
[Chapter 14.]
[Keluh Yuna.]
[Silahkan Dibaca.]
Kedai Ryu.
Dalam sebuah ruang makan terlihat ada tiga orang dewasa dan satu anak kecil. Mereka tengah duduk sambil menikmati makanan yang terhidang di depan mereka. Ketiga orang dewasa dan satu anak kecil itu ialah, Ryu, Risa, Yuna, dan Sean.
Sean memakan makanan miliknya paling cepat daripada Ryu, Risa, dan Yuna. Dia benar-benar senang dalam makanan yang dimasak oleh Ryu tersebut.
“Sean, pelan-pelan!” Yuna sebagai Ibunya menegur Sean dengan lembut. Dirinya sedikit ada rasa kurang enak, apalagi makan dengan bos dari kedai tersebut. “Maaf, atas perilaku dari Sean.”
Ryu dan Risa mengangguk, mereka tidak mempermasalahkan hal itu, Ryu sendiri makan dengan santai. Bagaimanapun juga, ia mengagumi atas makanannya sendiri.
‘Aku tidak menyangka, masakanku sendiri begitu enak,' batin Ryu dengan penuh keheranan. Dia hanya mengangguk dan paham bahwa kemampuan memasak yang diberikan oleh sistem benar-benar hebat.
Keempatnya selesai makan, Yuna mengumpulkan piring bekas dan membawanya ke dapur. Dirinya benar-benar merasa tidak enak, dia sebagai pelayan tidak mengerjakan sesuatu.
Risa menyadari hal itu, ia paling peka akan keadaan. “Sepertinya dia merasa tidak enak denganmu, Sayang.”
Ryu tahu maksud dari Risa. Meskipun, ia seorang gelandangan dulu. Namun, dia paling mengerti akan perempuan. Dirinya paling sensitif terkait dengan perempuan.
“Aku tahu, tapi... Biarkan saja, nanti dia akan terbiasa dengan kita.” Ryu tidak ingin bertindak, dia membiarkan waktu yang mengubah Yuna nantinya.
Risa tidak banyak berpikir, ia mengangguk setuju dengan ucapan dari Suaminya. Kemudian, ia mengeluarkan laptop miliknya. Ryu sedikit melirik dan sudut mulutnya naik.
“Jadi sudah sampai, laptop terbarunya.” Ryu berkats sambil menatap ke arah Risa. Sementara, orang yang ditatap tersenyum dan mengangguk dengan senang.
“Iya, lebih cepat dari yang lalu.” Risa berkata dengan semangat, ia juga menunjukkan apa yang dikerjakan sekarang, yaitu membuat sebuah brosur promosi web.
Ryu memandang brosur tersebut, keduanya saling bekerja sama dalam membuat brosur tersebut. Kemudian, Yuna keluar dengan tiga cangkir kopi dan satu cangkir teh.
Ryu memandang Yuna, ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih.” Kemudian, ia mengambil dan menaruh satu persatu cangkir di meja.
Yuna yang mendengar itu tersenyum lembut dan berkata, “Itu bukan apa-apa, Tuan.” Dia sedikit bingung harus memanggil Ryu bagaimana. Alhasil, dirinya memanggil Tuan agar terlihat lebih sopan.
__ADS_1
Ryu yang mendengar dirinya dipanggil Tuan, sedikit kurang nyaman. Dia menghela nafas, kemudian menatap ke arah Yuna dan berkata, “Jangan terlalu formal, kita tidak di depan pelanggan. Jadi, santailah.”
Yuna sedikit terkejut, ia kemudian mendengar suara Risa. “Apa yang dikatakan Suamiku benar. Bukankah kita teman? Aku kurang suka kalau temanku memanggilku seperti bos.”
Yuna menghela nafas, ia mengangguk dan duduk di sebelah Risa. Dirinya perlu menenangkan diri sambil meminum kopi.
Risa menggelengkan kepalanya sedikit, ia kemudian bertanya, “Apakah ada masalah, Yuna?”
Ryu tidak mengamati keduanya, ia fokus ke arah brosur promosi. Dirinya membuat brosur yang lebih baik.
Yuna menatap ke arah Risa, kemudian ia menyandarkan kepalanya di kursi dan menatap ke arah atas. “Aku sedikit bingung terkait biaya untuk Sean.”
“Aku memang berencana untuk menyekolahkan dirinya, tetapi Ayahnya tidak mau membiayai Sean. Kau tahukan, seluruh keuangan tentang anak pasti akan dijatuhkan ke Istri.”
Risa tahu akan hal itu, Yuna kemudian melanjutkan perkataannya. “Beruntungnya kamu menelepon diriku. Awalnya aku benar-benar pasrah, tetapi kamu memberiku harapan.”
Mata Yuna seketika mengembun sudah siap ingin pecah air mata. Risa tahu beban seorang istri berat. Dirinya, menatap ke arah Ryu dan berpikir apakah ia akan mengalami hal yang sama.
“Tapi, untuk bekerja di Kedai saja tidak cukup, Risa.” Yuna berkata dengan nada lirih. “Sepertinya aku akan dua kali kerja di tempat lain juga.”
Risa sedikit terkejut mendengar hal itu, ia memandang ke arah Yuna dan bertanya, “Apakah biaya untuk Sean besar?”
Risa mengangguk mengerti, ia benar-benar tidak menyangka biaya untuk sekolah Sean begitu besar.
Jangan nilai dari harga masuk saja, kualitas belajar di Dunia Paralel lebih baik dibandingkan di Bumi. Para murid akan memiliki nilai 100 setiap mata pelajaran, mereka akan diasah satu persatu. Tidak langsung seluruh mata pelajaran di berikan.
“Nah, jika kubayar sekolahnya Sean, bagaimana?” Ryu tiba-tiba menyela pembicaraan kedua perempuan tersebut.
Risa memiringkan kepalanya, ia sedikit tersenyum ketika melihat Suaminya mencoba membantu seseorang.
Yuna sendiri terkejut, ia segera sadar dan berkata, “Tidak perlu, Ryu... Aku pasti akan mencari sendiri, kamu dan Risa sudah membantuku banyak.”
Ryu memandang ke arah Yuna, ia mengeluarkan 500 Rupiah ke arah Yuna dan berkata, “Aku akan melunasinya, tapi dengan satu syarat... Kamu menjadi pelayan tetap di Kedai ini.”
Risa mengembangkan senyumannya, ia benar-benar senang ketika Suaminya menolong temannya. Dirinya sependapat dengan Suaminya, bagaimanapun juga ia takut temannya akan diperdaya oleh Bos tempat kerja temannya nanti.
“Terima saja, kamu bekerja di sini. Dirimu juga aman dan tidak akan diganggu oleh pemilik kedai yang bejat.” Risa menjelaskan akan hal itu.
__ADS_1
Yuna sedikit menunduk, ia benar-benar lupa akan hal itu. Apalagi, dirinya sekarang berada di umur 52 di mana perempuan akan di incar berbagai orang.
Yuna memandang Ryu dan berkata, “Terima kasih Ryu...” kemudian ia menatap ke arah Risa dan berkata, “Terima kasih juga, Risa. Tanpa kalian berdua mungkin aku sudah mengorbankan tubuhku.”
Ryu hanya mengangguk, kemudian ia melihat panel menunjukkan uangnya berubah menjadi 12.800 Rupiah, ia tersenyum dan mengeluarkan 500 Rupiah kembali.
Yuna menerima 1.000 Rupiah untuk biaya sekolah Sean. Dia bersyukur dan akan bersungguh-sungguh dalam menjadi pelayan di kedai.
“Baiklah, ayo kita kembali pulang.” Ryu berkata dengan ringan, Risa berdiri begitu juga Yuna. Ryu kemudian mengangkat dan menggendong Sean yang tengah tertidur. Dia menggendongnya di punggung.
“Eh?” Yuna bingung, kenapa Sean berada di gendongan Ryu. Risa yang melihat hal itu dia tersenyum dan berkata dengan nada riang.
“Kamu sekarang tinggal satu rumah dengan kami, ada banyak kamar di sana. Juga, Ryu mencari kepala pelayan, kemungkinan ia ingin dirimu untuk menjadi kepala pelayan.”
Yuna terkejut, ia segera sadar dan menatap ke arah Ryu yang sudah sampai di luar kedai. Dirinya benar-benar tidak tahu jalan pikiran dari Ryu tersebut.
“Ayo kita menyusul.” Risa menarik Yuna keluar dari kedai, tiba di luar mereka melihat Ryu yang menggendong Sean, tengah menunggu mereka.
Risa berbalik dan mengeluarkan semacam kunci, dia menekan tombol yang berada di kunci. Seketika Kedai tertutup sangat rapat dengan besi yang kuat.
Ryu sedikit terkejut, ia benar-benar masih kagum dengan teknologi yang sudah terlalu maju. Dia tersenyum dan bergumam, “Benar-benar Dunia yang mengagumkan. Semisal seorang ilmuwan dari Bumi ada di sini, pasti mereka akan menggila.”
Ryu menggelengkan kepalanya, ia kemudian berjalan menuju ke arah Mansion miliknya. Dia berjalan di temani oleh dua perempuan di belakangnya.
Ketiganya berjalan di malam hari dengan sinar bulan yang mengeluarkan cahayanya tanpa ada halangan sama sekali. Ryu menatap ke arah bulan, ia sedikit terkejut ketika melihat ada sepuluh bulan di atas, ternyata hanya ada lima bulan saja, lima lainnya hanya sebuah bola lampu yang mirip.
***
Ketiganya tiba di Mansion. Namun, di depan Mansion terlihat banyak orang. Mereka ada sekitar 30 orang, dengan seseorang yang berada di depan orang-orang tersebut.
Ryu melihat hal itu, tersenyum menyeringai, ia benar-benar tidak menyangka akhirnya Preman Kodok menyerahkan diri mereka ke dirinya.
“Sepertinya, waktunya menjalankan rencana baru.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.