
Silakan Dibaca.
Hutan pulau.
Boooom!
Ledakan kuat terjadi, kabut hitam membumbung tinggi menutupi tempat ledakan berada. Sanda, Rio, dan Siana berbalik dan melihat ledakan tersebut.
Mereka benar-benar tercengang melihat besarnya ledakan yang terjadi di area pertempuran Ryu melawan Ular Kebesaran.
“Bocah itu, akankah baik-baik saja?” Sanda bertanya pada Rio dan Siana. Ia sedikit khawatir akan keadaan Ryu yang berada di dalam ledakan tersebut.
“Walikota, kau sepertinya tidak tahu Ryu saja. Ia pasti akan selamat, meski ledakan sekuat nuklir pun.” Jawab Rio sambil tersenyum lebar memandang ke arah ledakan.
“Lebih baik, fokus terhadap deru angin yang akan datang ke arah kita. Ledakan itu kuat, angin pasti bergerak cepat ke arah kita.” Lanjut Rio, dengan ekspresi serius.
Sanda mengangguk, kemudian ia memandang ke arah depan dan melihat asap hitam mulai bergerak dengan cepat menuju ke seluruh arah.
“Datang.” Siana berkata tepat tanah bergetar hebat. Detik demi detik, getaran tanah semakin kuat dan semakin mengerikan.
Rio maju ke depan, ia kemudian menghentakkan kakinya dengan keras. Tanah di depannya naik membentuk dinding yang tebal dan kuat.
Angin kencang dengan cepat melanda ke arah mereka. Dinding menghalangi angin, membuat arah angin bertabrakan dengan angin lainnya.
Hal itu membuat angin berputar dan membentuk pusaran angin kecil menerpa ke arah pohon yang kokoh di belakang Sanda, Rio, dan Siana.
***
Di sisi Dinding Hutan Pulau.
Risa, Yuna menatap ke arah ledakan tersebut. Mereka yakin bahwa Ryu berada di sana dan dapat mengatasi hal itu. Mereka sudah sepenuhnya yakin terhadap Ryu tersebut.
Rock dan Emma memandang dengan tenang, sampai akhirnya mereka mendengar suara Helikopter tepat di belakang mereka.
Rock berbalik dan melihat Helikopter yang mendekat tersebut. Di sana terlihat berbagai Helikopter melayang menuju ke arah Hutan Pulau.
Helikopter tiba di atas dinding. Namun, Helikopter tidak turun. Melainkan, para prajurit mulai turun dan mendarat tepat di dinding pulau.
“Bocah, apakah benar informasi yang kamu temukan?” tanya seorang laki-laki yang baru saja datang, selepas terjun dari Helikopter.
Rock mendengar suara familiar tersebut, ia segera mengalihkan pandangan ke arah pria tersebut, begitu juga dengan yang lainnya.
“Kakek Roa.” Jawab para rombongan secara serempak kecuali Alice, karena ia sama sekali belum mengenal orang yang bernama Roa Adam.
“Bagaimana situasinya?” tanya Roa, ia mengangguk untuk menyapa mereka semuanya. Dirinya lebih fokus ke dalam situasi sekarang.
“Ryu melawan Ular Kebesaran itu. Kita di sini menunggu kabut hitam itu menghilang dari tempat, agar kami dapat mengetahui kondisi Ryu sepenuhnya.” Jawab Rock dengan jelas.
Roa mengangguk paham, ia kemudian memandang ke arah kabut hitam yang mulai menyebar ke seluruh pulau. Ia kemudian berteriak memerintahkan seluruh prajurit menyebar.
“Prajurit, menyebar kelilingi dinding pulau, Segera!” perintah Roa dengan tegas. Para prajurit bergerak efisien, mereka menghilang berubah menjadi bayangan.
__ADS_1
Risa dan Yuna sedikit terpana dengan kecepatan dari para pasukan tersebut. Alice sendiri terdiam, ia tidak menyangka bahwa pasukan tersebut sangatlah kuat.
Clara memandang ke arah Roa, ia kenal dengan Roa. Bagaimana ia tidak kenal, setiap beberapa hari Roa akan selalu datang ke rumah menemui suaminya.
Kembali ke Roa, ia memandang ke arah kabut hitam. Kemudian, beralih ke arah para rombongan. Ia sedikit terkejut ketika melihat ada Clara di dalam rombongan.
“Clara, kamu berada di sini? Juga, apakah tidak masalah dengan dirimu?” tanya Roa, bagaimanapun juga ia tahu akan keadaan Clara tersebut.
Clara melambaikan tangannya tanda tidak masalah. “Mungkin sebentar lagi akan sembuh, tergantung waktu.”
Roa paham, ia mengangguk kemudian menatap ke arah Risa dan Yuna. Keduanya juga menatap ke arah Roa.
“Kalian berdua istri yang sempurna untuk Ryu. Juga, jangan ikut terjun nanti. Kekuatan kalian belum cukup untuk bertarung.” Tegas Roa, kedua istri Ryu mengangguk.
Mereka berdua sudah sadar akan hal itu. Diam-diam keduanya mengepalkan tangannya, mereka sudah mengembangkan niat untuk menjadi kuat nantinya.
Roa menaikkan sudut mulutnya, kemudian ia memandang ke arah Alice. Ia mengerutkan keningnya, dan sebelum dirinya berkata, ledakan kembali terdengar.
Boom!
Seluruh orang di dinding menatap ke arah asal suara tersebut. Mereka melihat Ryu tengah bertarung dengan Ular Kebesaran yang berubah menjadi lebih besar dari sebelumnya.
***
Beberapa menit sebelumnya.
Kabut menipis, Ryu menatap ke arah Ular Kebesaran yang masih bernafas dengan kuat. Tampilannya kini sudah berubah dari Ular Kebesaran sebelumnya.
Desis~
Ryu terkejut, namun ia segera sadar ketika merasakan serangan Ekor Ular Kebesaran dari samping menuju ke arah dirinya dengan kecepatan sedang.
Ryu melompat ke belakang, ia menghindari serangan tersebut. Namun, saat Ekor menyentuh tanah ledakan besar terjadi kembali.
Boom!
Ryu terdorong mundur oleh gelombang angin ledakan tersebut. Debu tanah menutupi seluruh pandangannya, namun ia masih bisa merasakan persepsi miliknya.
Desis~
Ular Kebesaran menyerang Xiao Fan langsung dari depan, ia menggunakan ekornya untuk menyerang dengan kecepatan tinggi.
Ryu terlambat bereaksi, ia terkena serangan ekor tersebut. Namun, Ryu sudah berada di dalam posisi bertahan sejak awal.
Boom! Boom! Boom!
Ledakan demi ledakan terus terdengar, urat Ryu terlihat di keningnya. Matanya menyala, ia menangkis serangan ekor Ular Kebesaran tersebut.
Ryu mengepalkan kedua tangannya dan otot-otot miliknya berkontraksi dengan hebat, dua puluh kali otot ia gunakan dan penguatan tubuh ia gunakan sekaligus.
Boom! Boom! Boom!
__ADS_1
Ledakan amarah Ryu membuat Ular Kebesaran melebarkan matanya, ia merasakan bahwa ekornya benar-benar tidak seperti bentuk sebelumnya.
Shaaa!
Ular Kebesaran memundurkan ekornya, ia sendiri melesatkan dirinya ke arah Ryu. Namun, ekor yang ingin mundur di pegang erat oleh Ryu.
“Baji*ngan Ular!” raung marah Ryu, kemudian ia melemparkan Ular Kebesaran ke atas. Ia benar-benar tidak terima di pukuli seperti sebelumnya.
Ular Kebesaran terbang terus naik ke atas. Ryu menekuk kakinya dan melompat menuju ke atas langit menyusul Ular Kebesaran.
Sanda, Rio, dan Siana yang ingin membantu, perlahan-lahan mengubah wajahnya kembali. Ketiganya berbalik dan meraung dengan penuh amarah.
“Sial*an! Kembali ke dinding segera.” Raung Sanda, Rio dengan cepat memegang pundak Sanda dan Siana. Keduanya segera mengerti dan mereka menghilang dari tempat, kemudian muncul di atas dinding.
Para rombongan terkejut, akan kehadiran ketiganya. Clara, Rock, Emma, dan Roa sama sekali tidak terkejut, bagaimanapun juga mereka sudah tahu akan kehadiran ketiganya.
“Semuanya hati-hati dengan gelombang ledakan selanjutnya! Bocah Ryu itu ingin menghancurkan Ular dari atas!” Teriak Sanda.
Roa segera menjadi serius, begitu juga dengan Rock. Kemudian Roa meminta seluruh orang menyalakan pelindung dinding yang terpasang melingkari seluruh pulau.
Pelindung aktif seketika, pelindung transparan menutupi dinding besar tersebut. Sementara Hutan Pulau sendiri tidak perlu dilindungi karena, Hutan tersebut akan tumbuh kembali dalam sekejap.
***
Kembali di sisi Ryu, ia berada di puncak atas lompatannya. Sementara Ular Kebesaran tepat di bawahnya.
Ryu dengan cepat menambah dua puluh otot ke dalam kaki kanannya, lalu ia menggesek kaki kanannya sampai batas maksimal.
Kaki berubah menjadi merah gelap, kemudian Ryu menambahkan penguatan tubuh ke dalam kaki tersebut.
Kaki Ryu yang semula merah gelap, kini menjadi sedikit cerah dan api mulai menyelimuti kaki kanannya dengan kuat.
Ryu memandang ke arah Ular Kebesaran dengan penuh amarah, ia kemudian melesat terjun ke bawah dengan cepat sambil mengarahkan kaki kanannya tepat di bawah.
Ryu meluncur bagaikan meteor jatuh, cahaya begitu terang benar-benar indah dipandang. Namun, pepatah selalu mengatakan, setiap keindahan yang terlihat pasti akan mengandung bahaya yang tinggi.
Kaki Ryu mengenai tepat tubuh Ular Kebesaran, keduanya melesat cepat ke bawah dengan target jatuh ialah tengah-tengah Hutan Pulau berada.
Shaa!
Ular berteriak dengan kencang, ia benar-benar tidak berdaya sekarang. Kekuatannya runtuh dan ia akan mati ketika jatuh nantinya.
Ryu tak peduli, kemudian hanya butuh dua meter dari tanah dan akhirnya menyentuh tanah, kemudian ledakan keras terdengar dari seluruh penjuru Pulau.
Boooom!
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thank you Minna-san.