Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 167


__ADS_3

Ratna masuk ke dalam apartementnya. Begitu membuka pintu dia langsung bersandar di pintu. Tangannya meraba dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang.


"Aaaaaaaaaaaaakkk" teriak Ratna untuk melegakan dadanya.


"Alhamdulillah ya Allah akhirnya doa - doaku KAU dengar" gumam Ratna.


Ratna mengangkat tangannya dan memperhatikan bentuk gelang yang Wildan pasangkan tadi di tangannya. Dengan penuh perasaan Ratna membelai lembut bagian hati yang tertulis namanya dan nama Wildan.


Senyum Ratna dari tadi tak pernah pudar dari wajahnya. Dia sangat senang sekali malam ini. Ratna berjalan ke kamarnya dan langsung berdiri di depan cermin.


Dipandanginya wajahnya di depan kaca, Ratna masih merasa ini bagaikan mimpi. Berulang kali dia memegangi pipinya dengan kedua tangannya.


"Ya Allah benarkah ini nyata?" ucap Ratna.


Ratna langsung melompat ke atas tempat tidur dengan riang gembira.


"Yuhuuuuu... aku dilamaaaaar" pekiknya.


Ratna berguling - guling di kamarnya. Tiba - tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Ratna langsung meraih ponselnya dan melihat pesan masuk lalu membacanya.


Wildan


Jangan lupa bersih - bersih dulu sebelum tidur dan jangan tidur larut malam. Selamat tidur calon makmum ku.


"Aaaaaaa so sweet banget Mas Wildan" pekik Ratna girang.


Ratna langsung membalas pesan Wildan.


Ratna


Iya Mas ni lagi persiapan mau tidur.


Ratna langsung meletakkan ponselnya diatas nakas lalu bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan wajah dan tubuhnya.


Sebelum tidur Ratna shalat Isya dulu karena tadi habis maghrib mereka langsung berdandan dan pergi ke hotel. Dia belum sempat shalat Isya. Baru setelah itu Ratna kembali berbaring diatas tempat tidur sambil berkhayal dan mengingat - ingat kejadian tadi saat Wildan melamarnya.


"Ya Allah apakah restui lah niat baik kami ini dan lancarkan lah semuanya hingga sampai hari H. Aamiin" doa Ratna.


Setelah membaca doa tidur tak lama Ratna pun tertidur dalam mimpi indahnya.


Keesokan harinya Wildan dan Ratna sudah janjian untuk pergi ke rumah orang tua Wildan setelah sarapan pagi. Pagi - pagi sekali Ratna sudah membuat cake untuk dibawa ke rumah orang tua Wildan.


Wildan keluar dari kamarnya dengan baju kaos kerah.


"Heeeem.. wangi banget. Kamu masak apa?" tanya Wildan.


"Ini Mas aku baru coba resep baru. Tunggu ya sebentar lagi masak. Kamu cobain ya, kalau gak enak gak jadi deh dibawa" jawab Ratna.


"Dari wanginya aja aku yakin pasti enak" sahut Wildan.

__ADS_1


Ratna mengeluarkan cake dari open listrik yang ada di dapur apartement Wildan.


"Sabar ya masih panas" ucap Ratna.


Wildan tersenyum menatap wajah Ratna yang sedang serius memasak.


"Senangnya ya kalau nanti kita menikah, pasti akan seperti ini. Nanti anak - anak kita pasti udah gak sabar minta di potongin cake nya" ujar Wildan.


Ratna terdiam sesaat lalu melirik ke arah Wildan.


"Kenapa, kamu gak mau?" tanya Wildan.


"Maaas nanti aja hayalin masa depan ya. Selama ijab kabul belum terjadi, kita gak bisa pastikan kita berjodoh atau tidak" ucap Ratna.


"Lho emangnya kamu berencana ingin cari yang lain?" tanya Wildan.


"Bukan soal itu Mas. Umur rahasia Allah. Kalau aku atau kamu yang duluan di ambil nyawanya sama Allah artinya kita gak berjodoh" jawab Ratna.


"Serem banget Rat ngomong begitu. Ya sudah hari ini juga kita ke kampung orang tua kamu ajak Papa dan Mama. Sampai sana langsung ijab kabul" sambut Wildan.


Ratna hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Wildan. Ratna memotong cake menjadi beberapa potong. Dia meletakkan potongan kecil untuk Wildan.


"Heeemmm enyak Rat, enyak banget" puji Wildan.


"Alhamdulillah berarti percobaanku gak gagal. Ya sudah cake nya jadi deh dibawa" sahut Ratna.


Ratna langsung membawa wadah dan mengisinya dengan cake yang dia buat.


"Ya sudah kalau begitu yuk kita pergi" ajak Wildan.


Wildan dan Ratna berangkat menuju rumah orang tua Wildan. Ratna mulai cemas dan Wildan bisa merasakannya.


"Udah jangan cemas, Papa sudah tidak punya kandidat calon istri yang mau di jodohkan denganku. Lagian Papa sudah berjanji tidak akan melarang aku menikah dengan siapapun kalau perjodohan aku dengan Rania batal" ujar Wildan.


"Tapi kan tetap aja Mas kalau bertemu calon mertua pasti akan gugup. Apalagi diawal Papanya Mas gak setuju denganku" sahut Ratna.


"Kan ada Mama dan Papa pasti akan kalah dengan keinginan Papa. Seperti aku yang selalu mengalah pada keinginan kamu" goda Wildan sambil tersenyum.


"Apaan sih" balas Ratna.


Akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Wildan. Mama Wildan yang sudah mendapat kabar sebelumnya dari putranya langsung menyambut mereka dengan ceria.


"Selamat datang di rumah Tante sayang" sambut Bu Raharjo.


Ratna langsung mencium tangan Mamanya Wildan dan mereka saling berpelukan.


"Nih Ma" Wildan memberikan bungkusan yang berisikan cake yang Ratna buat tadi.


"Apa ini?" tanya Mama Wildan penasaran.

__ADS_1


"Cake buatan Ratna. Pagi - pagi dia udah masak lho Ma, khusus untuk Papa dan Mama" jawab Wildan.


"Terimakasih Ratna" ucap Bu Raharjo.


"Sama - sama Tante" balas Ratna.


"Ayo masuk, Papa sudah menunggu di taman belakang" ajak Mama Wildan.


Wildan tersenyum menatap Ratna untuk memberikan semangat agar Ratna tidak tegang. Mereka menyusul Mama Wildan masuk ke dalam rumah dan menghampiri Papa Wildan yang sedang sibuk mengurus tanaman kesayangannya.


"Pa" panggil Wildan.


Pak Raharjo menghentikan pekerjaannya dan menghampiri putranya.


Wildan memeluk Papanya. Ratna langsung ikut dibelakang Wildan ingin mencium tangan Pak Raharjo.


"Sudah - sudah, tanganku kotor" sambut Pak Raharjo.


"Bik.. Bibiiik tolong bawa beberapa piring kecil ke sini" pinta Mamanya Wildan.


Mereka duduk di teras belakang rumah Pak Raharjo.


"Pa Ratna masak cake lho. Nih lihat heeem wanginya enak banget Pa" ucap Bu Raharjo.


Ratna tampak tersenyum malu campur tegang.


"Papa cuci tangan dulu ya, tangan Papa kotor sekali" ucap Pak Raharjo.


Tak lama asisten rumah tangga Bu Raharjo datang membawa beberapa piring kecil dan sendok. Bu Raharjo langsung mengisi piring kecil dengan cake dan meletakkannya di atas meja.


Dengan tidak sabaran Bu Raharjo langsung menyicipi cake buatan Ratna.


"Enak Rat, Wildan benar. Cakenya enak banget. Pintar masak kamu" puji Bu Raharjo.


Pak Raharjo kembali ke tempat duduknya semula.


"Makan Pa, enak banget lho" ucap Bu Raharjo pada suaminya.


Pak Raharjo pun mulai memakan cake yang Ratna bawa. Raut wajahnya datar dan sulit ditebak. Ratna menunggu reaksi calon mertuanya dengan jantung berdebar.


Pak Raharjo menatap Wildan dan Ratna bergantian.


"Jadi kapan kita akan pergi ke rumah keluarga Ratna untuk melamarnya?" tanya Pak Raharjo.


Sontak Ratna terkejut mendengar pertanyaan Pak Raharjo. Dia sangat tidak menyangka pemilik PT. Raharjo Group akan bertanya to the point kepada dia dan Wildan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2