Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 154 - Pertarungan Sengit


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Sandar Foran bergetar hebat, tanah perbatasan antara area padang pasir dan hutan perlahan-lahan mulai retak, lalu terbelah satu sama lain.


Riot selesai mengevakuasi seluruh monster yang berada di Sandar Foran. Mereka sekarang berada di lautan lepas dekat dengan pecahan pulau Sandar Foran.


Banyak monster menatap pulau tersebut dengan penuh emosi. Mereka tidak marah melainkan sedih, rumah yang menjadi tempat berteduh selama beberapa tahun alhasil hancur seketika.


Ryu yang berada di punggung Red jelas merasakan perasaan sedih para monster tersebut. Dia segera berdiri dan memandang ke arah seluruh monster di bawah.


Namun, sebelum mengucapkan sepatah katapun. Ryu memandang ke arah Siana terlebih dahulu, perempuan yang ditatap tersebut tersenyum dan mengangguk sambil mengeluarkan sebuah bola.


"Ambil ini!" Siana melemparkan ke arah Ryu, kemudian bola tersebut di tangkap oleh Ryu dengan tepat.


Ryu memandang bola tersebut dan paham bahwa bola itu adalah penunjuk jalan menuju ke suatu tempat. Ryu memandang kembali ke arah Siana.


"Terima kasih," ucap Ryu sambil tersenyum, kemudian memandang ke arah para monster. "Semuanya, pulau baru untuk kalian sudah kusiapkan!"


Teriakan Ryu terdengar oleh para monster. Hal ini membuat mereka memandang ke arah Ryu, kemudian berbalik menatap ke arah Riot untuk konfirmasi.


Riot mengangguk dan menjelaskan siapa Ryu tersebut. Para monster seketika terkejut mendengar bahwa Ryu adalah juru selamat mereka nantinya.


Dengan kehendak kuat seperti itu, para monster menyetujui pemindahan pulau. Meski mereka sedih, akan tetapi mereka segera senang dalam sekejap.


"Riot, kamu bimbing para monster menuju ke pulau tersebut. Ini adalah petunjuknya!"


Ryu menyerahkan bola penunjuk ke arah Riot. Hal ini segera diterima oleh Riot dengan senang hati. Selepas itu, dirinya segera menyelam dan mulai memimpin para monster menuju ke pulau baru.


Melihat kepergian monster, pandangan Ryu menyapu kembali ke arah pertandingan. Dia benar-benar terpana melihat Rio dan Obor saling bertarung satu sama lain.


Ryu tidak menyangka level dirinya dengan para master tersebut sangatlah jauh. Satu pukulan kuat menghancurkan pulau, sementara dirinya hanya dapat menghancurkan kota saja.


Kesenjangan kekuatan keduanya sangatlah jauh, hal ini membuat Ryu mengepalkan tangannya dan memandang penuh semangat ke arah pertempuran itu.


'Harus menjadi kuat!'


***


Boom! Boom!


Ledakan keras terus terjadi di mana-mana. Sandar Foran kini penuh akan lubang di berbagai tempat. Hutan yang semula hijau mulai terbakar satu persatu.

__ADS_1


Obor menarik tangan kanannya ke atas dan panas menyengat mulai terkumpul kuat-kuat di tangannya.


Rio acuh tak acuh melihat hal itu. Dia mulai mengepalkan tangannya dan melompat di tempat berkali-kali. Ketika dirinya berhenti melompat, Rio menekuk kedua lututnya dan melesat menuju ke udara.


Aliran listrik seketika menyelimuti tubuhnya membentuk armor biru pucat.


Obor yang melihat Rio mendekat, dia segera mengayunkan tangannya ke depan dan sinar laser merah bergegas menuju ke Rio. Kecepatannya setingkat dengan cahaya.


Sinar laser seketika bertemu dengan Rio, panas dan kuatnya listrik saling terjalin satu sama lain.


Boom!


Ledakan keras terjadi, pulau seketika diguncang kembali. Asap yang tebal di udara mulai menghilang, menampilkan Rio yang masih melesat menuju ke arah Obor.


Hal itu membuat Obor terkejut, dia segera sadar menyilangkan kedua tangannya. Rio mengayunkan pukulannya kuat-kuat ke arah Obor.


Booom!


Obor terpental keras ke bawah dan area gurun seketika terbelah menjadi dua bagian. Obor tenggelam di tengah-tengah terbelahnya area gurun tersebut.


Rio yang masih di udara memandang ke arah tengah-tengah area gurun. Selanjutnya, aliran listrik di sekujur tubuhnya semakin menguat. Rambut-rambutnya terangkat satu persatu.


Obor yang masih tenggelam di tengah area gurun, mulai membuka matanya lebar-lebar. Kini iris matanya berubah menjadi merah cerah.


Rio memandang jurang yang terletak di belahan area gurun. Jurang tersebut menyala warna merah dan perlahan-lahan mulai terlihat, magma naik ke atas diikuti dengan sosok monster dengan iris mata merah cerah.


Rio melesat dengan cepat ke arah monster tersebut. Dia sudah tahu bahwa Obor menggunakan kekuatan penuhnya, hal ini membuat Rio bersemangat.


Obor memandang ke arah Rio dengan penuh amarah, dia mengarahkan tangannya tepat di mana Rio berada.


Berbagai magma meletus naik ke atas bagaikan pilar kuat. Panas yang dihasilkan magma tersebut melebihi dari panas magma lainnya. Hal ini karena magma tersebut terbuat dari api matahari.


Rio menarik sudut mulutnya dan menghindari seluruh pilar magma tersebut, gerakannya lebih cepat dibandingkan Obor sendiri. Bagaimanapun juga, listrik memiliki kecepatan hampir menyamai cahaya.


Rio seketika tiba di depan Obor. Namun, panas kuat menyengat tubuhnya. Hal ini membuat Rio menjeda serangan sebentar.


Namun, Obor memanfaatkan penjedaan serangan itu. Dia melapisi lengannya dengan magma dan melayangkan pukulan ke arah Rio.


Melihat krisis bahaya yang menghampirinya, Rio menyilangkan kedua tangannya. Pukulan magma membuat Rio terkejut dan terpental ke gurun.


Boom!

__ADS_1


Rio menabrak gurun, kemudian dia berguling ke belakang dan berdiri dalam sekejap. Dia melihat lengan yang terkena pukulan, menghitam akibat panas yang kuat.


"Panas ini, benar-benar menyamai matahari!"


Kilatan cahaya melintas di mata Rio. Berikutnya, perasaan bahaya muncul di atasnya. Rio dengam cepat menghindar tiga puluh meter dari tempatnya tersebut.


Boom!


Magma berbenturan dengan pasir. Kemudian pasir tersebut berubah menjadi kaca dan pecah dalam sekejap karena tekanan panas Magma.


Rio segera menyalakan listriknya kembali dan melesat dengan cepat ke arah Obor. Kedua tangannya terkepal erat dan sifat listriknya menjadi lebih kuat, sehingga kepalan tangan berubah menjadi biru pucat sepenuhnya.


Muncul di depan Obor, Rio melayangkan pukulannya. Namun, Obor memiliki intuisi lebih tajam karena dirinya adalah monster terkuat di planet tersebut.


Obor mengayunkan pukulan magmanya. Dua pukulan berbeda kekuatan saling berbenturan satu sama lain.


Boom! Boom!


Tidak hanya satu dua, melainkan keduanya saling mengayunkan pukulan secara membabi-buta.


Ryu dan yang lainnya seketika menjauh sekitar 10 km. Namun, panas magma Obor benar-benar masih terasa. Hal ini membuat mereka berlima terpana.


"Panas yang kuat, apakah paman dapat mengalahkannya?" Ryu bertanya-tanya tentang situasi Rio.


"Tenang saja, Rio pasti dapat mengatasinya." Siana menjawab dengan lugas, baginya yang sudah bersama setiap hari, sangat paham.


Ryu menatap ke arah Siana sebentar, kemudian beralih memandang ke arah pertarungan terjadi. Sudut mulutnya naik ke atas membentuk senyuman.


"Benar juga, paman pasti akan baik-baik saja." Ryu berkata dengan nada keyakinan, sebelumnya dia melupakan bahwa pamannya tersebut ialah orang yang bertarung dengan ayahnya.


Sementara kekuatan ayahnya sendiri, menurut banyak orang adalah terkuat. Menyimpulkan fakta tersebut, Ryu tahu bahwa pamannya juga berada di tingkat luar planet.


***


Medan pertempuran benar-benar kacau, berbagai kaca pecah berserakan di mana-mana. Pasir menghitam di mana-mana, besi yang terkandung dalam pasir mulai keluar memperlihatkan diri mereka.


Rio berdiri dengan stabil dan tubuhnya penuh akan keringat akibat panas yang dihasilkan oleh Obor. Nafas Rio masihlah teratur, seolah-olah pertarungan tersebut tidaklah berat..


Sementara itu, nafas Obor sendiri sudah tidak beraturan. Iris matanya kembali menguning, tanda bahwa kekuatannya sudah terkuras banyak.


Rio tersenyum melihat hal itu, dia akhirnya berkata dengan nada tegas.

__ADS_1


"Mari selesaikan pertarungan kita dengan kekuatan penuh!"


To be Continued.


__ADS_2