Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 141 - Rio Vs Kera Hitam


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Area hutan Sandar Foran...


Jarak antara kelompok Ryu dengan pasangan Rio masihlah relatif jauh. Rio dan Siana sendiri berhenti di kedalaman hutan sambil menunggu kelompok Ryu melintas.


Rio sendiri memberikan tanda di langit agar Ryu mengetahui lokasinya. Hal ini bertujuan agar Ryu tidak tersesat dan salah jalan untuk mencari dirinya.


Boom!


Asap merah lurus menuju ke langit, kemudian tiba di puncak langit, asap merah meledak menarik perhatian berbagai makhluk hidup lainnya.


Di sisi Ryu dan ketiga istrinya, melihat asap tersebut. Mereka segera menyadarinya dan Ryu menarik sudut mulutnya naik ke atas membentuk sebuah senyuman.


“Jadi mereka berdua berada di sana ... Kalau begitu, ayo kita bergerak menyusul mereka!” Ryu melangkah terlebih dahulu diikuti ketiga istrinya dengan cepat.


“Red, naiklah! Pantau asal asap merah itu!” Ryu memberikan perintah segera, hal ini karena dia menyadari bahwa asap tetaplah asap. Mereka akan cepat menghilang ketika diterpa oleh angin.


Meski angin relatif kecil, akan tetapi seiring berjalannya waktu. Asap akan menghilang dari pandangan mereka segera. Dengan mengandalkan Red melihat asal asap, mereka tidak akan kehilangan arah.


Red yang diberikan tugas memantau, dengan cepat bergerak naik ke atas. Matanya mengunci asal asap merah tersebut. Red sangatlah cerdas, selepas mengetahui tugasnya. Dia akhirnya mengerti tujuan dari tugas tersebut.


Red bergerak dengan lambat memberikan arah yang tepat kepada kelompok Ryu.


Melihat bahwa Red memahami tujuannya, Ryu tersenyum senang. Dia benar-benar bangga memiliki hewan peliharaan yang cerdas dan kuat.


“Riot, rasakan tanah apakah terdapat musuh yang mendekat ke arah kita!” Ryu memberikan perintah kepada Riot untuk menjadi pengingat adanya musuh yang mendekat nantinya.


Ryu memerintahkan Riot melakukan hal itu karena persepsi Riot lebih luas dan tajam dibandingkan dirinya. Ryu menyadari hal itu ketika melawan Riot. Langkah awal Riot dalam bertahan dapat dirasakan oleh Ryu.


Riot yang mendengar perintah Ryu segera mengangguk, persepsi miliknya semenjak awal masih aktif. Namun, kali ini dirinya mulai memperluas jarak persepsinya tersebut.


Kelompok Ryu dengan cepat berjalan menuju ke arah Rio dan Siana berada. Mereka tidak ingin membuat keduanya menunggu lama-lama.


Sementara itu, di sisi Rio dan Siana sendiri tengah bertatap muka dengan monster berotot keras dan memiliki ketinggian sepuluh meter.

__ADS_1


“Manusia, mengapa kalian memasuki wilayahku?” tanya monster itu dengan tatapan waspada dan berhati-hati. Bagaimanapun juga, intuisi hatinya mengatakan bahwa kedua manusia di depannya bukanlah manusia sembarangan.


“Kera hitam ... Apakah kamu teman dari raja kalajengking gurun?” tanya Rio sambil menatap dengan rumit. Baru saja dirinya menerima informasi tentang kera hitam, akan tetapi tidak menyangka bahwa monster itu berinisiatif mendatanginya langsung. Apakah ini sudah direncanakan atau memang kebetulan? Rio sangatlah bingung akan hal tersebut.


Kera hitam melebarkan matanya, dia jelas terkejut ketika mendengar pertanyaan manusia di depannya. Dirinya dengan cepat kembali sadar dan menatap manusia tersebut dengan tajam.


“Siapa dirimu? Bagaimana kau mengetahuinya?” tanya kera hitam, kewaspadaan dirinya naik dalam sekejap dan siap untuk bertempur dengan manusia di depannya itu.


Rio memandang ke arah Siana, kemudian dia paham bahwa dirinya benar melihat dari tindakan kera hitam.


“Jadi benar, kau adalah temannya ...” Belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya, kera hitam mengayunkan kepalan tangannya yang besar tersebut ke arahnya.


Booom!


Serangan kera hitam mengenai tanah di bawah Rio dan Siana. Sorot mata kera hitam menjadi dingin dan aura kehitaman muncul di tubuhnya.


“Aku tidak tahu siapa kamu, manusia. Namun karena kamu bermaksud menghalangi kami, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!” aura hitam melilit ke dalam tangannya dan kera hitam melesat ke arah Rio dan Siana.


Melihat kera hitam melesat, Rio menyeringai dan berjalan ke depan. “Tetaplah di belakang, Siana. Aku akan bermain dengan kera hitam ini, semenjak tadi aku sangatlah bosan tidak ada pertarungan sama sekali.”


Rio mengangguk tanda dia mengerti maksud dari istrinya. Kemudian Rio menyilangkan tangannya untuk menahan serangan dari kera hitam tersebut.


Bam!


Suara benturan teredam sangat dalam. Kera hitam menyusutkan matanya dan melihat bahwa lawannya sama sekali tidak bergerak. Hal ini membuat dirinya menyeringai tanda bahwa dirinya sangatlah senang.


“Baru kali ini ada yang bisa menahan seranganku, apalagi seorang manusia ... Ini sungguh menarik!” kata kera hitam tidak terlalu keras namun dapat terdengar oleh Rio.


Sinar cahaya melintas di mata Rio, kemudian dia menyeringai dan menjawab, “keluarkan kekuatanmu kera hitam!”


Mendengar perkataan Rio, kera hitam melompat mundur. Berikutnya dia melihat Rio melesat ke arahnya sambil mengepalkan tangannya. Kera hitam dapat melihat aura merah kehitaman melilit di lengan Rio, hal ini membuat dirinya terkejut.


Namun, selepas sadar dari rasa terkejutnya. Kera hitam mengepalkan tangannya dan aura hitam melilit di lengannya. Detik berikutnya, dia mengayunkan pukulan ke depan bertepatan dengan munculnya Rio.


Booom!

__ADS_1


Percikan listrik menyebar dan gelombang kejut besar menghempaskan pepohonan yang berada di sekitar serangan tersebut.


Tanah di bawah Rio dan Kera hitam kini hancur berubah menjadi cekungan kawah yang sangat luas.


Siana yang mengamati dari jauh hanya bisa menghela nafas tak berdaya sambil duduk menunggu kedatangan Ryu dan yang lainnya.


Boom! Boom! Boom!


Kera hitam mengayunkan kedua tangannya, begitu juga dengan Rio. Konfrontasi keduanya sangatlah kuat, bahkan langit perlahan-lahan mulai memunculkan awan hitam yang sangat tebal.


“Demi Sandar Foran, aku akan membunuhmu ... Manusia!” raung kera hitam, kemudian kecepatan pukulannya meningkat sehingga hanya terlihat siluet-siluet tangan melintas.


Rio tidak menjawab, dia juga meningkatkan kecepatannya sedikit untuk mengimbangi kecepatan dari pihak lawan tersebut.


Boom! Boom! Boom!


Ledakan terus-menerus terdengar, bahkan posisi mereka kini tidak berada di satu tempat saja. Mereka berdua bertarung dan berpindah dari tempat pertama ke tempat lain.


Beberapa menit kemudian...


Booom!


Ledakan keras terdengar, kera hitam dan Rio mundur kemudian saling memandang satu sama lain. Penampilan keduanya kini berbeda, kera hitam terengah-engah dan keringat muncul di keningnya. Rio sendiri sama sekali tidak lelah bahkan dirinya semakin bersemangat.


“Kera hitam, bagaimana? Apakah masih ada tenaga untuk memulai pertandingan?” tanya Rio sambil mematahkan jari-jarinya dengan tangan lainnya.


Krak Krak


Kera hitam menghitam meski tubuhnya hitam. Dia memandang ke arah Rio dengan tatapan berapi. “Kau meremehkanku manusia?”


Rio dan kera hitam mengeluarkan aura dominasi mereka dan tangan mereka berubah menjadi hitam. Keduanya melesat maju ke depan, selanjutnya tangan mereka berayun ke depan dengan keras.


Kedua serangan saling bertemu. Tanah di bawah keduanya perlahan-lahan retak dan mulai bergetar. Berikutnya ledakan keras terjadi tepat dua serangan bertemu.


Booom!

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2