Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 153


__ADS_3

Wildan meninggalkan Rania bersama Mamanya di dapur. Biar Mamanya saja yang kasih pelajaran pada Rania biar dia kapok dan membuang jauh - jauh mimpinya menjadi menantu di rumah ini.


Wildan menghampiri Papanya yang sedang asik membaca koran.


"Pa" sapa Wildan sambil mencium tangan Papanya penuh hormat.


"Kamu sudah datang? Mana Rania?" tanya Pak Raharjo.


"Lagi bantuin Mama masak tuh di dapur" jawab Wildan.


"Kalian mengerjainya ya" ujar Pak Raharjo.


"Itu bukan dikerjain Pa, bukankah setiap wanita sudah biasa melakukannya?" sambung Wildan.


"Kamu dan Mama kamu bekerjasama kan?" tanya Pak Raharjo.


"Papa terlalu berlebihan membela Rania. Aku jadi curiga" goda Wildan.


"Curiga apa?" tanya Pak Raharjo penasaran.


"Curiga jangan - jangan Papa yang menyukai Rania" jawab Wildan menggoda Papanya.


"Dasar kamu, mau dikemanain Mama kamu. Dia bisa marah dengar ucapan kamu ini" sahut Pak Raharjo.


Wildan tertawa mendengar umpatan Papanya.


"Apa yang kamu bawa ini?" tanya Pak Raharjo.


"Rencana pengembangan proyek di Kota A Pa" jawab Wildan sambil memberikan proposal perencanaan proyek perusahaan mereka.


Pak Raharjo menerima dan mulai membaca isinya.


"Bagus ide kamu" puji Pak Raharjo.


Wildan tersenyum tipis.


"Bukan aku yang punya ide seperti ini" jawab Wildan jujur.


"Oh bagian perencanaan yang punya ide ini?" tanya Pak Raharjo.


Wildan menggelengkan kepalanya.


"Kalau bukan jadi siapa yang buat ini?" tanya Pak Raharjo penasaran.


"Ratna" jawab Wildan bangga.

__ADS_1


"Gadis itu?" tanya Pak Raharjo tak percaya.


"He em.. " sahut Wildan.


"Pantas saja ada yang aneh" ujar Pak Raharjo berubah sikap.


"Papa.. Papa.. begitu Papa tau dia yang buat langsung berubah pikiran. Padahal tadi udah semangat sekali mujinya" goda Wildan.


Pak Raharjo meletakkan proposal yang Wildan berikan diatas meja.


"Dulu waktu Papa memutuskan untuk menikahi Mama, apa yang Papa bayangkan?" tanya Wildan.


Pak Raharjo tampak menatap langit senja.


"Papa suka melihat Mamamu yang sederhana. Dulu Papa masih merintis usaha belum sukses seperti sekarang ini. Mamamu dulu hanya karyawan biasa. Tanpa sengaja Papa melihat Mamamu saat Papa sedang menawarkan produk ke Perusahaan mereka. Papa jatuh cinta pada pandangan pertama. Mama kamu yang pintar dan ramah membuat Papa merasa nyaman dan akrab berkenalan dengannya. Saat menikah kehidupan Papa belum mapan tapi Mama kamu mau menerima lamaran Papa. Rezeki datang setelah kami menikah, perlahan - lahan usaha Papa maju dan saat itu kamu masih kecil. Papa meminta Mama untuk berhenti bekerja. Mama menuruti permintaan Papa. Dia menjadi istri yang pintar mengurus rumah dan mendidik kamu jadi pria hebat seperti sekarang ini" ungkap Pak Raharjo sambil tersenyum mengingat kenangan masa lalu.


Wildan ikut tersenyum, dia bisa memahami apa yang Papanya pikirkan. Pikiran Wildan melayang kepada Ratna. Hampir mirip seperti Mamanya, wanita sederhana, ramah, lucu, pintar dan pekerja keras. Plus pintar juga mengurus rumah tangga.


Kalau begitu mengapa Papa ingin aku menikah dengan Rania yang sangat jauh sifatnya dibandingkan dengan Mama? tanya Wildan dalam hati.


"Lantas apa alasan Papa ingin menjodohkan aku dengan Rania? karakter dia jauh banget dengan wanita seperti Mama Pa?" tanya Wildan penasaran.


"Dulu Papa dan Papanya Rania sama - sama membangun bisnis kami dari nol. Papa Rania pernah sampai terlilit hutang dan Papa membantunya. Beberapa tahun kemudian Papa mengalami hal yang sama dan Papa Rania merasa berhutang budi dan membantu Papa. Kami semakin akrab dan sejak itulah kami berencana untuk menjodohkan kalian" jawab Pak Raharjo.


"Kalau orang tua Rania pengusaha sukses mengapa Rania bekerja di Perusahaan kita?" tanya Wildan bingung.


"Kalau aku meras tidak cocok bagaimana Pa?" tanya Wildan.


"Wil semua butuh proses. Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Kalau kamu menutup diri pada Rania bagaimana kamu bisa mengerti sifatnya, mengenal kepribadiannya. Rania itu gadis yang baik walau manja. Maklum dia kan anak tunggal juga sama seperti kamu" ungkap Pak Raharjo.


"Tapi Pa" sambut Wildan.


"Jalani aja dulu, kenali dia. Nanti kalau kamu sudah benar - benar mengenalnya cinta pasti akan tumbuh diantara kalian' potong Pak Raharjo.


"Kalau aku sudah mencintai wanita lain Pa?" tanya Wildan penasaran.


Pak Raharjo menarik nafas panjang.


"Papa memang tidak bisa memaksa kamu untuk menikah dengan Rania. Tapi kalau kamu tidak suka padanya setidaknya penolakan itu jangan dari pihak kita. Papa merasa tidak enak pada Papanya Rania. Biarlah mereka yang membatalkannya" ungkap Pak Raharjo akhirnya.


Wilda tersenyum misterius.


Kalau masalah itu aku ahlinya Pa. Aku akan membuat Ranja tidak betah dan juga akan menolak perjodohan ini. Batin Wildan.


Sayup - sayup terdengar suara adzab maghrib.

__ADS_1


"Pa sudah shalat maghrib, shalat berjamaah yuk" ajak Wildan.


Pak Raharjo menatap wajah putranya. Dia terkejut melihat Wildan kini sudah semakin banyak berubah.


"Kenapa Pa? Papa heran kenapa aku berubah seperti ini? Semua tidak datang begitu saja Pa dengan sendirinya. Ada seseorang yang mendorong aku untuk hidup lebih baik lagi. Suatu saat nanti Papa akan tau siapa orang itu" ujar Wildan.


Mereka masuk ke dalam rumah dan mampir ke dapur melihat dua wanita yang sedang berperang di dapur. Eh ternyata salah bukan dua orang yang sedang berperang. Tapi hanya satu orang wanita saja yang sedang berperang melawan rasa jijik dan gelinya memegang ikan.


"Aaaw... aduh... iiiih... " pekik Rania.


Bu Raharjo menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah Rania.


"Jangan seperti ini pegang ikannya Rania, nanti ikannya akan lepas. Pegang pisaunya juga seperti ini agar tangan kamu gak terluka" pesan Bu Raharjo.


"Tante udahan ya.. aku geli banget pegang ikannya" rengek Rania.


"Kamu ini gimana nanti kalau kamu menikah?" tanya Bu Raharjo.


"Aku akan pekerjaan beberapa orang asisten rumah tangga" jawab Rania anteng.


"Tante tau kamu sanggup membayar sepuluh orang asisten rumah tangga untuk bekerja di rumah kamu. Tapi kalau kita sudah menikah, ada kepuasan tersendiri bisa menghidangkan makanan untuk suami dan anak - anak dari hasil tangan kita sendiri. Bumbu kasih sayang itu luar biasa lezatnya dalam memasak. Selain semakin di sayang suami dan anak - anak kamu. Kamu bisa memastikan sendiri mereka sehat karena memakan makanan yang kamu hidangkan" nasehat Bu Raharjo.


"Ih tapi Tante aku sanggup pegang ikan seperti ini. Ikannya bauuuuk" elak Rania.


"Tante juga dulu waktu nikah gak tau apa - apa karena Tante juga bekerja seperti kamu. Tapi karena kemauan dan kerja keras Tante jadi bisa seperti sekarang ini" jawab Bu Raharjo.


"Ma sudah adzan maghrib, yuk kita shalat berjamaah" ajak Pak Raharjo.


"Eh sudah adzan ya, Mama gak dengar tadi. Yuk Ran kita shalat, ikannya tinggalkan aja dulu di situ" ucap Bu Raharjo.


"A.. aku lagi gak shalat Tante" jawab Rania berbohong.


Rania bukanlah gadis yang taat menjalankan ibadah. Dia tidak menyangka malam ini akan melalui semua ini.


"Ya sudah Ma kalau begitu kita aja yang shalat berjamaah. Biar Rania melanjutkan pekerjaannya. Ran potong ikannya yang bagus ya" potong Wildan.


Wildan tersenyum menang sambil menatap ke arah Rania yang terlihat sedang menatap jijik ke arah ikan yang ada di depan matanya.


"Kalau begitu Tante tinggal dulu ya Ran. Nanti habis shalat aja masak ikannya" sambut Bu Raharjo.


Wildan dan kedua orang tuanya pergi meninggalkan Rania di dapur.


Iiiiiiih kenapa sih harus repot - repot masak begini. Tinggal pesan Restoran mahal udah jadi makanan enaknya. Ribet amat sih nenek tua itu. Umpat Rania dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2