
Hari ini Wildan tidak terburu - buru untuk berkeliling pulau menikmati pemandangan pulau tersebut. Wildan mengerti dia baru saja menggempur Ratna dua ronde malam dan pagi harinya.
Itu adalah pengalaman pertama dan kedua bagi Ratna. Apalagi Ratna masih original pasti ada rasa nyeri dan juga yang pasti lelah. Hari ini Wildan hanya mengajak Ratna menikmati honeymoon mereka di kamar bermain dan istirahat.
Ratna menghubungi keluarganya dan memberi kabar kalau dia dan suaminya berada di Kalimantan Timur. Ratna juga mengirimkan beberapa foto villa tempat mereka menginap.
Hari ini seluruh keluarga Ratna akan kembali ke Pati. Bapak, Ibu dan adik - adik Ratna pulang setelah membantu memindahkan barang - barang Wildan dan Ratna ke rumah orang tua Wildan.
"Nduk barang - barang kamu dan Wildan sudah kami packing dan antar ke rumah Mas Raharjo. Saat ini kami sedang makan siang bersama setelah itu baru kami pamit pulang" ucap Ibunya Ratna.
"Terimakasih ya Bu, kalian jadi repot karena kami" sahut Ratna.
"Tidak apa Nduk, namanya anak. Kamu baik - baik ya di sana. Layani suami kamu dengan baik. Jadi istri solehah, jangan suka melawan perkataan suami" pesan Bu Ramlan.
"Iya Bu, aku akan menjalankan semua pesan Ibu" jawab Ratna.
"Mbak nanti bawa oleh - oleh yang banyak ya untuk kami" sorak Retno dari belakang Bu Ramlan.
"InsyaAllah nanti Mbak bawain ya. Begitu sampai Jakarta Mbak akan kirim ke Pati" jawab Ratna.
"Alhamdulillah, makasih ya Mbak. Fotonya bagus - bagus. Kapan ya kami bisa ke sana?" tanya Retno.
"Kamu belajar yang baik ya, sebentar lagi kan kamu mau masuk kuliah. Harus bisa masuk kampus negeri" ucap Ratna memperingatkan adiknya.
"Oke Mbak" jawab Retno.
"Udah dulu ya Buk nanti aku kabari lagi. Assalamu'alaikum" Ratna menutup teleponnya.
"Ibu sudah pulang?" tanya Wildan yang baru keluar kamar mandi.
"Belum Mas, mereka lagi di rumah Mama antar barang - barang kita. Setelah itu baru pulang ke Pati" jawab Ratna.
__ADS_1
Wildan naik ke atas tempat tidur dan memeluk erat tubuh Ratna.
"Kita belum pernah membicarakan rencana masa depan kita" ujar Wildan.
"Belum pernah gimana? Setelah pulang ke Jakarta kita akan tinggal di rumah Mama. Bukankah itu juga masa depan kita?" tanya Ratna.
"Iya, cuma itu saja" jawab Wildan singkat.
"Mas mau bicarakan apa?" tanya Ratna sambil mengelus lembut wajah Wildan.
Hidungnya yang mancung, rahangnya yang keras dan jambang yang tumbuh halus membuat wajah Wildan terlihat sangat laki - laki sekali. Wajah yang selama ini ingin sekali dia sentuh tapi masih terlarang.
Kini wajah ini sudah halal baginya dan sudah ada di hadapannya. Ratna ingin memuaskan keinginannya yang dulu selalu ingin menyentuh wajah Wildan.
"Kita belum sepakat berapa anak jumlah anak kita?" tanya Wildan.
Blush.. wajah Ratna memerah karena malu.
"Dua masih terlalu sedikit untuk rumah sebesar rumah Papa dan Mama" bantah Wildan.
"Jadi Mas mau berapa?" tanya Ratna.
"Mmm... kalau empat bagaimana? Kamu bersaudara empat orang gimana rasanya? Seru kan punya banyak saudara?" tanya Wildan.
Ratna tersenyum lembut.
"Dulu setiap kali salah satu diantara kami akan masuk sekolah yang baru, Ibu pasti kerepotan menyiapkan peralatan sekolah kami. Seperti baju, tas dan peralatan sekolah lainnya. Aku selalu berkata pada Ibu. Ibu sih punya anak banyak, coba kalau dua saja kan gak repot" ungkap Ratna mengulang masa lalu keluarganya.
"Ibu bilang banyak anak banyak rezeki. Tapi aku jawab, orang kaya itu anaknya biasanya cuma satu, paling banyak dua. Kenapa mereka jadi kaya?" lanjut Ratna.
"Ibu jawab makna banyak anak banyak rezeki itu bukan hanya dalam hal materi di dunia saja. Kalau tidak bisa kaya materi dunia mungkin bisa kaya di hadapan Allah. Kalau punya banyak anak akan banyak nanti anak - anak yang mendoakan saat kita mati. Anak adalah harta orang tuanya di dunia dan akhirat. Kalau kita berhasil mendidik anak - anak, mungkin bisa merubah harkat dan martabat di dunia. Kalau pun mungkin Allah tidak kasih kesempatan di dunia mungkin Allah akan angkat derajat kita di akhirat. Begitu pesan Ibu" sambung Ratna.
__ADS_1
"Benar itu apa yang Ibu katakan. Coba lihat aku kalau Papa dan Mama sudah tiada yang do'ain hanya satu. Aku sendiri anaknya. Setelah mendengar cerita kamu, aku setuju banget dengan Ibu Kalau begitu aku akan tambah anak lagi jadi sebelas biar bisa buat kesebelasan" sambut Wildan.
"Hahahaha... kamu ada - ada aja Mas. Dengernya kok rasanya aku ngilu ya. Ngelahirin sebelas anak, apa aku sanggup?" tanya Ratna.
"Pasti sanggup, orang jaman dulu anaknya banyak - banyak. Sekarang ilmu kedokteran sudah semakin hebat banyak teknik melahirkan yang ada. Bisa dengan normal baik yang sakit ataupun tak sakit, bisa juga operasi" jawab Wildan.
"Tapi melahirkan anak bukan sekedar hanya itu saja lho Mas dan tidak segampang yang Mas fikirkan tentang melahirkannya. Okelah mungkin karena Mas punya uang bisa membayar biaya persalinan. Punya anak itu harus siap juga dengan tanggung jawab mendidiknya. Apa Mas sanggup mendidik sebelas orang anak dengan karakter yang berbeda - beda? Yang Mas bayangkan kalau semua berhasil, lah kalau tidak bukankah bisa menjadi bumerang? Bukannya meringankan dosa orang tua, bisa jadi malah menambah dosa dan memberatkan di hadapan Allah" ujar Ratna.
Wildan terdiam mendengar perkataan Ratna.
"Jaman sekarang semua semakin berat Mas, tingkat pergaulan anak - anak. Hiruk pikuk kehidupan di Jakarta semakin sempit. Waktu berlalu begitu cepat. Setiap hari kita pergi pagi - pagi sekali dan pulang sore bahkan bisa sampai maghrib di rumah. Belum kalau ada acara lain di luar, undangan atau meeting sampai lembur. Bagaimana dengan nasib anak - anak di rumah? Apa mereka hanya di didik dan dibesarkan oleh asisten rumah tangga atau babysitter saja? Bagaimana pendidikan agama mereka? Sementara bertemu orang tua saja bisa dihitung berapa jam waktunya?" tanya Ratna.
Wildan semakin terdiam dan memikirkan semua yang Ratna katakan tadi.
"Ternyata tak segampang itu ya punya banyak anak. Aku kira hanya hitungan materi saja. Butuh banyak waktu dan perhatian untuk mereka agar bisa di didik menjadi anak - anak yang soleh dan solehah" jawab Wildan.
"Aku tidak ingin memikirkan kuantitas tapi ingin memikirkan kualitas. Bagaimana dengan jumlah anak yang tak sebanyak itu tapi bisa memiliki anak - anak yang berkualitas. Anak - anak yang bisa berguna untuk orang tuanya, agamanya juga negaranya" ungkap Ratna.
"Jadi berapa donk maunya? Tetap dua?" tanya Wildan kepada Ratna.
"Seadanya Allah kasih aja ya. Kalau Allah kasih dua alhamdulillah, kasih empat lebih bersyukur. Kalau Allah ringankan segala sesuatunya sebelas juga tidak masalah. Jangan jadi patokan hingga kita terbebani. Anak itu bukan beban tapi tanggung jawab" jawab Ratna.
Wildan menangkap wajah istrinya dengan kedua tangannya lalu mendekatkan wajah Ratna ke wajahnya kemudian mengecupnya.
"Aku setuju deh dengan pemikiran Nyonya Wildan. Sekarang tidak lagi memikirkan berapa banyaknya anak tapi mari kita mulai menciptakan anak yang berkualitas. Mungkin kita bisa memulainya dari cara pembibitannya saat ini" ucap Wildan sambil tersenyum nakal.
"Kamu ya Mas selalu saja modus. Ujung - ujungnya pasti minta begituan" sahut Ratna sambil tersenyum bahagia melihat tingkah suami tercintanya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG