
Pagi - pagi Ratna sudah dapat pesan dari atasannya kalau hari ini mereka ada pertemuan dengan klien baru. Ratna sebagai asisten pribadi harus ikut menemani Bosnya.
Setelah shalat subuh Ratna langsung bersiap - siap untuk berangkat ke kantor. Dia hanya sempat sarapan sereal untuk mengisi perutnya.
Jam enam pagi Ratna sudah keluar dari kosnya dan berjalan menuju halte bus. Untung saja busnya cepat sampai. Dia segera naik bus jurusan kantornya.
Jam setengah delapan Ratna sudah sampai di kantor. Untung saja dia cepat pergi tadi, kalau tidak bisa telat sampai kantor.
Ratna langsung menemui atasannya Jaya Atmaja.
"Pagi Pak" ucap Ratna saat masuk ke ruangan CEO.
"Eh Ratna syukur kamu sudah datang. Coba kamu susun semua bahan - bahan meeting kita" perintah Jaya.
Ratna dengan sigap langsung melaksanakan perintah atasannya. Karena dia baru tiga hari bekerja di perusahaan ini jadi memang Ratna masih dalam tahap belajar.
Untung saja Jaya tipe atasan yang sabar dan baik. Sehingga Ratna tidak merasa terbebani dengan pekerjaan barunya.
"Yuk kita ke ruangan rapat" ajak Jaya.
"Ta.. tapi saya belum ada persiapan Pak" jawab Ratna jujur.
"Sudah.. tidak ada waktu untuk belajar lagi. Kamu cukup diam dan dengarkan pembicaraan saya dengan rekanan perusahaan kita. Lama kelamaan kamu akan mengerti isi rapat nanti" ujar Jaya.
"Baik Pak" sambut Ratna.
"Kamu bawa berkasnya semua ya, yuk kita ke ruangan rapat" ajak Jaya.
Ratna berjalan dibelakang Jaya menuju ruangan rapat. Mereka sengaja mengambil tempat duduk lebih dahulu. Karena tamu mereka belum tiba di kantor mereka.
Tepat jam delapan pagi tamu mereka sudah sampai di ruangan meeting. Alangkah terkejutnya Ratna saat melihat siapa klien rapat mereka.
Kok bisa Mas Wildan. Seingatku Mas Wildan tidak ada jalin kerja sama dengan Perusahaan ini? Tanya Ratna dalam hati.
"Selamat pagi Jaya" sapa Wildan ramah.
"Pagi Wil, apa kabar? Lama tak bertemu. Terakhir kita ketemu saat dimalam pertunangan kamu yang batal beberapa bulan yang lalu" sambut Jaya.
__ADS_1
"Ah itu hanya perjodohan orang tua saja" jawab Wildan tersenyum.
Wildan melirik Ratna dan hanya memunculkan kepalanya sedikit memberi hormat.
"Karyawan baru?" tanya Wildan pada Jaya pura - pura tidak kenal
"Ah iya, ini Ratna asisten pribadiku yang baru. Dia baru tiga hari bekerja di Perusahaan ini" jawab Jaya juga berpura-pura.
Ratna menelan salivanya. Dia tidak mengangka Wildan akan bersikap seperti tidak saling kenal. Mungkin karena terlalu gugup sehingga Ratna tidak merasa aneh dengan sikap Jaya.
Bukankah pada saat interview Jaya sudah melihat pengalaman kerja Ratna sebelumnya. Dia kan mantan sekretaris Wildan sebelum bekerja di perusahaannya.
Tapi Ratna tidak ingat akan hal itu. Saat ini dia hanya fokus pada sikap Wildan yang terlihat acuh dan cuek padanya. Hatinya rasanya sakit.
Mengapa aku harus bersedih? Bukankah ini yang terbaik diantara kami? Pura - pura tidak saling kenal. Yah harus bersikap profesional. Ucap Ratna dalam hati.
"Silahkan duduk Wil" ucap Jaya.
Wildan duduk tepat di hadapan Jaya dengan membawa beberapa proposal di tangannya.
"Aku ingin menawarkan kerjasama dengan perusahaan kamu. Anak perusahaanku di Semarang sedang mengembangkan sayap. Aku dengar kamu akan membangun kantor cabang di sana? Bagaimana kalau proyek pembangunannya di kelola oleh anak perusahaanku? Ketepatan aku punya Direktur baru yang sangat bagus dan bertanggung jawab. Aku bisa rekomendasikan beliau untuk pembangunan kentor cabang kamu" ucap Wildan memberi penawaran.
"Waaah boleh juga tuh. Kalau kamu yang rekomendasi sudah tentu pasti bagus orangnya" sambut Jaya.
"Iya dia dulu mantan pengawas proyek dua puluh tahun yang lalu. Tapi karena ada suatu masalah beliau keluar. Tapi aku baru mengajak beliau kembali bergabung di perusahaan kami karena aku melihat bakat juga keahliannya yang sangat bagus untuk memimpin anak Perusahaan kami yang di Semarang" lanjut Wildan.
"Asisten aku ini juga berasal dari sana juga lho. Tapi lebih tepatnya dimana Rat?" tanya Jaya.
"Pa.. Pati Pak" jawab Ratna sigap.
"Oh Pati ya, gak jauh dari Semarang sekitar dua setengah atau tiga jam dari Semarang" sambut Wildan ramah.
Ratna tampak tegang sekali dengan keadaan saat ini. Dia tidak bisa konsentrasi mendengarkan pembicaraan Wildan dan Jaya atasannya.
"Ini proposalnya kamu bisa pelajari. Aku kasih penawaran yang menguntungkan untuk Perusahaan kamu" ujar Wildan.
"Oleh akan aku pelajari. Apalagi Ratna asli orang Semarang, aku rasa akan dengan mudah dia pelajari denah lokasi juga survey lapangan" sambut Jaya.
__ADS_1
Ratna hanya bisa tersenyum tipis. Dia bingung apa yang sedang dibicarakan dua laki - laki ini. Dia benar - benar tidak bisa fokus. Tubuhnya ada di sini tapi pikirannya entah dimana.
Setelah satu jam berlalu. Rapat mereka akhirnya selesai. Jaya dan Wildan mendapat kesempatan bahwa mereka akan melakukan kerjasama. Setelah itu Jaya mengajak Wildan ngobrol santai di ruangan kerjanya. Kini Wildan sudah duduk di sofa dalam ruangan Jaya.
"Terimakasih Jay, kamu sudah membantu aku" ucap Wildan tulus.
"Sama - sama Wil, tapi mengapa kamu tidak bicara langsung dengan Ratna. Malah memilih untuk pura - pura gak kenal" tanya Jaya.
"Aku ingin buat kejutan untuknya. Dia pasti nanti akan sangat senang sekali" jawab Wildan sambil tersenyum bahagia.
"Heran, katanya cinta masak gak kangen" goda Jaya.
"Banget Jay, tapi tidak apa. Masalah akan membuat kami lebih dewasa dalam menjalin hubungan ini. Rasa rindu akan menunjukkan seberapa besar cinta kami. Aku akan bersabar sampai hari itu tiba. Lagian biar dia aku titip di sini beberapa hari lagi, hitung - hitung nambah pengalaman untuknya" sambut Wildan.
Jaya hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap rekan bisnisnya ini ternyata sudah banyak berubah. Dulu Jaya mengenal Wildan dan Melodi sebagai pria yang sangat dekat dengan banyak wanita. Begitu juga dengan para wanita yang selalu mengejarnya.
Tapi kini Wildan tampak berbeda, lebih sabar dan dewasa. Mungkin usia yang membuat mereka jadi seperti itu. Jaya bersyukur Wildan dan Melodi kini hidup lebih baik sekarang.
"Senin depan tugaskan Ratna ke Semarang ya Jay biar dia bertemu dengan Bapaknya di sana. Dia pasti terkejut melihat Bapaknya lah yang menjadi Direktur di anak Perusahaanku yang di Semarang" pinta Wildan.
"Apa Ratna belum mengetahuinya?" tanya Jaya ingin tahu.
Wildan tersenyum tipis.
"Semua masih rahasia, aku meminta keluarga Ratna merahasiakan semua ini. Biarlah ini jadi kejutan indah untuknya. Seminggu ini dia sudah sangat banyak menangis dan bersedih. Aku akan menebusnya dengan senyum kebahagiaan dari wajahnya. Dia sangat mencintai keluarganya karena itulah aku sangat mencintainya" ungkap Wildan.
"Oke aku akan bantu kamu, hari senin aku suruh dia berangkat ke Semarang dengan penerbangan pertama. Biar nanti dari Bandara dia langsung berangkat menuju anak perusahaan kamu" sambut Jaya.
.
.
BERSAMBUNG
Hai guys bagaimana weekend kalian? pasti seru ya ditemani oleh Senandung Cinta Melodi. Semoga novel ini bisa menghibur dan mengisi waktu libur kalian.
Happy weekend 🥰🥰
__ADS_1