
"Ka.. kamu gak bercanda kan Yu? Kamu tau kan masa lalu aku seperti apa?" tanya Rania terkejut.
"Ya aku tau, karena beritanya sangat viral saat itu. Pertunangan kamu batal dengan Pak Wildan karena kamu ketahuan selingkuh dengan pria bule di hotel. Dan kabarnya bule tersebut adalah pacar kamu dulu di luar negeri. Di sana kalian hidup bebas seperti suami istri" jawab Wahyu.
Rania tertunduk malu, apa yang Wahyu katakan benar adanya. Itulah dosa - dosa dia di masa lalu.
"Benar Yu. Kalau kamu sudah mengetahuinya mengapa kamu masih menawarkan kesepakatan kepadaku?" tanya Rania dengan mata mulai berkaca - kaca.
"Aku sadar Rania tidak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan, termasuk aku. Aku juga pernah punya salah dan dosa. Dan menurut aku setiap orang punya kesempatan untuk berubah dan memperbaiki hidupnya. Aku mendengar pembicaraan kamu sejak awal dengan Ratna saat itu. Kamu bingung dan takut tidak akan mendapatkan pendamping hidup yang bisa menerima masa lalu kamu hingga sampai kamu rela menjadi istri kedua. Saat itu aku memang marah pada kamu karena aku menganggap kamu ingin merusak rumah tangga Ratna. Tapi aku terus berpikir dan mencoba untuk menyelamatkan kamu dari sebuah kesalahan lain karena keputusan kamu itu. Hanya saja aku tidak bisa menawarkan kemewahan pada kamu. Aku bukan Pak Wildan yang memiliki jabatan juga harta kekayaan. Aku hanya karyawan biasa di Perusahaan Sanjaya Corp. Aku tidak punya rumah mewah seperti dia, aku hanya bisa menawarkan pada kamu rumah kecil dah sederhana untuk tempat kita tinggal. Aku juga tidak punya mobil mewah seperti dia, aku hanya punya mobil butut yang menyelamatkan aku dari hujan dan panas. Aku hanya bisa menawarkan sebuah hubungan yang didasari oleh keinginan untuk beribadah kepada Allah. Menikah menggenapkan separuh agama" jawab Wahyu.
Air mata Rania mengalir deras.
Ya Allah apakah secepat ini KAU kabulkan doaku? Apakah aku pantas bersanding dengan pria yang berhati bersih seperti dia? tanya Rania dalam hati.
Wahyu langsung panik melihat Rania menangis. Dia melihat kesekeliling mereka, takut kalau - kalau dikira telah melakukan sesuatu yang buruk pada Rania makanya Rania menangis.
"Mengapa kamu menangis Rania? Jangan menangis di sini nanti orang - orang berpikir aku sudah melakukan kejahatan kepada kamu" ucap Wahyu panik.
Sontak tangis Rania semakin pecah.
Ya Allah sepolos inikah pria ini sehingga dia berpikir aku menangis karena dia telah menyakitiku. Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Apa aku langsung saja menerima tawaran darinya? tanya Rania dalam hati.
"Aku mohon Rania berhentilah menangis. Kalau kamu tidak setuju dengan tawaran aku katakan saja jangan malah menangis. Aku takut timbul fitnah" pinta Wahyu.
Dua tahun setelah Ratna menikah Wahyu memang semakin menjaga sikapnya dan menata hatinya. Dia juga ingin berubah menjadi pria baik agar mendapat istri sebaik Ratna.
Saat melihat Rania kemarin dia sempat kagum melihat perubahan wujud Rania yang kini sudah memakai hijab. Tapi seketika kekagumannya hilang berganti amarah setelah mendengar pembicaraan Ratna dengan Rania.
__ADS_1
Dia juga sempat marah pada Rania tapi setelah pulang dia kembali memikirkan apa yang Rania pikirkan sehingga dia senekat itu memilih menjadi istri kedua dari pria yang sama sekali tidak mencintainya.
Hingga sebuah kesimpulan terbit dalam hatinya. Rania membutuhkan sosok pria yang bisa membimbing dia untuk hidup lebih baik. Seperti yang Rania katakan, kalau Rania takut tidak akan ada pria baik - baik yang mau menerima dirinya dengan masa lalunya dulu.
Saat itu timbul rasa iba dan ingin melindungi juga membimbing Rania jadi wanita yang lebih baik. Beberapa minggu ini Wahyu mencoba mencari tahu kehidupan Rania. Ternyata Rania memang sudah berubah.
Lalu saat shalat maghrib tadi Wahyu melihat Rania turun dari mobilnya sendirian dengan mata bengkak habis menangis. Entah apa yang sedang dia alami tadi.
Lalu setelah shalat maghrib tadi diam - diam Wahyu juga mengintip Rania yang sedang berdoa dengan penuh air mata. Rasa ibanya kembali muncul dan entah mengapa ide ini muncul begitu saja di kepalanya.
Entah keberanian dari mana sehingga dia berani melamar seorang wanita kaya seorang CEO di sebuah perusahaan yang dulu sempat menjadi salah satu anak perusahaan PT. Raharjo Group.
Tapi Wahyu punya niat yang baik, dia bukan ingin mengambil keuntungan dari pernikahan ini. Jika Rania mau hidup sederhana dengan dia dan meninggalkan semua yang Rania punya, tidak masalah bagi Wahyu. Dia akan menerima Rania dengan senang hati dan akan menjadi pemimpin yang baik untuk Rania.
"Aku menangis karena sedih sekaligus bahagia. Aku sedih karena aku dilamar seorang pria di warung pinggir jalan. Lebih baik tadi kamu melamar aku di Mesjid" Tanpa sadar Rania memukul bahu Wahyu.
"Aku bahagia karena ada seorang pria yang mau menerima aku dengan segala kekuranganku tanpa gombal dan janji - janji manis. Tapi aku tidak bisa menjawab tawaran kamu itu sekarang. Kalau kamu memang serius padaku. Datang ke rumah orangtuaku besok dan lamar aku langsung kepada kedua orang tuaku" jawab Rania.
Wahyu menelan salivanya.
"Apakah orang tua kamu mau menerima pria seperti aku?" tanya Wahyu.
"Kalau kamu memang serius dengan kata - kata kamu tadi buktikan besok. Kamu harus bisa meyakinkan orang tuaku untuk menerima kamu sebagai calon suamiku" jawab Rania.
"Ba.. baik Rania. InsyaAllah besok aku akan datang ke rumah orang tua kamu. Kamu berikan dimana alamat rumah kamu. Besok habis Isya aku akan datang ke rumah kamu" tegas Wahyu.
Pelan - pelan tangis Rania reda dan dia sudah bisa tersenyum tipis. Kini hatinya terasa sedikit lega. Sepertinya Wahyu memang serius dengan ucapannya. Tapi biarlah besok lebih pasti lagi. Rania tidak mau berharap lebih.
__ADS_1
Penjualan kaki lima datang membawa makanan yang dipesan Wahyu tadi.
"Silahkan di makan Mbak, Mas" ucap pria itu.
Kemudian pria itu memberikan satu plastik tisu.
"Ini tisu untuk mengusap ait mata si Mbaknya. Kalau bertengkar selesaikan secara baik - baik. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya" pesan pria itu.
Rania langsung menutup mulutnya untuk menahan tawa. Ternyata apa yang Wahyu khawatirkan tadi benar. Orang - orang menduga kalau mereka sedang bertengkar makanya Rania menangis.
"Kami tidak sedang bertengkar Pak. Saya menangis karena bahagia" jawab Rania sambil tersenyum.
"Oooh begitu. Itulah yang saya bingungkan dari wanita mengapa mereka selalu menyelesaikan masalah dengan menangis? Tapi yang lebih aneh lagi setelah menangis mereka bisa mendapatkan jawaban dari semua permasalahan yang mereka hadapi. Hebatnya lagi setelah menangis mereka bisa langsung tersenyum bahagia seperti Mbak saat ini" ucap Pria itu bingung.
"Sama Pak, saya juga sama bingungnya dengan Bapak. Ternyata setelah dia menangis saya juga mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya padanya tadi" sambut Wahyu tak kalah bingung.
Dua pria itu saling pandang mencari jawaban dari kata - kata mereka barusan.
"Itu karena wanita ingin dimengerti" jawab Rania tersenyum bahagia.
Kini dia bisa bernafas lega dan berani menatap masa depan dengan senyum bahagia.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1