Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 58 - Pengepungan


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Kota Arshna, Wilayah B.


Ryu mengarahkan mobil taksi milik Sanda menuju ke Gedung kosong, ia bertujuan untuk memancing para pengintai yang mengikutinya. Lebih tepatnya, mengikuti Sanda.


Ryu sudah mencurigai sejak awal, pasti ada orang yang mengikuti Sanda. Hal itu karena, terkait tentang Melissa. Ia tahu bahwa Melissa adalah orang yang kabur dari penculikan sebelumnya.


Juga, Melissalah penyebab pihak lawan mengalami kerugian. Ryu menebak dengan cepat, baginya lawan kali ini, tidak peduli status Sanda yang sebagai Walikota.


Ryu juga menebak lain, kemungkinan besar ialah lawan tidak mengetahui status asli Sanda. Mereka hanya tahu, bahwa Sanda seorang pengemudi taksi.


“Sayang, apakah benar lawan ini sangat kuat?”


Risa tidak bisa untuk tenang. Baginya lawan yang lebih kuat dari Walikota berarti lawan yang sangat berbahaya. Namun, Risa tidak takut akan masalah tersebut.


Risa hanya takut bahwa Ryu akan dipukuli sampai habis. Ia sendiri tidak ingin kekasihnya terluka parah seperti sebelumnya. Jika, terluka karena turnamen, Risa masih bisa tenang. Namun, kali ini bukan turnamen.


Yuna sendiri lebih tenang, ia menilai Ryu semenjak awal. Dia merasakan bahwa Suaminya sekarang berbeda dan lebih kuat dari sebelum-sebelumnya.


“Saudari Risa, tenanglah. Ryu bisa mengatasi semuanya. Benarkan, Sayang?”


Ryu mendengar pertanyaan dari Risa, ia ingin menjawab. Namun, ketika mendengar pertanyaan dari Yuna ia tersenyum dan mengangguk.


“Kau benar, aku bisa mengatasi mereka.”


Risa mendengar itu tertegun, ia kemudian ingat tentang janjinya kepada Ryu. Selepas itu, dirinya menatap ke Yuna dan memeluknya dengan erat.


“Ak-Aku, lagi-lagi tidak mempercayai Suamiku kembali.”


Yuna menepuk pundak Risa, ia menenangkan emosi Risa yang tidak stabil. Yuna dulu juga mengalami hal yang sama dengan Risa, baginya mengkhawatirkan Suaminya adalah hal penting.


Namun, semakin Yuna dewasa. Ia paham bahwa, laki-laki menginginkan sebuah kepercayaan bukan rasa khawatir tinggi.


Melihat Risa, Yuna benar-benar melihat bayangannya dulu saat masih remaja. Meskipun ia sekarang masih di katakan Remaja, akan tetapi pengalamannya lebih jauh dibandingkan dia yang dulu.


“Tenanglah, Risa. Aku dulu juga seperti itu. Seiring waktu, kamu akan terbiasa dan tidak terlalu khawatir sangat... Kecuali, Ryu bilang tidak bisa mengatasi, baru kita khawatir dan memikirkan solusi alternatif.”


Risa mendengar hal itu, entah kenapa merasa beban di benaknya terangkat. Ia perlahan-lahan melepas pelukannya dan tatapannya tertuju ke arah Yuna.


“Kamu benar, Saudari Yuna. Lain kali aku akan lebih mempercayai Suami kita.”


Ryu mendengar pernyataan Risa, ia tersenyum. Dirinya juga terkejut akan ucapan dari Yuna, pantas di sebut M*ilf. Pendekatan dan kata-katanya lebih dewasa dibandingkan lainnya.


‘Beruntung, aku memiliki Yuna. Jika tidak, mungkin Risa akan dirundung paksaan mental berlebihan.’


Ekspresi Ryu kemudian menjadi serius, sekarang ia tiba di Gedung dan jalan yang sepi. Ryu perlahan-lahan menurunkan kecepatan laju mobilnya.


“Kita sampai, juga apakah kalian siap untuk bertarung?”

__ADS_1


Risa dan Yuna mendengar pertanyaan Suaminya, tersenyum. Risa yang sudah menghilangkan pikiran tidak pentingnya, mengangguk dengan senang.


“Ya, kami bisa. Apakah kamu meremehkan kami?”


Ryu tersenyum, itulah istrinya. Dia paling suka akan sifat tidak ingin kalah istrinya tersebut.


Ryu menghentikan mobilnya, kemudian ia turun dari mobil, begitu juga Risa dan Yuna. Ketiganya menatap ke sekeliling tempat.


“Keluarlah! Semenjak tadi, aku merasakan kalian mengikutiku terus-menerus.”


Area sepi membuat teriakan Ryu bergema ke seluruh tempat. Risa dan Yuna duduk di depan mobil taksi dengan santai.


Tak butuh waktu lama, beberapa orang keluar dari gang-gang kecil di tempat tersebut. Mereka memakai pakaian putih polos dan celana olahraga hitam.


“Sepertinya, mereka berada dalam sebuah organisasi. Ada sekitar enam puluh orang, apakah kalian bisa mengatasi dua puluh orang?”


Risa dan Yuna mendengar pertanyaan Ryu hanya mengangguk dan turun dari tempat duduknya. Mereka meregangkan tubuhnya, memulai pemanasan.


“Kawan, kami di sini ingin mengetahui lokasi dari pemilik mobil Taksi ini... Kami tidak ada urusan dengan kalian.”


Ryu mendengar pemilik mobil Taksi, segera menaikkan sudut mulutnya. Tebakan keduanya benar, bahwa lawan tidak mengetahui identitas asli Sanda.


“Kamu mengikuti pemilik mobil Taksi ini, artinya kalian juga memiliki urusan denganku.”


Salah satu orang yang memakai jaket yang terbuka tanpa lengan memasuki jaket, maju ke depan.


“Kawan, apakah kamu yakin ingin melawan kami? Kalian tiga sementara kami ada enam puluh. Apakah kalian yakin?”


Ryu kemudian meretakkan berbagai tulang-tulang miliknya. Ia sudah sembuh dari pertarungan sebelumnya.


“Kalian sepertinya meremehkan kami, bukan? Kalau begitu, majulah... Aku tidak ada waktu untuk basa-basi.”


Orang yang memakai jaket tersebut memandang ke arah Ryu, ia sedikit tertarik dengan orang di depannya itu. Melihat dari gaya orang di depannya, ia tidak tahu mengapa bahwa mereka akan kalah.


“Brother, orang ini sepertinya tidak ingin menunjukkan lokasi pengemudi taksi itu.”


“Itu benar, Brother.”


Orang yang memakai jaket melirik ke arah kedua anak buahnya, ia kemudian menghela nafas dan maju ke depan.


Rambut hitam panjangnya berkibar di ikuti oleh jaketnya. Orang tersebut, mengambil karet gelang miliknya dan mengikat rambutnya.


“Aku sudah memperingatkanmu, Paman.”


“Jika, kamu menang. Kami akan mengikutimu, akan tetapi... Jika, aku menang. Tunjukkan lokasi pengemudi taksi itu.”


Ryu memandang orang itu, ia berjalan maju dan tiba lima meter darinya.


“Apakah ini permainan one by one?”

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi, Paman. Kami bukan ahlinya mengeroyok orang.”


Ryu sedikit tak berdaya ketika orang di depannya memanggilnya paman. Namun, melihat dari tingkahnya, ia tahu bahwa orang di depannya adalah seorang anak SMA.


“Baiklah, kalau itu keinginanmu...”


“Ayo mulai...”


***


Kita beralih ke perusahaan.


Tera, Selina, dan Sanda tiba di perusahaan Mutiara Indah. Mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan masuk perusahaan.


Banyak orang mengetahui tentang Tera dan Selina. Namun, untuk Sanda... Mereka sedikit familiar dan pernah bertemu berkali-kali.


Mereka hanya menunduk ketika ketiga orang itu lewat, bagaimanapun juga itu adalah budaya perusahaan. Mereka menghargai atasan, begitu juga sebaliknya.


Tera, Selina, dan Sanda naik ke lantai tiga. Kemudian, mereka berjalan menuju ke ruangan pemimpin perusahaan.


Sanda sedikit terkejut mengetahui bahwa putrinya berada di perusahaan Mutiara Indah. Ia sebenarnya tahu, bahwa perusahaan Mutiara Indah dulunya adalah perusahaan kosmetik tanpa nama.


Sanda dalam hati benar-benar tak menyangka bahwa putrinya hidup dalam keadaan terancam bangkrut sejak dulu. Namun, ia bersyukur dan benar-benar berterima kasih nantinya kepada Ryu yang membeli perusahaan dan mengembangkannya.


Ketiganya tiba di pintu ruang pemimpin. Sanda sendiri masih gugup untuk bertemu dengan putrinya.


Tera memandang ke arah Sanda, kemudian Sanda mengetahui tatapan Tera dan mengangguk, menandakan dirinya sudah siap.


Tok Tok Tok.


“Melissa, apakah kamu berada di dalam?”


Melissa yang berada di dalam ruangan tertegun, ia jelas mengenal suara orang tersebut.


“Tuan Tera, saya ada di dalam. Silakan masuk,” ucap Melissa dengan lembut.


Pintu kemudian terbuka, Melissa ingin menyambut Tera. Namun, pandangannya terarah ke seorang pria yang tengah memandangnya dengan tatapan rindu.


Melissa terkejut, ia juga merindukan pria tua di depannya itu. Air matanya tanpa sadar keluar dan kedua tangannya menutup mulutnya.


“Melissa...”


“Ayah...”


[To be Continued.]


Silakan Like, Comment,, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thank you Minna-san.


__ADS_2