Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 79 - Ryu Vs Sebastian 1


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Arena Pertandingan.


Robot yang memantau keseluruhan arena mulai berjalan ke arah tengah-tengah arena.


Para penonton yang sudah kembali dari urusan mereka masing-masing. Mulai duduk dan memperhatikan bahwa arena sudah siap dipakai dan sekarang lebih besar dari sebelumnya.


“Arenanya dua kali lebih besar dari sebelumnya.” Ucap Penonton A.


“Benar, lebih besar dari sebelumnya. Apakah karena final?” Tanya Penonton B.


“Kemungkinan besar, iya.” Jawab Penonton A.


Berbagai penonton mendiskusikan terkait final yang akan diselenggarakan beberapa menit berikutnya.


Mereka sangat antusias ketika mengingat bahwa yang akan bertanding ialah kuda hitam, Ryu. Melawan seorang mantan jendral angkatan darat, Sebastian Konma.


Dua bintang petarung yang sangat terkenal di Turnamen Jalanan, bagaimana pertarungan yang keduanya sembahkan nantinya.


Para penonton benar-benar tidak sabar untuk menantikan pertandingan, mereka semua menatap ke arah Robot yang sudah siap berada di posisi tengah.


***


Ruang tunggu Ryu.


Ryu setelah bertempur hebat dengan kedua istrinya, mulai meregangkan keseluruhan otot-ototnya. Pikiran kacau sebelumnya sudah menghilang, selepas melakukan pertempuran.


Risa dan Yuna tetap di kamar tidur, mereka mengaktifkan monitor di kamar tidur untuk melihat pertandingan Suaminya melawan mantan Jendral angkatan darat.


“Hati-hati, Sayang.” Ucap Risa, ia sedikit khawatir, namun ia yakin bahwa suaminya pasti akan memenangkan Turnamen Jalanan tersebut.


“Kami akan mendukung dari sini, Sayang.” Lanjut Yuna sambil tersenyum manis kepada suaminya.


Ryu yang mendapatkan perhatian dua istrinya, mengangguk dan tersenyum.


“Itu pasti, aku akan berangkat..” Ryu berjalan ke arah kedua istrinya dan mencium kening mereka. Kemudian, berjalan keluar dari ruangan.


Ryu belum menaikkan statusnya, ia akan menaikkan status di saat bertarung dengan Sebastian nantinya.


‘Intinya memenangkan pertandingan ini.’ Batin Ryu sambil berjalan memasuki lorong menuju ke Arena Pertandingan.


***


Ruang tunggu Sebastian.


Sebastian sendiri sudah selesai bermain dengan istrinya. Ia sekarang tengah meminum air putih satu botol besar.


“Sayang, waktunya final.” Kata Iriana dengan senyum menggoda.


“Yah, aku sudah siap.” Jawab Sebastian sambil melempar botol ke keranjang daur ulang.


“Aku akan pergi dulu, kita lanjutkan putaran ke-10 nanti di rumah.” Ucap Sebastian dengan nada ringan.


Iriana memerah, ia keluar kembali ketika melihat betapa menggodanya suaminya sekarang. Ia hanya membalas dengan anggukan ringan, karena sudah tak kuat menahan sesuatu.


Sebastian keluar dari ruangan, sekarang ia menatap ke arah lorong yang di mana ujungnya ialah arena pertandingan.


“Akan kuberi pelajaran kepadamu, Bocah Bau.”


***

__ADS_1


Arena Pertandingan.


“Pertandingan Final akan segera di mulai..”


“Diharapkan kedua peserta segera memasuki Arena Pertandingan.” Teriak Robot dengan nada datar.


Kemudian, seluruh penonton bersorak dengan heboh. Bagaimana tidak, final kali ini adalah dua orang yang mereka sangat sukai.


Tak lama kemudian, suara sorakan perlahan-lahan mereda ketika mendengar suara langkah kaki yang begitu membuat mereka merinding.


Langkah! Langkah!


Dua langkah yang saling menyaingi satu sama lain, terdengar oleh keseluruhan orang yang berada di Arena Pertandingan.


Langkah tersebut membuat para penonton menahan nafas mereka tinggi-tinggi, mereka benar-benar tertekan akan aura yang keluar bersamaan dengan langkah kaki.


Seluruh penonton merasa seakan-akan ditelan oleh kegelapan dan ditatap oleh binatang purba.


Namun, aura tersebut segera ditekan oleh keduanya ketika mereka berdua merasakan para penonton tercekik dan tidak kuat menahan nafas.


Para penonton segera terengah-engah ketika aura yang dikeluarkan kedua peserta sudah ditarik kembali.


“Hah.. Hah.. Sial, aura mereka berdua benar-benar mencekik.” Umpat Penonton A, ia sedikit kesal, namun benar-benar penasaran seperti apa pertarungan yang terjadi nantinya.


Para penonton lainnya juga mengumpat dengan kesal ketika merasakan aura kedua peserta itu. Namun, meski mengumpat, mereka benar-benar senang dan menantikan pertarungan besar.


Detik berikutnya, Ryu dan Sebastian keluar dari lorong. Para penonton bersorak dan berteriak-teriak memanggil nama keduanya.


“Ryu.”


“Ryu.”


“Sebastian.”


“Sebastian.”


Ryu dan Sebastian berjalan menaiki tangga dan tiba di Arena segera. Sosok yang mereka perhatikan adalah, Robot dan lawan di depannya masing-masing.


Keduanya berjalan menuju ke tengah Arena, wajah Sebastian selalu tenang tanpa ada rasa kebencian seperti sebelumnya.


Ryu juga tenang, namun di dalam hati, Ryu sangat waspada ketika melihat Sebastian di depannya.


Baginya, lawan sebelum-sebelumnya masih bisa dilawan, namun untuk orang tua di depannya itu.. Ryu tidak bisa memastikan kemenangan.


Namun, Ryu sendiri selalu percaya diri dan yakin akan kemampuannya sendiri.


‘Aku tidak bisa lengah, orang ini memiliki Level di atasku.’ Batin Ryu memandang ke arah Sebastian yang terlihat tenang dan damai.


Wasit memandang ke arah Ryu, kemudian beralih ke Sebastian, dan beralih kembali ke arah depannya.


“Kedua peserta apakah kalian berdua siap, untuk bertanding?” tanya Robot yang menjadi wasit.


“Ya.” Jawab Ryu dan Sebastian dengan sungguh-sungguh. Keduanya mulai saling menatap satu sama lain.


Wasit mengangkat tangan kanannya..


***


Ruang Monitor.


Sanda dan Roa memandang ke arah jalan masuknya Ryu dan Sebastian, mereka berdua memandang penuh minat ketika melihat bahwa Turnamen Jalanan sudah memasuki babak final.

__ADS_1


Rock dan Emma sendiri juga ikut menatap ke arah monitor, mereka benar-benar ingin melihat seperti apa pertandingan yang akan berlangsung.


“Kau tidak khawatir dengan cucumu?” tanya Sanda sambil menyesap anggur.


“Khawatir.. Sama sekali, tidak. Aku prediksi, ia bisa mengatasi Sebastian.” Jawab Roa dengan penuh keyakinan.


Sanda hanya menatap dalam diam, ia tidak menjawab untuk keyakinan teman lamanya itu. Sementara Rock dan Emma, terkejut.


Bagaimana tidak, mereka terkejut akan keyakinan Roa. Mereka benar-benar menghela nafas, untuk kepercayaan diri seorang kakek terhadap cucunya.


***


Arena Pertandingan.


Wasit yang masih mengangkat tangannya, kemudian berkata dengan suara keras.


“Pertandingan Final..”


“Ryu melawan Sebastian..”


Tangan Wasit yang masih di atas dengan cepat turun secara vertikal sambil berteriak keras.


“Dimulai..”


Ryu dan Sebastian saling memandang, detik berikutnya mereka menghilang tanpa jejak dan muncul di tengah-tengah.


Ryu mengepalkan tangannya dengan erat, otot-ototnya berkontraksi. Ia mengayunkan kepalan tangannya dengan cepat ke arah depan.


Sebastian juga mengepalkan tangannya, ototnya membengkak. Kemudian, ia mengayunkan kepalan tangannya ke arah Ryu dengan kuat.


Dua kepalan tangan saling berbenturan satu sama lain..


Boom!


Ledakan keras terjadi di antara kedua kepalan tangan tersebut. Debu bertebaran di mana-mana menutupi kedua peserta yang tengah bertanding.


Namun, detik berikutnya Ryu dan Sebastian terlihat mundur keluar dari debu yang masih berada tepat di tempat mereka beradu kepalan tangan sebelumnya.


Ryu memandang ke arah debu, ia bergeser ke kanan dengan cepat. Namun, ia melihat sosok hitam melintas di antara debu dan tiba di depannya.


“Tidak ada ruang untukmu kabur, Bocah!” raung Sebastian sambil mengangkat kakinya lurus secara vertikal di atas Ryu.


“Sial!” umpat Ryu ketika merasakan bahaya dari serangan Sebastian. Ia dengan cepat menyatukan kedua tangannya dan menahan serangan kaki dari Sebastian.


Namun, ketika Ryu mendengar suara Sebastian. Ia benar-benar langsung lengah seketika.


“Siapa yang memberitahu dirimu, bahwa aku akan menyerang dengan kakiku, Bocah?” tanya Sebastian sambil menyeringai.


Boom!


Ryu terkena pukulan Sebastian tepat perutnya, ia terbang dan jatuh di pinggiran arena. Ryu memegang perutnya dengan erat, rasa sakit yang begitu kuar benar-benar membuatnya sadar dalam sekejap.


“Sial!” umpat Ryu dan ia langsung berdiri dengan stabil memandang ke arah Sebastian yang berjalan ke arahnya.


‘Tenang, aku benar-benar terlalu banyak pikiran..’


To be Continued.


Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thank you Minna-san.


__ADS_2