
Cinta bersama Ratna, Amel dan bibik memasak di dapur untuk makan siang mereka. Makanan sederhana tapi cukup spesial untuk menyambut kedatangan tamu dari Jakarta.
Setelah selesai memasak mereka makan siang bersama. Mereka duduk lesehan di lantai menggunakan tikar. Rumah Cinta sangat sederhana hanya punya meja makan yang kecil tidak muat untuk mereka semua.
"Mas sudah selesai, ajak Pak Melodi dan Pak Wildan makan" ucap Amel pada suaminya.
Surya yang asik berbincang-bincang dengan Melodi dan Wildan di ruang tamu segera berpindah ke dapur.
"Ayo Pak kita makan" ajak Surya.
Melodi dan Wildan mengikuti Surya ke dapur dan duduk diatas tikar. Mereka memulai makan siang bersama.
"Maaf ya Pak makanannya sederhana" ucap Amel.
"Tidak apa Mbak Amel saya suka" sambut Melodi.
"Pantas Cinta pintar masak ya rupanya dia belajar sama Mbak Amel" puji Wildan.
"Saya juga tidak pintar masak. Bibik yang mengajari kami memasak" jawab Amel.
"Terimakasih Bik udah ngajarin Cinta masak. Karena itu setiap hari saya makan makanan yang enak buatan Cinta" ungkap Melodi.
Bibik hanya bisa tersenyum membalas ucapan Melodi. Sedangkan Ratna menyenggol lengan Cinta memberi kode setelah mendengar ucapan Melodi.
"Suasana di sini enak ya.. udaranya asri dan pemandangannya juga menyejukkan mata. Melihat sawah hijau mengelilingi rumah membuat mata jadi adem memandangnya" ujar Wildan.
"Yah begitulah tinggal di kampung Mas" sambut Surya.
"Mas Surya tolong carikan saya sawah. Melihat pemandangan di sini saya merasa nyaman dan tiba - tiba terpikir untuk investasi sawah di sini" pinta Melodi.
Ratna menyenggol lengan Cinta sekali lagi
"Bapak serius?" tanya Surya tak percaya.
"Iya saya serius. Saya ingin membeli sawah di sini" jawab Melodi.
"Tapi bagaimana Bapak mengurusnya? Bapak kan tinggal di Jakarta?" tanya Surya.
"Saya bisa kan minta tolong Mas Surya untuk mengawasinya. Tinggal cari orang untuk mengurus sawahnya dan Mas Surya hanya mengawasi saja. Atau begini deh.. Mas Surya tolong carikan sawah untuk saya nanti saya akan kasih hadiah buat Mas Surya. Saya belikan Mas Surya juga sawah yang letaknya bersebelahan jadi saat Mas Surya melihat dan mengurus sawahnya Mas Surya sekalian lihat sawah saya juga" jawab Melodi.
Surya dan Amel saling tatap.
"Sa.. saya tidak bisa menerimanya Mas" tolak Surya halus.
__ADS_1
"Jangan sungkan Mas, ini hanya rasa terimakasih saya di depan karena Mas Surya bersedia mengawasi sawah saya di sini. Gimana?" tanya Surya.
"Saya akan bicarakan hal ini dulu dengan istri saya" pinta Surya.
"Boleh tapi jangan lama - lama ya.. Besok sore saya dan Cinta akan pulang ke Jakarta. Saya harap besok Mas Surya sudah memberikan keputusannya" ujar Melodi.
"Baik Pak" jawab Surya.
Tak lama terdengar suara adzan dzuhur. Surya mempercepat makan siangnya.
"Yuk kita shalat ke Mesjid Pak Melodi" ajak Surya.
Cinta dan Ratna saling lirik menunggu reaksi Melodi.
"Ayok" jawab Melodi santai.
Wildan menatap tak percaya kearah Melodi.
"Yuk Wil" ajak Melodi.
Melodi, Wildan dan Surya segera bergegas ke Mesjid begitu mereka selesai makan. Sedangkan Cinta dan Ratna membantu Amel dan bibik membereskan dapur usai mereka makan siang bersama.
Tak lama kemudian Cinta dan Ratna juga shalat dzuhur di rumah. Melodi dan yang lainnya sudah pulang dari Mesjid.
Cinta melirik ke arah Melodi.
"Boleh, yuk Cin kita keliling kampung" sambut Melodi senang.
"Di sini ada sungai gak? Setiap membayangkan kampung dan sawah aku selalu membayangkan ada sungainya?" tanya Wiodan.
"Ada Pak, kalau mau mandi sungai juga bisa" jawab Amel.
"Wah seru itu" sambut Wildan.
"Ajak Pak Melodi dan Pak Wildan mandi sungai sekalian Cin" ujar Surya.
"Tapi kami gak bawa baju ganti" sambut Wildan.
"Kita jalan - jalan ke sungai aja, gak usah pakai mandi segala" jawab Melodi.
"Ya sudah yuk Pak kita jalan" ajak Cinta.
Cinta dan Melodi berjalan di depan sedangkan Wildan sengaja menarik lengan Ratna untuk memberikan jarak kepada Melodi dan Cinta agar mereka bisa ngobrol berdua saja.
__ADS_1
"Bapak serius mau beli sawah di sini?" tanya Cinta penasaran dengan keputusan Melodi tadi.
"Iya serius" jawab Melodi.
"Untuk apa Pak? Kalau hanya untuk investasi saya rasa itu tidak mungkin. Saya tau siapa Bapak? Bapak adalah pengusaha muda yang sukses. Tidak mungkin Bapak mau investasi sawah di kampung seperti ini. Lebih baik Bapak investasi pada proyek - proyek besar di kota?" tanya Cinta.
"Untuk proyek masa depan saya" jawab Melodi.
"Proyek masa depan bagaimana Pak?" tanya Cinta memastikan maksud dan tujuan ucapan Melodi.
Entah mengapa jantung Cinta berdetak tak karuan menanti jawaban Melodi.
"Proyek masa depan saya bersama kamu. Saya akan membeli sawah di sini atas nama kamu. Bukannya kamu katakan kalau kamu ingin membelikan kakak kamu sawah dan membantu perekonomian mereka baru kamu mau menikah? Jadi saya ingin mewujudkan impian kamu itu sekaligus kamu juga punya sawah sendiri. Dengan begitu apakah kamu mau menikah denganku Cinta?" tanya Melodi sambil menatap tepat ke dalam manik mata indahnya Cinta.
Mereka berhenti tepat di depan sungai. Cinta sangat tidak menyangka di hadapan sawah dengan batu, air sebagai saksinya dia dilamar seorang pria.
Jantung Cinta berdetak sangat kencang dan hampir saja dia kesulitan untuk bernafas. Cinta berusaha menguasai dirinya dihadapan Melodi.
"Saya serius Cinta, saya ingin menikah dengan kamu. Sejak mengenal kamu hidup saya yang terasa sepi dan sunyi mulai kembali hidup. Kamu memberikan warna yang cerah dalam keseharian saya. Membuat saya nyaman sekaligus takut kehilangan momment saat - saat bersama kamu. Saya mulai terbiasa dengan adanya kamu di apartement saya. Setiap sudut apartement saya selalu kamu isi dengan sikap kamu yang tulus. Saya tidak tau kapan perasaan ini mulai muncul. Saat saya tersadar saya sangat takut kehilangan kamu. Kehilangan orang yang saya cintai lagi setelah Papa dan Mama saya. Saya mencintai kamu Cinta" ungkap Melodi.
Ratna dan Wildan yang tak jauh dari mereka bisa mendengar dengan jelas pembicaraan serius Cinta dan Melodi. Mereka juga sangat terkejut dan tidak menyangka kalau Melodi melamar Cinta di sini.
Cinta hanya terdiam kaku dan bingung harus menjawab apa.
"Saya sangat mengerti dengan prinsip kamu yang tidak ingin pacaran. Oleh sebab itu makanya saya melamar kamu langsung. Dan kalau kamu setuju saya ingin dalam kesempat ini melamar kamu kepada keluarga kamu. Apakah kamu bersedia Cinta menjadi istriku?" tanya Melodi lagi.
Beberapa menit berlalu mereka hanya saling tatap. Cinta mencoba mencari jawaban atas ucapan Melodi barusan. Mata Melodi menunjukkan keseriusan dan ketulusan. Tapi Cinta masih ragu untuk menerima Cinta Melodi.
"Ma.. maaf Pak, ini begitu cepat bagi saya. Sa.. saya bingung harus berkata apa" ucap Cinta terbata - bata.
"Kamu tidak perlu bingun Cinta. Kamu cukup tanya hati kamu, apakah kamu menemukan saya di dalam sana. Untuk saat ini aku tidak meminta perasaan itu tumbuh dengan besar. Kecilpun tak mengapa yang penting kamu sudah punya perasaan kepada saya. Saya berjanji akan mencintai dan menyayangi kamu dengan segenap hati saya dengan seluruh kekuatan saya. Saya akan menjaga dan melindungi kamu Cinta" sambung Melodi.
Cinta menundukkan kepalanya.
"Ayo Cinta jawab ya" gumam Ratna tak sabar dari kejauhan.
"Bagaimana Cinta.. apakah kamu terima lamaran saya?" tanya Melodi.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1