
"Jadi nama kamu Ratna? Dari nama aja udah jelas wong deso" tanya Rania.
"Mbak Rania sayang lho cantik - cantik judes. Coba deh lembut dikit pasti tambah cantik" jawab Ratna cuek.
Rania menatap tak percaya kepada Ratna. Baru kali ini dia ketemu jenis manusia yang seperti ini.
Dia tau gak kalau aku lagi ejekin dia, eh dianya malah santai. Sinting kali nih orang. Umpat Rania dalam hati.
"Jadi Mbak Rania yang cantik, orang kota yang terhormat. Kita mau belajar apa nih hari ini?" tanya Ratna serius.
Aku memang tak sepintar Cinta. Tapi gak bodoh juga kaleee.. Gini - gini IPK ku juga tiga koma. Ucap Ratna dalam hati.
"Nih kamu pelajari semua jadwal si Bos. Kamu harus ingat jadwal acara dan tangannya. Jangan lupa dimana tempatnya. Harus teliti dan jangan sampai salah atau ketukar, bisa bahaya. Awas kalau kamu salah? Jabatanku yang dipertaruhkan di sini" ancam Rania.
"Mbak tenang saja. Urusan ingatan jangan diragukan lagi Mbak. Aku bisa dengan cepat menghapal semua ini" sambut Ratna.
"Jangan percaya diri dulu, setelah itu kamu harus siapkan berkas - berkas yang dibutuhkan untuk rapat atau pertemuan hari ini" pesan Rania.
"Baik Mbak akan segera saya pelajari dan cek" sahut Ratna.
Ratna mulai mempelajari pekerjaannya, menghapal jadwal dan semua yang berhubungan dengan Perusahaan ini. Setelah itu menyiapkan bahan - bahan sekaligus mempelajari isinya.
"Rania.. Ratna.. ke ruangan saya sebentar" perintah Wildan melalui interkom.
Ratna dengan sigap langsung berdiri sedangkan Rania melirik kaca terlebih dahulu. Membenarkan letak poninya, menambah lipstiknya dan bedaknya.
Ratna melirik ke arah Rania.
Kok ribet banget ya hidupnya.. padahal bedaknya masih banyak, lipstiknya juga. Apa gak tambah tebal tu wajah. Di dempul terus, aku jadi penasaran deh lihat wajah aslinya. Batin Ratna.
Ratna berjalan lebih dulu menunju ruangan Wildan.
"Eh hey tunggu.. tunggu.. kamu jangan. masuk duluan" cegah Rania.
"Habis Mbak lama amat nanti Pak Wildan marah lho kalau gerak kita lambat" jawab Ratna.
Rania membuka pintu ruangan kerja Wildan lebih dulu.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Wildan.
"Eh anu Pak, tadi ngaspal wajah" jawab Rania keceplosan.
__ADS_1
Sontak Ratna tersenyum sambil menunduk dan Wildan memperhatikan gerak - gerik dua wanita yang ada di hadapannya.
"Apa jadwal saya hari ini?" tanya Wildan.
"Jam satu setelah makan siang, Bapak akan rapat dengan para kepala bagian membahas proyek baru kita Pak" jawab Rania.
"Apa bahannya sudah siap?" tanya Wildan.
"Sudah Pak tadi saya kasih ke Ratna untuk dia pelajari" jawab Rania.
"Good job Rania" puji Wildan.
Rania tersenyum centil karena pujian Wildan.
"Apa yang kamu pelajari tentang bahan yang diberikan Rania?" tanya Wildan kepada Ratna.
"Proyek kita tentang pembangunan hotel di kota XXX Pak. Saya sudah membaca anggarannya sekilas tapi menurut saya anggarannya terlalu besar Pak. Ada beberapa yang masih bisa dipangkas untuk menghemat biaya" jawab Ratna.
Berani - beraninya anak ini memberi komentar seperti itu. Anggaran itu kan dari bagian keuangan. Nih anak sok pintar. Umpat Rania dalam hati.
"Coba kamu bawa bahannya ke sini, saya mau lihat dan kamu juga tunjukkan mana anggaran yang masih bisa kita pangkas?" pinta Wildan.
"Baik Pak" jawab Ratna.
"Pak bukankah itu bukan tugas seorang sekretaris?" tanya Rania kepada Wildan.
Wildan tersenyum tipis.
"Aku membawa Ratna ke sini bukan hanya untuk sekedar menjadi sekretaris tetapi tempat untuk saling bertukar pendapat. Aku bukan mencari seorang sekretaris yang hanya bisa menyiapkan data dan bahan tapi aku butuh sekretaris yang juga bisa mengerti maksud laporan tersebut dan bisa memberikan masukan yang baik untukku" jawab Wildan.
Seketika wajah Rania terlihat kesal dan tidak suka dengan sikap Wildan.
Bapak sama anak jauh banget bedanya. Kalau Pak Raharjo dulu hanya minta disiapkan data, udah selesai. Pria ini berbeda. Tapi tidak apa aku merasa lebih tertantang. Apalagi yang aku dengar pria ini belum mempunyai pacar. Batin Rania.
Tak lama Ratna masuk dengan membawa bahan rapat. Dia menyerahkan proposal proyek yang nanti siang akan di bahas.
"Ini Pak" ujar Ratna.
"Tunjukkan pada saya mana bagian - bagian anggaran yang masih bisa kita pangkas?" tanya Wildan.
"Ini Pak, di sini dan di sini" Ratna mendekat dan menunjukkan data - data yang diminta Wildan.
__ADS_1
Wildan tersenyum tipis, tidak percuma dia membawa Ratna ke sini. Dulu dia yang selalu mensensor semua data kepada Melodi. Hingga Melodi hanya tinggal melanjutkan hal lainnya. Kini dia dibantu Ratna seperti ini rasanya dia sangat senang sekali
Kamu lebih pintar dari yang saya duga Ratna. Papa harus melihat kelebihan kamu ini. Batin Wildan.
"Kerja yang bagus Ratna. Teruslah berkembang dan pelajari semuanya. Proposal ini akan aku pelajari terlebih dahulu. Nanti siang kalian berdua ikut rapat bersama saya ya" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Ratna dan Rania.
Kedua wanita itu kembali ke meja kerja mereka masing-masing. Jam setengah satu siang Ratna dan Rania baru selesai makan siang. Ratna pergi ke mushola kantor untuk shalat dzuhur sedangkan Rania hanya duduk di kursi kerjanya sambil membenarkan make up nya yang tadi terhapus karena makan siang.
Setelah selesai shalat Ratna mengambil bedak dan lipgloss dan memperbaiki riasan wajahnya.
"Cih seperti anak - anak masih pakai lipgloss" ejek Rania.
"Warna bibirku masih bagus, lipstiknya belum hilang. Aku hanya perlu menambahkan lipgloss saja agar bibirku lebih lembab. Tak perlu berlebihan Rania karena Pak Wildan tidak suka sesuatu yang berlebihan. Apalagi tentang wanita, dia lebih suka yang apa adanya" jawab Ratna penuh percaya diri.
Tau apa dia tentang Pak Wildan? Dia kan hanya seorang karyawan bukan istrinya. Ucap Rania kesal di dalam hatinya.
Tak lama Wildan keluar dari ruangannya.
"Ayo kita mulai rapatnya" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Ratna dan Rania serentak.
Mereka turun melalui lift ke lantai dimana ruangan meeting berada. Semua kepala bagian sudah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka.
Tepat jam satu siang rapat dimulai. Satu persatu kepala bagian memperkenalkan diri mereka masing - masing. Setelah itu baru mulai masuk ke rapat inti yang membahas tentang proyek pembangunan Hotel.
Hingga sampai dibagian perencanaan anggaran. Wildan membuka data - data yang dia pegang sejak dari tadi. Mempelajarinya dan memeriksa bagian - bagian yang tadi sempat Ratna sampaikan kepadanya.
"Mmm.. coba hitung ulang anggaran ini. Menurut saya kita masih bisa memperkecil anggaran. Masih ada yang bisa dipangkas di bagian waktu lamanya proyek. Coba percepat seminggu, tambah karyawannya agar kerja mereka lebih cepat. Saya rasa akan menghemat biaya alat berat, walau gaji karyawan lebih banyak. Tapi biasa - biaya lain bisa kita pangkas" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab kepala bagian Perencanaan Proyek.
Sontak Rania terkejut, ternyata Wildan mendengarkan ucapan Ratna tadi pagi.
Wah bahaya nih cewek, sepertinya aku tidak bisa menyepelekan dia. Pak Wildan mendengar perkataannya begitu saja. Aku harus mencari celah untuk membuat Pak Wildan membencinya. Batin Rania.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG