
Setelah selesai mengungkapkan perasaan mereka yang bersedia dua minggu sebelumnya akhirnya Wildan dan Ratna memutuskan untuk pulang ke rumah.
Wildan mengantar Ratna sampai ke rumahnya.
"Oh iya tolong bilang sama Ibu besok Mama ingin mengajak Ibu jalan. Mungkin mau cari - cari perlengkapan pernah kita" ujar Wildan kepada Ratna.
"Iya Mas nanti akan aku sampaikan" jawab Ratna.
"Aku pulang ya sayang" ucap Wildan pamit.
"Tuh kaaan" protes Ratna.
"Oke.. oke.. Sebelum ijab kabul aku akan mengunci bibirku. Setelah itu baru bebas bisa panggil kamu apa aja" sahut Wildan.
Ratna turun dari mobil Wildan.
"Besok aku jemput ya, kita sama - sama ke Semarang" ujar Ratna.
"Iya Mas, sampai ketemu besok" sahut Ratna.
"Mimpi indah ya, mimpiin aku" ucap Wildan sambil tersenyum manis.
Ratna hanya bisa membalasnya dengan senyuman malu - malu. Wildan memutar mobilnya, kini dia udah menuju jalan ke hotel. Ratna menatap kepergian Wildan lalu setelah mobil Wildan menghilang baru Ratna masuk ke dalam rumah.
"Deeeeer... cieeee calon pengantin" goda Retno.
"Mimpikan aku ya... Mas Wildan sweet banget" sambut Riska.
"Huuus.. kalian ini" ujar Ratna pura - pura marah padahal aslinya dia sangat malu ternyata adik - adiknya melihat apa yang dia lakukan tadi dengan Wildan di luar.
Untung saja mereka tidak melakukan atau membicarakan sesuatu yang membahayakan bagi pertumbuhan adik - adiknya Ratna. Kalau tidak bisa gawat nih.
"Hey kalian ini, kenapa gangguin Mbak kamu begitu? Udah tidur semua, besok kalian kan sekolah semua" ucap Pak Ramlan menegur putri - putrinya yang lain.
"I.. iya Pak" sahut Retno, Riska dan Rafika kompak.
Tiga adik Ratna langsung masuk ke kamar mereka. Kini hanya tinggal Pak Ramlan dan Ratna di ruang TV.
"Apa Mas Raharjo dan istrinya sudah di hotel?" tanya Pak Ramlan.
"Sudah Pak, setelah mengantar mereka ke Hotel baru Mas Wildan antar aku ke sini. Ibu mana Pak?" tanya Ratna balik.
__ADS_1
"Ibu kamu sudah istirahat di kamar" jawab Pak Ramlan.
"Nanti tolong bilang sama Ibu ya Pak, Mamanya Mas Wildan besok mau ajak Ibu jalan. Mungkin mau cari - cari kelengkapan pernikahan aku dan Mas Wildan" ujar Ratna.
"Iya nanti Bapak sampaikan pada Ibumu. Kamu gak ikut mereka?" tanya Pak Ramlan.
"Aku kan masih punya tugas Pak di Semarang. Besok Mas Wildan akan jemput aku dan kami akan langsung ke proyek pembangunan kantor cabang yang akan di bangun. Pak Jaya juga akan datang" ungkap Ratna.
"Oh begitu, ya sudah kamu istirahat saja kalau begitu" sambut Pak Ramlan.
"Iya Pak, aku ke kamar ya Pak" balas Ratna.
Pak Ramlan menatap kepergian Ratna. Matanya kembali berkaca - kaca. Akhirnya sebentar lagi dia akan melepas Putri sulungnya menikah dengan pria pujaan hatinya.
Pak Ramlan merasa lega karena dia merasa Wildan adalah pria yang tepat untuk putrinya. Wildan benar - benar menunjukkan kepada semuanya bukti besarnya cintanya kepada Ratna.
Wildan bisa menjadi menantu sulung yang bertanggung jawab. Setidaknya kalau ada apa - apa kelak pada dirinya ada seorang pria di rumahnya yang bisa diandalkan untuk menjaga keluarga yang pasti akan dia tinggalkan cepat atau lambat.
Tak henti - hentinya Pak Ramlan mengucap syukur. Allah terlah sangat banyak berbaik hati kepadanya. Padahal dua puluh tahun dia lalui hidup ini dengan rasa marah dan kecewa kepada Allah. Karena dia merasa Allah telah berbuat tidak adil pada hidupnya.
Setelah memastikan semua pintu rumahnya terkunci, Pak Ramlan juga menyusul istrinya istirahat di kamar mereka.
"Apa kalian tidak sarapan dulu?" tanya Bu Ramlan.
"Tidak usah Bu, nanti kami sarapan diluar aja. Takut kesiangan sampai disana" jawab Wildan.
"Bapak gak mau bareng kami?" Ratna memberi penawaran pada Bapaknya.
"Kalian duluan saja, kalau Bapak ikut kalian nanti pulangnya kan repot. Nanti Bapak juga mau cepat pulang kok, mau ketemu sama Mas Raharjo" tolak Pak Ramlan.
"Kalau begitu kami duluan ya Pak " pamit Wildan.
"Bu jangan lupa ya jam sembilan Mamanya Mas Wildan akan jemput Ibu" ujar Ratna.
"Iya Bapak sudah bilang sama Ibu tadi malam. Ibu juga sudah siap - siap kok. Setelah adik - adik kamu berangkat sekolah Ibu akan kabari Mamanya Wildan" jawab Bu Ramlan.
Ratna dan Wildan pamit kepada kedua orang tua Ratna setelah itu mereka pergi menuju Kota Semarang.
Di dalam perjalanan Wildan sempat memperhatikan daerah rumah Ratna.
"Aku rasa kita sudah mulai memikirkan apa yang sudah dilakukan Melodi dan Cinta" ujar Wildan.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Ratna penasaran.
"Kamu apa gak pengen punya rumah di sini?" tanya Wildan.
"Kalau Mas tanya aku, lebih baik cari rumah di Jakarta saja. Kalau kita punya rumah di sini pulang kampung rasanya gak asik Mas. Apalagi nanti kalau kita sudah punya anak - anak. Pulang kampung itu enaknya ya pulang ke rumah orang tua. Anak - anak bisa dekat dengan orang tuaku dan adik - adikku. Kalau Cinta kan memang sudah tidak punya orang tua lagi, Mbak Amel juga punya keluarga masing-masing. Bibik sudah ikut mereka di Jakarta" jawab Ratna.
"Oke baiklah kalau begitu aku akan mulai cari rumah masa depan kita ya.." sambut Wildan.
"A.. apa gak terlalu cepat Mas?" tanya Ratna.
"Rumah kan gak langsung dapat Rat yang sesuai dengan keinginan kita. Siapa tau kita harus renovasi lagi" jawab Wildan.
"Kan masih ada apartemen kamu, kita tinggal di sana aja dulu. Masih banyak waktu, mau bangun rumah mulai dari nol juga bisa" sambut Ratna.
"Kamu punya rumah impian?" tanya Wildan.
"Aku hanya ingin rumah yang hangat dan nyaman untuk tempat tinggal. Untuk apa cantik dan besar kalau penghuninya gak harmonis, mending tinggal di apartement aja walaupun kecil tapi bahagia" Jawab Ratna.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Kita cari lahannya dulu baru setelah itu kita rancang rumah masa depan kita bersama yang hangat dan nyaman sesuai keinginan kamu" ujar Wildan.
Ratna tersenyum manis kepada Wildan.
"Aaah senangnya bisa melihat senyuman kamu lagi. Aku jadi lapar" ungkap Wildan.
"Ada gitu hubungan senyum dengan lapar?" tanya Ratna.
"Ya ada donk, kalau kamu senyum beban pikiran yang hilang hingga membuat hatiku lega dan lambungku terasa kosong. Nafsu makan saja bertambah apa lagi nafsu yang lain" goda Wildan.
"Maaaaas" ucap Ratna memperingatkan Wildan.
"Hahahaha kan pasti menyesal kan tadi malam gak mau aku ajak nikah. Kalau tidak kita sudah honeymoon saat ini" sahut Wildan.
Refleks tangan Ratna memukul bahu Wildan karena gemas perkataan Wildan dari tadi selalu menyerempet ke arah yang ngeres. Membuat wajah Ratna jadi merah merona pagi ini.
"Hahahahha.. " tawa Wildan pecah melihat tingkah Ratna.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1