Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 41


__ADS_3

"Ayo Den, kok malah diam. Sudah adzan kita harus ke Mesjid" ajak Pak Tua kembali.


"A.. aku menunggu di sini saja Pak" sambut Melodi.


"Laki - laki itu harus shalat ke Mesjid Adeeen. Ayo kita shalat, biar pikiran kamu lebih tenang. Mengadulah hanya kepada Allah" Pak Tua menarik tubuh Melodi sehingga Melodi tak kuasa menolaknya.


Mereka berjalan ke Mesjid yang letaknya tak jauh dari rumah Pak Tua. Sesampainya di Mesjid Melodi mendekati Pak Tua dan berbisik.


"Pak... saya sudah lupa bagaimana tata cara shalat" ungkap Melodi pelan.


Pak Tua menatap wajah Melodi dengan tatapan tak percaya. Tapi secepat itu dia tersenyum tulus. Membuat Melodi merasa nyaman dan tidak malu mengakui aibnya.


"Ayo Den ikuti saja Bapak" ajak Pak Tua.


Mereka berjalan menuju tempat wudhu. Melodi mengikuti cara Pak Tua mengambil wudhu. Setelah itu mereka masuk ke dalam Mesjid.


"Kamu ikuti saja gerakan Bapak ya, kalau kamu punya waktu lagi datang ke rumah Bapak, biar nanti akan Bapak bantu kamu untuk mengingat cara shalat yang benar" ujar Pak Tua kepada Melodi.


"Iya Pak" angguk Melodi.


Shalat dzuhur di mulai, Melodi hanya mengikuti intruksi dari Pak Ilham. Hingga shalat selesai dan salam. Ilham merasa ketenangan yang tidak pernah dia rasakan setelah kepergian orang tuanya untuk selamanya.


Melodi lebih dulu keluar dari dalam Mesjid dan duduk di teras Mesjid. Melodi memperhatikan daerah sekeliling Mesjid. Kawasan perumahan yang sangat sederhana, bisa dikatakan menengah ke bawah.


Tapi entah mengapa di tempat ini sangat sejuk terasa padahal tidak ada pendingin ruangan. Melodi memperhatikan banyak anak - anak yang bermain di halaman Mesjid.


Pak Ilham datang dari arah belakang dan menyentuh bahu Melodi.


"Ayo Den kita pulang" ajak Pak Ilham.

__ADS_1


Mereka kembali berjalan menuju rumah Pak Tua. Setelah sampai mereka duduk di teras depan rumah Pak Tua.


"Maaf Den kalau Bapak boleh tau, sejak kapan Aden meninggalkan shalat?" tanya Pak Tua hati - hati takut Melodi tersinggung.


"Sejak meninggalnya kedua orang tua saya Pak. Saat itu hidup saya ikut hancur. Saya marah kepada siapa saja yang mencoba mengganggu saya. Saya memecat dan memenjarakan asisten pribadi orang tua saya karena dia sudah menggelapkan dana perusahaan Papa saya. Saya memecat karyawan yang tidak becus bekerja dan saya juga dendam kepada salah satu korba kecelakaan yang berhasil selamat " ungkap Melodi.


"Maksud Aden?" tanya Pak Tua tidak mengerti.


"Dalam kecelakan maut orang tua saya ada satu gadis kecil yang berhasil selamat. Tapi tiba - tiga saja gadis itu menghilang. Mereka menjual semua harta kekayaan orang tuanya karena takut saya menuntut atas kematian kedua orang tua saya" jawab Melodi.


Pak Tua tampak mengerti kesedihan, kekecewaan, dendam dan amarah Melodi sekarang.


"Berapa usia anak kecil itu?" tanya Pak Tua.


"Kata pihak kepolisian sekitar empat belas tahun" jawab Melodi.


"Aden marah pada anak sekecil itu?" tanya Pak Tua.


"Jadi Aden sudah membalaskan dendam Aden?" tanya Pak tua penasaran.


"Belum, satu tahun kemudian baru saya kembali mengingat anak itu. Saat itu kami sudah tidak menemukan mereka lagi. Dia bersama kakaknya entah menghilang kemana? Pasti mereka takut aku menuntut merekaatas kematian orang tuaku" jawab Melodi geram.


"Deeen... tak baik hidup dengan dendam. Hati tidak akan tentram. Dendam itu bagaikan dahaga di gurun pasir. Air segelas tidak akan cukup membasahi tenggorokan kita yang kering. Manusia akan merasa tidak tenang Den jika menyimpan dendam. Percayalah dengan apa yang Bapak katakan" pesan Pak Tua kepada Melodi.


"Tapi karena dendam aku bisa hidup dengan sukses sampai sekarang ini Pak. Aku merasa punya tujuan hidup. Setiap hari saat bangun pagi aku mempunyai harapan agar aku bisa menemukan anak itu. Dia alasanku satu - satunya berjuang saat ini" ungkap Melodi kesal.


Pak Tua tampak menggelengkan kepalanya.


"Aden salah, mulai sekarang tanam dalam hati Aden apa cita - cita yang masih belum Aden capai. Jadikan itu semangat hidup Aden untuk hidup" perintah Pak Tua.

__ADS_1


"Tidak ada lagi Pak, semua sudah aku dapatkan. Aku sudah sukses sekarang, punya segalanya. Hanya satu keinginanku yang belum tercapai. Aku belum menemukan anak itu" ujar Melodi.


"Jangan Den.. jangan kotori hati, tangan dan jiwa Aden dengan kebencian. Semua itu bisikan setan Den. Aden akan terus merasa kesepian, merasa dahaga" nasehat Pak Tua.


"Cobalah berdamai dengannya, ikhlaskan semua. Semua sudah rencana Allah pasti ada hikmah dibalik semua ini. Buktinya sekarang Aden hidup dengan sukses dan kuat kan. Mungkin Allah sengaja membuat skenario seperti ini agar Aden berhasil jadi pengusaha sukses. Mungkin kalau orang tua Aden masih hidup, belum tentu Aden bisa sesukses saat ini. Mungkin Aden akan tumbuh menjadi pria lembek yang manja" sambung Pak Tua.


Melodi terdiam kembali mendengar nasehat Pak Tua itu. Melodi terkejut saat melihat jam tangannya. Tak terasa sudah empat jam dia berada di rumah Pak Tua ini. Mereka habiskan waktu masak, makan dan ngobrol bersama. Dan Melodi mendapatkan satu pelajaran yang sudah lama tidak dia lakukan yaitu shalat.


"Pak sudah hampir sore, saya harus pulang" ucap Melodi pamit.


"Iya Den, kalau ada waktu luang mampir ke sini lagi. Bapak akan ajarin Aden shalat. Itu pun kalau Aden mau. Tapi harus didukung dengan kemauan dan niat yang kuat ya Den. Semoga Aden bisa melewati masa - masa sulit dalam hidup Aden dan melupakan dendam masa lalu. Semoga juga Aden bisa bertemu dengan gadis baik yang bisa membuat Aden kembali ceria tidak kesepian lagi" doa Pak Tua.


"Aamiin.. terimakasih banyak Pak atas sajian makanan hari ini juga nasehatnya. Ini ada sedikit rezeki buat berbagi" ucap Melodi sambil menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Jangan Den.. Bapak tidak mau. Bapak ikhlas menjamu Aden. Aden kan tamu di rumah Bapak. Sudah kewajiban Bapak menjamu tamu yang datang" tolak Pak Ilham.


"Tolong Pak diterima, saya memang ingin sekali memberi Bapak. Tidak ada niat saya yang lain. Saya ikhlas Pak" desak Melodi.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya Den" sambut Pak Tua.


"Tolong rawat makam orang tua saya ya Pak. Saya akan usahakan kembali bertemu Bapak lagi. Saya akan datang menemui Bapak" janji Melodi.


"Iya Den, dengan senang hati Bapak akan menunggu" balas Pak Tua.


"Saya pamit ya Pak. Assalamu'alaikum" ucap Melodi pamit.


"Wa'alaikumsalam" jawab Pak Tua.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2