Rania menghapus air mata yang jatuh ke pipinya. Dia segera melipat mukenanya dan merapikan jilbabnya. Lalu keluar dari mesjid dan duduk di teras mesjid sambil memakai sepatunya.


Tiba - tiba aktivitasnya terhenti karena ada seseorang yang menyapanya.


"Aku sudah memperhatikan kamu sejak sejak kamu datang tadi. Apa kamu ada waktu? Aku ingin berbicara sebentar dengan kamu?" tanya seorang pria.


Rania menoleh ke arah pemilik suara.


"Wa.. Wahyu" ucap Rania terkejut.

__ADS_1


Wahyu hanya menatap wajah Rania dengan tatapan datar.


"Bo.. boleh. Kamu mau bicara dimana?" tanya Rania.


"Di sana?" Wahyu menunjuk ke arah seberanh mesjid.


"Itupun kalau kamu tidak keberatan. Aku bukan orang kaya yang bisa mengajak kamu makan di Restoran mewah. Aku hanya bisa mengajak kamu makan di warung pinggir jalan seperti itu" ujar Wahyu.


Rania menarik nafas panjang.


"Tidak masalah bagiku" jawab Rania.


"Baiklah, ayo kita ke sana" ajak Wahyu.


Mereka berjalan keluar pelataran Mesjid lalu menyeberang jalan menuju warung penjual pecel lele pinggir jalan. Wahyu memilih meja yang paling nyaman untuk berbincang-bincang.


"Silahkan duduk" ucap Wahyu.


Rania duduk di bangku plastik yang tersedia untuk para pelanggan yang akan makan di warung itu. Wahyu memesan dua porsi pecel lele dan teh dingin.


"Aku ingin menawarkan kesepakatan bersama pada kamu" ujar Wahyu memulai pembicaraan.


"Kesepakatan? Kesepakatan apa?" tanya Rania.


"Sejak pertemuan kita terakhir aku terus berpikir dari pada kamu merusak rumah tangga orang lain, lebih baik aku menawarkan kesepakatan ini kepada kamu. Bagaimana kalau kita menjalani ta'aruf. Kalau dalam proses ta'aruf ini kita mempunyai visi misi yang sama. Aku akan melamar dan menikahi kamu, bagaimana?" tanya Wahyu.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2