
"Ka.. kalian?" ucap Ratna tak percaya.
Ratna dan Pak Ramlan berdiri menyambut kedatangan tamu yang baru saja masuk ke ruangannya.
Ternyata yang datang adalah Wildan bersama Papa dan Mamanya lalu ada Ibu dan juga adik - adiknya. Semua menatap Ratna dengan senyuman bahagia.
Wildan mendekati Ratna.
"Kejutan" ucap Wildan lembut kepada Ratna.
Air mata Ratna semakin deras mengalir. Rasa sesak di dadanya lebih beberapa minggu ini akhirnya lega. Semua kesedihannya selama itu juga memuai tak bersisa. Kini hanya ada air mata bahagia.
"Ka.. kamu merencanakan semua ini Mas?" tanya Ratna pada Wildan.
"Yaaah seperti yang kamu lihat" jawab Wildan.
"Masalah Bapak dan Papa sudah selesai. Itu kan yang membuat kamu menjaga jarak kepadaku?" tanya Wildan.
Ratna hanya bisa tersenyum tipis.
"Om sudah meminta maaf pada Bapak kamu Ratna. Memang salah Om yang tidak memeriksa semuanya secara detail. Yah maklumlah waktu itu Om juga masih merintis, banyak yang harus Om urus. Keamanan dan penjagaan belum terlalu ketat. Satu lagi Om terlalu percaya ucapan bajingan itu. Bahkan dia bisa mengelabui Om selama bertahun-tahun " ungkap Pak Raharjo.
"Sudahlah Mas semua sudah berlalu" sambut Pak Ramlan.
"Nah sekarang seluruh keluarga berkumpul. Sudah waktunya aku menyampaikan niat baikku di depan keluarga kita. Aku ingin melamar kamu" ungkap Wildan.
"Ta.. tapi Mas ma.. mantan pacar kamu kan sudah datang dan dia katanya masih mencintai kamu" ucap Ratna.
Wildan tersenyum.
"Itukan katanya bukan kataku. Aku tidak pernah menginginkan hal itu. Aku hanya ingin menjalani masa depan bersama kamu. Kamulah wanita satu - satunya yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku" sambut Wildan.
Ratna tersenyum malu, jantungnya rasanya mau copot mendapat perkataan dan perlakuan Wildan semanis ini.
"Nikah.. nikah.. nikah... " sorak Retno, Riska dan Rafika.
"Jadi Ratna, kamu mau kan menikah denganku?" tanya Wildan.
Ratna menatap wajah Wildan kemudian menatap wajah kedua orang tuanya. Bapak dan Ibu Ramlan tersenyum bahagia sambil menganggukkan kepala mereka.
"Waktunya kamu bahagia sayang, pikirkan diri kamu sendiri. Kami semua sudah bahagia, giliran kamu sekarang" ucap Pak Ramlan sambil mengelus lembut punggung Ratna.
Ratna tertunduk malu lalu menganggukkan kepalanya.
"A.. aku mau" jawab Ratna.
"Alhamdulillah... " ucap semua yang mendengar jawaban Ratna.
__ADS_1
"Terimakasih Ratna kamu sudah mau menerima lamaran anak Tante" ujar Mama Wildan.
Semua tersenyum penuh bahagia.
Tiba - tiba pintu ruangan Pak Ramlan diketuk dan masuklah Pak Jaya atasan Ratna.
"Pa.. Pak Jaya" ucap Ratna.
Jaya tersenyum ramah.
"Selamat atas lamaran kalian, tapi calon suami kamu lupa membawa ini" ucap Jaya kepada Wildan.
"Eh iya bro tertinggal di hotel tadi" sambut Wildan.
Jaya memberikan kotak perhiasan kepada Wildan.
Wildan memasangkan cincin kepada Ratna sebagai tanda keseriusannya melamar Ratna.
"Naaah pas kan?" ujar Wildan senang.
"Harus donk, kalau gak muat tandanya kamu gak peka. Masak jari calon istri sendiri gak tau ukuran berapa" potong Jaya.
"Jadi Bapak juga masuk dalam rencana ini?" tanya Ratna bingung.
"Hahaha sejak awal aku sudah ikut jadi pemeran latar. Wildan merekomendasikan kamu untuk bekerja di Perusahaanku. Tapi aku terima kamu bukan karena Wildan melainkan karena kamu memang pantas untuk diterima. Bahkan aku meminta kamu menjabat bukan sebagai jabatan kosong yang kamu lamar di surat lamaran kamu" jawab Jaya.
"Iya kamu tidak salah, Ratna memang sangat pintar dalam bekerja" puji Jaya.
"Jadi apakah aku boleh membawa sekretarisku kembali?" tanya Wildan.
"Ya tergantung jawaban Ratna. Kalau Ratna betah kerja di kantorku aku akan dengan senang hati memperkerjakannya. Siapa tau dia bosan sama kamu, setiap hari ketemu" jawab Jaya.
"Dia tidak akan bosan ketemu aku setiap hari. Malah dia kangen terus katanya, ya kan yank" timpa Wildan.
"Mmm.. boleh gak Mas aku siapin proyek ini dulu. Ini kesempatan langka aku bisa bekerja bareng Bapak" pintar Ratna.
Wildan tersenyum kepada Ratna.
"Ya terserah kamu aja sayang" sambut Wildan.
"Okey aku setuju" sahut Jaya.
"Bapak juga setuju" balas Pak Ramlan.
Semua tertawa bahagia.
"Ayo kita makan dulu, aku sudah memesan makan siang kita di Restoran yang gak jauh dari sini" ajak Wildan.
__ADS_1
Mereka semua akhirnya makan siang bersama. Ternyata acara lamaran Wildan sudah dia rencanakan sangat matang. Tentu saja dengan bantuan Jaya atasan Ratna di kantor.
Sebenarnya Cinta ingin sekali turut hadir tapi Melodi melarangnya. Mungkin Melodi trauma dengan kehamilan Cinta yang pertama dan keguguran sehingga dia tidak mau terulang lagi kejadian yang sama.
Mereka kini sudah sampai di sebuah Restoran besar. Di sana sudah terpampang tulisan selamat datang untuk calon pengantin Wildan dan Ratna.
Ratna sangat terharu dengan kejutan yang diberikan Wildan untuknya. Apalagi yang harus dia ragukan. Wildan sudah menyelesaikan masalah orang tua mereka. Dan kini Wildan sudah menunjukkan pada dunia bahwa Ratna adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.
Wildan dan Ratna duduk bersebelahan. Disamping Wildan ada Jaya sedangkan di sebelah Ratna ada adik - adiknya. Di depan mereka ada kedua orang tua mereka dan adik Ratna lainnya.
"Ramlan kalau kami boleh meminta, bisa tidak acara pernikahan mereka kita selenggarakan di Jakarta saja? Kalau kamu mau buat pesta di Pati kita bisa adakan akadnya di kampung kamu" pinta Pak Raharjo.
"Saya sih tidak keberatan acaranya mau diadakan dimana. Terserah anak - anak saja Mas. Gimana Rat?" tanya Pak Ramlan.
"Aku juga tidak masalah, terserah Mas Wildan aja" jawab Ratna.
"Kalau begitu tidak apa ya Pak kita adakan di Jakarta saja bulan depan" ujar Wildan.
"A.. apa Mas, bulan depan?" tanya Ratna terkejut.
"Hahaha.. Wildan sudah gak sabar Rat nikahin kamu" sahut Jaya.
"Tau aja kamu bro" sambut Wildan.
"Dasar anak muda, mau serba cepat semua" ujar Pak Raharjo.
"Tidak apa Mas, agar mereka terhindar dari dosa. Anak saya perempuan Mas, apalah dia jauh dari orang tuanya. Kalau Ratna sudah menikah saya lega. Ada suaminya yang akan menjaganya" sambut Pak Ramlan.
"Iya Ramlan kamu benar juga, apalagi apartement mereka sebelahan. Aku takut anakku yang berbuat macam - macam pada putri kamu" sahut apakah Raharjo.
"Paaa" tegur istrinya.
"Tenang Om, Tante. Aku yakin Wildan tidak akan melakukannya. Sekarang Wildan sudah jadi anak baik" bela Jaya.
"Setan itu tak kenal siapa - siapa untuk merayu manusia. Semakin tinggi keimanan seseorang setan yang diutus juga jendralnya. Sampai manusia jatuh dalam dosa baru mereka puas" ujar Pak Ramlan.
"Betul itu" timpa Pak Raharjo.
"Ya sudah Pa kalau kalian khawatirkan kami bagaimana kalau nikahnya du percepat aja nanti malam" ujar Wildan.
"Jangaaaaaan" sontak semua menjawab ucapan Wildan dengan kompak.
"Hahahaha mereka sudah tau apa yang ada dalam hati kamu Wil" ujar Jaya tertawa.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG