
Siang harinya setelah selesai bawa adik - adik Ratna bermain mereka pulang ke rumah Ratna. Ratna dan Wildan duduk santai di ruang keluarga rumah Ratna bersama Ibunya.
"Bu sore nanti kami pulang ya" ucap Ratna.
"Iya, kalian hati - hati ya" sambut Bu Ramlan.
Bu Ramlan melirik ke arah Wildan yang sedang sibuk melihat ponselnya.
"Nak Wildan ada yang ingin Ibu tanyakan pada kamu" ucap Bu Ramlan.
Wildan menghentikan aktivitasnya. Dia langsung menatap wajah calon mertuanya dengan serius.
"Ibu mau tanya apa?" tanya Wildan.
"Mengenai hubungan kalian. Apakah orang tua kamu sudah mengetahuinya?" tanya Bu Ramlan khawatir.
"Sudah, Papa dan Mama saya sudah tau. Mereka sudah mengenal Ratna. Ratna kan bekerja di perusahaan keluarga saya Bu" jawab Wildan.
"Apa mereka setuju?" tanya Bu Ramlan.
"Mereka setuju bahkan Mama saya sudah dekat banget sama Ratna. Mereka sudah masak bareng di rumah orang tua saya" jawab Wildan sambil tersenyum ramah.
"Ta.. tapi mungkin karena mereka belum mengetahui keadaan keluarga kami Nak" ujar Bu Ramlan cemas.
Wildan menarik nafas panjang.
"Papa dan Mama saya tidak pernah memandang seseorang dari derajatnya Bu. Semua manusia itu sama, orang tua saya juga dulunya mulai dari bawah kok. Bukan sukses dari lahir. Semua berkat kerja keras, jadi mereka sangat menghargai kehidupan orang lain. Apalagi mereka mengenal Ratna adalah wanita baik - baik, santun dan pekerja keras. Mereka pasti akan berpikir Ratna bisa mempunyai sifat seperti itu karena didikan dari keluarganya" sahut Wildan bijak.
"Tapi kalau orang tua kamu tau kebiasan buruk Bapak, apa mereka akan setuju punya besan pemabuk?" tanya Bu Ramlan.
Wildan menarik nafas panjang.
"Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya dengan Bapak. Saya juga pernah punya masa lalu yang buruk Bu. Dan saya berubah karena bertemu Ratna. Sekarang saya tanya Ibu, apakah Ibu bisa menerima menantu seperti yang punya masa lalu buruk seperti saya? Kehidupan di Jakarta jauh lebih keras Bu dari Kota kecil seperti Pati ini. Saya dulu juga sering ke diskotik, minum, mabuk dan main perempuan" ungkap Wildan.
Bu Ramlan menatap wajah Wildan dengan seksama. Jujur dia sangat terkejut mendengar pengakuan Wildan seperti ini. Ada perasaan tidak percaya karena apa yang dia lihat saat ini tidak mencerminkan pribadi buruk seperti yang Wildan katakan tadi.
"I.. Ibu tidak percaya" jawab Bu Ramlan.
Bu Ramlan menatap wajah Ratna dan Ratna mengangguk pelan. Bu Ramlan kembali menatap mata Wildan, ada keseriusan disana. Dan Bu Ramlan dapat melihat kalau Wildan adalah pria baik dan dia juga bisa merasakan perhatian dan cinta Wildan yang begitu besar kepada putrinya.
"Ibu tetap akan menerima kamu, seburuk apapun masa lalu kamu. Tapi apakah kamu mempunyai anak dari hubungan masa lalu kamu?" tanya Bu Ratna.
Wildan menggelengkan kepalanya.
"Untuk satu itu aku memang sangat menjaganya Bu. Dan aku juga sudah sangat lama meninggalkannya. Mungkin sudah hampir satu tahun ini" jawab Wildan.
__ADS_1
"Setiap manusia pasti punya kesalahan Nak Wildan. Apapun itu asal kita mau memperbaikinya" ucap Bu Ramlan.
Wildan tersenyum mendengar jawaban Bu Ramlan.
"InsyaAllah seperti itulah pemikiran orang tua saya Bu. Mudah - mudahan setelah Bapak pulang nanti Bapak benar - benar sudah sembuh jadi saat bertemu dua keluarga Bapak tidak merasa malu lagi" ujar Wildan.
"Aamiin" jawab Bu Ramlan.
"Nanti saat Bapak sudah pulang kita harus terus memberikan semangat kepadanya agar dia tidak kembali ke jalan yang dulu. Pasti Bapak malu Bu ketemu sama para tetangga di sini" sahut Ratna.
"Iya, tak apa pelan - pelan. Awal - awal mungkin iya tapi nanti lama kelamaan omongan tetangga pasti berhenti. Sudah anggap angin lalu saja. Nanti kalau Bapak punya kegiatan di sini, Bapak gak akan punya kesempatan dan banyak waktu lagi untuk mendengarkan omongan orang lain" sambut Bu Ramlan.
"Mudah - mudahan Bu" sambut Ratna.
Wildan melirik jam tangannya. Ratna melirik Wildan, dia mengerti bahwa sudah tiba saatnya mereka pulang.
"Kita pulang Mas?" tanya Ratna.
"Iya,biar gak terlalu malam sampai Jakarta" jawab Wildan.
"Kalau begitu kami pulang ya Bu" ucap Ratna pamit.
"Iya Nduk, kamu baik - baik ya di sana. Wil Ibu titip Ratna, hati - hati ya di jalan" balas Bu Ramlan.
Ketiga adik Ratna keluar dari kamar mereka. Ratna dan Wildan berpamitan pada seluruh keluarga Ratna.
"Makasih ya Mas udah ajak kita jalan - jalan. Sering - sering datang lagi ya Mas" ucap Rafika.
"Oke Fika" jawab Wildan.
"Oooh jadi Mas Wildan aja nih yang di suruh sering - sering datang?" tanya Ratna menyindir adiknya sambil bercanda.
"Ya pasti sama Mbak donk, mana mungkin Mas Wildan datang sendiri. Gak seru donk, ya gak Mas" potong Riska.
"Iya donk" sahut Wildan cepat.
"Retno jaga Ibu dan adik - adik ya. Saat ini kamu yang jadi anak paling besar di rumah ini. Bapak tidak ada di rumah dan kalian semua perempuan" perintah Ratna.
"Siap Mbak" sahut Retno.
Mereka saling berpelukan perpisahan. Lalu Ratna dan Wildan masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju Hotel untuk mengambil barang - barang Wildan. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Mereka sampai di Jakarta sekitar jam dua belas malam. Untung saja apartement mereka letaknya bersebelahan jadi Wildan gak perlu jauh - jauh untuk mengantarkan Ratna pulang.
Wildan membawa koper Ratna sampai ke apartementnya.
__ADS_1
"Makasih ya Mas atas semuanya" ucap Ratna.
Dia tau Wildan pasti capek banget menyetir mobil sendiri ke kampung halamannya. Tapi Wildan tetap tersenyum manis kepadanya.
Ratna semakin tak bisa mengelak dari cinta Wildan yang begitu besar. Bahkan dia takut tidak bisa mengimbangi atau membalas cinta Wildan dengan besar yang sama.
"Jangan pernah berkata seperti itu Rat. Dalam cinta kita akan melakukan apapun dengan ikhlas kepada orang yang kita cintai" sambut Wildan.
Ratna diam.
"Uh coba kalau kamu sudah halal untukku. Pasti malam ini aku akan meminta kamu memijat tubuhku. Rasanya pegal sekali" ucap Wildan dengan wajah letih.
Ratna jadi kasihan melihatnya.
"Besok pijat ke panti pijat aja Mas sekalian sauna biar segar" sahut Ratna.
"Boleh juga tuh, besok tolong kamu lihat jadwal kosong aku ya. Dan tolong pesankan satu kamar untukku" pinta Wildan.
"Baik" jawab Ratna.
"Ya sudah aku balik ya, semakin lama aku di sini rasanya kakiku semakin berat melangkah keluar dari sini. Sepertinya apartement kamu seram banget malam ini" gumam Wildan.
Ratna menatap Wildan dengan tatapan takut.
"Seram gimana Mas?" tanya Ratna khawatir.
"Iya banyak setannya. Dari tadi bisik - bisik di telingaku. Kamu tau gak apa yang mereka katakan?" goda Wildan.
Ratna semakin ketakutan.
"Apa Mas?" tanyanya lagi.
"Cium.. cium.. cium.. " bisik Wildan di telinga Ratna.
"Aaaaaa... Mas Wildaaaan" teriak Ratna.
Wildan langsung bergegas keluar apartement Ratna sebelum tangan Ratna dengan suksesnya memukul dadanya.
Bukannya Wildan takut karena sakit tapi takut kalau dia malah menarik tubuh Ratna dan memeluknya. Setelah itu bisa gawat dan tak terkendali. Lebih baik mencegah dari pada menjalani untuk saat ini.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1