
Seminggu berlalu Ratna sudah kembali ke Jakarta. Wildan dan orang tuanya hanya dua hari saja liburan di Pati, setelah itu mereka kembali ke Jakarta.
Bu Raharjo membawa oleh - oleh yang banyak dari Pati untuk dia bawa ke Jakarta. Dia membelinya bersama Ibunya Ratna, keliling kota Pati dan Semarang.
Ratna sudah resmi resign dari PT. Jaya Bersama dan kembali bekerja di PT. Raharjo Group sebagai sekretaris Wildan. Mereka juga disibukkan dengan persiapan pesta pernikahan.
Ratna sudah kembali tinggal kembali di apartement Melodi yang berada di samping apartement Wildan. Seperti semula Ratna kembali memasak makan malam setiap hari untuk mereka.
Gedung tempat acara pernikahan Ratna dan Wildan dilangsungkan sudah ditetapkan. Mereka sudah menghubungi WO dan juga MUA yang mengurus semuanya.
Ratna dan Wildan juga sudah memasang pakaian pengantin. Sesuai janji Melodi, dia akan memberi hadiah paket honeymoon untuk sahabatnya dan juga sahabat istrinya itu.
Undangan juga sudah di cetak, kini tinggal mencari cincin nikah dan mahar pernikahan. Sore ini rencananya Wildan dan Ratna akan mencarinya sepulang dari kantor.
Kini mereka sudah berada di salah satu Mall terbesar di Jakarta. Wildan dan Ratna sedang mencari sesuatu yang Ratna inginkan untuk mahar pernikahannya.
Karena mahar itu sebenarnya sesuai dengan permintaan calon pengantin wanita tapi tentu saja sesuai dengan kemampuan calon pengantin pria.
Bahkan Rasulullah pernah mengatakan sebaik - baiknya wanita adalah yang paling ringan maharnya. Itu artinya si wanita ridho dan tidak ingin memberarkan calon imamnya.
"Kamu mau mahar apa Rat?" tanya Wildan.
"Aku cuma ingin seperangkat alat shalat" jawab Ratna.
"Yakin cuma itu saja?" tanya Wildan.
"Kok cuma Mas? Memang bagi Mas pasti itu sangat murah. Mas sangat - sangat sanggup untuk membelikan aku bukan hanya satu, sepuluh mukena juga Mas sanggup belikan untukku. Tapi ingat maknanya Mas. Mukena itu dipakai untuk shalat. Shalat adalah tiang agama. Saat kita menikah Mas adalah imam aku dalam hidup ini untuk menuju jalan yang telah Allah tentukan untuk kita. Mas harus jadi pria yang benar - benar bisa membimbingku menjadi istri yang solehah. Karena sejak ijab kabul diucapkan tanggung jawab Bapak berpindah ke tangan Mas" jawab Ratna.
Wildan terdiam sejenak.
"Iya aku tau Rat. Tanggung jawab itu sangat berat apalagi kamu tau kalau aku masih dalam proses pembenahan diri. Tapi aku tidak akan mundur apalagi mengaku kalah. Aku akan berusaha menjadi imam kamu yang baik, jadi suami soleh. Tapi kamu juga tolong bantu aku ya" sambut Wildan.
Ratna tersenyum manis kepada Wildan.
"Tentu saja Mas, kita bersama - sama meraih ridho Allah" jawab Ratna.
Wildan dan Ratna sudah sampai di sebuah toko pakaian Muslimah.
"Ada jual mukena gak di sini?" tanya Wildan.
"Ada Pak, maunya warna apa?" tanya pelayanan toko.
Wildan melirik ke arah Ratna.
"Putih Mbak" jawab Ratna.
"Untuk nikahan ya Mbak?" tanya wanita itu.
Ratna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya" jawab Ratna.
"Tunggu sebentar ya" sahut wanita itu.
__ADS_1
Pelayan toko tersebut segera mencari mukena yang sesuai dengan permintaan Ratna dan Wildan. Tak lama kemudian dia datang lagi dengan membawa mukena yang pas untuk acara pernikahan.
"Cantik sekali Mbak" ucap Ratna sambil memegang mukena yang diperlihatkan kepada mereka.
"Kamu suka?" tanya Wildan.
"Suka Mas" angguk Ratna.
"Ya sudah Mbak yang ini ya" pinta Wildan.
"Harganya berapa?" tanya Ratna.
"Sudah jangan tanya harga, berapapun harganya asalkan kamu suka akan aku beli" potong Wildan.
Wildan mengeluarkan kartu ATMnya dan memberikannya kepada pelayan toko.
"Sekalian sama sajadah dan perlengkapan shalat lainnya ya" pint Wildan.
"Iya Pak, mau kami rangkai sekalian Pak?" ucap wanita itu memberi penawaran.
"Boleh - boleh" sambut Wildan.
Sekitar tiga puluh menit mukena sudah selesai dirangkai dan dihias dengan cantik. Wildan membayar semuanya dan mereka keluar dari toko tersebut.
"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Wildan.
"Tidak ada Mas" jawab Ratna.
"Eh iya kita harus cari cincin nikah" ucap Wildan.
"Lho kenapa begitu? Aku rasa semua wanita pecinta emas berlian Rat. Kamu malah menolaknya?" tanya Wildan bingung.
"Pria gak boleh pakai emas Mas. Pilih perak saja" jawab Ratna.
"Oh karena itu. Gampang itu, yuk kita ke toko emas" ajak Wildan.
Mereka berjalan ke toko emas dan memilih cincin pernikahan.
"Saya mau lihat cincin pernikahan" pinta Wildan.
"Baik Pak, tunggu sebentar" jawab pelayan toko.
Pelayan toko memilihkam cincin pernikahan terbaik di toko tersebut.
"Ini terbuat dari apa?" tanya Wildan.
"Emas Pak" jawab pelayan tersebut.
"Bisa tidak yang untuk cowoknya saya pinta dibuat dari perak?" pinta Wildan.
"Kapan pernikahan akan berlangsung Pak?" tanya pelayan tersebut.
"Tiga minggu lagi" jawab Wildan.
__ADS_1
"Bisa Pak, nanti akan kita tempah terlebih dahulu" ujar pria itu.
"Kamu mau yang mana cincinnya?" tanya Wildan dengan penuh kelembutan pada Ratna.
Ratna tampak sedang memilih - milih hingga akhirnya pilihannya jatuh pada sepasang cincin yang simple tapi terlihat sangat mewah. Wildan tersenyum melihat pilihan Ratna karena di dalam hatinya juga memilih yang sama.
"Yang ini" ujar Ratna.
"Tolong yang ini ya" pinta Wildan.
"Baik akan kami buat notanya sekarang ya Pak. Cincin bisa diambil dua minggu lagi dari sekarang" sahut pria yang ada di depan mereka.
"Okey" sambut Wildan.
Wildan membayar cincin pernikahan mereka sedangkan Ratna sedang asik melihat - lihat yang lainnya.
"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Wildan.
"Tidak ada Mas" jawab Ratna sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa, pilihlah yang kamu suka" ujar Wildan.
Ratna tersenyum lembut.
"Aku cuma menginginkan cincin itu saja" jawab Ratna.
"Itu yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan. Ayo pilih yang lain yang kamu suka" perintah Wildan.
Wildan menghampiri pria pelayan toko tadi.
"Tolong carikan seperangkat perhiasan untuk calon istri saya" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab pria itu.
"Wah.. wah.. wah.. benar kan yang aku katakan? Ternyata kalian memang benar - benar mempunyai hubungan. Aku dengar kamu mau menikah dengan wanita kampung ini beberapa minggu kedepan?" tanya Rania.
Ratna terkejut ketika melihat ternyata Rania ada di hadapan mereka.
"Kalau iya emang kenapa? Kamu kan sudah punya pasangan juga. Kamu kira aku gak tau kalau kamu balikan sama mantan kamu si Bule itu?" jawab Wildan.
Rania malu seketika tapi dia tidak mau terlihat kalah.
"Lebih mending bule dari pada gadis kampung" jawab Rania membela diri.
"Lebih mending gadis kampung original dari pada wanita sok modern tapi bekas orang" sahut Wildan tak mau kalah.
"Mas udah yuk, lebih baik kita pergi" ajak Ratna.
"Iya, sebaiknya kita memang harus pergi. Ngapain juga ngeladenin orang yang gak penting seperti dia" Wildan dan Ratna berjalan meninggalkan Rania.
"Cih sombong banget lu, belum tau aja lu kalau cewek kampungan seperti itu munafik" umpat Rania kesal.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG