Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 151


__ADS_3

Setelah selesai mencuci dan membersihkan dapur Ratna pamit kembali ke apartementnya. Kini hanya tinggal Melodi bersama kedua orang tuanya saja yang ada di apartement Wildan.


"Mama suka dengan Ratna" ungkap Bu Raharjo.


Pak Raharjo hanya diam tak menanggapi ocehan istrinya. Sedangkan Wildan hanya menatap wajah Mamanya.


"Kalau Mama punya menantu seperti dia rumah pasti ramai" ungkap Bu Raharjo


"Gak bisa, Wildan sudah Papa jodohin sama Rania" potong Pak Raharjo.


"Rania sekretaris se*y Papa itu. Dari awal Mama udah gak suka lihat dia. Kelakuannya gak genah, suka pakai baju kurang bahan dan wajahnya banyak dempulan kayak jalanan yang bolong di tempel aspal tebal biar gak kelihatan bopeng" protes Bu Raharjo.


"Dia anak teman Papa Ma. Dia gadis yang baik dan terpelajar" bela Pak Raharjo.


"Terpelajar dari mana, pakaiannya aja gak sopan gitu" potong istrinya.


"Itukan sudah biasa Ma, dia tamatan luar negeri" jawab Pak Raharjo masih berusaha membela.


"Itu berarti dia tidak bisa menempatkan dirinya Pa. Dimana bumi dipijak disitulah langit di junjung. Dia kan tinggal di Indonesia, lahir di Indonesia dan besar juga di Indonesia. Harusnya dia pegang prinsip orang Indonesia yang ketimuran. Orang Indonesia terkenal dengan adat istiadat yang ketat juga sopan santun" ujar Bu Raharjo.


Wildan tersenyum tipis mendengar ucapan Mamanya. Sepertinya dia dan Mamanya berada di kubu yang sama. Wildan tidak perlu membela Ratna, biar Mamanya saja yang melakukannya.


Kalau dia yang membela Ratna Papanya pasti gak mau kalau dan gak mau dengar. Tapi kalau Mamanya yang sudah berkata, kelar deh semuanya.


"Mama sih gak modern, anak muda sekarang emang udah gitu trendnya Ma" ucap Pak Raharjo.


"Gak kebayang Pa, kalau gaya menantu kita seperti itu cucu kita mau gimana lagi gayanya? Gak pakai baju?" tanya Mama Wildan.


Wildan mengedipkan matanya ke arah Mamanya.


"Itu bukan maju tapi mengalami kemunduran. Karena jaman purba dulu seperti itulah manusia yang tak mengenal pakaian" balas Bu Raharjo.


"Lagian sejak Nabi Adam diciptakan Allah sudah membuat peraturan. Jangan makan buah Khuldi. Tapi Nabi Adam tetap memakannya karena rengekan Hawa yang sudah terbujuk rayuan setan. Papa mau anak kita satu - satunya seperti itu?" tanya Mama Wildan.


Weis.. Mama memang jempol. Sorak Wildan dalam hati.

__ADS_1


"Papa gak berkaca dari hidupnya Melodi. Sejak dia menikah dengan Cinta hidupnya jadi lebih terarah dan lebih sehat. Bukannya mau cari menantu seperti Cinta eh malah nyodorin Rania. Sama aja tuh Papa pengen Wildan gak berubah jadi anak yang baik" ungkap Bu Raharjo.


"Harta kita yang kekal di akhirat amal ibadah, sedekah dan doa anak soleh Pa. Anak kita cuma satu, hanya Wildan. Hanya dialah kelak yang akan do'ain kita kalau kita sudah tiada. Kalau anak kita jauh dari agama mau dapat kiriman apa Pa? Malah kita makin lama di neraka karena kita tak bertanggung jawab mendidik anak kita. Papa mau?" tanya Bu Raharjo.


"Tapi Rania jelas asal usulnya Ma. Kalau soal penampilan nanti kita kan bisa ingatin dia" jawab Pak Raharjo.


"Pa denger ya.. kalau penampilan Rania itu sudah mendarah daging di jiwanya susah Pa diingatkan. Kecuali dia mendapat hidayah dari Allah. Tapi sulit lho Pa untuk dapatin hidayah. Hidayah itu datang kalau kita mau mendekat kepada Allah bukan sebaliknya" ujar Bu Raharjo.


Wildan senyum - senyum sendiri mendengarkan debat panas Papa dan Mamanya. Rania vs Ratna, Papa vs Mama.


"Aku sudah janji Ma sama Papanya Rania" ucap Pak Raharjo.


Dia sudah pusing karena berdebat dengan istirnya. Pasti tidak akan pernah menang.


"Pilih janji Papa apa masa depan anak kita Pa. Masak gara - gara janji hidup anak kita dan cucu - cucu kita yang dikorbankan?" tanya Bu Raharjo.


Pak Raharjo akhirnya diam mendengar ocehan istrinya.


"Wil gimana hubungan kamu dengan Ratna?" tanya Bu Raharjo.


"Ma.. masih seperti atasan dengan bawahannya Ma" jawab Wildan.


"Kamu suka gak sama Ratna?" desak Mama Wildan.


"Suka donk Ma kalau tidak ngapain aku ajak dia ikut ke Perusahaan Papa" jawab Wildan.


"Ah payah kamu jadi cowok, geraknya lambat. Keburu dia dilirik pria lain nanti. Masak kamu kalah sama Papa kamu. Papa aja dulu deketin Mama pintar. Ya kan Pa" ujar Bu Raharjo sambil menyenggol lengan suaminya.


"Udah lupa" jawab Pak Raharjo.


"Gitu ya.. awas nanti malam gak dapat jatah" ancam Bu Raharjo.


Pak Raharjo hanya mendelik ke arah istrinya. Wildan tersenyum melihat candaan Papa dan Mamanya. Walau mereka sudah tua tapi tetap mesra.


Kalau dipikir - pikir kenapa Wildan suka pada Ratna? Mungkin karena sifat Ratna rada mirip dengan Mamanya. Suka ceplas - ceplos dan lucu.

__ADS_1


Sementara Wildan sifatnya mirip banget dengan Papanya. Suka bekerja dan dingin pada lawan jenis. Tapi kalau sudah jatuh cinta langsung gak bisa lepas dari targetnya.


Itu mungkin yang membuat Wildan dan Papanya sering bertengkar karena mereka merasa panas setiap kali berdekatan.


"Urusan Papa belum selesai. Papa harap kamu pertimbangkan lagi Rania. Atau setidaknya cobalah mengenal dia lebih baik lagi" potong Pak Raharjo.


"Pa, Papa kasih Ratna waktu satu bulan kan? Masih ada sekitar dua minggu lagi Pa. Kalau aku bisa membuktikan Ratna lebih baik dari Rania. Aku minta Papa batalin janji Papa dengan teman Papa itu" pinta Wildan.


Bu Raharjo menatap dalam kearah suaminya.


"Kalau Papa gak tepat janji, Mama gak akan kasih Papa jatah selamanya" ancam Bu Raharjo.


Wah gawat bisa apes nasib juniorku kalau gak dapat jatah selamanya. Batin Pak Raharjo.


Pak Raharjo menarik nafasnya dalam.


"Baik Papa akan batalkan janji Papa sama teman Papa tapi kalau memang Rania yang lebih baik kamu harus bersiap - siap untuk menerima perjodohan ini" sambut Pak Raharjo.


"Baik Pa, aku akan pegang janjiku. Aku harap Papa juga begitu" tantang Wildan.


"Waaah seru nih. Ayo Wil semangat kamu harus bisa buktikan ke Papa kalau Ratna lebih baik" ucap Mama Wildan penuh semangat.


"Gampang Ma, ajak aja besok Rania makan di rumah. Terus saat dia di rumah Mama ajakin tuh dia masak di dapur. Aku jamin dia bakal ngelak dan lari" sambut Wildan penuh percaya diri.


"Waaah benar juga tuh Pa. Gimana kita coba mulai besok?" tanya Bu Raharjo.


"Persaingannya bukan di dapur Ma. Tapi di Kantor. Kalau soal masak bisa ikut les masak. Atau saat sudah nikah tinggal cari koki aja kok repot" jawab Pak Raharjo.


"Halaaaah Papa sok kasih ide seperti itu. Papa sendiri aja gak doyan makanan asisten rumah tangga. Papa maunya makan masakan Mama" sindir Bu Raharjo.


Sial.. dari tadi kalah terus sama si Mama. Batin Pak Raharjo.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2