
Setelah melewati drama panjang akhirnya Bu Raharjo dan Rania selesai memasak. Rania gagal membersihkan ikan karena sampai Bu Raharjo selesai shalat tidak ada seekor ikan pun yang berhasil Rania bersihkan.
Akhirnya Bu Raharjo menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengerjakan tugas Rania karena waktu makan malam sudah semakin dekat. Bu Raharjo menyiapkan semua bahan - bahan untuk memasak.
Jam setengah delapan malam mereka berempat sudah duduk di depan meja makan rumah Pak Raharjo. Rania sibuk mencium tangannya yang menurutnya masih bau amis ikan. Padahal sudah lebih sepuluh kali dia mencuci tangannya.
Wildan tersenyum melirik Rania. Baru pegang ikan udah jijik. Gimana nanti kalau udah nikah dan punya anak. Bersihin kotoran anak sendiri pun kamu nanti juga jijik. Huh.. Ibu apa seperti itu. Ucap Wildan kesal di dalam hati.
"Mmm enak banget masakan Mama" puji Wildan.
"Iya donk sayang, ini kan masakan kesukaan kamu. Nanti kalau kamu menikah suruh istri kamu setiap hari masak ikan seperti ini. Selain sehat gizinya juga banyak lho" sambut Bu Raharjo.
Rania langsung melirik Mama Wildan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"So pasti Ma, istriku nanti harus pintar masak seperti Mama. Masakin aku setiap hari karena mengurus suami kan ibadah" sahut Wildan.
Rania terlihat sangat kesulitan mengunyah makanannya. Pak Raharjo merasa kasihan melihat Rania yang sedang dikerjain istri dan anaknya.
"Gimana kabar Papa kamu?" tanya Pak Raharjo mengalihkan pembicaraan.
"Sehat Om, Papa baru pulang dari Singapura tadi pagi" jawab Rania.
"Hebat Papa kamu, sudah setua ini masih kuat mengurus perusahaannya" puji Pak Raharjo.
"Iya Om" jawab Rania singkat.
"Sebaiknya kamu mulai berpikir untuk menggantikan posisi Papa kamu Ran. Maaf ya bukan Tante tidak suka kamu bekerja membantu Wildan. Tapi kasihan lihat Papa kamu, mungkin dia ingin istirahat" potong Bu Raharjo.
"Iya Tante sedang saya persiapkan, saya bekerja bersama Wildan ehm maksud saya Pak Wildan kan sekalian belajar" sahut Rania.
"Gak apa - apa, kalau di luar kantor panggil aja Wildan" sambung Bu Raharjo.
"Baiklah Ran kalau kamu ingin belajar, mulai besok aku akan mengajak kamu mengurus beberapa proyek kita di kantor. Aku yakin kamu pasti akan dapat ilmu yang banyak tentang bagaimana menjalankan sebuah Perusahaan" ajak Wildan.
"Baik Wil, aku sangat senang sekali kalau kamu mau mengajakku" sambut Rania senang.
Akhirnya mereka selesai makan malam bersama. Rania dan Wildan pamit pulang.
"Ma, Pa, aku pulang ya ke apartement" ujar Wildan.
"Sama Om, Tante aku juga mau pulang ke rumah" sambut Rania yang terlihat sudah kelelahan.
__ADS_1
"Baiklah kalian hati - hati ya di jalan" ujar Pak Raharjo.
"Makasih ya Ran udah mau temani Tante masak tadi. Sering - sering ya mampir ke sini, kita bisa masak bareng. Nanti kamu akan Tante ajari masak makanan yang Wildan sukai" sambut Bu Raharjo tersenyum penuh arti.
"Eh iya Tante, kapan - kapan aku akan datang lagi" jawab Rania.
Iiiih mikir lagi deh kalau mau datang ke sini. Mending makan diluar aja gak perlu repot masak - masak lagi. Batin Rania.
Wildan dan Rania mencium tangan Pak Raharjo beserta istrinya lalu berpamitan pulang. Sebelum masuk ke mobil masing - masing Wildan sempat mengingatkan Rania akan sesuatu.
"Eh Ran aku lupa. Cuma mau ingatin, besok sebaiknya kamu pakai celana panjang. Jangan pakai rok mini gitu, nanti susah gerak. Besok kita akan terjun kelapangan langsung memantau perkembangan proyek" ucap Wildan mengingatkan.
"I.. iya Wil" sahut Rania.
Aduh males banget harus kelapangan, pasti panas. Sayang donk kulit dan wajahku yang sudah perawatan harus gosong kena sinar matahari. Batin Rania dalam hati.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil masing - masing dan pulang.
Esok harinya Wildan dan Ratna kembali seperti biasa, pergi ke kantor bareng.
"Rat nanti sampai kantor tolong kamu siapkan berkas lapangan proyek XX ya. Hari ini aku akan ditemani Rania untuk memantau perkembangan proyek" pinta Wildan sambil dia sibuk mengemudikan mobilnya.
"Baik Pak" jawab Ratna.
Setelah sampai di kantor Wildan sangat terkejut melihat penampilan Rania. Rania masih tetap memakai pakaian yang biasa dia pakai. Memakai rok pendeknya.
Wildan menatapnya dengan tatapan dingin dan kesal.
"Bukannya tadi malam aku sudah ingatkan kamu untuk mengganti pakaian kamu hari ini?" tanya Wildan geram.
"Maaf Wil eh Pak.. aku lupa" jawab Rania.
Rania baru saja memanggil nama Pak Wildan. Benar ternyata mereka sudah sangat akrab. Batin Ratna semakin kecewa.
"Ya sudah kalau begitu nikmatilah pekerjaan kita nanti, sebaiknya kamu bersiap. Sebentar lagi kita akan pergi untuk memantau proyek di lapangan. Ratna kamu jaga kantor dan siapkan bahan meeting besok" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Ratna.
Wildan berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya meninggalkan dua sekretarisnya. Dia langsung duduk di meja kerjanya untuk memeriksa beberapa pekerjaan sebalum dia pergi kelapangan bersama Rania.
Wildan tersenyum tipis mengingat tingkah Rania tadi.
__ADS_1
"Aku yakin Ran kamu pasti akan menyesal tidak mengikuti perintahku. Bisa - bisanya kamu memakai rok pendek untuk kelapangan. Kamu mau berkerja atau ingin merayuku. Kamu salah, aku bukan tipe pria yang bisa dengan mudah di rayu seperti itu. Itu sudah aku lalui dulu dan aku sudah bosan akan hal itu" gumam Wildan.
Satu jam kemudian Wildan dan Rania sudah berangkat menuju proyek. Disana mereka bertemu Melodi karena proyek kali ini adalah proyek kerjasama dengan Sanjaya Corp.
"Bagimana kabar Cinta?" tanya Wildan saat bertemu Melodi.
"Alhamdulillah semakin membaik. Kamu bagimana perkembangannya dengan Ratna? Dan mengapa selera kamu kembali keselera dulu? Dulu kamu selalu menasehati aku agar mau menerima Cinta?" tanya Melodi penasaran.
"Hei tipeku sudah lama berubah. Dia bukan tipeku" protes Wildan.
"Lalu ngapain kamu ajak wanita seperti itu kesini. Lihatlah dia tidak tau menempatkan busanannya?" tanya Melodi.
Mereka melihat Rania sibuk mencari tempat berlindung dari teriknya matahari. Rania juga menggosok - gosok kulitnya yang kepanasan terbakar panasnya matahari.
"Aku sudah mengingatkannya tadi malam tapi dia tidak mendengarkan ucapanku" ujar Wildan kesal.
Melodi menatap tak percaya kepada Wildan.
"Waaaow kamu bekerja sampai malam dengannya. Lembut atau iseng aja bro?" goda Melodi.
"Dia anak Om Beno temannya Papa pemilik PT. Benosari. Katanya dia bekerja di perusahaan Papaku untuk mencari ilmu makanya aku bawa di ke sini" jawab Wildan.
Melodi melirik Wildan dengan tatapan curiga. Dia sudah lama berteman dengan Wildan dan juga mengenal keluarga Wildan dengan sangat baik.
"Jangan bilang kalian akan dijodohkan?" tebak Melodi.
"Begitulah awalnya, tapi tadi malam aku sudah jelaskan pada Papa bahwa bukan wanita seperti dia yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku. Akhirnya Papa bisa menerima tapi Papa meminta jangan aku yang menolaknya biar dari pihak mereka saja yang membatalkan perjodohan ini. Makanya aku mau kasih pelajaran pada gadis itu agar dia kapok dekatku apalagi bermimpi ingin jadi istriku" ungkap Wildan.
"Kalau tentang itu semua itu memang keahlian kamu. Lihatlah wajahnya sudah sangat kesal. Aku yakin tidak akan lama lagi dia akan menyerah" sambut Melodi dengan senyum sinisnya.
Benar saja tebakannya, Melodi sudah sangat mengenal tipe wanita seperti Rania. Dulu dia selalu bermain - main dengan wanita seperti ini.
"Pak Wil, aku tunggu di mobil aja ya. Di sini sangat panas sekali" pinta Rania.
"Tugas kamu kan menemani aku di sini Rania, bisa - bisanya kamu yang jadi Bos menunggu aku di mobil. Lagian tujuan kamu bekerja kan mau mendapatkan ilmu? Kalau kamu hanya ngadem di mobil, ilmu apa yang bisa kamu dapatkan?" tanya Wildan dengan tatapan dingin.
Dengan kesal Rania kembali ke posisinya semula berlindung dibawah pohon yang tidak begitu rindang.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG