Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 166


__ADS_3

"Bapak jahat... " teriak Ratna.


Ratna menangis terisak membuat Wildan terkejut.


"Rat.. Ratna.. " panggil Wildan.


"Bapak tega banget cuekin aku, diamin aku sampai aku berpikiran untuk pindah kerja dan kembali ke Perusahaan Pak Melodi. Aku udah minta tolong sama Cinta bilangin ke Pak Melodi untuk terima aku lagi" ucap Ratna dengan nada yang tinggi dan cepat.


Wajah terkejut Wildan seketika berubah menjadi senyuman bahkan dia tertawa kecil melihat tingkah Ratna.


"Iiiih Bapak ngeselin, malah ketawa" ucap Ratna cemberut tapi air matanya sudah mulai reda.


"Kamu jangan godain aku donk. Aku udah pengen banget nih buat ngapus air mata kamu" ujar Wildan.


Ratna terdiam dan dengan cepat dia menyeka air matanya bersih tak bersisa. Wildan tersenyum menatap wajah Ratna yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Kamu cantik banget malam ini. Sebenarnya tadi aku ingin melamar kamu langsung di sana tapi aku berpikir pasti nanti keluarga Rania menduga hal ini memang aku rencanakan sejak awal dan dampaknya adalah kamu. Aku tidak mau keluarga Rania mencari dan mengejar kamu karena kamu sebagai penyebab aku batalkan pertunangan ini. Akhirnya aku susun rencana baru seperti malam ini" ujar Wildan.


Wajah Ratna bersemu merah karena malu.


"Jadi gimana Rat?" tanya Wildan.


"Tanya apa Pak?" Ratna bertanya karena bingung.


"Gimana dengan lamaran aku, diterima gak?" tanya Wildan.


Ratna menatap ke dalam manik mata Wildan mencoba mencari kejujuran dan keseriusan dimata Wildan. Dan dia menemukannya.


Wajah tampan itu dengan senyuman termanisnya membalas tatapan Ratna. Kalau sudah seperti ini mana mungkin Ratna bisa menolak lamaran Wildan. Malah hal ini lah yang paling di tunggu - tunggu. Sampai dia harus patah hati seminggu ini karena mendengar berita Wildan akan bertunangan dengan Rania.


Ratna menundukkan pandangannya dan dengan malu menganggukkan kepalanya. Wildan tersenyum penuh arti.


"Jawabnya apa Rat? Aku belum mendengar suara kamu?" Tanya Wildan sambil menggoda.


"Iya Pak, aku menerimanya" jawab Ratna.


"Apa?" tanya Wildan masih ingin menggoda Wildan.


"Bapak mau aku pukul lagi pakai tas ini?" tanya Ratna kesal.


"Hahaha.. calon istriku galak amat ternyata. Belum menikah aku sudah dapat KDRT" jawab Wildan.


Ratna mendelikkan matanya menatap Wildan.


"Hahaha aku makin gemas deh, kalau udah halal saat ini juga sudah aku bawa kamu ke ranjang" ucap Wildan dengan gemas.


Ratna spontan mengangkat garpu dan mengarahkannya kepada Wildan sebagai perlindungan dirinya.

__ADS_1


"Hahahaha... kamu lucu sekali sayang. Ternyata calon istriku benar - benar galak" tawa Wildan semakin pecah.


Wajah Ratna sempurna berubah jadi merah karena mendengar Wildan memanggilnya dengan kata sayang. Dia kembali menurunkan tangannya.


Setelah puas menggoda Ratna akhinya Wildan mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jasnya.


"Kita bukan tunangan, karena aku belum melamar kamu dihadapan kedua orang tua kamu. Jadi aku memberikan ini sebagai tanda bahwa kamu sudah aku ikat. Kamu resmi menjadi calon istriku sejak malam ini" Wildan membuka kotak perhiasannya dan mengambil isinya.


Ada gelang cantik dengan lambang hati di tengah - tengah gelangnya. Dimana di dalam gambar hati itu ada ukuran nama Wildan dan Ratna.


Refleks Ratna mengangkat tangannya dan Wildan memasangkan gelang tersebut kedalam pergelangan tangan Ratna.


"Sangat pas dan cantik, sama cantiknya dengan pemilik gelang ini. Kamu jaga hatiku ya. Kalau ada seseorang yang ingin mengganggu dan menggoda kamu lihat ke gelang ini agar kamu sadar kalau hatiku ada dalam genggaman tangan kamu. Jangan kamu coba hancurkan karena aku akan merasa patah hati" gumam Wildan.


Air mata Ratna kembali lolos keluar. Dia merasa terharu dengan lamaran Wildan yang sangat romantis malam ini.


"Te.. terimakasih Pak" ucap Ratna.


"Lho kenapa kamu berkata seperti itu. Harusnya aku yang mengatakan begitu, karena kamu sudah menerima lamaranku" balas Wildan.


Ratna menyeka air matanya.


"Sekarang kita makan malam yuk. Kalau sudah lega seperti ini aku baru merasa lapar" ajak Wildan.


Wildan kembali ke tempat duduknya dan mereka mulai menikmati hidangan makan malam spesial ini.


"Dia tidak akan berani muncul di Perusahaanku setelah apa yang dia lakukan. Pasti dia akan berhenti. Dan mulai saat ini tolong jangan panggil aku dengan sebutan Bapak. Panggil nama atau Mas juga boleh" perintah Wildan.


"I.. iya Mas" jawab Ratna malu.


"Naaaah gitu kan jadi makin manis" puji Wildan.


Ratna tersenyum tipis sambil menunduk malu. Wildan jadi semakin gemas melihatnya. Kini gadis pujaan hatinya sudah resmi menjadi calon istrinya. Dia sudah mengikat tangan Ratna dengan gelang hati pemberiannya.


"Sepertinya kita sudah bisa mencoba menyusun jadwal untuk pergi ke kampung kamu. Aku ingin segera melamar kamu kepada keluarga kamu" ujar Wildan.


"Tapi Pak eh Mas jadwal kita beberapa minggu ini sangat padat. Minggu depan kita mau ke kampung Cinta untuk menghadiri pernikahan Pak Ilham dan Bik Sumi" jawab Ratna.


Wildan tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Kalau begitu gimana besok kita ke rumah orang tuaku. Mama udah pengen banget ajak kamu masak bareng di rumah" ajak Wildan.


"Tapi Mas Pak Raharjo kan gak suka melihat saya?" tanya Ratna takut.


"Papa bukan membenci kamu. Kemarin karena dia takut aku menolak perjodohan dengan Rania makanya dia bersikap seperti itu kepada kamu. Dia sudah melihat kerja kamu selama satu bulan ini dan dia suka cara kerja kamu" jawab Wildan.


Ratna menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah Pak eh Mas, aku mau" jawab Ratna.


Wildan tersenyum puas mendengar jawaban Ratna. Langkahnya menuju pernikahan sudah semakin dekat. Tinggal meminta restu orang tua Ratna baru mereka menyusun rencana kapan pernikahan mereka akan dilangsungkan.


Setelah selesai makan Ratna meminta izin untuk kembali ke apartementnya.


"Cepat banget Rat pulangnya?" tanya Wildan.


"Ada yang mau dibahas lagi Mas?" tanya Ratna dengan polosnya.


"Ya banyak, kita harus menyusun masa depan kita" jawab Wildan.


"Malam ini? Harus malam ini semuanya kita susun?" tanya Ratna.


"Emang kenapa? Kamu gak mau, keberatan?" tanya Wildan penasaran.


"Mas sekarang status kita sudah berbeda. Diluar jam kerja Mas bukan lagi atasanku tapi melainkan calon suami. Kita sekarang berada di apartement Mas. Aku ini perempuan Mas, masak iya sampai larut malam aku berada di apartement laki - laki" jawab Ratna.


"Oooh jadi kamu mau aku yang ke apartement kamu?" tanya Wildan sambil tersenyum.


"Bu.. bukan begitu. Maksud aku suasana jadi beda rasanya. Kalau dulu aku merasa aman karena Mas hanya menganggap aku sebagai karyawan Mas. Tapi sekarang beda" jawab Ratna.


Wajah Ratna kembali merah karena malu.


"Beda apanya sayang heeeem?" tanya Wildan sambil terus menggoda Ratna.


Ratna semakin salah tingkah. Dia ingat dulu Cinta pernah bercerita kalau dia menemukan celan* dala* wanita di apartement Melodi.


Sejak itu Ratna menarik kesimpulan kalau Wildan dan Melodi tak jauh berbeda dalam hal wanita. Seketika Ratna semakin takut berada di apartement ini berduaan saja.


Ratna harus menjelaskan kepada Wildan kalau mereka harus menjaga sikap sampai mereka menikah. Ratna menarik nafas panjang.


"Kita berduaan saja di sini, dengan perasaan yang sudah saling terbuka. Aku takut kita melanggar batas Mas dan itu tidak boleh terjadi. Di sini pasti banyak setan Mas" ungkap Ratna.


Wildan pura - pura melihat sekeliling apartementnya seperti sedang mencari sesuatu.


"Dimana ada setannya?" goda Wildan.


"Maaaas udah ah aku pulang ya" ucap Ratna sambil berlari menjauh. Ratna segera berjalan menuju pintu keluar apartementnya Wildan.


Wildan hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu calon istrinya malam ini.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2