
"Bu kita pulang" ajak Pak Ramlan.
Sontak yang lain terkejut melihat sikap Pak Ramlan yang tak terduga. Dia terlihat marah begitu melihat wajah Pak Raharjo.
"Pak" panggil Bu Ramlan.
"Kita pulang Bu. Kalau kamu tidak mau biar Bapak saja yang pulang" tegas Pak Ramlan.
Pak Ramlan langsung pergi meninggalkan meja dimana keluarganya berkumpul. Bu Ratna tampak berusaha mencegah tapi Pak Ramlan tetap pergi.
"Maaf, Mas pemilik perusahaan Raharjo Pelangi?" tanya Bu Ramlan.
"Iya, ada apa dengan perusahaan saya?" tanya Pak Raharjo bingung.
"Suami saya dulu pernah bekerja di sana. Maaf Mas, Mbak Yu saya harus pulang bersama suami saya" pamit Bu Ramlan dengan sopan.
Dia segera menyusul suaminya dan pergi meninggalkan semuanya. Ratna tampak sangat tegang dan terkejut dengan kenyataan yang terjadi dengan orang tuanya.
Ratna tau kisah hidup orang tuanya. Dia sangat tau pasti apa penyebab Bapaknya berubah seperti itu.
Cinta menatap wajah Ratna yang tampak pucat dan sangat tegang sekali.
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Cinta.
"A.. aku tidak tau Cin" jawab Ratna dengan mata penuh berkaca - kaca.
"Ada apa dengan Bapak Rat?" tanya Wildan bingung.
"Ba.. Bapak dulu pernah bekerja di Perusahaan Raharjo Pelangi dan dia dipecat dengan tidak hormat karena telah di fitnah oleh salah satu temannya bekerja. Itulah alasan mengapa Bapak lari ke minum - minuman keras. Dia kecewa pada hidupnya dan sangat marah pada temannya yang dulu memfitnahnya. Tapi Bapak tidak bisa membela diri karena pemilik perusahaan itu tidak percaya dengan semua pembelaan diri Bapak" jawab Ratna.
Ratna duduk di kursi dengan lemas dan air matanya jatuh perlahan. Secinta apapun Ratna pada Wildan tapi kalau ada pilihan Wildan atau keluarganya terlebih Bapaknya yang sangat dia sayangi. Ratna pasti akan memilih Bapaknya.
Walau hatinya pasti sakit karenanya tapi dia tidak sanggup kehilangan keluarganya apalagi menyakiti mereka. Sebelum air matanya semakin deras jatuh di pipinya Ratna langsung bergegas pamit kepada semuanya.
__ADS_1
"Maaf Tante, Om, Mas Wildan aku harus pulang. Saat ini Bapak pasti sangat sedih. Dia selalu sedih dan kecewa jika mengingat kejadian dulu. Sampai saat ini Bapak sering merasa kecewa dan sedih setiap kali mengingat masa lalu" ungkap Ratna.
Ratna menghapus air matanya dan pergi meninggalkan Wildan dan yang lainnya. Ratna memanggil adik - adiknya dan mengajak mereka pulang.
Setelah mereka mengambil semua barang - barang mereka di kamar, Ratna membawa adik - adiknya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah dia mendapati Bapaknya sedang duduk di belakang ruko sambil menatap bangunan rumah mereka yang sedang direnovasi.
Ratna menyentuh lembut bahu Pak Ramlan.
"Paaaak" panggil Ratna.
Pak Ramlan menatap wajah putrinya dengan tatapan sendu.
"Kamu pulang Nduk? Kenapa kamu pulang?" tanya Pak Ramlan sedih.
"Bagaimana aku bisa berlama - lama disana sedangkan Bapak dan Ibuku memutuskan pulang" Jawab Ratna.
Pak Ramlan kembali menatap lurus ke depan. Tatapannya terlihat sedang menerawang jauh ke depan dan sedang memikirkan semuanya.
"Maaf Nduk, Bapak merusak semuanya. Bapak merusak hari bahagia kamu. Maafkan Bapak, sampai saat ini tidak bisa membuat kamu bahagia" ucap Pak Ramlan sambil menangis.
"Ternyata hati Bapak masih sakit dan Bapak belum bisa memaafkan masa lalu. Karena kejadian itu sangat melukai harga diri Bapak. Bapak selama ini menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran juga kerja keras kalah karena fitnah kehidupan. Semua ternyata panggung sandiwara. Seorang yang tamak dan ambisius memanfaatkan Bapak yang seperti ini. Dan pria itu sedikitpun tidak mau mendengarkan pembelaan Bapak. Semudah itu dia memecat dan mencampakkan Bapak" ungkap Pak Ramlan sambil terisak.
Air mata Ratna jatuh dengan derasnya. Mereka menangis sambil berpelukan.
"Mengapa Wildan harus menjadi putranya? Kalau itu tidak terjadi tentu semua tidak akan jadi sesulit ini? Apa yang harus Bapak lakukan kepada kamu?" tanya Pak Ramlan putus asa.
"Aku sayang Bapak.. aku akan membela Bapak sampai kapanpun. Bapak adalah hidupku, aku tidak akan memilih Mas Wildan dan meninggalkan kalian. Kalian adalah duniaku, jiwaku dan semangat hidupku. Tanpa kalian aku tidak akan bisa jadi seperti ini dan aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian" ungkap Ratna.
Pak Ramlan membalas pelukan putri sulungnya penuh kasih sayang.
"Tapi dia adalah cinta kamu Nduk. Kamu harus menderita karena Bapak" ujar Pak Ramlan.
"Tidak.. tidak apa Pak. Aku ikhlas aku rela. Untuk apa aku bahagia diatas penderitaan kalian?" tanya Ratna.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak perlu menanggung kekecewaan Bapak Nduk. Menikahlah dengan Wildan jika itu membuat kamu bahagia. Bapak ikhlas, Bapak akan menikahkan kalian. Tapi.... maaf jika Bapak mungkin tidak bisa berlama - lama. Bapak akan pulang dan mungkin Bapak tidak akan pernah datang ke rumah kamu. Bapak siap jika kamu menuduh Bapak sebagai pria egois. Bapak siap jika kamu katakan Bapak jahat. Bapak.. Bapak gak bisa Nduk, harga diri Bapak rasanya sangat sakit jika harus menerima pria itu. Sampaikan pada Wildan, Bapak akan mengembalikan semua pemberiannya ini. Biarlah kami hidup mulai lagi dari nol. Toh memang itu yang kami punya " ujar Pak Ramlan.
Ratna menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Nggak Pa, aku tidak mau. Kalau Bapak gak suka ya sudah aku dan Mas Wildan lebih baik tidak menikah. Masalah pemberiannya nanti kita pulangkan sama - sama" jawab Ratna.
Pak Ramlan melepaskan pelukannya.
"Sudahlah Nduk tinggalkan Bapak dulu, Bapak mau berpikir tenang sebentar" pinta Pak Ramlan.
"Iya Pak" jawab Ratna.
Ratna pergi meninggalkan Pak Ramlan sendirian. Dengan wajah sedih Ratna duduk di kursi. Bu Ramlan yang melihat wajah putrinya sesedih itu langsung menghampirinya.
"Kamu jangan sedih ya, beri Bapak waktu untuk menerima semua ini. Dia pasti sangat tidak menyangka. Kita semua juga tidak menyangka ternyata Papanya Wildan adalah salah satu orang dari kekecewaan masa lalu Bapak. Ibu yakin semua ini pasti ada jalan keluarnya. Kamu bisa bicarakan semua ini dengan Wildan secara baik - baik. Katakan apa alasan Bapak bersikap seperti tadi" pesan Bu Ramlan.
Ratna menatap wajah Ibunya.
"Sudah Bu, tadi saat pamit pulang aku sudah bilang pada semuanya kenapa Bapak tiba - tiba pulang" jawab Ratna.
"Lalu kenapa kamu juga ikutan pulang?" tanya Bu Ratna.
"Bapak dan Ibu pulang untuk apa aku di sana? Kalian adalah kebahagiaanku. Kalau Bapak dan Ibu bersedih bagaimana aku bisa bahagia diatas kesedihan kalian?" jawab Ratna.
Bu Ramlan memeluk putrinya dan mencium puncak kepalanya.
"Maafkan Bapak kamu ya Nduk.. Bapak berbuat begini karena sebuah alasan besar. Kamu tau kan bagaimana hancurnya hati Bapak karena masa lalu. Dia sangat tidak terima di fitnah seperti itu. Hingga akhirnya karena alasan itulah Bapak kamu jadi mulai mengenal minuman" ucap Bu Ramlan.
"Seperti itulah yang aku katakan tadi Bu pada Mas Wildan dan keluarganya. Mudah - mudahan mereka mau mengerti ya Bu" sambut Ratna.
"Iya semoga... semua pasti ada jalan keluarnya. Bersabarlah dan tenangkan pikiran kamu, jangan panik" nasehat Bu Ramlan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG