Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 191


__ADS_3

Usai shalat jumat mereka check out dari Hotel lalu singgah di salah satu restoran yang terkenal dengan kelezatan makananya di kota itu. Cinta tampak sangat antusias memesan makanan yang serba pedas.


"Yank kamu yakin mau makan ini?" tanya Melodi.


"Yakin donk Mas, air liur aku rasanya udah ngalir dari tadi" jawab Cinta.


"Udah Od penuhi aja, siapa tau istri kamu ngidam" sambar Wildan.


Melodi langsung membulatkan matanya dengan besar.


"Benarkah?" tanya Melodi.


"Aku belum jadwal datang bulan Mas, belum telat" jawab Cinta.


"Yaaah" sahut Melodi kecewa.


Giliran Wildan yang tertawa karena berhasil godain sahabatnya itu.


"Rat kamu kok semudah itu sih luluh sama bujuk rayu Mad Wildan? Kamu udah tau siapa Bela?" tanya Cinta penasaran.


Ratna menganggukkan kepalanya.


"Udah, Mas Wildan udah cerita padaku tadi pagi" jawab Ratna.


"Siapa Bela, kasih tau donk?" tanya Cinta.


"Kamu kenapa tanya aku? Emangnya Mas Melodi gak kasih tau kamu bocoran?" tanya Ratna.


"Mas? sejak kapan kamu berani panggil aku Mas?" tanya Melodi terkejut.


"Sejak saat ini Mas. Mas kan bukan bos aku lagi. Mas juga sahabat dari calon suami aku. Wajar kan kalau aku panggil Mas" jawab Ratna.


"Mantap Rat" Cinta mengacungkan kedua jempolnya ke arah Ratna.


Melodi mendekati Wildan.


"Sejak kapan calon istri kamu berani ngelunjak seperti ini?" tanya Melodi sambil berbisik.


Tapi bisikan Melodi masih bisa di dengar Cinta dan Ratna.


"Sejak aku kenal Bela Mas. Terimakasih Mas udah kasih bocoran siapa Bela itu. Sekarang aku sudah bertekad akan menjaga Mas Wildan dari godaan siapapun termasuk Bela" jawab Ratna.


Melodi dan Wildan saling pandang, mereka tidak menyangka Ratna akan bersikap seperti ini.


"Aku suka gaya kamu Rat" lagi - lagi Cinta mengacungkan kedua jempolnya.


"Aku kok merinding ya Od. Apa di restoran ini ada uka - uka ya? Kok dua wanita ini bisa seseram ini?" tanya Wildan.


"Mungkin setan di sini bernama Bela Wil. Mereka berubah setelah mendengar nama Bela" jawab Melodi.


Mereka berbicara sambil berbisik - bisik tapi tetap terdengar. Cinta dan Ratna saling kasih kode untuk bekerja sama mengerjain dua pria ini.


"Jadi siapa Bela Rat?" tanya Cinta.


"Mantan pacarnya Mas Wildan, katanya cinta pertamanya" jawab Ratna.


"Emangnya Mas Wildan aja yang punya cinta pertama? Ayo Rat mainkan. Cepat kamu kabari mantan pacar kamu, suruh dia datang ke sini? Kamu bilang mantan pacar kamu sekarang tinggal di Semarang kan?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Tenang Cin udah aku kabari kok. Mungkin sebentar lagi dia akan datang" jawab Ratna.


"Ka.. kamu pernah punya pacar? A.. aku kira aku adalah yang pertama" ujar Wildan kecewa.


"Kamu salah menduga Mas, aku tak selugu itu, slebew... " Ratna mencolek hidungnya sendiri sambil berkata jargon itu.


Wildan menelan salivanya, dia benar - benar tidak menyangka bahwa Ratna punya mantan pacar. Dia kira Ratna lugu dan tidak mengenal seorang pria selain dirinya sendiri.


"Walau tak sekaya kamu Mas tapi dia juga gak kalah tampan dan mantan aku lebih muda dan segar. Satu lagi kelebihannya aku juga yang pertama baginya" sambung Ratna.


"Waaah panas ya di dalam sini? Padahal AC udah dimana - mana" gumam Melodi.


Tak lama pelayanan datang membawa pesanan makanan mereka. Cinta dengan semangat mulai menikmati makanan yang dia pesan. Dengan penuh keringat, walau terasa sedikit pedas tapi dia memakannya tetap semangat.


Sampai Melodi penasaran gimana rasanya makanan yang Cinta pesan itu. Melodi mencobanya.


"Puih.. cuih.. pedas banget" Melodi langsung mengambil tisu dan membuang makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Kalau gak tahan pedas jangan di makan Mas" cegah Cinta.


"Aku pengen ngerasain habis kamu makannya begitu banget, kayaknya enak gimana gitu" ujar Melodi.


Cinta tersenyum menatap wajah suaminya yang udah merah banget karena menahan rasa pedas. Mereka akhirnya selesai makan.


"Yuk berangkat" ajak Wildan.


"Lho Rat, mantan pacar kamu gak jadi datang?" tanya Melodi.


Wajah Wildan sontak kesal.


"Diingatin lagi... " protes Wildan sambil berbisik kasih kode.


"Duh dia gak bisa datang rupanya Mas, tiba - tiba ada acara" jawab Ratna.


"Cowok gak jelas gitu di harapkan" gumam Wildan.


"Hahaha cemburu bilang bos" goda Cinta.


"Yuk yank, susah yang punya mantan. Mending kayak kita ya gak ada mantan - mantanan" oceh Melodi sambil menarik tangan istrinya keluar dari restoran.


"Mantan pacar gak ada, mantan selir banyak" sindir Widan.


"Itu dulu dan istri aku udah tau weeek bukan seperti kamu" ejek Melodi balik.


Ratna dan Cinta tersenyum tipis melihat tingkah laku dua pria itu. Akhirnya mereka keluar dari restoran dan kembali ke mobil.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Pati sekitar tiga jam dari Semarang. Ditengah perjalan mereka banyak singgah untuk membeli oleh - oleh untuk keluarga Ratna.


Sekitar jam lima sore akhirnya mereka sampai di kampung halaman Ratna. Tampak rumah orang tua Ratna memang sedang direnovasi.


Mereka disambut di ruko depan rumah Ratna yang tampan sudah rampung pembangunannya dan sudah cantik juga.


"Masuk.. masuk.. " panggil Ibunya Ratna saat melihat sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumahnya.


"Assalamu'alaikum" ucap Ratna dan Wildan.


Dibelakang mereka ada Cinta dan Melodi.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam" sambut Ibunya Ratna.


Ratna dan Wildan mencium tangan Ibunya Ratna.


"Bu kenalkan ini Mas Melodi suaminya Cinta" ucap Ratna.


"Eh iya Nak Melodi terimakasih ya dulu udah bantuin dan terima Ratna sebagai karyawannya" ucap Bu Ramlan ramah.


"Iya Bu sama - sama" balas Melodi santun.


Mereka saling berjabat tangan.


"Nak Cinta" ucap Bu Ramlan


"Ibu, akhirnya aku bisa sampai di sini" balas Cinta sambil memeluk erat tubuh Ibunya Ratna dengan penuh rasa hormat.


"Iya tapi maaf ya seadanya. Masih repot rumahnya masih di renovasi. Kita duduk di sini aja ya. Yuk silahkan duduk" ajak Bu Ramlan.


"Bapak mana Bu?" Tanya Wildan.


"Bapak lagi lihat proses pembangunan di belakang" jawab Bu Ramlan.


"Retno panggil Bapak nduk" perintah Ibunya Ratna.


"Ibu Bu sebentar" jawab Ratna dari belakang.


Tak lama Pak Ramlan muncul. Tampilannya kini lebih segar dan lebih sehat. Dia juga terlihat semakin gemuk dan tampan.


Setelah melihat wajah Pak Ramlan seperti ini baru terlihat Ratna dan adik - adiknya ternyata wajahnya lebih banyak ikut Bapaknya.


Pantas saja hidup Ratna seperti ini karena kata orang kalau anak perempuan wajahnya lebih mirip Bapaknya makanya hidupnya lebih bertuah atau lebih sukses.


Wildan langsung berdiri menyambut kedatangan Pak Ramlan di hadapan mereka.


"Assalamu'alaikum" ucap Pak Ramlan pada semua yang ada di sana.


"Wa'alaikumsalam Pak, gimana kabarnya?" jawab Wildan penuh rasa hormat.


Pak Ramlan langsung memeluk Wildan dengan penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah Nak Wildan Bapak semakin sehat semua berkat kamu" ujar Pak Ramlan.


"Ah Bapak jangan begitu, semua kan karena kerja keras Bapak" balas Wildan.


Pak Ramlan menjabat tangan mereka semua secara bergantian. Terakhir Pak Ramlan melihat wajah putri sulungnya lama. Ratna langsung memeluk erat tubuh Bapaknya untuk meluapkan rasa rindu.


"Bapaaaaak" ucap Ratna sambil terharu.


"Nduuuuk.. alhamdulillah Bapak sekarang sudah lebih baik" sambut Pak Ramlan.


Suasana menjadi harus, Ratna dan Pak Ramlan saling berpelukan erat sambil menangis. Mereka saling menyalurkan rasa rindu yang selama ini mereka pendam.


Akhirnya mereka bisa kembali akrab seperti dulu lagi. Sudah lama Ratna merindukan pelukan hangat Bapaknya seperti ini menyambut kedatangannya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2