
Ratna berjalan menuju halte Bus. Dia melenggang dengan santai tanpa beban. Satu masalah sudah teratasi, dia sudah mendapatkan pekerjaan itu artinya di bisa tetap membayar cicilan hutang keluarganya kepada Wildan.
Ratna menganggap semua yang telah Wildan berikan untuk keluarganya adalah hutang. Maka dia harus membayarnya, walau dengan waktu yang lama dia akan menyicilnya.
Tanpa Ratna ketahui ada mobil yang dari kejauhan mengikutinya. Wildan sengaja menjaga jarak agar Ratna tidak curiga dan lari. Sepuluh menit menunggu akhirnya Bus yang Ratna tunggu datang.
Ratna naik ke atas bus dan duduk di kursi yang kosong. Wildan tetap mengikuti kemana bus itu pergi. Walau saat ini hubungan sedang istirahat tapi Wildan harus memastikan dimana Ratna tinggal. Apakah tempat itu aman dan nyaman untuk ditinggali Ratna.
Satu jam kemudian Ratna berhenti di halte bus yang terdekat dari kos barunya. Dia berjalan menuju rumah makan yang sekarang sudah menjadi langganannya.
Ratna sengaja membeli dua nasi bungkus untuk dia makan siang dan malam nanti. Hingga akhirnya Ratna masuk ke gang sempit.
Wildan segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Lalu berjalan mengikuti Ratna. Untung saja di mobilnya ada topi yang sering dia pakai kalau sedang bermain golf. Dia bisa menyamarkan penampilannya.
Ratna juga tidak menyangka Wildan sedang mengikutinya jadi dia berjalan dengan santai tanpa memperhatikan sekelilingnya. Hingga akhirnya dia sampai di kos - kosan yang baru saja dia tempati kemarin.
Ratna membuka pintu pagar dan masuk ke dalamnya. Wildan menarik nafas panjang sambil menatap kepergian Ratna hingga tubuh gadis itu hilang dibalik pintu pagar.
"Disini rupanya kamu tinggal. Tak apalah, tempat ini masih lebih nyaman dari pada kos - kosan kamu dan Cinta dulu waktu kuliah. Kamu yang sabar ya Rat, aku akan menyelesaikan masalah kita secepatnya. Kemudian aku akan menjemput kamu di sini" gumam Wildan.
Wildan balik badan dan kembali ke mobilnya. Dia sudah merasa sedikit lebih tenang karena sudah tau dimana Ratna tinggal dan juga tempat Ratna bekerja.
Sebelum kembali ke kantor Wildan singgah ke sebuah Restoran. Setelah memastikan semuanya aman untuk saat ini baru Wildan merasa lapar. Dia memesan makan siangnya dan dia hanya makan sendiri.
Tiba - tiba Wildan terkejut mendengar ada orang yang menyapanya.
"Apa enaknya makan sendirian?" tanya seorang wanita.
Wildan terkejut dan melirik ke arah pemilik suara. Alangkah terkejutnya Wildan ketika melihat siapa yang menyapanya.
"Kenapa kamu begitu terkejutnya melihat aku?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Mengapa kamu masih ada di sini?" tanya Wildan.
"Aku masih kangen pada kamu" jawab wanita itu sambil merangkul mesra lengan Wildan.
Tapi Wildan langsung melepaskan lengannya dari cengkraman wanita sok manja itu.
"Tapi sayang aku merasa sebaliknya" jawab Wildan.
"Kamu tidak akan bisa menggodanya lagi Bella, dia sudah cinta mati pada sekretarisnya" ucap seorang wanita lagi yang datang belakangan.
Wildan semakin terkejut melihat siapa wanita kedua.
"Wildan dan sekretarisnya?" tanya Bella.
"Ya dia dengan wanita kampungan itu" jawab perempuan kedua.
"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Bella.
"Cih aku lucu melihat kalian. Yang satu tamatan luar negeri dan satu lagi bekerja dan tinggal di luar negeri tapi kalian masih percaya sama yang namanya dukun?" tanya Wildan sambil tersenyum mengejek.
"Di Indonesia aku masih percaya banyak yang begituan. Pasti gadis kampung itu masih melakukan hal itu sampai kamu bisa menolak kami yang jauh lebih cantik dari dia" jawab Rania.
"Aku tidak hanya mencari kecantikan luarnya saja tapi aku mencari wanita yang cantik hati dan tingkah lakunya. Bisa menjaga akhlak dan kesuciannya hanya untuk suaminya saja" ujar Wildan.
"Hahaha kamu jangan tergoda dengan tampilan wanita lugu seperti itu Wil. Kamu gak tau saja dibelakang kamu dia sudah jadi simpanan pria hidung belang lainnya" sahut Bela.
"Ratna bukan wanita seperti itu. Aku sudah mengenal dia lama dan juga keluarganya. Aku tau dia bukan wanita seperti itu" bela Wildan.
"Lihat saja, cepat atau lambat kamu akan melihat belangnya wanita itu. Jangan sampai kamu kecewa lalu patah hati seperti aku meninggalkan kamu dulu Wil. Padahal aku serius ingin kembali pada kamu dan kalau kamu meminta aku untuk menetap kembali di Indonesia aku akan melakukannya" ungkap Bella.
"Hahaha.. semua sudah terlambat. Mungkin jika kamu kembali satu tahun yang lalu bisa jadi hal itu terjadi. Tapi tujuan hidupku sudah berbeda. Aku bukan Wildan yang kamu kenal dulu. Aku yang sekarang hanya ingin mencari ketenangan hidup dan rumah untuk aku kembali. Rumah dimana ada istri dan anak - anakku yang akan menantikan kepulanganku setiap sore setelah aku lelah bekerja. Aku yakin diantara kalian pasti tidak akan bisa seperti itu, karena kalian wanita yang menganut paham kebebasan. Jadi jangan pernah berharap padaku lagi. Karena tujuan hidup kita sudah berbeda" tegas Wildan.
__ADS_1
Untung saja Wildan sudah selesai makan jadi dia bisa segera meninggalkan restoran itu secepatnya.
Wildan memanggil pelayan dan membayar semua makanannya.
"Sekalian bayar tagihan teman lama saya. Sudah lama saya tidak mentraktir mereka makan" ucap Wildan.
Pelayan segera menghitung makanan dari meja Wildan dan meja Rania dan Bella. Wildan tidak mau tau apa hubungan kedua wanita itu sehingga mereka bisa berada di restoran ini bersama - sama.
Setelah semua selesai di hitung Wildan segera membayarnya dan pergi meninggalkan Rania dan Bella yang menatap kepergian Wildan.
"Apa benar yang kamu katakan tadi?" tanya Bella pada Rania.
"Ya tentu saja" jawab Rania.
"Pantas saja sikap mereka terlihat aneh saat aku datang ke kantor Wildan. Gadis itu buru - buru pergi melihat keakraban aku dengan Wildan. Aku yakin dia pasti cemburu dan mungkin saat ini mereka bertengkar makanya Wildan makan siang sendiri" ujar Bella penuh percaya diri.
Wildan masuk ke dalam mobilnya dan langsung meninggalkan restoran itu. Dia tidak ingin berlama - lama disana dan bertemu dengan dua wanita yang akan mempersulit masalah dia dengan Ratna.
Menghindar lebih baik bukan berarti takut tapi untuk menjaga hati Ratna agar tidak semakin membencinya.
"Akh... sial, kenapa tadi aku berhenti dan makan di sini. Lebih baik tadi aku culik Ratna dan makan berdua dengannya dari pada bertemu dua wanita iblis seperti mereka" umpat Wildan kesal.
Wildan langsung melajukan mobilnya kembali ke kantornya. Dia sedang menunggu laporan dari bagian HRD kantornya tentang informasi pegawai di anak perusahaan mereka yang ada di Semarang.
.
.
BERSAMBUNG
Hai guys jangan panas ya... tunggu kelanjutan cerita ini. Pasti akan semakin seru dengan berbagai permasalahan hidup Cinta, Melodi, Wildan dan Ratna.
__ADS_1
Jangan lupa komentar, hadiah, like dan votenya ya. Aku tunggu.. terimakasih 😍